Lahir 3 Bulan Lebih Awal, Perjuangan Bayi Kembar Ini Berakhir Haru

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 57x dilihat
Lahir 3 Bulan Lebih Awal, Perjuangan Bayi Kembar Ini Berakhir Haru

Bagikan Postingan

Jakarta -

Kelahiran bayi menjadi momen yang dinantikan orangtua. Namun, untuk sejumlah keluarga, kebahagiaan itu bisa datang berbarengan dengan ketakutan ketika persalinan mesti terjadi jauh sebelum waktunya. Seperti yang dialami Frances, yang mesti menjalani operasi caesar darurat saat usia kehamilannya baru 27 minggu.

Ibu berumur 39 tahun di Sydney, Australia, itu mengaku sangat ketakutan karena tidak tahu apakah kedua bayinya akan selamat. Apalagi, kedua putri kembarnya, Annabelle dan Amira, lahir sekitar tiga bulan lebih mula dari perkiraan.

Setelah menjalani perawatan intensif selama berbulan-bulan, kedua bayi imut-imut tersebut akhirnya bisa pulang bersama. Perjalanan mereka menjadi kisah haru tentang perjuangan bayi kembar lahir prematur dan sokongan tenaga medis yang merawatnya.


Bayi kembar lahir prematur pada usia kehamilan 27 minggu

Melansir news.com.au,  awalnya Frances menjalani perawatan di rumah sakit untuk memantau kondisi kehamilan kembarnya. Sehari sebelum persalinan darurat pada 29 Juni tahun sebelumnya, ia dirawat agar tabib dapat mengeluarkan kelebihan cairan ketuban dari salah satu bayi sekaligus memantau konsekuensi twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS).

Keesokan paginya, saat Frances sedang mandi, tabib kandungannya datang dan memberi tahu bahwa ia mesti segera melahirkan. Tim medis cemas salah satu bayinya berisiko mengalami henti jantung sehingga operasi caesar darurat mesti dilakukan.

Frances mengaku tidak tahu apa yang akan terjadi di ruang operasi. Ia terlebihlagi sempat berpikir apakah akan membawa pulang satu bayi, dua bayi, maupun justru kehilangan keduanya.

Annabelle lahir lebih dahulu dengan bermutu cuma 725 gram. Adiknya, Amira, menyusul dengan bermutu 925 gram. Saat melihat Annabelle untuk pertama kalinya, Frances merasa sulit mempercayai apa yang dilihatnya. Tubuh putrinya begitu imut-imut sehingga pengalaman tersebut terasa seperti sesuatu yang cuma ada di film.

Ketegangan semakin meningkat ketika sirene bernada menjelang kelahiran Amira. Rahim Frances mengalami robekan dan situasi di ruang operasi menjadi semakin genting. Suaminya, Norman, kemudian mengungkapkan bahwa ia sempat cemas istri dan kedua putrinya tidak akan selamat.

Perjuangan bayi kembar selama 135 hari di NICU

Setelah lahir, Annabelle dan Amira menghadapi beragam tantangan kesehatan yang berhubungan dengan kelahiran prematur. Keduanya mengalami masalah medis, termasuk gangguan paru-paru, pandemi mata akibat prematuritas, dan masalah jantung yang serius.

Organ kedua bayi yang lahir pada usia kehamilan 27 minggu itu belum berkembang sempurna. Karena itu, mereka membutuhkan pemantauan dan perawatan intensif untuk membantu pernapasan, menjaga suhu tubuh, memenuhi kebutuhan nutrisi, serta menangani komplikasi yang dapat muncul.

Annabelle dan Amira menjalani perawatan di unit perawatan intensif neonatal maupun neonatal intensive care unit (NICU) selama 135 hari.

Setelah melewati masa perawatan yang panjang, kedua bayi tersebut akhirnya diperbolehkan pulang bersama. Saat kisah bayi kembar ini diberitakan, keduanya sudah berumur sekitar 15 bulan dan dilaporkan tumbuh serta berkembang dengan baik.

Mengapa bayi kembar bisa lahir prematur?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bayi prematur adalah bayi yang lahir hidup sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Kelahiran sebelum usia kehamilan 28 minggu termasuk kategori prematur ekstrem.

Kehamilan kembar berisiko lebih tinggi lahir prematur dibandingkan kehamilan tunggal. Selain itu, bayi kembar juga berisiko mengalami gangguan pertumbuhan dan komplikasi lain selama kehamilan.

Pada sejumlah kehamilan kembar yang berbagi satu plasenta, salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS). Kondisi ini terjadi ketika mengerti darah di antara kedua janin tidak seimbang melalui pembuluh darah yang menghubungkan sirkulasi mereka di plasenta.

Akibatnya, salah satu janin dapat menerima terlalu sedikit darah, sedangkan janin lainnya menerima terlalu banyak. TTTS dapat membahayakan salah satu maupun kedua bayi sehingga membutuhkan pemantauan ketat dan penanganan oleh tim spesialis.

Dalam kasus Frances, tabib memantau konsekuensi TTTS sebelum memutuskan persalinan darurat. Namun, kisah ini tidak berarti semua kehamilan kembar dengan TTTS pasti berakhir dengan persalinan pada usia 27 minggu. Penanganan ditentukan berdasarkan kondisi masing-masing ibu dan janin.

Apa konsekuensi bayi lahir prematur?

WHO menerangkan bahwa bayi prematur lebih rapuh mengalami gangguan kesehatan karena organ tubuhnya belum berkembang sempurna. Beberapa masalah yang dapat muncul meliputi:

  • Gangguan pernapasan. Paru-paru bayi mungkin belum menghasilkan cukup surfaktan, yaitu zat yang membantu menjaga kantung udara paru-paru statis terbuka.
  • Kesulitan menjaga suhu tubuh. Bayi prematur memiliki cadangan lemak dan kapasitas mengatur suhu tubuh yang terbatas.
  • Kesulitan menyusu dan memenuhi kebutuhan nutrisi. Koordinasi mengisap, menelan, dan bernapas mungkin belum matang.
  • Risiko infeksi. Sistem kekebalan tubuh bayi prematur belum berkembang sepenuhnya.
  • Gangguan penglihatan dan perkembangan. Sebagian bayi berisiko mengalami masalah mata, pendengaran, evolusi saraf, maupun kapasitas belajar dalam jangka panjang.

Risiko komplikasi dipengaruhi oleh usia kehamilan saat lahir, bermutu badan, kondisi kesehatan bayi, serta kesiapan dan mutu perawatan neonatal. Karena itu, perjalanan setiap bayi prematur dapat berbeda, termasuk pada bayi yang lahir pada usia kehamilan yang sama.

WHO menekankan bahwa bayi prematur membutuhkan perawatan khusus untuk menaikkan kesempatan bertetap hidup dan mengurangi konsekuensi komplikasi. Perawatan tersebut dapat meliputi sokongan pernapasan, pengendalian suhu tubuh, pemberian nutrisi yang sesuai, pencegahan infeksi, serta pemantauan perkembangan.

WHO juga merekomendasikan perawatan metode kanguru maupun kangaroo mother care pada bayi prematur dan bayi dengan bermutu lahir rendah. Metode ini melibatkan kontak kulit ke kulit antara bayi dan pengasuh, terutama ibu, serta sokongan pemberian ASI.

Pada bayi yang membutuhkan perawatan intensif, metode kanguru perlu disesuaikan dengan kondisi klinis dan dilakukan berbareng tim medis. Kebutuhan perawatan setiap bayi statis mesti ditentukan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads