Mengapa Allah Tidak Terlihat?

Akidah dan Sunnah Jun 21, 2026 11:00 AM 45717

Ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang awam yang mulai penasaran dengan konsep ketuhanan, “Mengapa Tuhan tidak terlihat?” Sebagian yang menanyakan ini memanglah orang awam, sebagian lagi adalah kaum ateis alias juga agnostik yang mencoba mengkritisi konsep ketuhanan, khususnya dalam Islam. Namun, siapapun yang mengusulkan pertanyaan ini, perlu sekali untuk dijawab dengan pengetahuan yang mumpuni. Penulis bakal mencoba menyusun jawaban yang semoga Allah ﷻ berikan tuntunan di dalamnya.

Pertama: Tidak semua yang tak terlihat berfaedah tidak ada

Satu contoh argumen ringan yang menggelitik, tetapi cukup menjadi bekal adalah: kita sendiri tidak pernah memandang bentuk otak kita sendiri. Namun, kita percaya bahwa kita mempunyai otak, bukan?

Bagaimana kita bisa mempercayai bahwa kita mempunyai otak? Jelas ada proses permisalan yang kita lakukan. Kita menerima suatu kebenaran absolut bahwasanya umumnya manusia punya otak, kita pun bisa membuktikannya dengan gambar dan pengetahuan pengetahuan yang mumpuni. Dan kita sendiri adalah bagian dari manusia itu sendiri. Kita pun membuktikan bahwa diri kita adalah sejenis manusia dengan memandang kesamaan fitur yang banyak sekali. Maka, kita bisa meyakini dengan kuat meskipun tidak pernah melihat, bahwa kita mempunyai otak dalam tempurung kepala kita.

Di masa kini, jika kita mempunyai wawasan sains yang cukup, dengan mudah kita bisa menerima argumen ini. Ada banyak perihal di bumi ini yang tak pernah kita lihat secara langsung, tetapi kita yakini keberadaannya. Kita ambil contoh terdekat, ialah seluruh atom yang menyusun diri kita. Kita meyakini bahwa diri kita terdiri dari partikel atomik, tetapi kita sendiri tidak pernah memandang satuannya. Mungkin, sudah ada beberapa intelektual yang dapat memandang bentuk susunan atom, tetapi kebanyakan dari kita tidak pernah melihatnya langsung, tetapi kita tetap percaya. Yang lebih signifikan lagi adalah bentuk sub-atom, yang menyusun atom keseluruhan, hanya bisa ditentukan berasas pantulan gelombang dan kejadian fisika.

Jika kita hendak mengambil contoh yang banget jauh, maka contoh itu adalah bintang-bintang dan juga lubang hitam di langit kita. Ada banyak sekali berita bintang yang sampai kepada kita itu dalam bentuk paparan gelombang yang tak tertangkap mata. Lubang hitam misalnya, kita hanya bisa memandang belokan sinar yang disebabkan gravitasinya. Adapun lubang hitamnya sendiri, kita tidak bisa memastikan wujudnya secara zat. Padahal kita mengakuinya sebagai pengetahuan terkenal saat ini.

Semua itu menunjukkan bahwa ada banyak langkah untuk membikin kita menjadi percaya tanpa melihat. Di antara langkah itu adalah mengumpulkan banyak indikasi, persaksian, permisalan sejenis, serta tetap banyak lagi. Sedangkan Allah ﷻ adalah Zat yang paling banyak tanda keberadaannya.

Kedua: Banyaknya tanda keberadaan Allah ﷻ

Seluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan Allah ﷻ. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

كَيْفَ يُطْلَبُ الدَّلِيلُ عَلَى مَنْ هُوَ دَلِيلٌ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ؟

“Bagaimana dituntut agar dapat mencari bukti untuk menunjukkan sesuatu yang dia sendiri merupakan bukti atas segala sesuatu?” (Madarijus Salikin, 1: 82) [1]

Beliau lanjutkan dengan permisalan bahwa siang hari tidak perlu dibuktikan lagi lantaran saking jelasnya perwujudannya bagi siapapun yang berakal. Ibnul Qayyim rahimahullah kemudian berkata,

وَمَعْلُومٌ أَنَّ وُجُودَ الرَّبِّ تَعَالَى أَظْهَرُ لِلْعُقُولِ وَالْفِطَرِ مِنْ وُجُودِ النَّهَارِ

“Sudah diketahui bahwasaanya keberadaan Tuhan ﷻ lebih jelas bagi logika dan fitrah dibandingkan wujudnya realitas siang hari.” (Madarijus Salikin, 1: 83)

Tidakkah kita memandang langit dengan segala isinya beredar dengan ketentuan dan garis-garis edarnya? Tidakkah kita memandang ragam corak makhluk hidup dapat berbareng dengan segala keindahannya? Tidakkah kita sadar ada angan yang kita panjatkan dan dikabulkan dalam keadaan terbaiknya?

أَوَلَمْ يَنظُرُوا۟ فِى مَلَكُوتِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah?” (QS. Al-A’raf: 185)

Semua ini adalah bukti bahwasanya ada bentuk Allah ﷻ meskipun dia tidak terlihat dengan mata kepala langsung. Dan Allah ﷻ pun telah membujuk kita semua untuk merenungi perihal ini dalam banyak ayat-Nya.

Baca juga: Bagaimana Akal Menunjukan Keberadaan Allah Ta’ala?

Ketiga: Justru lantaran Allah ﷻ tidak terlihat adalah corak keadilan-Nya

Di bumi ini, tidak semua orang mempunyai penglihatan mata yang sempurna. Ada yang matanya rabun, katarak, apalagi (maaf) buta. Jika Allah ﷻ terlihat dalam bentuk fisikal yang tertangkap, maka sungguh ini menjadi tidak setara bagi manusia yang tak bisa melihat. Sedang Allah ﷻ adalah Zat Maha Adil, Dia tidak memberikan ruang kezaliman bagi diri-Nya.

Dalam sebuah hadis qudsi, dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ menyampaikan firman Allah ﷻ,

يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 6737)

Keempat: Allah ﷻ pasti bakal terlihat

Meski di bumi tidak mungkin terlihat, tetapi Allah ﷻ berjanji bakal memberikan penglihatan atas diri-Nya bagi manusia di hari alambaka nanti. Allah ﷻ berfirman,

وُجُوهُُ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nya mereka melihat…” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan maksud ayat tersebut,

تَرَاهُ عَيَانًا، كَمَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، رَحِمَهُ اللَّهُ، فِي صَحِيحِهِ: “إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَيَانا

“Mereka memandang Allah dengan mata kepala mereka sendiri, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Jarir, dalam kitab Shahih-nya, “Sungguh mereka bakal segera memandang Tuhan mereka betul-betul dengan mata kepala langsung.” (HR. Bukhari no. 554)

Allah ﷻ pasti terlihat di hari alambaka -bagi orang beriman- adalah iktikad yang ditetapkan oleh Ahlus Sunah, sebagaimana dinukilkan oleh para pemimpin salaf, termasuk dalam pembahasan panjang Ibn Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah dalam Syarah Thahawiyah-nya.

Kelima: Melihat Allah ﷻ menjadi keistimewaan orang beriman

Allah ﷻ berfirman,

لَهُم مَّايَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

“Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami adalah tambahannya.” (QS. Qaf: 35)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini, seperti firman Allah,

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang melakukan baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (QS. Yunus: 26)

Kenikmatan tambahan itu adalah memandang wajah Allah ﷻ. Sungguh hanya orang beragama yang dapat memandang tambahan kenikmatan tiada tara ini. Adapun orang kafir dan munafik, tidak mendapatkan nikmat ini. Allah ﷻ berfirman,

كَلآَّ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu betul-betul terhalang dari (melihat) Rabb mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15)

Keenam: Kesempurnaan konsep ujian di dunia

Dunia itu adalah darul bala, arena ujian bagi manusia. Ujian yang Allah ﷻ berikan adalah jalan bagi kita untuk menuju surga Allah ﷻ, jika sukses; alias justru kandas dan terjerembab ke dalam neraka-Nya.

Kegaiban Allah ﷻ dari perspektif pandang manusia adalah ujian yang menguji keagamaan manusia. Lihatlah kepada berita tentang sifat orang yang beragama dan menerima kebenaran Islam dalam awal mushaf Al-Quran. Dalam surah Al-Baqarah, muslim sejati dituntut untuk mengimani perkara gaib sebagaimana firman Allah ﷻ,

الم  ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

“Alif la mim. Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beragama kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugrahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 1-3)

Oleh lantaran itu, wajar sekali ketika tidak tampaknya bentuk Allah ﷻ itu berselarasan dengan konsep bumi sebagai arena ujian kehidupan. Tidak tampaknya bentuk unsur Allah ﷻ adalah hidayah bagi mereka yang betul-betul beragama kepada-Nya. Karena dengan itulah, Allah ﷻ berikan pahala spesial dibandingkan orang yang tidak percaya.

Ketujuh: Andai Allah ﷻ terlihat, apakah ada agunan bagi penentangnya untuk beriman?

Realitanya, para penentang eksistensi Tuhan dari kalangan ateis dan agnostik, tetap tidak bakal beragama kepada Allah ﷻ meskipun bentuk Allah ﷻ tampak pada bola matanya, jika mereka berkeras hatinya. Disebutkan salah satu tokoh ateis, Bertrand Russell, dia berkata, “Seandainya Tuhan menampakkan wujudnya sebelum saya mati, saya bakal berbicara kepadanya, ‘Mengapa engkau tidak tunjukkan bukti yang lebih baik lagi?’”

Demikian juga pernyataan ateis skeptisis, Richard Dawkins, bahwa meskipun ada perihal ajaib yang dapat berkorelasi dengan bukti keberadaan Tuhan, dia bakal selalu mencari jawaban kritikal berbasis argumen logis untuk membantahnya. [2]

Penutup

Jika kita dapat menyelami samudera ayat Allah ﷻ dengan logika dan fitrah yang Allah ﷻ tanamkan pada diri kita, maka kita dapat merasakan banyak keajaiban dari satu takdir Allah ﷻ. Sebuah takdir untuk kita tidak bisa memandang Allah ﷻ secara langsung di dunia, justru mengandung hikmah yang luar biasa besar bagi sistem kehidupan manusia. Di dalam kegaiban Allah ﷻ secara pandangan mata, justru terkandung nilai keadilan dan janji kenikmatan yang memotivasi kita untuk beramal lebih.

Selain itu, justru ayat Allah ﷻ yang banyak ini menjadi bukti yang cukup untuk membungkam orang yang sinis dengan Islam, dari kalangan ateis maupun penganut agnostisme. Kembalilah kepada Allah ﷻ, wahai orang-orang yang telah melampaui batas!

Baca juga: Cara Mengimani Wujud Allah Ta’ala

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

[1] Dinukilkan pula dalam Syarah Rinci Rukun Iman dan Mausuah Al-Aqdiyah.

[2] Nukilan ini diambil dari situs yang mengkaji argumen ateis berikut: https://www.str.org/w/why-evidence-will-not-convince-some-atheists

Selengkapnya
Mengapa Allah Tidak Terlihat?
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting