Persalinan sering menjadi momen yang paling dinantikan sekaligus mendebarkan. Di kembali rasa senang menyambut buah hati, kontraksi yang muncul dapat menimbulkan rasa nyeri yang berbeda-beda pada setiap ibu. Menariknya, sebuah penelitian menemukan bahwa menggenggam tangan suami dapat membantu mengurangi persepsi nyeri saat persalinan.
Dukungan suami selama proses persalinan tak hanya membikin ibu merasa lebih nyaman secara emosional, tetapi juga dapat memberikan faedah secara fisik.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sentuhan, seperti menggenggam tangan pasangan, dapat membantu mengurangi persepsi nyeri, menurunkan kecemasan, hingga membikin ibu merasa lebih bisa menghadapi proses persalinan.
Menggenggam tangan suami dapat membantu mengurangi nyeri persalinan
Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Scientific Reports menemukan bahwa sentuhan pasangan, seperti berpegangan tangan, dapat meningkatkan sinkronisasi fisiologis dan membantu mengurangi persepsi nyeri. Temuan ini turut mendukung faedah kehadiran pasangan selama persalinan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika pasangan saling berpegangan tangan, terjadi physiological synchrony atau sinkronisasi fisiologis.
Melansir Motherly, sinkronisasi fisiologis adalah kondisi ketika pasangan mulai menunjukkan respons tubuh yang selaras, seperti pola pernapasan dan debar jantung yang menjadi lebih sinkron saat saling bersentuhan.
Para wanita yang terlibat dalam penelitian melaporkan bahwa rasa sakit mereka berkurang saat berpegangan tangan dengan pasangannya. Sebaliknya, ketika pasangan hanya duduk berdampingan tanpa menyentuh, tak ditemukan pengaruh tersebut.
Temuan ini menunjukkan bahwa kehadiran pasangan bukan hanya memberikan support emosional, tetapi juga dapat memengaruhi respons fisiologis yang berangkaian dengan persepsi nyeri.
Mengapa genggaman tangan bisa membantu mengurangi rasa sakit?
Sentuhan dari orang yang dipercaya rupanya bukan sekadar kontak fisik. Sentuhan dapat meningkatkan rasa aman, support emosional, serta empati. Ketika pasangan menunjukkan empati melalui sentuhan, tubuh keduanya menjadi lebih sinkron sehingga persepsi terhadap rasa nyeri ikut berkurang.
Pavel Goldstein, peneliti yang memimpin studi tersebut, menjelaskan bahwa sebelumnya telah ada sejumlah penelitian yang menunjukkan sentuhan kulit ke kulit mempunyai pengaruh analgesik alias membantu meredakan nyeri.
Misalnya pada bayi yang menjalani prosedur medis maupun sebagai terapi pendamping pada pasien kanker dan nyeri kronis. Namun, sistem fisiologis yang mendasari pengaruh tersebut tetap belum sepenuhnya dipahami.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), para peneliti menemukan bahwa sentuhan pasangan juga berangkaian dengan meningkatnya sinkronisasi kegiatan otak (brain-to-brain coupling).
Semakin tinggi sinkronisasi tersebut, semakin besar penurunan nyeri yang dilaporkan oleh perempuan.
Katerina Fotopoulou, mahir neurosains kognitif di University College London yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan bahwa pendapat sentuhan sosial sebagai analgesik bukanlah perihal baru.
"Sering kali orang menganggap rasa sakit sebagai sistem mekanis semata... Tetapi kita telah mengetahui setidaknya selama seabad bahwa rasa sakit sangat dipengaruhi oleh konteks sosial. Rasa sakit sangat dipengaruhi oleh komunikasi nonverbal, seperti sentuhan," kata Fotopoulou dikutip dari Vice.
Dukungan pasangan krusial selama persalinan
Pendidik persalinan Barb Buckner Suárez mengatakan banyak pasangan mengira mereka tidak banyak membantu selama proses melahirkan. Padahal, tindakan sederhana seperti mengingatkan ibu untuk bernapas, memberikan semangat, menawarkan minum, hingga menggenggam tangan dapat memberikan rasa nyaman selama persalinan.
Menurutnya, kehadiran pasangan yang penuh perhatian membikin ibu merasa didukung secara emosional sehingga lebih bisa menghadapi kontraksi.
Karena itu, support suami selama persalinan bukan hanya membikin ibu merasa ditemani, tetapi juga dapat membantu menciptakan pengalaman melahirkan yang lebih positif.
Suárez menjelaskan bahwa suami juga dapat berkedudukan sebagai pendamping yang membantu memenuhi kebutuhan ibu selama proses persalinan. Misalnya, mengingatkan teknik pernapasan yang telah dipelajari, membantu menyampaikan kemauan alias keluhan ibu kepada tenaga kesehatan, serta memberikan support saat kontraksi datang.
Meski terlihat sederhana, kehadiran suami yang aktif dan penuh perhatian dapat membikin ibu merasa lebih tenang, percaya diri, dan tidak menghadapi proses persalinan seorang diri. Hal ini dapat membantu ibu menjalani setiap tahapan persalinan dengan lebih nyaman.
Cara sederhana suami mendampingi istri saat melahirkan
Selain menggenggam tangan, tetap ada beragam corak support sederhana yang dapat dilakukan suami untuk membantu ibu merasa lebih nyaman selama proses persalinan antara lain:
- Memberikan kata-kata penyemangat.
- Mengingatkan teknik pernapasan yang sudah dipelajari.
- Membantu ibu berganti posisi sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
- Memberikan minum jika diizinkan.
- Menemani ibu sepanjang proses persalinan agar merasa lebih tenang.
Setiap ibu mempunyai pengalaman persalinan yang berbeda. Meski demikian, beragam penelitian menunjukkan bahwa support pasangan dapat membantu ibu merasa lebih tenang dan mengurangi persepsi terhadap nyeri. Karena itu, kehadiran suami selama persalinan bukan hanya sebagai pendamping, tetapi juga dapat menjadi bagian krusial dalam memberikan kenyamanan emosional bagi ibu.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·