Panitia maulid membawa dalung berisikan bu kulah (nasi dibungkus daun pisang) dan lauk masakan unik tradional pada seremoni Maulid Raya Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Bujang Salim, Dewantara, Aceh Utara, Aceh, Selasa (25/8/2026). Kenduri makanan untuk dibagikan kepada anak yatim, fakir miskin dan penduduk sekitar dalam rangka peringatan Maulid Nabi tersebut merupakan tradisi turun temurun masyarakat Aceh yang tetap terus dilestarikan.
Kincai Media, GRESIK -- Mengapa umat Islam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW melalui Maulid Nabi, bukan hari wafatnya? Sementara itu, untuk para ulama, kiai, dan guru, umat Islam justru kerap memperingati hari wafat mereka melalui tradisi haul setiap tahun.
Pertanyaan tersebut disampaikan penceramah Maulid Nabi di Masjid At-Taqwa, Desa Sukaoneng, Pulau Bawean, Ustadz Mas'udi. Menurut dia, pertanyaan tersebut sebenarnya merupakan persoalan klasik yang telah dijawab oleh para ulama.
"Jadi, kenapa yang dirayakan hari lahir Nabi, bukan meninggalnya?" ujar Ustadz Mas'udi dalam ceramahnya pada Senin (24/8/2026).
Ia kemudian mengutip penjelasan Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab al-Hawi lil-Fatawa. Berikut penjelasan komplit Imam Jalaluddin As-Suyuthi:
إِنَّ وِلَادَتَهُ صلى الله عليه وسلّم أَعْظَمُ النِّعَمِ عَلَيْنَا , وَوَفَاتَهُ أَعْظَمُ الْمَصَائِبِ لَنَا ، وَالشَّرِيْعَةُ حَثَّتْ عَلَى إِظْهَارِ شُكْرِ النِّعَمِ وَالصَّبِرِ وَالسُّكُوْنِ وَالْكَتْمِ عِنْدَ المَصَائِبِ ، وَقَدْ أَمَرَ الشَّرْعُ بِالعَقِيْقَةِ عِنْدَ الوِلَادَةِ وَهِيَ إِظْهَارُ شُكْرٍ وَفَرَحٍ بِالمَوْلُوْدِ وَلَمْ يَأْمُرْ عِنْدَ المَوْتِ بِذَبْحٍ وَلَا بِغَيْرِهِ بَلْ نَهِى عَنِ النِّيَاحَةِ وَإِظْهَارِ الجَزَعِ ، فَدَلَّتْ قَوَاعِدُ الشَّرِيْعَةِ عَلَى أَنَّهُ يَحْسُنُ فِي هَذَا الشَّهْرِ إِظْهَارُ الفَرَحِ بِوِلَادَتِهِ صلى الله عليه وسلّم دُوْنَ إِظْهَارِ الحُزْنِ فِيْهِ بِوَفَاتِهِ ، وَقَدْ قَالَ ابْنُ رَجَبٍ فِي كِتَابِ الَّلطَائِفِ فِي ذَمِّ الرَّافِضَةِ حَيْثُ اتَّخَذُوا يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ مَأْتَمًا لِأَجْلِ قَتْلِ الْحُسَيْنِ لَمْ يَأْمُرِ اللهُ وَلَا رَسُولُهُ بِاتِّخَاذِ أَيَّامِ مَصَائِبِ الأَنْبِيَاءِ وَمَوْتِهِمْ مَأْتَمًا فَكَيْفَ مِمَنْ هُوَ دُوْنَهُمْ ؟
Artinya: "Kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah kenikmatan terbesar untuk kita, sementara wafatnya beliau adalah musibah terbesar terhadap kita. Dan hukum memerintahkan kita untuk menampakkan rasa syukur atas nikmat dan bersabar serta tak bersuara dan merahasiakan atas ujian yang menimpa. Terbukti kepercayaan memerintahkan untuk menyembelih kambing sebagai akikah pada saat kelahiran anak, sementara perihal itu termasuk bagian dari menampakkan rasa syukur dan kebahagiaan atas kelahiran.
Dan hukum tidak memerintahkan menyembelih hewan di saat ada kematian, apalagi melarang adanya ratapan dan menampakkan kesedihan. Jadi, norma hukum menunjukkan bahwasanya yang baik dalam bulan Maulid adalah menampakkan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, bukan menampakkan kesusahan atas musibah wafatnya beliau di bulan tersebut.
Dan sungguh Imam Ibnu Rajab dalam kitabnya, al-Latho'if, bab tentang 'Pencelaan terhadap kaum Syiah Rafidhah', di mana mereka telah menjadikan Asyura sebagai hari seremoni terbunuhnya Sayyidina al-Husain, beliau berkata: Allah dan Rasul-Nya tidak memerintahkan agar menjadikan hari tertimpanya musibah dan wafatnya para nabi sebagai hari peratapan. Lalu gimana dengan orang yang derajatnya di bawah mereka?"