Jakarta -
Bunda yang aktif di media sosial, terutama TikTok, mungkin sudah tidak luar dengan lagu Stop The Wedding yang belakangan viral dan menjadi dialog netizen.
Lagu terbaru dari penyanyi asal Amerika Serikat, Ashe, ini ramai digunakan untuk membagikan kisah tentang hubungan asmara.
Melalui tren tersebut, banyak orang menceritakan momen ketika menyadari bahwa pasangan mereka bukan sosok yang tepat untuk diajak membangun rumah tangga.
Beragam tanda ancaman maupun red flags pun terungkap, mulai dari perilaku mengontrol, tidak mengenal hal-hal mendasar tentang pasangan, hingga kebiasaan mengulangi kesalahan meski sudah meminta maaf.
Di balik popularitasnya, Stop The Wedding juga menyimpan kisah yang berhubungan dengan kehidupan pribadi sang penyanyi.
Pengalaman tersebut membikin lagu ini terasa semakin dekat dengan pendengar, terutama mereka yang pernah meragukan hubungan maupun dihadapkan pada keputusan besar sebelum berjalan ke hierarki pernikahan.
Kisah nyata di balik lagu Stop The Wedding
Tidak ada penulis lagu yang benar-benar selesai mencari inspirasi, terlebihlagi pada hari pernikahannya sendiri.
Hal itu juga dialami penyanyi pop asal Amerika Serikat, Ashe. Pada Oktober tahun lalu, saat bersiap menikah untuk kedua kalinya dalam sebuah upacara di puncak bukit di Nashville, ia teringat pengalaman pahit dari pernikahan pertamanya.
Dilansir BBC, Ashe mengatakan pernikahan pertamanya sebagai pengalaman yang mengerikan. Mantan suaminya, yang dikenal saat kuliah, disebut bersikap manipulatif secara emosional dan berbuat kekerasan psikologis.
“Saya sedang menjalani hubungan yang ceria dan sehat, dan aku memiliki otonomi penuh atas hidup aku sendiri. Saya berpikir, jika ini terasa tidak benar, aku bisa menghentikan semuanya. Saya jelas tidak berbuat itu pada kesempatan pertama,” tutur Ashe.
Pria tersebut terlebihlagi menginginkan pesta pernikahan di tepi pantai, meskipun Ashe sebenarnya takut terhadap laut.
Menjelang hari pernikahan, ia sempat mau membatalkan semuanya, tetapi merasa tidak berdaya untuk memperjuangkan keinginannya sendiri.
“Aku ingat dia pernah berkata, ‘(setelah ini) tidak akan ada orang yang mencintaimu apa adanya. Siapa pun yang Anda temui kini akan berjumpa denganmu sebagai Ashe, dan aku sudah berjumpa denganmu sebelumnya’,” ujar Ashe.
“Itu benar-benar manipulatif, dan itu membuatku terjebak. Itu membuatku terjebak untuk waktu yang sangat, sangat lama,” sambungnya.
Namun, berbeda dengan pengalaman sebelumnya, pada pernikahan kedua, Ashe menyadari bahwa kini eksis dalam hubungan yang sehat dan ceria seperti yang diidamkan banyak wanita.
Ia merasa memiliki kendali penuh atas hidupnya sendiri. Penyanyi 33 tahun itu menyadari bahwa dirinya bisa menghentikan pernikahan kapan saja jika merasa keputusan tersebut tidak tepat. Kebebasan untuk menentukan pilihan inilah yang tidak dirasakan ketika menjalani pernikahan pertama.
Saat merapikan kerudung pengantinnya dan bersiap berjalan menuju altar, Ashe mengingat emosi tersebut.
Dua ulan kemudian, ketika balik bekerja, pengalaman itu balik terlintas di benaknya dan menginspirasinya untuk menuliskan lagu Stop The Wedding.
Lagu tersebut menggambarkan babak seperti dalam film, ketika Ashe seolah-olah memohon kepada dirinya sendiri di masa kemudian agar berani mempercayai kata hati. Dalam liriknya, ia mengingatkan bahwa seseorang sebenarnya tahu apa yang dirasakannya dan tidak mesti menghabiskan hidup dalam hubungan yang menyakitkan.
Dirilis pada Agustus, Stop The Wedding kemudian meraih ketenaran besar. Lagu ini berhasil masuk dalam daftar 10 lagu yang paling banyak diputar di dunia melalui Spotify, terlebihlagi menembus lima besar tangga lagu single Inggris.
Di TikTok, ribuan video menggunakan lagu tersebut untuk menceritakan tanda-tanda hubungan tidak sehat yang membikin seseorang mempertimbangkan balik keputusan untuk menikah.
Ashe mengaku tak pernah membayangkan lagunya mendapat sambutan sebesar itu. Setelah berkarier di industri musik selama sekitar 10 tahun, pencapaian tersebut terasa mengejutkan sekaligus membahagiakan.
“Hal ini memuaskan keinginan aku sebagai seorang budayawan untuk berbuat sesuatu yang berbeda dan tidak mengikuti status quo,” ungkapnya.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/rap)