Ada argumen kenapa seseorang rela menghabiskan beberapa jam di coffee shop meskipun kopi yang sama bisa dibuat lebih murah di rumah. Ada argumen perpustakaan, taman kota, bookstore, coworking space, gym, warung kecil, hingga tempat makan tertentu akhirnya mempunyai pengguna yang datang berulang kali meskipun mereka tidak selalu memerlukan sesuatu.
Yang dicari sering kali bukan semata produk alias fasilitas. Yang dicari adalah tempat.
Dalam kajian urban dan sosiologi, ruang seperti itu sering disebut third place: tempat ketiga setelah rumah sebagai first place dan tempat kerja sebagai second place. Sosiolog Amerika Ray Oldenburg memopulerkan konsep tersebut melalui “The Great Good Place” pada akhir 1980-an. Ia menggunakannya untuk menjelaskan ruang informal tempat orang dapat datang secara relatif mudah, berjumpa orang lain, berbicara, dan perlahan membangun hubungan sosial di luar family maupun pekerjaan.
Third place tidak kudu berupa coffee shop bergaya minimalis dengan Wi-Fi cepat. Pub, barber shop, taman, perpustakaan, warung, tempat ibadah, recreation center, bookstore, hingga restoran lingkungan dapat menjalankan kegunaan yang sama. Brookings apalagi menekankan bahwa kekuatan third place terletak pada sifatnya yang informal: orang dapat berjumpa secara rutin tanpa memerlukan kegiatan unik alias hubungan yang sudah direncanakan sebelumnya.
Konsep ini bukan sesuatu yang baru. Yang berubah adalah kondisi kehidupan modern yang membikin kebutuhannya terasa kembali sangat relevan.

Photo via Pexels
Rumah dan Kantor Tidak Lagi Membagi Hidup dengan Rapi
Selama puluhan tahun, banyak kehidupan kelas pekerja urban dibayangkan melalui pemisahan sederhana. Rumah adalah tempat kehidupan personal, instansi menjadi tempat bekerja, sementara ruang di antara keduanya diisi oleh kegiatan sosial. Pandemi mengacaukan pembagian tersebut.
Bagi pekerjaan yang dapat dilakukan secara remote, rumah tiba-tiba berubah menjadi kantor, ruang rapat, kantin, sekaligus tempat beristirahat. Meskipun beragam perusahaan kemudian memanggil karyawannya kembali, pola kerja tidak sepenuhnya kembali seperti 2019.
Data Gallup menunjukkan perubahan tersebut cukup memperkuat lama. Pada 2019, 60 persen pekerja Amerika dengan pekerjaan yang memungkinkan remote tetap bekerja sepenuhnya dari kantor, sedangkan hanya 8 persen sepenuhnya remote. Data Gallup pada Mei 2026 menunjukkan situasinya sudah sangat berbeda: 52 persen bekerja secara hybrid, 26 persen sepenuhnya remote, dan hanya 22 persen yang sepenuhnya berada di kantor. Angka Amerika Serikat tentunya tidak dapat langsung diterapkan ke Indonesia, tetapi menggambarkan perubahan struktural bumi kerja ahli yang juga terlihat di banyak kota global.
Ketika pekerjaan bisa dibawa ke mana-mana melalui laptop, smartphone dan cloud, muncul kebutuhan terhadap ruang yang berada di antara kenyamanan rumah dan formalitas kantor. Penelitian 2024 menggunakan informasi ponsel di Beijing apalagi menemukan sebagian pekerja remote memilih bekerja dari third places, terutama letak yang dekat dengan area tempat tinggal, berada di lingkungan mixed-use dan mudah diakses transportasi publik.
Coffee shop, perpustakaan dan coworking space kemudian bukan lagi sekadar tempat nongkrong. Mereka dapat menjadi semacam ruang transisi: cukup publik untuk membikin seseorang merasa berada di bumi luar, tetapi cukup elastis untuk memungkinkan orang bekerja, membaca, berjumpa kawan alias sekadar duduk sendiri.
Kota Bisa Sangat Ramai dan Tetap Membuat Orang Kesepian
Paradoks kehidupan urban adalah manusia dapat dikelilingi ribuan orang setiap hari tanpa betul-betul mempunyai hubungan dengan banyak di antaranya.
WHO pada 2025 memperkirakan sekitar satu dari enam orang di bumi mengalami loneliness, dengan tingkat lebih tinggi pada remaja dan dewasa muda. WHO membedakan loneliness dari social isolation: seseorang dapat dikelilingi orang lain tetapi tetap merasa hubungan sosial yang dimilikinya tidak sesuai dengan kedekatan yang dibutuhkan.
Dampaknya bukan sekadar emosi tidak nyaman. WHO Commission on Social Connection menyatakan social disconnection berangkaian dengan kesehatan bentuk dan mental yang lebih buruk, dan memperkirakan loneliness berangkaian dengan lebih dari 870.000 kematian prematur per tahun pada periode informasi yang dianalisis. Organisasi tersebut juga menunjuk urbanisasi cepat, perubahan demografi, transformasi digital dan ketimpangan sebagai bagian dari perubahan besar yang memengaruhi gimana manusia membangun hubungan sosial. Di sinilah third place mempunyai kegunaan yang sering diremehkan.
Tidak semua hubungan sosial lahir dari percakapan mendalam alias persahabatan dekat. Ada pula hubungan lemah yang dibangun hanya dengan mengenali wajah barista, berbincang singkat dengan tetangga, berjumpa orang yang sama di taman setiap sore, alias mengetahui bahwa beberapa orang lain biasanya membaca di meja yang sama setiap akhir pekan.
Interaksi tersebut mungkin terlihat trivial, tetapi kota memerlukan banyak hubungan mini seperti ini agar tidak terasa sebagai kumpulan orang asing yang kebetulan tinggal berdekatan.
OECD dalam laporan mengenai social connection pada 2025 apalagi secara unik menyoroti social infrastructure—perpustakaan, taman, playground, tempat ibadah, café, bookstore, barber shop dan beragam ruang komunal lain—sebagai bagian krusial dari lingkungan yang memungkinkan pertemuan informal serta hubungan antarkelompok sosial berkembang.

Kita Tidak Selalu Pergi ke Café lantaran Kopinya
Hal tersebut juga membantu menjelaskan kenapa café mempunyai posisi begitu kuat dalam kehidupan perkotaan modern. Secara ekonomi, menjual kopi dan makanan adalah bisnisnya. Secara sosial, beberapa café menjual sesuatu yang lebih abstrak: izin untuk berada di suatu tempat.
Seseorang dapat datang sendiri tanpa dianggap aneh, membuka laptop, membaca buku, berjumpa teman, alias hanya memandang kehidupan kota bergerak di sekelilingnya.
Penelitian mengenai third place apalagi telah menemukan faedah sosial dari pola kunjungan berulang. Studi yang pernah dilaporkan American Psychological Association terhadap pengguna tetap sebuah restoran menemukan bahwa orang-orang yang menghadapi kondisi seperti kehilangan pasangan alias perceraian memperoleh porsi signifikan support sosial mereka dari orang yang dikenal melalui tempat tersebut.
Penelitian lain terhadap mahasiswa di Southern California menemukan café dan coffee shop dapat memberikan faedah psikologis restoratif yang dalam beberapa aspek menyerupai kegunaan taman kota. Namun perihal ini juga menjelaskan kenapa tidak semua café otomatis menjadi third place.
Sebuah ruangan dengan meja, Wi-Fi dan mesin espresso belum tentu menghasilkan komunitas. Faktor seperti keterjangkauan, kenyamanan untuk tinggal cukup lama, akses transportasi, keberadaan pengguna tetap dan kemungkinan melakukan hubungan informal jauh lebih menentukan.
Third place pada dasarnya bukan jenis bisnis. Ia adalah fungsi sosial sebuah ruang.
Indonesia Akan Semakin Urban, sehingga Persoalan Ruang Sosial Akan Semakin Penting
Pertanyaan mengenai third place menjadi semakin relevan untuk Indonesia lantaran masyarakat Indonesia sendiri semakin urban.
World Bank mencatat sekitar 58,1 persen populasi Indonesia sudah tinggal di daerah urban pada 2023. Bappenas memperkirakan proporsi masyarakat perkotaan bakal mencapai sekitar 72,9 persen pada 2045. Artinya semakin banyak kehidupan Indonesia bakal berjalan dalam kota.
Namun membangun kota tidak cukup hanya dengan membangun perumahan, perkantoran, jalan dan pusat perbelanjaan. Kota juga memerlukan tempat yang memungkinkan orang berada di ruang publik tanpa selalu kudu mempunyai tujuan ekonomi besar.
Hal tersebut terutama krusial ketika corak kediaman urban semakin padat. Apartemen kecil, kos, rumah dengan ruang terbatas, perjalanan jauh menuju instansi serta kehidupan dengan mobilitas tinggi membikin ruang di luar rumah mempunyai kegunaan tambahan.
Bagi seseorang yang tinggal sendiri di bilik kos, coffee shop dapat menjadi ruang tamu tambahan. Bagi pekerja hybrid, perpustakaan alias coworking space bisa menjadi pengganti ketika bekerja terus-menerus dari bilik mulai terasa menyesakkan. Bagi orang tua, taman menjadi tempat anak bermain sekaligus kesempatan berjumpa family lain. Bagi organisasi tertentu, bookstore, record store alias venue musik dapat menjadi titik pertemuan orang yang mempunyai minat sama.
Karena itu kebutuhan terhadap third place sebenarnya tidak selalu berbincang mengenai tren café baru. Ia berbincang tentang bagaimana kota menyediakan ruang untuk kehidupan sosial terjadi secara spontan.

Photo via cityofsydney.nsw.gov.au
Masalahnya: Tidak Semua Third Place Benar-Benar Publik
Ada pertentangan besar dalam kebangkitan konsep third place saat ini. Banyak ruang yang menjalankan fungsinya justru merupakan upaya privat. Untuk berada cukup lama di café, restoran, coworking space alias mall, seseorang biasanya kudu melakukan konsumsi. Semakin mahal biaya hidup suatu kota, semakin mahal pula kemungkinan akses terhadap third place tersebut.
Brookings telah mengingatkan bahwa kenaikan nilai real estate dapat membikin ruang pertemuan informal berbiaya rendah semakin susah bertahan. Ketika toko kecil, café lingkungan, taman alias akomodasi organisasi menghilang, masyarakat bukan hanya kehilangan fasilitas. Mereka kehilangan prasarana sosial.
Karena itu perpustakaan, taman, alun-alun, community center, pedestrian area dan ruang publik lain mempunyai peran yang tidak sepenuhnya dapat digantikan café.
Perbedaannya fundamental: seseorang idealnya dapat menggunakan ruang publik tanpa kudu membeli kewenangan untuk berada di sana.
Perpustakaan merupakan contoh menarik. Fungsinya sekarang jauh lebih luas daripada menyimpan buku. Banyak perpustakaan modern menyediakan ruang belajar, komputer, kegiatan komunitas, workshop dan tempat berkumpul. Brookings memandang lembaga tersebut sebagai salah satu corak social infrastructure yang dapat memperkuat hubungan organisasi lantaran relatif terbuka bagi golongan usia dan latar ekonomi yang berbeda.
Third place terbaik lantaran itu tidak selalu tempat paling menarik secara visual. Sering kali dia justru tempat paling mudah dimasuki.
Dari Instagrammable menuju Sense of Belonging
Selama satu dasawarsa terakhir, obrolan tentang ruang lifestyle sering didominasi estetika. Café dinilai melalui interior, hotel melalui desain, letak wisata melalui seberapa bagus hasil fotonya di media sosial. Namun third place menawarkan langkah berbeda untuk mengukur kualitas sebuah tempat.
Pertanyaannya bukan hanya apakah ruang tersebut terlihat menarik, tetapi apakah orang mau kembali.
Apakah seseorang merasa nyaman datang sendirian? Apakah ada pengguna tetap? Apakah ruang tersebut memberi kesempatan untuk berbincang dengan orang lain tanpa memaksa interaksi? Apakah seseorang dengan pendapatan berbeda tetap dapat mengaksesnya? Apakah tempat tersebut terasa sebagai bagian dari lingkungan, bukan objek yang berdiri terpisah darinya?
Dalam konteks itu, belonging lebih krusial daripada branding.
Third place yang sukses biasanya memperoleh makna justru setelah digunakan berulang kali. Seorang barista mulai mengenali pesanan. Penjaga toko mengenali pelanggan. Orang yang datang setiap Sabtu mulai mengenali wajah lain. Sebuah perspektif taman menjadi tempat organisasi berkumpul tanpa perlu reservasi.
Ruang bentuk perlahan berubah menjadi hubungan.

Kota yang Baik Bukan Hanya Tempat Tinggal dan Bekerja
Ada satu argumen lain kenapa pembicaraan tentang third place kembali terasa penting: sebagian besar kehidupan digital hari ini sangat efisien.
Makanan dapat dikirim. Belanja dapat dilakukan melalui aplikasi. Film tersedia melalui streaming. Meeting bisa melalui Zoom. Pekerjaan bisa dikirim lewat cloud. Bahkan hubungan sosial bisa dipertahankan melalui group chat.
Efisiensi tersebut memberikan banyak keuntungan, tetapi sekaligus menghapus sebagian argumen mini yang dulu membikin manusia kudu keluar rumah dan berjumpa orang lain.
Kita tidak lagi kudu pergi ke toko musik untuk mendapatkan album, bertanya arah kepada orang asing, datang ke instansi hanya untuk memberikan dokumen, alias pergi ke persewaan untuk mencari film. Banyak friction dalam kehidupan telah hilang.
Masalahnya, sebagian social interaction juga ikut lenyap berbareng friction tersebut.
Third place kemudian menjadi salah satu ruang langka yang tetap memungkinkan manusia berada berbareng orang lain tanpa agenda besar. Kita mungkin datang untuk kopi, olahraga, kitab alias menyelesaikan pekerjaan, tetapi pada saat yang sama tetap berada di tengah kehidupan sosial yang tidak sepenuhnya dapat direplikasi layar.
Karena itu, kebutuhan bakal third place tidak kudu dibaca sebagai tren lifestyle sementara.
Ia justru memperlihatkan sesuatu yang cukup esensial mengenai kehidupan kota modern: manusia memerlukan lebih dari rumah yang nyaman dan pekerjaan yang baik. Mereka juga memerlukan ruang di mana mereka dapat datang tanpa kudu menjadi personil keluarga, karyawan, pengguna penting, alias siapa pun secara khusus.
Di tengah kota yang semakin padat tetapi kehidupan yang bisa semakin individual, third place menyediakan sesuatu yang sangat sederhana sekaligus semakin bernilai: tempat untuk merasa menjadi bagian dari kota, bukan sekadar tinggal di dalamnya.
Sumber: World Health Organization, WHO Commission on Social Connection; OECD, “Social Connections and Loneliness in OECD Countries”; Gallup; World Bank; Kementerian PPN/Bappenas; Brookings Institution; American Psychological Association; Sustainable Cities and Society; Cities.