Lampung Financial Festival 2026, Penuh Tips Investasi dan Kelola Keuangan

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 518x dilihat
Lampung Financial Festival 2026, Penuh Tips Investasi dan Kelola Keuangan

Bagikan Postingan

Lampung -

Lampung Financial Festival 2026 yang diinisiasi oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk meningkatkan level literasi finansial masyarakat yang tetap tertinggal 24 poin dibanding tingkat inklusi keuangan.

Berdasarkan survei yang baru saja dirilis oleh OJK, LPS, dan BPS, indeks inklusi finansial nasional di level 93,6 persen. Namun demikian tingkat literasi finansial nasional di level 69,6 persen. Kolaborasi antara kreator kebijakan dan para pelaku di sektor finansial pun menjadi sangat krusial untuk mengejar gap tersebut.

Anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Simpanan dan Resolusi Bank LPS, Doddy Zulverdi memberikan info ciri-ciri bank sehat kepada para peserta Lampung Financial Festival 2026. Sehingga masyarakat bisa lebih percaya ketika hendak menempatkan dananya di instrumen simpanan perbankan, baik simpanan maupun tabungan.


Pertama,masyarakat bisa lihat dari suku kembang yang ditawarkan ke nasabah. Jika bank menawarkan suku kembang berlebihan alias tinggi, bank dinilainya mempunyai akibat dan kurang sehat. Sementara bank yang menawarkan kembang tidak tinggi, bank tersebut dinilainya sangat sehat.

Selain itu, bank dengan kondisi sehat, rasio likuiditasnya terjaga alias mempunyai biaya kas besar. Bank sehat ujarnya juga mempunyai rasio angsuran bermasalah alias non-performing loan (NPL) yang kecil.

"Kalau pandai bakal terlihat rasio keuangannya. Rasio likuiditasnya kelihatan. Kalau adek-adek masuk bank dan ditawarkan kembang tinggi banget hati-hati. Nah salah satu indikatornya bandingkan dengan tingkat kembang penjaminan LPS, sekarang 3,75 persen. Tapi bukan berfaedah jika di atas kembang penjaminan itu tidak boleh simpan di bank tersebut, tapi hanya tidak dijamin saja," ujarnya dalam kegiatan hari kedua Lampung Financial Festival 2025 di Novotel Bandar Lampung, Minggu (6/9/2026).

Rasa kondusif dalam berinvestasi memang menjadi perihal yang sangat dicari oleh masyarakat, terutama dalam kondisi ekonomi saat ini yang tetap bergolak dan terimbas oleh ekonomi dunia dan geopolitik. instrumen-instrumen investasi yang dinilai sangat kondusif bisa menjadi pengganti bagi masyarakat ketika hendak melakukan investasi.

Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin mengungkapkan tiga instrumen investasi kondusif yang bisa menjadi pilihan masyarakat, terutama bagi generasi muda alias gen Z. Ketiga instrumen tersebut, ialah Surat Berharga Negara (SBN), emas, dan deposito.

Herman menegaskan SBN adalah instrumen investasi yang kondusif lantaran diterbitkan dan dijamin oleh negara. "Negara kita termasuk investment grade. Investment grade itu artinya negara lain di bumi itu memandang negara kita aman, bisa bayar utang," tambahnya.

Berdasarkan credit rating Standard & Poor's, lembaga pemeringkat dunia tersebut mempertahankan rating Indonesia di BBB dengan outlook stable. Artinya SBN adalah instrumen yang aman.

"Jadi jika mau yang kondusif bisa emas, bisa SBN alias tadi tabungan alias simpanan di bank. Kalau di bank lantaran dijamin oleh LPS," kata Herman lagi.

Terakhir emas, dinilai merupakan salah satu pilihan aset lindung nilai yang bisa dipilih masyarakat. Chief Marketing Officer Raja Emas Indonesia, M. Rahmat mengungkapkan kiat-kiat krusial dalam berinvestasi emas sebagai aset pilihan di masa depan. Dia mengatakan, kegunaan utama emas bukan hanya investasi, melainkan aset safe haven, yang bisa melindungi aset dari nilai inflasi.

"Jadi emas mempunyai dua fungsi, pertama safe haven asset, kedua perangkat investasi," ujarnya.

"Konsep dasar dari emas itu adalah safe haven asset. Jadi pelindung aset kita," tekan Rahmat.

Sementara mengenai dengan pengelolaan keuangan, para peserta Lampung Financial Festival 2026 yang kebanyakan merupakan siswa sekolah menengah atas dan perguruan tinggi, mendapat banyak edukasi dan wejangan dari para bankir yang datang mengisi bangku panelis di sesi The Bankers: Young, Smart and Ready.

Direktur Finance and Strategy PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Achmad Royadi menilai kemudahan teknologi membikin generasi muda membelanjakan duit secara berlebih hanya untuk kemauan semata daripada kebutuhan utamanya.

Melihat perihal itu, dia pun menyarankan agar generasi mudah bisa lebih bijak dalam mengelola keuangan. Langkah ini dinilai krusial untuk mencapai kebebasan finansial di masa yang bakal datang.

Dirinya juga menyarankan generasi muda untuk bisa membuka tabungan dan melakukan investasi. Meski tidak mudah, setidaknya dia berambisi generasi muda bisa menyisihkan penghasilannya meskipun sedikit.

"Bahkan jika perlu untuk membeli biaya pensiun. Jadi kudu imbangin antara kemudahan digital untuk menghabiskan duit sama kemudahan digital untuk invest, tabungan, apalagi asuransi. Prinsipnya itu kudu bisa mengalokasikan," ucapnya.

Setali tiga uang, Direktur Sales and Distribution PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), Anton Sukarna bilang, sebagai generasi muda, gen Z kudu bisa mulai membangun kebiasaan finansial. Salah satunya adalah menerapkan rem finansial.

"Ada rem internalnya. Sama kayak motor, ada remnya. Kalau motor enggak ada remnya, kira-kira gimana? Bahaya. Kebiasaan finansial juga jika enggak ada remnya, bahaya," tuturnya.

Tidak ketinggalan, Anton juga menjadikan investasi sebagai salah satu kebiasaan finansial yang kudu dibangun sejak dini.

"Biasakan membangun kebiasaan investasi. Kalau punya uang, biasakan sisihkan dahulu. Supaya jika kita perlu suatu saat, uangnya ada," ucapnya.

Dirinya juga menekankan untuk tetap berhati-hati dalam berinvestasi. "Tidak ada investasi, saya ingatkan ya, tidak ada investasi yang menawarkan untung setinggi langit, enggak ada. Kalau setinggi itu keuntungannya, dia tidak bakal pernah bagi-bagi sama kita, betul enggak? Investasi itu ada batasnya," ucap Anton lagi.

Di lain pihak, Regional CEO Wilayah 03 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Bagus Ardani Sutoyo menegaskan beberapa perihal utama agar bijak dalam mengelola keuangan. Pertama, kudu bisa menyiapkan finansial kita dengan mulai menyisihkan duit untuk ditabung.

Kemudian, gimana masyarakat bisa mengelola finansial dengan bijak dengan menyiapkan rencana keuangan, termasuk mengenai kebutuhan pokok harian dan rencana kebutuhan yang kudu dipenuhi lainnya.

"Nah kemudian hati-hati ya dengan kebiasaan konsumtif belanja-belanja yang sebenarnya tidak kita perlukan. Mungkin itu ya yang teman-teman kudu pedomani gimana kita bijak dalam mengelola keuangan," tegasnya.

Sementara itu, Vice President PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Hari Mulyana menjelaskan langkah menghindari modus-modus penipuan di sektor perbankan dan keuangan. Menurutnya, sekarang banyak penawaran yang beragam di media sosial, sehingga pelanggan kudu lebih selektif untuk menghindari transaksi yang bisa merugikan.

"Terkait dengan OTP (one-time password), jadi jangan pernah memberikan OTP ke orang lain, termasuk ke pasangan kita sendiri. Kedua jika di kartu angsuran itu tiga digit belakang kartu. Kita sama-sama jaga rekening kita semua, kita yang mengelola risiko, kita yang mengendalikannya. Jadi apapun yang ada," paparnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads