Mengenal Akidah Maturidiyyah (Bag. 2): Pokok-Pokok Keyakinan Maturidiyyah dan Bantahan Ahlus Sunnah

Mengenal Akidah Maturidiyyah (Bag. 2): Pokok-Pokok Keyakinan Maturidiyyah dan Bantahan Ahlus Sunnah

Mempelajari sejarah aliran teologi tidak cukup hanya dengan mengetahui siapa tokoh pendirinya dan di daerah mana ajaran tersebut menyebar. Bagi seorang penuntut ilmu, kajian sejarah hanyalah pintu masuk untuk menelaah perihal yang jauh lebih esensial, ialah menimbang pokok-pokok kepercayaan yang dibangun aliran tersebut dengan neraca Al-Qur’an, As-Sunah, dan pemahaman generasi salaf.

Langkah ini sangat diperlukan agar seseorang tidak mudah menyimpulkan bahwa suatu golongan otomatis berada di atas manhaj yang lurus hanya lantaran luasnya jaringan pendidikan alias besarnya jumlah pengikut mereka di bumi Islam. Di antara aliran teologi dalam Islam yang eksis adalah Maturidiyyah.

Pokok-pokok kepercayaan Maturidiyyah dan sanggahan Ahlus sunah 

Maturidiyyah lahir dari tekad untuk memihak kepercayaan dari serangan kaum rasionalis Mu’tazilah. Akan tetapi, perangkat argumentasi yang digunakan justru meminjam tradisi Ilmu Kalam yang didasarkan pada logika filosofis. Dampaknya, muncullah sejumlah penyimpangan metodologis dalam penetapan iktikad yang menyelisihi jalan para sahabat dan pemimpin ahlul hadis.

Pertama, menjadikan akal sebagai hakim atas wahyu

Titik pangkal dari seluruh persoalan teologi Maturidiyyah adalah penempatan logika sebagai sumber utama dalam menetapkan akidah. Abu Manshur al-Maturidi sendiri menegaskan norma ini sejak awal dalam karya babonnya,

إن العلم بالله وبأمره عرض لا يدرك إلا بالاستدلال

“Sesungguhnya pengetahuan tentang Allah dan perintah-Nya adalah ‘ardh yang tidak dapat diketahui selain dengan istidlal (penalaran).” [1]

Penalaran yang dimaksud adalah pembuktian logis yang berpusat pada akal. Dalam pandangan mereka, urusan kepercayaan terbagi menjadi daerah ‘aqliyyat (yang bisa dicapai akal) dan sam’iyyat (yang hanya diketahui lewat wahyu). Pada daerah ‘aqliyyat, logika diangkat sebagai pengadil pemutus. Ketika terdapat dalil wahyu yang dianggap tidak sejalan dengan konklusi logika mereka, maka sabda akhirpekan bakal ditolak, sedangkan ayat alias sabda mutawatir bakal ditakwilkan dari makna zahirnya. [2]

Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani rahimahullah memberikan norma emas untuk membongkar keruntuhan langkah berpikir tersebut. Beliau berkata,

اعلم أن فصل ما بيننا وبين المبتدعة هو مسألة العقل؛ فإنهم أسسوا دينهم على المعقول وجعلوا الاتباع والمأثور تبعا للمعقول، وأما أهل السنة قالوا: الأصل في الدين الاتباع والعقول تبع، ولو كان أساس الدين على المعقول لاستغنى الخلق عن الوحي وعن الأنبياء صلوات الله عليهم ولبطل معنى الأمر والنهي ولقال من شاء ما شاء

“Ketahuilah bahwa pembeda antara kami dengan ahli bid’ah adalah masalah akal. Mereka membangun agama mereka di atas akal dan menjadikan ittiba’ dan atsar sebagai pengikut akal. Adapun Ahlus sunah mengatakan: pokok dalam kepercayaan adalah ittiba’ (mengikuti dalil, ed.), dan logika adalah pengikut. Seandainya asas kepercayaan adalah akal, niscaya makhluk tidak butuh wahyu dan tidak butuh para Nabi. Dan batallah makna perintah dan larangan, sehingga siapa saja bisa berbicara sesukanya.” [3]

Ahlus sunah menegaskan bahwa logika manusia mempunyai pemisah keahlian yang tidak bakal bisa menjangkau prinsip ketuhanan tanpa pengarahan wahyu. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan pengetahuan, melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra: 85)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ

“Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari pengetahuan Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani melengkapi norma ini dengan mengingatkan prinsip kepatuhan seorang hamba terhadap nash syariat,

وإنما علينا أن نقبل ما عقلناه إيماناً وتصديقاً، وما لم نعقله قبلناه تسليماً واستسلاماً، وهذا معنى قول القائل من أهل السنة: إن الإسلام قنطرة لا تعبر إلا بالتسليم

Sesungguhnya yang wajib atas kita adalah menerima apa yang kita pahami dengan iman dan tashdiq (membenarkan dalam hati, ed.), dan yang tidak kita pahami kita terima dengan taslim dan istislam (menerima, tunduk, dan patuh, ed.). Inilah makna perkataan sebagian Ahlus sunah: sesungguhnya Islam adalah jembatan yang tidak bisa diseberangi selain dengan taslim.” [4]

Kedua, menolak hujjah hadis ahad dalam akidah

Pengagungan terhadap logika bersambung pada penolakan terhadap sabda akhirpekan dalam masalah iktikad. Maturidiyyah beranggapan bahwa sabda akhirpekan hanya menghasilkan prasangka (zhanni), sedangkan iktikad kudu dibangun di atas kepastian (yushil ilal yaqin). Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani menepis argumen yang menyelisihi kesepakatan ustadz salaf ini dengan menerangkan,

قولهم: إن أخبار الآحاد لا تقبل فيما طريقه العلم رأي سمعت به المبتدعة في رد الأخبار. إذ أن الخبر إذا صح ورواه الثقات والأئمة، وتلقته الأمة بالقبول فإنه يوجب العلم

“Perkataan mereka, ‘Sesungguhnya khabar ahad tidak diterima dalam perihal yang jalannya pengetahuan adalah pendapat yang menjadi tempat berpegang mahir bid’ah untuk menolak khabar. Padahal, jika khabar itu sahih, diriwayatkan oleh para tsiqah dan para imam, serta diterima oleh umat, maka dia menghasilkan ilmu.” [5]

Ibnul Qayyim rahimahullah turut menjelaskan bahwa pemisahan antara sabda untuk norma amaliah dan sabda untuk iktikad adalah perkara baru yang tidak pernah dikenal di masa salaf. Beliau menegaskan,

ولم تزل الصحابة والتابعون وتابعوهم، وأهل الحديث والسنة يحتجون بهذه الأخبار في مسائل الصفات والقدر والأسماء والأحكام، ولم ينقل عن أحد منهم البتة أنه جوّز الاحتجاج بها في مسائل الأحكام دون الإخبار عن الله، وأسمائه وصفاته

“Para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, mahir hadis, dan Ahli sunah senantiasa berhujjah dengan khabar-khabar ini dalam masalah sifat, qadar, asma (nama Allah), dan hukum. Dan tidak dinukil sama sekali dari salah seorang di antara mereka bahwa dia membolehkan berhujjah dengannya dalam masalah norma saja tanpa masalah khabar tentang Allah, nama, dan sifat-Nya.” [6]

Bahkan Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan kesaksian sejarah umat Islam,

ونحن نشهد بالله ولله شهادةً على البت والقطع أن الصحابة رضي الله عنهم كانوا يجزمون بما يحدث به أحدهم عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يقل أحد منهم لمن حدثه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: خبرك خبر واحدٍ لا يفيد العلم حتى يتواتر

“Kami bersaksi dengan Allah dan untuk Allah, kesaksian yang pasti dan tegas, bahwa para sahabat radhiyallahu ‘anhum betul-betul memastikan apa yang diriwayatkan oleh salah seorang mereka dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak seorang pun dari mereka berbicara kepada orang yang meriwayatkan sabda dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Khabarmu adalah khabar akhirpekan yang tidak menghasilkan pengetahuan sehingga dia kudu mutawatir.’” [7]

Dalil dari sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggugurkan klaim Maturidiyyah ini sangatlah banyak. Di antaranya adalah sabda Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami, tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji keagamaan seorang budak wanita dengan pertanyaan akidah,

أَيْنَ اللَّهُ؟ قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ: أَعْتِقْهَا، فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

Di mana Allah? Budak wanita itu menjawab: Di atas langit. Beliau bertanya lagi: Siapa aku? Budak itu menjawab: Engkau adalah utusan Allah. Beliau pun bersabda: Bebaskan dia, karena sesungguhnya dia seorang mukminah.” (HR. Muslim no. 537)

Hadis ini merupakan sabda ahad, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikannya sebagai standar keabsahan ketaatan dalam masalah yang sangat agung, ialah sifat ﻋﻠو (ketinggian) Allah di atas makhluk-Nya. Bahkan, Imam Abu Hanifah rahimahullah sendiri beralasan dengan sabda budak wanita ini dalam menetapkan sifat uluww Allah Ta’ala. [8]

Ketiga, menafikan sifat khabariyyah dan sifat ikhtiyariyyah

Penyimpangan teologis Maturidiyyah yang cukup berat tampak pada penolakan mereka terhadap sifat-sifat khabariyyah yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunah (seperti wajah, kedua tangan, alias istiwa’ di atas Arsy), serta sifat-sifat perbuatan yang mengenai dengan kehendak Allah (shifat ikhtiyariyyah alias fi’liyyah lazimah). Mereka mengira penetapan sifat tersebut bakal menyamakan Pencipta dengan makhluk. Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi merangkum pokok pikiran mereka dalam risalah ilmiahnya,

قالت الماتريدية بنفي جميع الصفات الخبرية التي وردت في الكتاب والسنة، وذلك لأن مصدرهم في التلقي هو العقل، ولاعتقادهم أن إثبات هذه الصفات على حقيقتها يستلزم التشبيه والتجسيم، واحتجوا لقولهم هذا بشُبه فاسدة

“Maturidiyyah menafikan seluruh sifat khabariyyah yang datang dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Ini lantaran sumber talaqqi mereka adalah akal, dan lantaran kepercayaan mereka bahwa menetapkan sifat-sifat ini dalam makna sesungguhnya melazimkan tasybih dan tajsim. Mereka berhujjah untuk pendapat ini dengan syubhat-syubhat yang batil.” [9]

Beliau juga mencatat penolakan mereka terhadap sifat-sifat perbuatan yang bersifat lazimah,

نفت الماتريدية الصفات الفعلية اللازمة، وذلك لأن الأصل في ثبوتها الخبر، ولأنها صفات اختيارية، وهم يمنعون أن تقوم بالله صفة اختيارية حذراً من التشبيه وفراراً منه

“Maturidiyyah menafikan sifat-sifat fi’liyyah yang lazimah lantaran asal penetapannya adalah khabar, dan lantaran dia merupakan sifat ikhtiyariyyah. Mereka melarang Allah mempunyai sifat ikhtiyariyyah lantaran cemas dan lari dari tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk, ed.).” [10]

Dr. Syamsuddin Al-Afghani dalam kajian mendalamnya membongkar akar masalah tersebut dengan menunjukkan bahwa mereka keliru dalam memahami batas tasybih dan tanzih. Beliau menulis,

إن الماتريدية لم يعرفوا حقيقة التشبيه الذي يجب نفيه عن الله تعالى، فأدخلوا في مفهوم التشبيه كثيراً من الصفات فنفوها

Sesungguhnya Maturidiyyah tidak mengetahui prinsip tasybih yang wajib dinafikan dari Allah. Maka, mereka memasukkan banyak sifat ke dalam pengertian tasybih, lampau mereka nafikan sifat-sifat itu.” [11]

Pada saat yang sama, beliau melanjutkan keterangannya,

كما أنهم لم يعرفوا حقيقة التنزيه الذي يجب إثباته لله سبحانه، فأدخلوا في مفهوم التنزيه نفي كثير من الصفات فعطلوها

“Sebagaimana mereka juga tidak mengetahui prinsip tanzih yang wajib ditetapkan bagi Allah. Maka, mereka memasukkan penafian banyak sifat ke dalam pengertian tanzih, lampau mereka ta’thil sifat-sifat itu.[12]

Manhaj salaf menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya tanpa tasybih dan tanpa ta’thil, berasas firman Allah Ta’ala,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Ayat ini membantah kaum musyabbihah pada firman-Nya (“tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”), sekaligus membantah kaum mu’aththilah dan penafsir kalam pada firman-Nya (“dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”).

Keempat, dilema antara tafwidh dan takwil serta pertentangan pembatasan sifat

Dalam menyikapi ayat-ayat sifat, Maturidiyyah menempuh dua jalan yang sama-sama menyimpang dari jalan salaf, ialah tafwidh (menyerahkan makna kepada Allah) dan takwil (memalingkan dari makna lahirnya). Namun dalam praktiknya, jalan takwil jauh lebih mendominasi literatur mereka. Dr. Syamsuddin al-Afghani memotret realitas madrasah ini dengan perkataan,

لكن قولهم بالتفويض للتخلص من نصوص السلف القاطعة الصريحة في الإثبات فقط، وإلا مذهبهم الذي استقروا عليه وطبقوه عملياً هو التأويل المبتدع الذي هو عين التحريف والتعطيل

“Perkataan mereka dengan tafwidh sebenarnya hanya untuk lepas dari nash-nash salaf yang qath’i dan sharih dalam menetapkan sifat. Adapun ajaran yang mereka pegang teguh dan mereka aplikasikan secara nyata adalah takwil yang bid’ah, yang pada hakikatnya adalah tahrif dan ta’thil.” [13]

Klaim sebagian tokoh mereka bahwa tafwidh absolut (menyerahkan makna sekaligus kaifiyat) adalah ajaran salaf juga disanggah secara keras oleh para peneliti akidah. Dr. Syamsuddin al-Afghani menegaskan,

ادعت الماتريدية على السلف تفويضاً مطلقاً في الكيف والمعنى جميعاً، وهذه الدعوى باطلة على السلف لا حقيقة لها، وأنها خطأ عليهم، وافتراء شنيع وبهتان فظيع وتقول وتقويل

Maturidiyyah mendakwakan atas para salaf tafwidh absolut dalam kaifiyat dan makna sekaligus. Dakwaan ini batil atas para salaf, tidak mempunyai hakikat, dia merupakan kesalahan atas mereka, iftira’ yang keji, buhtan (kebohongan) yang dahsyat, dan taqawwul (mengarang-ngarang atas nama mereka).[14]

Sisi kelemahan argumen Maturidiyyah terlihat jelas dari ketidakkonsistenan mereka dalam menetapkan sifat. Mereka menetapkan delapan sifat namun menolak sifat-sifat lainnya, padahal argumen logika yang mereka pakai untuk menolak sifat khabariyyah dapat pula diterapkan pada sifat yang mereka tetapkan. Dr. Syamsuddin Al-Afghani membongkar pertentangan tersebut,

الماتريدية متناقضون في قضية التأويل حيث أثبتوا بعض الصفات وأولوا بعضها فإما أن يثبتوا جميع الصفات، وإما أن يؤولوا جميعها، لأن الدافع للتأويل وهو شبهة التشبيه، وتحقيق التنزيه موجود فيما أثبتوه أيضاً

“Maturidiyyah kontradiktif dalam masalah takwil. Mereka menetapkan sebagian sifat dan mentakwil sebagian yang lain. Seharusnya, mereka menetapkan seluruh sifat, atau mentakwil semuanya. Karena pendorong takwil, ialah syubhat tasybih dan upaya tanzih, juga ada pada sifat-sifat yang mereka tetapkan.” [15]

Pembatasan mereka pada delapan sifat saja ialah qudrah, ilmu, hayat, iradah, sam’, bashar, kalam, dan takwin dinilai oleh para ustadz sebagai pembedaan tanpa dasar dalil dari logika maupun nash wahyu (takhshish tanpa mukhashshish). [16]

Kelima, penyimpangan dalam bab kalamullah dan iman

Dalam persoalan kalamullah, Maturidiyyah mengangkat konsep kalam nafsi dari Ibn Kullab. Syekh Ahmad al-Harbi merangkum kepercayaan mereka,

قالت الماتريدية في كلام الله: أنه معنىً واحد، قديم أزلي، ليس له تعلق بمشيئته تعالى وقدرته، وأنه ليس بحرف ولا صوت، وأنه كلام نفسي، وأنه لا يسمع إنما يسمع ما هو عبارة عنه

“Maturidiyyah berpendapat tentang kalam Allah: bahwa ia adalah satu makna, qadim azali, tidak berangkaian dengan masyi’ah (kehendak) dan qudrah-Nya, tidak berupa huruf dan tidak pula suara, ia adalah kalam nafsi, dan tidak dapat didengar. Yang didengar hanyalah ‘ibarah (ungkapan) tentangnya.” [17]

Manhaj salaf menetapkan bahwa Allah berbicara dengan huruf dan suara sesuai kehendak-Nya yang didengar oleh siapa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An-Nisa: 164)

Adapun dalam bab iman, Maturidiyyah membatasi ketaatan pada pembenaran hati saja alias pembenaran hati disertai janji lisan tanpa adanya penambahan dan pengurangan. Syekh Ahmad al-Harbi menjelaskan,

ذهبت الماتريدية إلى أن الإيمان هو التصديق بالقلب فقط، وقال بعضهم بأنه التصديق بالقلب والإقرار باللسان. ومنعوا زيادته ونقصانه، وقالوا بتحريم الاستثناء فيه

“Maturidiyyah beranggapan bahwa ketaatan adalah tashdiq dalam hati saja. Sebagian mereka mengatakan bahwa ketaatan adalah tashdiq dalam hati dan iqrar dengan lisan. Mereka menolak bertambah dan berkurangnya iman, serta mengharamkan istitsna’ dalam iman.” [18]

Mereka juga membolehkan ketaatan orang yang bertaklid (iman muqallid) meskipun dinilai berdosa jika meninggalkan tanggungjawab penalaran akal. Syekh Ahmad al-Harbi menilai asas ini,

أن الماتريدية قالت بصحة إيمان المقلد مع الإثم على ترك النظر والاستدلال وقولهم هذا باطل؛ لأنه بني على أصلٍ باطل، وهو أن النظر والاستدلال أصل الدين والإيمان

“Sesungguhnya Maturidiyyah beranggapan sahnya ketaatan muqallid disertai dosa atas peninggalan nazhar dan istidlal. Perkataan mereka ini batil karena dibangun di atas pokok yang batil, ialah bahwa nazhar dan istidlal adalah pokok kepercayaan dan keimanan.” [19]

Ahlus Sunah menetapkan bahwa ketaatan adalah kepercayaan dalam hati, ucapan dengan lisan, dan ibadah dengan personil badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ

“Supaya keimanan mereka bertambah bersama keimanan mereka yang telah ada.” (QS. Al-Fath: 4)

Relasi dan komparasi Maturidiyyah dengan Asy’ariyyah

Setelah memahami di mana letak persimpangan Maturidiyyah dengan manhaj salaf, kita perlu mendudukkan posisi mereka ketika disandingkan dengan Asy’ariyyah. Kedua aliran ini sering disebut beriringan dalam kitab-kitab kalam. Keselarasan di antara keduanya terjadi lantaran keduanya bertumbuh dari akar yang sama, ialah aliran Kullabiyyah. Syekh Ahmad al-Harbi menyimpulkan hubungan kedua madrasah tersebut dalam risalahnya,

أن هناك توافقٌ كبيرٌ بين الماتريدية والأشاعرة، وسر هذا التوافق أن كلتا الفرقتين انبثقتا من الكلابية. وما بينهما من خلاف فإنما يقع في مسائل معدودة

“Terdapat kesamaan yang sangat besar antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah. Rahasia kesamaan ini adalah bahwa kedua aliran ini sama-sama berasal dari Kullabiyyah. Adapun perbedaan di antara keduanya, itu hanya terjadi pada beberapa masalah yang terbatas.” [20]

Syekh Muhammad al-Khadhr Husain mempertegas relasi tersebut sekaligus menyifati batas perbedaannya dalam risalah beliau,

وبين الماتريدية والأشاعرة خلاف في مسائل معدودة لا تتجاوز ثلاث عشرة مسألة، منها: اختلافهم في السعادة والشقاوة، فهما عند الأشعري مقدرتان في الأزل لا يتغيران ولا يتبدلان؛ لأن السعادة هي الموت على الإسلام، والشقاوة الموت على الكفر

“Dan antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah terdapat perbedaan pada beberapa masalah yang tidak melampaui tiga belas masalah. Di antaranya: perbedaan mereka dalam masalah sa’adah (kebahagiaan abadi) dan syaqawah (kecelakaan abadi). Keduanya menurut al-Asy’ari telah ditetapkan sejak azal, tidak berubah dan tidak berganti; lantaran sa’adah adalah meninggal di atas keislaman, sedangkan syaqawah adalah meninggal di atas kekafiran.[21]

Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi dalam kajiannya atas kitab Al-‘Arsy menjelaskan akar pertemuan kedua madrasah tersebut,

فالماتريدي لا يبعد كثيراً عن أبي الحسن الأشعري (في طوره الثاني) فهو خصم لدود للمعتزلة، إلا أنه كان متأثراً بالمنهج الكلامي على طريقة ابن كلاب من الاعتماد على المناهج الكلامية في تقرير المسائل الاعتقادية شأنه في ذلك شأن أبي الحسن الأشعري، فكلاهما يعتبر امتداداً لمدرسة ابن كلاب

“Maka al-Maturidi tidak jauh berbeda dari Abu al-Hasan al-Asy’ari (pada fase keduanya). Ia adalah musuh bebuyutan Mu’tazilah, namun dia tetap terpengaruh oleh metode kalam ala Ibnu Kullab dalam menetapkan masalah-masalah akidah, sama halnya dengan Abu al-Hasan al-Asy’ari. Keduanya dianggap sebagai kelanjutan dari madrasah Ibn Kullab.” [22]

Adapun perbedaan teknis di antara keduanya, selain masalah sa’adah dan syaqawah yang telah disinggung di atas, adalah dalam bab sifat takwin. Maturidiyyah menetapkan bahwa Allah mempunyai sifat takwin (menciptakan) sebagai sifat azali yang berdiri sendiri, terpisah dari qudrah dan iradah. Syekh Ahmad al-Harbi menguraikan pandangan ini,

ترى الماتريدية أن جميع صفات الأفعال المتعدية ترجع إلى صفةٍ واحدةٍ وهي التكوين. وقالوا إن التكوين غير المكون، وأنه أزلي لا يتجدد ولا تعلق له بالمشيئة والقدرة

“Maturidiyyah beranggapan bahwa seluruh sifat perbuatan (fi’liyyah) yang muta’addi kembali kepada satu sifat, ialah takwin. Mereka mengatakan bahwa takwin berbeda dari mukawwan (yang diciptakan), dan bahwa dia berkarakter azali, tidak baru, serta tidak mengenai dengan masyi’ah (kehendak) dan qudrah.[23]

Asy’ariyyah menolak takwin sebagai sifat yang berdiri sendiri dan mengembalikannya pada akibat sifat kuasa dan kehendak. Rincian komparasi ini memperlihatkan bahwa perdebatan Maturidiyyah dan Asy’ariyyah hanyalah berkutat pada persoalan furu’ dalam tradisi pengetahuan kalam. Secara fondasi asas, keduanya tetap berada pada alur yang sama dalam mendahulukan rasionalisme kalam di atas penyerahan diri kepada nash wahyu.

Kedudukan Maturidiyyah dalam timbangan ulama salaf

Setelah menelaah pokok kepercayaan dan perbandingannya, seorang penuntut pengetahuan perlu bersikap insyaf dan berimbang. Para ustadz Ahlus sunah tidak menafikan jasa ilmiah ustadz Maturidiyyah, namun tetap memberikan pemisah tegas mengenai kelurusan iktikad mereka.

Dr. Syamsuddin al-Afghani mendudukkan status mereka secara adil dengan perkataan,

“Mereka, lantaran banyaknya kebenaran yang ada pada mereka, dianggap sebagai Ahlus sunah dalam pengertian umum, dan bukan Ahlus sunah dalam pengertian yang murni (mahdhah).[24]

Penyebutan sebagai bagian dari Ahlus sunah dalam makna umum didasarkan pada besarnya peran ustadz Maturidiyyah dalam membantah aliran-aliran zindik seperti Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan Rafidhah, serta kontribusi besar mereka dalam memihak hukum Islam di beragam penjuru negeri. Syekh Ahmad Al-Harbi menutup ulasannya dengan memberi nasihat mengenai etika berinteraksi dengan mereka,

فهؤلاء لما عندهم من الحق يعدون من أهل السنة بالمعنى العام، وليسوا من أهل السنة المحضة

“Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersikap adil terhadap Maturidiyyah dan memberi mereka hak yang wajar. Mereka mengakui kebenaran yang ada pada mujtahid atau pencari kebenaran di antara mereka, demikian juga mereka mencela orang yang zalim, ta’ashub, dan pengikut hawa nafsu.” [25]

Penutup

Memperhatikan bangunan iktikad Maturidiyyah memberikan pelajaran berbobot bahwa tujuan yang baik dalam memihak Islam kudu dipadukan dengan metodologi yang benar. Ketika Abu Manshur al-Maturidi menempuh jalur penalaran kalam ala Kullabiyyah dalam melawan Mu’tazilah, aliran yang dibentuknya justru mewarisi beragam keruntuhan metode, mulai dari kekuasaan logika atas wahyu, penolakan hujjah sabda ahad, hingga pertentangan dalam penakwilan sifat Allah.

Perbedaan teknis antara Maturidiyyah dan Asy’ariyyah dalam masalah takwin, kalam nafsi, iman muqallid, maupun sa’adah dan syaqawah tidak merubah kebenaran bahwa kedua aliran ini berdiri di atas fondasi rasionalisme yang serupa.

Sikap terbaik bagi setiap muslim adalah meneladani keadilan ustadz salaf: mengakui kebaikan serta warisan pengetahuan para ustadz dalam bagian fikih dan tafsir, sembari menjaga kemurnian iktikad dari penyimpangan pengetahuan kalam. Sebab, jalan kebenaran dalam mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya belumlah pernah berubah, ialah meniti petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunah sesuai dengan pemahaman para sahabat dan pemimpin ahlul sabda yang senantiasa menundukkan logika di bawah pengarahan wahyu.

Wallahu a’lam bish-shawab.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Muhammad Insan Fathin

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

[1] Abdul Majid bin Muhammad al-Wa’lan, Al-Maaturidiyyah, hal. 11.

[2] Syamsuddin as-Salafi al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat, 1: 537-540.

[3] Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani, Al-Intishar li Ahli al-Hadits, hal. 182-183; dinukil dalam Al-Maaturidiyyah karya al-Wa’lan, hal. 11.

[4] Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani, Al-Intishar li Ahli al-Hadits, hal. 183.

[5] Imam Abu al-Muzhaffar as-Sam’ani, Al-Intishar; dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah, 2: 504-508.

[6] Ibnul Qayyim, Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah, 2: 509-510.

[7] Ibnul Qayyim, Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah, 3: 473-475.

[8] Dinukil dalam Mausu’ah al-Firaq al-Muntasibah lil-Islam, 2: 362.

[9] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah bin Dakhil al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 199.

[10] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 200.

[11] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 1: 484-498; Khathimah, hal. 203.

[12] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 1: 498-508; Khathimah, hal. 203.

[13] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 131; Khathimah, hal. 202.

[14] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 127-129; Khathimah, hal. 202.

[15] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 340-353; Khathimah, hal. 203.

[16] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, Khathimah, hal. 199; lihat pula Dr. Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 2: 426-433.

[17] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 200.

[18] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 200-201.

[19] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal.

[20] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal.

[21] Syekh Muhammad al-Khadhr Husain, Mausu’ah al-A’mal al-Kamilah lil-Imam Muhammad al-Khadhr Husain, 4: 184.

[22] Muhammad bin Khalifah at-Tamimi, dalam Muqaddimah tahqiq kitab Al-‘Arsy karya Imam Adz-Dzahabi, 1: 69-70 (atau hal. 168-170 cetakan اﻟﻌﻠﻣﻲ اﻟﺑﺣث ﻋﻣﺎدة).

[23] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 199.

[24] Syamsuddin al-Afghani, Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum, 1: 401-406; Khathimah, hal. 202.

[25] Syekh Ahmad bin ‘Audhullah al-Harbi, Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman, hal. 201.

Daftar Pustaka

Al-Afghani, Syamsuddin as-Salafi. Al-Maaturidiyyah wa Mauqifuhum min Tauhid al-Asmaa’ wash-Shifaat. Cet. ke-1. Thaif: Maktabah ash-Shiddiq, 1413 H.

Al-Harbi, Ahmad bin ‘Audhullah bin Dakhil. Al-Maaturidiyyah Diraasatan wa Taqwiiman. Cet. ke-1. Riyadh: Dar al-‘Ashimah, 1413 H.

Al-Khadhr Husain, Muhammad. Mausu’ah al-A’mal al-Kamilah lil-Imam Muhammad al-Khadhr Husain. Cet. ke-1. Suriah: Dar an-Nawadir, 1431 H.

Al-Maturidi, Abu Manshur Muhammad bin Muhammad. Kitab at-Tauhid. Kairo: Dar al-Jami’at al-Misriyyah, 1970 M.

As-Sam’ani, Abu al-Muzhaffar Manshur bin Muhammad. Al-Intishar li Ahli al-Hadits.

‘Awaji, Ghalib bin ‘Ali. Firaq Mu’ashirah Tantasib ila al-Islam wa Bayan Mauqif al-Islam Minha. Cet. ke-4. Jeddah: al-Maktabah al-‘Ashriyyah adz-Dzahabiyyah, 1422 H.

Adz-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad. Al-‘ArsyTahqiq: Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi. Cet. ke-2. Madinah: ‘Imadah al-Bahts al-‘Ilmi bil-Jami’ah al-Islamiyyah, 1424 H.

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakr. Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah ‘ala al-Jahmiyyah wal Mu’aththilah. Riyadh: Adwa’ as-Salaf, 1425 H.

As-Saqqaf, ‘Alawi bin ‘Abdul Qadir (peny.). Mausu’ah al-Firaq al-Muntasibah lil-Islam. Situs Dorar.net.

Al-Wa’lan, Abdul Majid bin Muhammad. Al-Maaturidiyyah. Maktabah Syamilah.

Selengkapnya
Sumber Akidah dan Sunnah
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting