Jakarta -
Istilah nulipara mungkin tak terlalu lazim di telinga orang awam ya, Bunda. Yuk, mengenal makna nulipara, akibat kesehatan, bedanya dengan multipara dan primipara, Bun.
Dalam kehidupan, ada sosok wanita yang mungkin belum pernah melahirkan bayi hidup. Hal ini bisa karena mereka memilih untuk tidak hamil, alias bisa juga lantaran mereka mengalami komplikasi kehamilan, dan sebagainya. Nah, sosok itulah yang dinamakan nulipara ya, Bunda.
Mengutip dari laman Medical News Today, nulipara memang merujuk pada wanita usia reproduksi yang belum pernah mengalami persalinan hidup. Meski demikian, seorang nulipara tidak berfaedah seseorang yang belum pernah hamil. Bisa jadi, seorang wanita tersebut memang mengalami kehilangan kehamilan alias apalagi aborsi yang juga dianggap sebagai nulipara.
Apa perbedaan nulipara dengan multipara dan primipara?
Istilah multipara sebenarnya tidak sepenuhnya merupakan kebalikan dari nullipara dan definisinya tidak selalu sama. Jika nulipara merupakan istilah untuk wanita yang belum pernah melahirkan bayi hidup maka pada istilah multipara dapat menggambarkan seseorang yang masuk kategori berikut, Bun:
1. Pernah melahirkan lebih dari satu bayi dalam satu kali persalinan (misalnya, kembar dua alias lebih)
2. Pernah mengalami dua kali alias lebih kelahiran bayi hidup
3. Pernah mengalami satu kali alias lebih kelahiran bayi hidup
4. Pernah mengandung dan melahirkan setidaknya satu bayi yang mencapai usia kehamilan 28 minggu alias lebih
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa istilah multipara merujuk pada wanita yang pernah melahirkan setidaknya satu bayi hidup.
Sementara para primipara biasanya digunakan untuk menggambarkan wanita yang telah melahirkan satu bayi hidup. Istilah ini juga dapat menggambarkan wanita yang sedang menjalani kehamilan pertamanya. Jika kehamilan tersebut berhujung dengan keguguran alias hilangnya janin, maka dia dianggap sebagai nulipara seperti dikutip dari laman Healthline.
Kenali akibat kesehatan pada nulipara
Masuk dalam kategori nulipara memang bukan tanpa akibat ya, Bunda. Ada beberapa perihal yang sedianya perlu diwaspadai ketika Bunda masuk dalam status kesehatan nulipara. Berikut ini diantaranya ya, Bunda:
1. Risiko kanker ovarium dan rahim
Menurut the American Cancer Society (ACS), wanita yang melahirkan untuk pertama kali setelah usia 35 tahun, mempunyai akibat lebih tinggi terkena kanker ovarium dan kanker endometrium.
Dalam sebuah studi di 2021, para peneliti menemukan bahwa biarawati Katolik mempunyai akibat kanker ovarium, rahim, dan tetek yang jauh lebih tinggi. Para penulis mengaitkan peningkatan akibat kanker reproduksi dengan biarawati Katolik yang menahan diri dari hubungan seks dan tidak menggunakan kontrasepsi.
Namun, sebuah studi di 2013 menyatakan bahwa studi biarawati tersebut tidak memperhitungkan perbedaan akibat kematian akibat kanker mengenai usia. Ketika para penulis membandingkan para biarawati dengan populasi kontrol, biarawati berumur di atas 80 tahun menunjukkan tingkat kematian tertinggi akibat kanker payudara, rahim, dan ovarium. Tingkat kematian akibat kanker ovarium dan rahim menurun setelah usia 80 tahun dalam populasi kontrol.
2. Risiko kesuburan
Menurut CDC, sekitar 12 persen wanita berumur antara 15-44 tahun di AS mengalami kesulitan untuk hamil. Belum jelas apakah lantaran status nulipara meningkatkan akibat infertilitas, namun nulipara dapat menunjukkan masalah fertilitas yang mendasarinya.
Fakta bahwa seorang wanita belum pernah melahirkan sebelumnya tidak berfaedah mereka mandul. Perempuan nulipara mungkin tidak mengalami masalah untuk mengandung alias melahirkan di masa depan.
3. Risiko kehamilan dan persalinan
Sebuah studi di 2019 menyatakan bahwa wanita yang mengalami satu alias lebih kelahiran hidup mempunyai akibat komplikasi yang lebih rendah seperti preeklamsia dan persalinan prematur.
Dalam sebuah studi tahun 2019 terhadap 137.791 perempuan, para peneliti menemukan bahwa akibat persalinan prematur dan tekanan hipertensi mengenai kehamilan mulai meningkat pada usia 20–24 tahun pada wanita nulipara. Namun, akibat komplikasi yang sama meningkat hingga usia 40–49 tahun bagi wanita yang telah menjalani satu alias lebih persalinan.
Sementara, persalinan bagi wanita nulipara mungkin menyantap waktu lebih lama. Dalam sebuah studi di 2020 yang melibatkan 35.146 persalinan, para peneliti mengawasi bahwa tahap pertama persalinan berjalan 141 menit lebih lama untuk wanita nulipara dibandingkan wanita multipara.
Hal ini dikarenakan adanya fase laten persalinan, yang merujuk pada waktu yang dibutuhkan serviks untuk mencapai diameter 10 sentimeter, menyantap waktu 120–140 menit lebih lama bagi wanita nulipara. Sehingga, waktu persalinan pun jadi lebih panjang.
Semoga informasinya membantu ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)