Mau Kembali Kerja Setelah Jadi Single Parent? Ini 7 Langkah agar Lebih Siap

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 7 menit 520x dilihat
Mau Kembali Kerja Setelah Jadi Single Parent? Ini 7 Langkah agar Lebih Siap

Bagikan Postingan

Mau kembali bekerja setelah jadi single parent? Ini 7 langkah mempersiapkan diri, anak, finansial, dan support system agar lebih siap kembali ke bumi kerja.

Menjadi single parent berfaedah menjalani banyak peran sekaligus. Ada hari ketika kita merasa kuat dan bisa mengurus semuanya sendiri, tetapi ada juga hari ketika rasanya baru bangun tidur saja sudah punya daftar tanggung jawab yang panjang.

Lalu, di tengah semua itu, muncul kemauan alias kebutuhan untuk kembali bekerja setelah menjadi single parent.

Bisa jadi sebelumnya Mommies berakhir bekerja untuk konsentrasi mengurus anak. Bisa juga status sebagai single parent membikin Mommies perlu kembali punya penghasilan sendiri. Apa pun alasannya, kembali ke bumi kerja setelah cukup lama berakhir bukan perkara sekadar memperbarui CV dan mengirim lamaran.

Ada banyak perihal yang perlu dipersiapkan, terutama lantaran sekarang ada anak yang juga perlu dipikirkan.

Tenang, Mommies. Tidak kudu semuanya beres dalam satu waktu. Justru, semakin realistis persiapannya, semakin besar kemungkinan transisi ini terasa lebih ringan.

BACA JUGA: Gaji Nggak Naik? Ini 7 Cara Tetap Bahagia di Tempat Kerja Tanpa Harus Resign

Persiapan Kembali Kerja untuk Single Parent

Berikut tujuh langkah yang bisa Mommies mulai lakukan.

Foto: Tatiana Syrikova/Pexels

1. Tentukan dulu argumen dan tujuan kembali bekerja

Sebelum membuka situs lowongan kerja alias menghubungi kawan lama soal pekerjaan, coba berakhir sejenak dan tanyakan kepada diri sendiri: sebenarnya saya mau kembali bekerja untuk apa?

Jawabannya bisa sangat personal.

Mungkin lantaran kebutuhan finansial. Mungkin Mommies mau kembali punya kemandirian secara ekonomi. Bisa juga lantaran mau mengembangkan diri lagi setelah beberapa tahun konsentrasi menjadi ibu.

Tidak ada jawaban yang salah.

Mengetahui argumen utama bakal membantu Mommies menentukan jenis pekerjaan yang paling sesuai. Misalnya, jika saat ini prioritas utama adalah stabilitas finansial dan waktu berbareng anak, pekerjaan dengan jam kerja yang lebih terprediksi mungkin lebih cocok dibandingkan dengan pekerjaan yang menuntut banyak perjalanan dinas.

Jangan sampai lantaran merasa kudu segera bekerja, Mommies menerima pekerjaan yang sejak awal sebenarnya tidak sesuai dengan kondisi family saat ini.

2. Evaluasi keahlian dan pengalaman yang tetap bisa dijual

Salah satu kekhawatiran yang sering muncul setelah career break adalah “Masih ada yang mau menerima saya bekerja, nggak, ya?”

Jawabannya: pengalaman Mommies tidak otomatis lenyap hanya lantaran sempat berakhir bekerja.

Coba buat daftar pengalaman kerja sebelum menjadi single parent. Kemudian tambahkan beragam keahlian yang Mommies miliki sekarang.

Bahkan selama menjadi ibu, ada banyak keahlian yang sebenarnya terasah. Misalnya, mengatur jadwal, membikin prioritas, mengelola anggaran rumah tangga, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, sampai mengerjakan banyak perihal dalam waktu yang berdekatan.

Memang, keahlian tersebut tidak perlu ditulis secara berlebihan di CV seolah-olah semuanya adalah pengalaman profesional. Namun, keahlian yang relevan tetap bisa menjadi nilai tambah.

Setelah itu, lihat lagi apakah ada keahlian yang perlu di-refresh. Mommies bisa mengikuti kursus singkat, webinar, pelatihan, alias belajar berdikari untuk mengejar perkembangan di bagian yang dituju.

Tidak perlu menunggu sampai merasa sudah jago untuk mulai mencari kerja. Belajar dan mencari kerja bisa dilakukan bersamaan.

BACA JUGA: Kembali Bekerja Setelah Punya Bayi: Persiapan Fisik, Mental, dan Logistik

3. Sesuaikan sasaran pekerjaan dengan kondisi sebagai single parent

Ini bagian yang penting.

Saat kembali bekerja sebagai single parent, Mommies mungkin tidak punya elastisitas yang sama seperti ketika tetap lajang alias mempunyai pasangan yang bisa berbagi tanggung jawab pengasuhan.

Artinya, pertimbangkan juga kebutuhan family ketika memilih pekerjaan.

Beberapa perihal yang bisa dipikirkan antara lain:

  • Apakah jam kerja memungkinkan Mommies menjemput alias menemani anak?
  • Berapa lama waktu perjalanan dari rumah ke kantor?
  • Apakah pekerjaan mengharuskan lembur secara rutin?
  • Seberapa sering kudu melakukan perjalanan dinas?
  • Apakah tersedia opsi kerja hybrid alias remote?
  • Bagaimana kebijakan perusahaan jika anak sakit alias ada kondisi darurat?
  • Apakah penghasilan yang ditawarkan sepadan dengan biaya daycare, pengasuh, transportasi, dan kebutuhan lain?

Jangan hanya memandang nomor gaji.

Hitung juga “biaya untuk bisa bekerja”.

Bisa saja sebuah pekerjaan menawarkan penghasilan lebih tinggi, tetapi memerlukan perjalanan dua jam setiap hari dan biaya pengasuhan yang besar. Sementara pekerjaan dengan penghasilan sedikit lebih rendah rupanya membikin Mommies punya waktu dan daya lebih banyak untuk anak.

Yang dicari bukan pekerjaan yang sempurna, tetapi pekerjaan yang paling masuk logika untuk kondisi Mommies saat ini.

Foto: BOOM 💥 Photography/Pexels

4. Bangun kembali support system

Menjadi single parent bukan berfaedah Mommies kudu melakukan semuanya sendirian.

Justru, mempunyai support system untuk single parent sangat krusial ketika Mommies mulai kembali bekerja.

Coba petakan orang-orang yang bisa menjadi tempat meminta bantuan. Bisa orang tua, saudara, sahabat, tetangga yang dipercaya, alias orang lain yang memang sudah dekat dengan keluarga.

Tidak kudu selalu berupa support besar.

Misalnya, siapa yang bisa menjemput anak ketika Mommies terlambat pulang? Siapa yang bisa membantu ketika anak sakit? Siapa yang bisa dihubungi jika tiba-tiba Mommies kudu lembur?

Buat juga rencana cadangan. Karena kita tahu, Mommies, hidup dengan anak sering kali punya kejutan yang tidak masuk kalender.

Kalau menggunakan daycare alias pengasuh, pastikan Mommies juga sudah memahami jam operasional, kebijakan ketika anak sakit, biaya tambahan, serta siapa yang bisa menjadi pengganti ketika jasa tersebut tidak tersedia.

Semakin jelas sistem pendukungnya, semakin tenang Mommies ketika kembali bekerja.

5. Rapikan kondisi finansial sebelum mulai bekerja

Kembali bekerja tentu berangkaian erat dengan kondisi keuangan.

Sebelum menerima pekerjaan, coba hitung ulang kebutuhan bulanan keluarga. Masukkan pengeluaran yang mungkin muncul lantaran Mommies mulai bekerja, seperti transportasi, makan di luar, daycare, pengasuh, alias biaya tambahan lainnya.

Dari situ, Mommies bisa mengetahui berapa penghasilan minimum yang dibutuhkan.

Kalau memungkinkan, mulai bangun biaya darurat secara bertahap. Tidak perlu langsung mengejar nomor ideal. Yang krusial ada upaya untuk mempunyai persediaan jika sewaktu-waktu terjadi kondisi yang tidak direncanakan.

Mommies juga bisa memisahkan rekening untuk kebutuhan sehari-hari, tabungan, dan biaya darurat agar pengelolaannya lebih mudah.

Kondisi finansial yang lebih tertata bukan hanya membantu secara ekonomi, tetapi juga bisa memberikan rasa kondusif ketika Mommies menjalani fase baru ini.

BACA JUGA: 7 Pertanyaan yang Sebaiknya Ditanyakan Single Parent kepada HR Sebelum Menerima Pekerjaan

6. Latihan menjelaskan career break tanpa merasa kudu minta maaf

Pertanyaan tentang career break bisa membikin sebagian Mommies gugup saat wawancara.

“Kenapa sempat tidak bekerja?”

Tidak perlu merasa kudu meminta maaf lantaran pernah memilih berakhir bekerja untuk mengurus keluarga.

Jawab pertanyaan tersebut dengan jujur dan singkat, kemudian arahkan pembicaraan pada kesiapan Mommies sekarang.

Misalnya, Mommies bisa menjelaskan bahwa selama beberapa tahun terakhir konsentrasi pada keluarga, dan saat ini sudah siap kembali ke bumi profesional. Setelah itu, ceritakan apa yang sudah Mommies lakukan untuk mempersiapkan diri kembali bekerja.

Yang perlu ditonjolkan adalah kesiapan dan relevansi Mommies hari ini, bukan terus-menerus merasa kudu menjelaskan masa lalu.

Sebelum wawancara, coba latihan menjawab beberapa pertanyaan umum. Dengan begitu, Mommies tidak perlu mencari-cari jawaban ketika sedang gugup.

Foto: Ketut Subiyanto/Pexels

7. Siapkan diri secara emosional, bukan hanya administratif

CV sudah diperbarui. LinkedIn sudah dirapikan. Lamaran sudah dikirim.

Tapi ada satu perihal yang kadang terlupakan: kesiapan mental.

Kembali bekerja setelah menjadi single parent bisa membawa banyak emosi sekaligus. Ada rasa excited, takut, bersalah, minder, apalagi cemas apakah keputusan ini bakal membikin anak kurang mendapat perhatian.

Perasaan seperti itu tidak otomatis berfaedah keputusan Mommies salah.

Beri waktu untuk diri sendiri untuk beradaptasi.

Kalau akhirnya mendapat pekerjaan, jangan berambisi minggu pertama langsung bisa menjalankan semuanya dengan sempurna. Mungkin ada pagi yang berantakan. Mungkin Mommies pulang dalam keadaan sangat lelah. Mungkin ada momen ketika pekerjaan dan kebutuhan anak sama-sama terasa mendesak.

Itu bagian dari proses menemukan ritme baru.

Dan jika rupanya pekerjaan pertama setelah career break tidak cocok, bukan berfaedah Mommies gagal. Mommies boleh mengevaluasi dan mencari pilihan lain.

BACA JUGA: Bukan Cuma Burnout, Ini 6 Tanda Parenting Fatigue pada Ibu Bekerja

Kembali bekerja bukan berfaedah kudu menjadi “supermom”

Mommies, kembali kerja setelah menjadi single parent memang memerlukan persiapan yang lebih banyak. Tetapi jangan sampai standar yang kita pasang untuk diri sendiri justru terlalu tinggi.

Anak tidak memerlukan ibu yang selalu sempurna.

Anak memerlukan ibu yang hadir, yang membikin anak merasa aman, dan yang bisa menjalani hidup dengan cukup baik.

Jadi, tidak apa-apa jika rumah tidak selalu rapi. Tidak apa-apa jika sesekali membeli makanan jadi. Tidak apa-apa meminta bantuan. Tidak apa-apa juga mengubah strategi ketika sesuatu rupanya tidak melangkah sesuai rencana.

Mulailah dari hal-hal yang bisa Mommies kontrol: tentukan tujuan, kenali kemampuan, hitung kebutuhan finansial, bangun support system, dan cari pekerjaan yang realistis dengan kondisi keluarga.

Pelan-pelan saja.

Mommies tidak sedang memulai hidup dari nol. Mommies sedang memulai babak baru dengan semua pengalaman yang sudah dimiliki.

Cover: Yan Krukau/Pexels
Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads