Mencari Allah dari Ranjang Emas dan Istana? Pertanyaan yang Mengubah Raja Menjadi Sufi

Intisari Islam Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 2 menit 507x dilihat
Mencari Allah dari Ranjang Emas dan Istana? Pertanyaan yang Mengubah Raja Menjadi Sufi

Sufi (ilustrasi).

Kincai Media, Ibrahim bin Adham pernah mempunyai segala kemewahan yang diimpikan manusia, dia mempunyai tahta, kekuasaan, dan istana megah. Namun, sebuah pertanyaan tajam tentang gimana mungkin seseorang mencari Allah dengan berpakaian sutra dan tidur di ranjang emas dalam kemewahan istana mengguncang hatinya. Pertanyaan itu menjadi awal perjalanan spiritual sang raja hingga dia meninggalkan kemewahan bumi dan memilih jalan sufi.

Dikisahkan Fariduddin Attar pada abad ke-13 dalam kitab Tadzkiratul Auliya, Ibrahim bin Adham adalah raja Balkh dengan daerah kekuasaan yang sangat luas. Ke mana pun dia pergi, 40 pedang emas dan 40 tongkat kebesaran emas diusung di depan dan di belakangnya.

Pada suatu malam, ketika dia tertidur di bilik istananya, langit-langit bilik berderik-derik seolah-olah ada seseorang yang sedang melangkah di atas atap. Ibrahim terbangun dan berseru, “Siapakah itu?!”

“Seorang sahabat, untaku lenyap dan saya sedang mencarinya di atas genting ini,” kata seseorang di atas atap.

“Bodoh. Engkau mencari unta di atas atap?” tanya Ibrahim.

Orang di atas genting itu berbicara kepada Ibrahim bin Adham, "Wahai manusia yang lalai, apakah engkau hendak mencari Allah dengan berpakaian sutra dan tidur di atas ranjang emas?”

Mendengar kata-kata itu, membikin Ibrahim bergetar hatinya, menjadi sangat resah dan tidak bisa melanjutkan tidurnya.

Ketika hari telah siang, Ibrahim kembali ke ruang pertemuan dan duduk di atas singgasananya sembari terus berpikir, bingung, dan sangat gundah. Para menteri telah berdiri di tempat masing-masing dan hamba-hamba telah berbanjar sesuai dengan tingkatan mereka. Kemudian dimulailah pertemuan terbuka.

Dalam pertemuan yang dipimpin raja Ibrahim bin Adham, tiba-tiba seorang laki-laki berparas menakutkan masuk ke dalam ruangan pertemuan itu. Wajahnya sedemikian menyeramkan sehingga tidak seorang pun di antara para menteri maupun hamba istana berani menanyakan namanya. Semua lidah menjadi kelu. Dengan tenang laki-laki itu melangkah ke depan singgasana yang diduduki Ibrahim.

Ibrahim segera bertanya, “Apa yang engkau inginkan?”

Lelaki yang menakutkan itu menjawab, “Aku baru saja sampai di persinggahan ini.”

Artikel Lainnya Intisari Islam

Bagikan Postingan