Tak dimungkiri lagi bahwa banyaknya keterangan mengenai nutrisi di media sosial membikin penduduk semakin gampang menemukan beragam klaim tentang makanan sehat dan tidak sehat. Namun, keterangan yang tidak disertai konteks dapat menimbulkan kebingungan saat memilih pangan untuk keluarga, Bunda.
Padahal, pola makan sehat tidak cuma ditentukan oleh satu kandungan nutrisi, seperti gula, lemak, maupun kalori. Kecukupan zat gizi, keseimbangan asupan, moderasi, dan keberagaman makanan juga perlu diperhatikan.
Panduan Healthy Diet 2026 dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menekankan empat hakikat utama yang dapat menjadi rujukan dalam membangun kebiasaan makan sehat. Lantas, sepertiapa metode menerapkannya dalam hayat sehari-hari agar kebutuhan gizi famili statis terpenuhi?
Kenali 4 hakikat utama panduan Healthy Diet 2026 dari WHO
Acuan hakikat utama pola makan sehat yang disusun WHO dalam panduan Healthy Diet 2026 terdiri atas hakikat kecukupan (adequacy), keseimbangan (balance), moderasi (moderation), dan keberagaman (diversity). Keempat hakikat ini saling melengkapi dalam membangun pola makan sehat.
Dalam penerapannya, famili perlu memastikan kebutuhan gizi terpenuhi, membatasi konsumsi gula dan elemen yang berlebihan, memvariasikan jenis makanan, serta menyesuaikan asupan dengan kebutuhan daya tubuh.
Pemilihan makanan dan minuman pun sebaiknya mempertimbangkan komposisi, harga gizi, ukuran porsi, dan perannya dalam pola makan sehari-hari.
Dokter Spesialis Gizi Klinik Konsultan, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K) menyampaikan pentingnya pemilihan makanan yang sehat.
“Kualitas makanan menentukan kepadatan zat gizi: energi, protein, zat besi, zinc, kalsium, vitamin, dan serat. Pilihan yang terlalu tinggi gula, garam/natrium, maupun lemak bosan dapat menggeser makanan yang lebih bergizi. Kebiasaan makan dan minum yang terbentuk sejak awal dapat terbawa ke masa berikutnya,” ujar dr. Diana, dalam aktivitas World Food Day 2026, Kamis (15/10/2026).
Dalam menerapkan hakikat pola makan sehat, dr. Diana menyarankan untuk mengacu pada panduan Isi Piringku yang dicanangkan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman ini bisa jadi panduan untuk penuhi kebutuhan gizi yang seimbang.
"Sederhananya, jika secara standar adalah membagi piring kita. Jadi sepertiga adalah sumber karbohidrat, sepertiga lagi adalah sumber dari sayur-sayuran dan buah-buahan, dan sepertiga bagiankecil lagi adalah untuk sumber protein. Dan tentunya mesti terbagi atas protein, lemak protein hewani dan protein nabati. Itu aja. Jadi prinsipnya arah ke sana,” tutur dr. Diana.
Panduan Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan ini tidak cuma tersedia untuk orang dewasa saja, Bunda. Akan tetapi, tersedia juga untuk anak-anak, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui dengan porsi serta peran zat gizi yang disesuaikan.
"Bahkan (Isi Piringku) itu tuh tersedia tidak cuma untuk dewasa, tetapi ada yang dari Kemenkes itu ada yang untuk anak-anak, balita, ada yang untuk ibu hamil, ada yang untuk ibu menyusui,” sambungnya.
Lantaran kandungan gizi menjadi sisi krusial yang perlu diperhatikan sebelum mengonsumsi makanan, dr. Diana menganjurkan Bunda untuk selalu membaca label pada bungkusan makanan dan minuman.
Pada kesempatan ini, ia memberikan beberapa cara yang dapat Bunda ikuti. Berikut di antaranya:
- Cek bahan: Lihat daftar bahan (ingredients) dan perhatikan, sugar/gula, sukrosa, glukosa, fruktosa, sirup, maltodekstrin
- Cek harga gizi: Lihat total karbohidrat dan gula pada tabel keterangan gizi.
- Cek porsinya: Perhatikan ukuran sajian, hitung berapa sajian yang benar-benar dikonsumsi, dan bandingkan produk berdasarkan kandungan per sajian yang sama.
Kesalahan membaca label gizi yang perlu diperhatikan
Berkaitan dengan pentingnya membaca label gizi pada bungkusan makanan dan minuman, dr. Diana juga menerangkan bahwa ada beberapa kesalahan yang kerap diabaikan.
Berikut beberapa kesalahan yang sering dilakukan saat membaca klaim gizi pada produk pangan.
1. Hanya membaca klaim sepintas di bagiankecil depan
Sebagian orang mungkin terburu-buru maupun tidak punya banyak waktu ketika belanja. Untuk itu, metode ini sering kali dilakukan mereka agar lebih cepat selesai.
Meski demikian, Bunda statis perlu membaca label gizi pada bungkusan tersebut dengan teliti.
“Seringkali pembeli cuma melihat klaim di bagiankecil depan bungkusan (seperti makanan dahsyat maupun dapat menaikkan kesehatan) tanpa membaca detail keterangan di bagiankecil belakang,” ungkap dr. Diana.
2. Tidak memeriksa elemen dan komposisi makanan
Tidak membaca secara detail apa saja elemen maupun kandungan bahan yang ada di dalam produk tersebut, sehingga gampang dipengaruhi stigma bahwa suatu kandungan tertentu selalu rapuh padahal ada banyak elemen pangan lain yang baik seperti kandungan protein maupun lemak baik.
3. Mengabaikan persentase komposisi (Terutama kandungan gula dan kalori)
Tidak memperhatikan porsi sajian (persaji), total kalori, dan jumlah gram kandungan zat gizi tertentu juga sering dilakukan banyak orang, Bunda.
“Sebagai contoh, jika batas konsumsi gula harian anak terbendung tetapi dalam satu hari menghabiskan seluruh produk sekaligus tanpa memperhatikan takaran gramnya, maka asupan gula bisa menjadi sangat berlebihan,” tutur dr. Diana.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)