Jakarta -
Bryan Johnson merupakan salah satu miliarder teknologi yang cukup terkenal di Amerika. Baru-baru ini, kisahnya yang berkeinginan untuk 'hidup selamanya' namalain menolak tua kembali menjadi sorotan publik, Bunda.
Johnson mengungkap bahwa dia sekarang tengah menghadapi penyakit autoimun. Pria 48 tahun ini mengaku bahwa kondisi autoimun yang diidapnya ini tidak dapat disembuhkan.
Melansir dari Metro, Johnson pernah menjadi buletin utama lantaran mengenalkan teknik anti-penuaan yang tak biasa, di mana dia menghabiskan jutaan dollar untuk memperpanjang hidupnya dan mengurangi usia biologis menjadi usia 18 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Johnson menyebut style hidupnya sebagai Project Blueprint. Ia mengonsumsi 54 suplemen dalam satu hari, makan di antara pukul 6 pagi dan 11.30 pagi, dan mengikuti program olahraga yang ketat.
Pada tahun 2023, Johnson menjalani enam kali transfusi plasma satu liter setiap bulannya. Salah satunya disumbangkan oleh sang putra.
Pendiri dan mantan CEO Kernel ini juga menciptakan perangkat untuk memantau dan merekam kegiatan otak. Ia setidaknya menghabiskan sekitar US$2 juta alias setara Rp33 miliar per tahun untuk menjalani protokol anti-penuaannya, termasuk biaya staf medis, tes, perawatan, dan terapi.
Dengan pola makan vegan yang ketat, Johnson diketahui mengonsumsi sekitar 1.977 kalori per hari dalam jangka waktu yang singkat. Ia mengatur asupannya hanya berasas informasi biomarker, bukan selera alias preferensi.
Johnson tidur pukul 20.30. Selama periode tersebut, dia memantau kualitas tidurnya dan informasi medis lainnya serta menjalani MRI dan USG secara teratur, yang diawasi oleh sekitar 30 dokter.
Ungkap pemeriksaan autoimun ke publik
Johnson mengungkap pemeriksaan autoimun yang diidapnya ini melalui unggahan di media sosial. Pria yang juga dikenal sebagai mahir biohacking ini mengatakan bahwa penyakitnya cukup susah untuk dideteksi.
"Kabar jelek #1: Saya menderita penyakit autoimun. Perut saya seperti sedang menggerogoti dirinya sendiri," tulisnya di media sosial.
"Kabar jelek #2: 2-5% orang juga menderita penyakit ini. Kemungkinan lebih banyak lagi, lantaran penyakit ini susah dideteksi."
Johnson tidak menyadari kondisinya. Namun, sekarang dia sedang berupaya untuk mencari obatnya. Pria kelahiran Utah, Amerika Serikat ini juga tengah menjalani pengobatan yang tersedia untuk mengelola gejalanya.
"Saya bakal mencoba menyelesaikannya. Akan saya bagikan semuanya," ungkapnya.
Johnson ungkap kondisinya jauh sebelum didiagnosis autoimun
Dalam unggahan panjangnya di X, Johnson menjelaskan bahwa, saat tetap kecil, dia memang tidak menjaga pola makannya. Ia melahap makanan sigap saji dan mengonsumsi minuman manis.
Setelah beberapa tahun di usia 20-an menjalani 'hidup yang sehat', dia mendapati bahwa kesehatannya menurun lantaran kudu menangani stres dan kesibukan dalam membangun bisnis, serta menjalani peran sebagai ayah. Setelah memeriksakan diri, Johnson baru mengetahui jika dirinya menderita penyakit yang disebut gastritis autoimun (AIG).
"Dalam beberapa tahun, saya terjerumus ke dalam depresi kronis yang mendalam," katanya.
"Di suatu titik dalam rentang waktu itu, tubuh saya mulai mengembangkan proses autoimun yang memengaruhi tiroid dan kemudian lapisan lambung."
Johnson juga pernah didiagnosis menderita hipotiroidisme pada usia 21 tahun. Saat itu, dia mengatasi kondisinya dengan pengobatan umum selama nyaris tiga dekade. Johnson mulai memperhatikan tanda-tanda bahwa 'ada sesuatu yang lain sedang terjadi' pada tubuhnya.
Namun, baru pada bulan Mei tahun ini, dia diberitahu tentang AIG yang diidapnya. AIG merupakan suatu kondisi peradangan kronis yang dimediasi oleh sistem kekebalan tubuh.
"Saya tidak percaya sudah berapa lama saya mengidapnya. AIG menyebabkan kerusakan permanen: kekurangan nutrisi, anemia, dan dalam jangka panjang, peningkatan akibat kanker," tulis Johnson.
Jika dilihat ke belakang, dia mengaitkan beragam perihal dengan kondisi tersebut, seperti kadar feritin (protein yang menyimpan unsur besi) yang rendah selama 11 tahun. Namun, dia tidak pernah mengalami anemia. Tapi, tidak ada langkah yang sukses meningkatkan kadar unsur besinya, apalagi dari makanan alias vitamin.
Johnson mengaku bahwa dia baru saja 'merombak' tim medis pribadinya untuk membikin Immortals Care, terobosan tentang skema umur panjang, yang menghabiskan biaya 1 juta dollar AS juta per tahun. Namun, secara tiba-tiba pemeriksaan autoimun ini muncul, Bunda.
Saat ini, Johnson dan timnya bakal memantau kondisinya dengan jeli dan melakukan tes tambahan untuk lebih memahami AIG. Ia percaya bahwa obat itu dapat ditemukan.
Demikian kisah miliarder Bryan Johnson yang dikenal lantaran upayanya untuk menolak penuaan, dan baru-baru ini mengungkap pemeriksaan autoimun ke publik.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·