Mengapa Kita Tak Perlu Membenci Agama Lain?

May 11, 2026 01:33 PM - 1 hari yang lalu 452
Mengapa Kita Tak Perlu Membenci Agama LainMengapa Kita Tak Perlu Membenci Agama Lain

Kincai Media – Agama, sejatinya, tidak pernah tumbuh dari ruang hampa. Ia datang melalui rentang sejarah yang panjang, melalui tangan para pendakwah, melalui arus peradaban, melalui pergeseran budaya, dan melalui kelahiran kita di tengah lingkungan tertentu. Karena itu, sangat sulit, apalagi mustahil, untuk menyatakan bahwa keberagamaan kita muncul secara murni tanpa jejak sejarah dan kondisi sosial.

Seandainya saya lahir di Betawi alias Banten pada abad ke-14, besar kemungkinan saya bakal menjadi seorang Muslim. Jika Anda lahir di daerah yang dikuasai kekristenan sejak ratusan tahun lalu, besar kemungkinan Anda bakal menjadi Kristen. Sederhana saja: manusia adalah anak dari ruang dan waktu. Karena itu, keberagamaan kita pun tak bisa dilepaskan dari keduanya.

Jejak Agama di Nusantara

Nusantara telah lama menjadi rumah bagi beragam kepercayaan besar dunia. Hindu-Buddha datang pada awal abad pertama Masehi. Islam berkembang pesat sejak abad ke-14, setidaknya menurut bukti arkeologis dan catatan sejarah. Kristen datang melalui para misionaris sejak abad ke-16.

Apa artinya? Bahwa agama-agama yang sekarang kita anut sejatinya diterima dari mereka yang mendahului kita: pendatang, leluhur, guru, pemuka tradisi, dan jaringan sosial yang membentuk lingkungan kita.

Karena itu, kepercayaan yang kita anggap paling betul pun—secara manusiawi—dibentuk oleh keluarga, pendidikan, bacaan, pergaulan, dan ruang sosial tempat kita bertumbuh. Kita mempelajari kepercayaan justru setelah kita beragama. Kita jarang diberi pilihan lebih dari satu.

Kesadaran yang Membuat Rendah Hati

Sadar bakal akar sejarah dan budaya ini membikin kita semestinya bersikap rendah hati. Kita tidak sedang berdiri di ruang steril. Kita berdiri di tengah aliran besar sejarah.

Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan bahwa keragaman adalah sunnatullah:

وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Artinya; “Kami jadikan Anda berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar Anda saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Keragaman bukan kecelakaan sejarah. Ia adalah bagian dari rencana Ilahi. Karena itu, tidak ada argumen bagi kita membenci orang yang berbeda agama, apalagi hanya berbeda aliran dalam kepercayaan yang sama.

Ironisnya, daya umat berakidah saat ini justru paling banyak lenyap bukan lantaran perbedaan agama, tetapi perbedaan mini dalam internal masing-masing.

NU, Muhammadiyah, Persis. Katolik, Protestan, Ortodoks. Theravada, Mahayana, Tantra. Semua adalah hasil dialektika sejarah, wilayah, tradisi, dan guru-guru tertentu yang membentuk mereka.

Jika Kita Lahir di Tempat Lain…

Kesadaran sederhana ini sering kali hilang. Padahal, jika Anda lahir di Iran, besar kemungkinan Anda Syiah. Jika Anda lahir di Madura, kemungkinan Anda NU. Jika Anda lahir di Padang, Anda mungkin Muhammadiyah. Jika Anda lahir di Malaysia, menjadi Muslim berfaedah juga menjadi Melayu.

Dan jika Anda lahir di Amerika, Anda apalagi mungkin tidak tahu apa itu NU alias Muhammadiyah.

Lalu atas dasar apa kita memusuhi sesama manusia hanya lantaran langkah mereka berakidah berbeda? Dengan langkah apa kita dapat membenarkan kebencian itu? Tidak ada.

Kita merujuk teks suci, sejarah, dan para mahir yang kita percaya. Demikian pula orang lain. Semua menggali inspirasi dari sumber-sumber yang diyakini betul untuk kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.

Bahkan mereka yang tidak berafiliasi dengan kepercayaan tertentu tetap memakai logika budi dan etika untuk menjalani hidup—dan mereka tetap bisa bahagia.

Masalah-masalah besar dunia, pandemi, kerusakan lingkungan, ketimpangan ekonomi, kekerasan, korupsi, semuanya menimpa manusia tanpa memeriksa kepercayaan di KTP mereka. Kita menghadapi persoalan yang sama lantaran kita adalah bagian dari umat manusia yang sama.

Karena itu, beragamalah dengan lapang dada. Tidak perlu sesak napas setiap kali memandang orang lain berbeda. Tidak perlu sempit pikiran menyalahkan langkah orang lain mengenal Tuhan. Ketika kita memusuhi orang lain lantaran mereka berbeda, kita sedang mengundang mereka untuk memusuhi kita dengan argumen yang sama.

Allah mengingatkan pentingnya keadilan apalagi kepada yang berbeda:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

Artinya; Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu bertindak tidak adil. Berlaku adillah, lantaran setara lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Pada akhirnya, kepercayaan adalah sinar bagi kehidupan. Tetapi sinar itu datang kepada kita melalui jalan sejarah dan budaya yang panjang. Kita merawat sinar itu dengan bijak, bukan dengan kebencian. Kita menghidangkannya dengan adab, bukan dengan permusuhan.

Dan kita menerima bahwa meski berbeda iman, kita tetap sesama manusia—yang saling membutuhkan, bekerja sama, dan hidup berdampingan.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya