Mengulik Cara Kerja Bayi Tabung dan Prosedurnya

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 22 menit 505x dilihat
Mengulik Cara Kerja Bayi Tabung dan Prosedurnya

Bagikan Postingan

Jakarta -

Program bayi tabung menjadi angan baru bagi pejuang garis dua. Meski sudah familiar, banyak yang belum memahami prosedur dari program ini. Yuk, mengulik langkah kerja bayi tabung dan prosedurnya.

In vitro fertilization alias IVF merupakan merupakan teknologi reproduksi berbantu guna membantu pasangan suami istri yang mengalami hambatan dalam mempunyai anak. Teknologi ini pun menjadi secercah angan guna mewujudkan angan pasutri yang semula pupus angan mempunyai keturunan.

Apa itu program bayi tabung (IVF)?

In vitro fertilization alias juga dikenal sebagai IVF merupakan serangkaian prosedur kompleks yang dapat menghasilkan kehamilan. Prosedur ini merupakan pengobatan untuk infertilitas alias kondisi di mana pasangan tidak dapat mengandung setelah setidaknya satu tahun mencoba. Selain itu, teknologi IVF juga dapat digunakan untuk mencegah pewarisan masalah genetik kepada anak.


IVF sendiri merupakan jenis pengobatan kesuburan paling efektif yang melibatkan penanganan sel telur alias embrio serta sperma. Secara keseluruhan, golongan pengobatan ini disebut sebagai teknologi reproduksi berbantu.

IVF dapat dilakukan menggunakan sel telur dan sperma pasangan itu sendiri. Prosedur ini juga bisa melibatkan sel telur, sperma, alias embrio dari pendonor yang dikenal maupun tidak dikenal. Dalam beberapa kasus seperti gestational carrier, seseorang yang menerima implantasi embrio di dalam rahimnya mungkin dilibatkan.

Cara kerja program bayi tabung (IVF)

Dalam prosedur IVF, sel telur yang matang diambil dari ovarium dan dibuahi oleh sperma di laboratorium. Kemudian, dilakukan prosedur untuk menempatkan satu alias lebih sel telur yang telah dibuahi dan  (disebut embrio) ke dalam rahim, tempat bayi berkembang. 

Dalam satu siklus komplit IVF biasanya prosedur ini dapat menyantap waktu sekitar 2 hingga 3 minggu. Terkadang, tahapan ini dibagi menjadi beberapa bagian sehingga prosesnya bisa menyantap waktu lebih lama seperti dikutip dari laman Mayo Clinic.

Mengapa program bayi tabung (IVF) dilakukan?

Terkadang, pasangan di awal-awal mungkin tidak mempunyai masalah medis yang nyata. Namun, mereka rupanya mempunyai persoalan ialah kesulitan untuk mengandung secara alami. Dalam situasi seperti ini, IVF alias In vitro fertilization sering kali direkomendasikan untuk meningkatkan kesempatan kehamilan seperti dikutip dari laman Genesisshospital.

Kenyataannya, memang urusan kesuburan perihal yang sangat kompleks ya, Bunda. Beberapa aspek yang tidak terlihat secara kasat mata alias belum bisa dijelaskan mendetail pun dapat memengaruhi proses pembuahan. Itulah kenapa program IVF datang untuk membantu pasutri yang sedang berupaya untuk mengandung mendapatkan keturunan.

Berapa lama proses program bayi tabung dari awal hingga akhir?

Dalam satu siklus IVF komplit biasanya prosedur ini bakal menyantap waktu antara 6-8 minggu. Lamanya lama tersebut memang dibutuhkan untuk mengisi beragam tindakan medis yang mencakup stimulasi, pengambilan sel telur, perkembangan embrio, dan tes kehamilan.

Jadwal dari masing-masing pasangan sendiri bakal bervariasi tentunya. Semua perihal tersebut berjuntai pada rencana perawatan yang bakal dijalani, riwayat kondisi medis sebelumnya, serta respons dari ovarium yang bersangkutan, seperti dikutip dari laman Monashivf.

Seberapa sering program bayi tabung dilakukan?

Berapa banyak siklus IVF yang perlu dilakukan pasangan untuk mendapatkan bayi memang menjadi pertanyaan wajar yang muncul dari setiap pasien. Ya, mengenai jumlah siklus IVF yang mungkin diperlukan untuk menghasilkan kelahiran bayi hidup ialah berkisar antara satu hingga tiga siklus lebih, dengan kemungkinan bahwa kelahiran mungkin tidak terjadi sama sekali melalui prosedur IVF.

Dan, jawaban yang sesungguhnya bagi pasangan memang tidak dapat dipastikan sebelumnya mengingat setiap pasangan alias pasien mempunyai faktor-faktor perseorangan yang memengaruhi tingkat keberhasilan program IVF itu sendiri.

Namun, pasien sering kali dapat memperoleh perkiraan yang masuk logika setelah dilakukan pertimbangan dan pemeriksaan kesuburan secara menyeluruh, yang merupakan aspek krusial dalam mencapai keberhasilan seperti dikutip dari laman Emberfertility.

Apa perbedaan program bayi tabung (IVF) dan IUI?

Pada pasangan yang kesulitan mengandung secara alami, master ahli kesuburan mungkin menyarankan prosedur IUI alias IVF. Selain itu, pasien dapat mempertimbangkan prosedur ini jika memang mau mengandung dengan menggunakan sperma donor.

Prosedur IUI sendiri alias intrauterine insemination merupakan prosedur di mana sperma ditempatkan langsung ke dalam rahim perempuan. Hal ini dapat memperpendek jarak tempuh sperma dan memberikan kesempatan lebih besar bagi sperma untuk mencapai sel telur.

"Untuk IUI, sampel air mani dicuci untuk memisahkan sperma dari cairan semen, lampau seluruh sampel sperma tersebut disuntikkan langsung ke dalam rahim," jelas Dr. Jenna Rehmer, ahli kesuburan. 

Dikatakannya bahwa langkah ini secara signifikan meningkatkan jumlah sperma di dalam rahim dibandingkan dengan hubungan seksual biasa, seperti dikutip dari laman Cleveland Clinic.

Biasanya, prosedur sederhana yang dilakukan di klinik ini dilaksanakan sehari setelah lonjakan hormon ovulasi dan biasanya hanya menyantap waktu lima hingga 10 menit. Dokter bakal menggunakan spekulum untuk menemukan letak serviks (leher rahim), lampau memasukkan kateter (tabung) tipis ke dalam rahim untuk menyuntikkan sampel sperma tersebut.

IUI terkadang dikombinasikan dengan induksi ovulasi, ialah penggunaan obat-obatan untuk merangsang perkembangan dan pelepasan sel telur. Dengan prosedur tersebut tentunya dapat meningkatkan kesempatan terjadinya pembuahan pada sebagian orang.

Sementara itu pada prosedur IVF sendiri memang melibatkan lebih banyak tahapan di dalamnya. Biasanya, ovarium hanya memproduksi satu folikel setiap bulannya, namun dalam IVF, pasien bakal menerima hormon suntik dosis tinggi untuk merangsang produksi banyak folikel.

"Tujuannya adalah menghasilkan 10 hingga 15 folikel yang berisi sel telur. Jumlah yang dihasilkan bisa berbeda-beda pada setiap wanita ialah ada yang lebih banyak dan ada yang lebih sedikit. Semuanya tergantung pada usia, riwayat medis, serta faktor-faktor seperti persediaan ovarium," imbuh Dr Rehmer.

Setelah sel telur matang, master bakal mengambilnya melalui memek dalam prosedur bedah rawat jalan singkat (sekitar 10 menit) yang disebut pengambilan oosit. Sel telur tersebut kemudian dibawa ke laboratorium untuk dipertemukan dengan sperma pasangan alias donor; dan sel telur yang sukses berkembang menjadi embrio bakal ditransfer ke dalam rahim alias dibekukan untuk penggunaan di masa mendatang.

Dari kedua prosedur baik itu IUI dan IVF, masing-masing memang mempunyai peran unik dalam menangani masalah kesuburan. Dijelaskan Dr Rehmer bahwa langkah memulainya hanya dengan menghubungi master yang dapat memberikan masukan mengenai langkah selanjutnya dalam perjalanan kesuburan pasien dan dari mana sebaiknya pasien memulai.

Apa saja tahapan program bayi tabung?

Prosedur IVF memang menyantap waktu cukup panjang di mana ada beberapa tahapan yang perlu dijalani pasien. Berikut ini tahapan program bayi tabung yang perlu Bunda tahu:

1. Konsumsi pil KB alias estrogen

Sebelum memulai perawatan IVF, tim medis mungkin bakal meresepkan pil KB alias estrogen. Treatment ini digunakan untuk menghentikan perkembangan kista ovarium dan mengontrol waktu siklus menstruasi. Selain itu, perihal ini memungkinkan tim medis mengontrol perawatan Bunda dan memaksimalkan jumlah sel telur yang matang selama prosedur pengambilan sel telur.

2. Stimulasi ovarium

Selama setiap siklus alami pada orang sehat usia reproduksi, sekelompok sel telur mulai matang setiap bulan. Biasanya, hanya satu sel telur yang cukup matang untuk berovulasi. Sel telur yang belum matang lainnya dalam golongan tersebut bakal hancur.

Selama siklus IVF, pasien bakal mengonsumsi obat hormon suntuk untuk mendorong seluruh golongan sel telur dalam siklus tersebut untuk matang secara berbarengan dan sepenuhnya. Ini artinya, bakal ada banyak sel telur yang dimiliki pasien. Kemudian, mengenai jenis, dosis, dan gelombang obat yang diresepkan bakal disesuaikan dengan pasien berasas riwayat medis, usia, kadar AMH, dan respons pasien terhadap stimulasi ovarium selama siklus IVF sebelumnya.

3. Pengambilan sel telur

Tim medis nantinya bakal menggunakan USG untuk memandu jarum tipis ke setiap ovarium pasien melalui vagina. Jarum tersebut dihubungkan ke perangkat pengisap yang digunakan untuk menarik sel telur keluar dari setiap folikel. 

Sel telur kemudian bakal ditempatkan dalam cangkir berisi larutan khusus. Dan, cangkir tersebut kemudian dimasukkan ke dalam inkubator (lingkungan terkontrol). Obat-obatan dan sedasi ringan digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan selama prosedur ini. Pengambilan sel telur dilakukan 36 jam setelah suntikan hormon terakhir pasien.

4. Proses pembuahan

Pada sore hari setelah prosedur pengambilan sel telur, mahir embriologi bakal mencoba membuahi semua sel telur yang matang menggunakan injeksi sperma intrasitoplasma, alias ICSI. Ini berfaedah sperma bakal disuntikkan ke setiap sel telur yang matang. Sel telur yang belum matang tidak dapat dilakukan ICSI. Sel telur yang belum matang bakal ditempatkan dalam cangkir petri berisi sperma dan nutrisi.

Kemudian, sel telur yang belum matang jarang menyelesaikan proses pematangannya di dalam cangkir petri. Jika sel telur yang belum matang sukses matang, sperma dalam cangkir petri kemudian dapat mencoba membuahi sel telur tersebut.

Rata-rata, 70 persen sel telur yang matang bakal dibuahi. Misalnya, jika 10 sel telur yang matang diambil, sekitar tujuh bakal dibuahi. Jika berhasil, sel telur yang dibuahi bakal menjadi embrio. Jika jumlah sel telur sangat banyak alias pasien tidak mau semua sel telur dibuahi, beberapa sel telur dapat dibekukan sebelum pembuahan untuk penggunaan di masa mendatang.

5. Perkembangan embrio

Selama lima hingga enam hari berikutnya, perkembangan embrio pasien bakal dipantau dengan cermat. Embrio pasien kudu melewati rintangan yang signifikan untuk menjadi embrio yang cocok untuk ditransfer ke rahim. 

Rata-rata, 50 persen embrio yang dibuahi berkembang hingga tahap blastokista. Ini adalah tahap yang paling cocok untuk transfer ke rahim pasien. Misalnya, jika tujuh sel telur dibuahi, tiga alias empat di antaranya mungkin berkembang hingga tahap blastokista. Sementara itu, 50 persen sisanya biasanya kandas berkembang dan dibuang.

Semua embrio yang cocok untuk transfer bakal dibekukan pada hari kelima alias keenam setelah pembuahan untuk digunakan pada transfer embrio di masa mendatang.

6. Transfer embrio

Ada dua jenis transfer embrio ialah transfer embrio segar dan transfer embrio beku. Tim medis nantinya bakal mendiskusikan penggunaan embrio segar alias kaku dengan pasien dan memutuskan apa yang terbaik dengan situasi pasien saat itu. Baik transfer embrio kaku maupun segar mengikuti proses transfer yang sama. Perbedaan utamanya tersirat dalam namanya.

Transfer embrio segar berfaedah embrio pasien dimasukkan ke dalam rahim antara tiga dan tujuh hari setelah prosedur pengambilan sel telur. Embrio ini belum dibekukan dan kondisinya tetap segar.

Transfer embrio kaku berfaedah embrio yang telah dibekukan (dari siklus IVF sebelumnya alias sel telur donor) dicairkan kembali dan dimasukkan ke dalam rahim. Transfer embrio kaku dapat dilakukan bertahun-tahun setelah pengambilan dan pembuahan sel telur.

Sebagai bagian dari langkah awal transfer embrio beku, pasien bakal mengonsumsi alias menggunakan hormon (baik secara oral, suntikan, melalui vagina, maupun transdermal) untuk mempersiapkan rahim  menerima embrio. 

Biasanya, proses ini melibatkan penggunaan obat oral selama 14 hingga 21 hari yang diikuti dengan enam hari penyuntikan. Umumnya, pasien bakal menjalani dua alias tiga kali kunjungan selama masa ini untuk memantau kesiapan rahim melalui USG dan mengukur kadar hormon melalui tes darah. Setelah rahim siap, agenda prosedur transfer embrio bakal ditetapkan.

Prosesnya serupa jika pasien menggunakan embrio segar, hanya saja transfer embrio dilakukan dalam waktu tiga hingga lima hari setelah pengambilan sel telur.

7. Kehamilan

Kehamilan terjadi ketika embrio menempel (berimplantasi) pada lapisan tembok rahim. Tim medis nantinya bakal melakukan tes darah untuk menentukan apakah pasien hamil, kira-kira sembilan hingga 14 hari setelah transfer embrio.

Jika menggunakan sel telur donor, langkah-langkah yang sama bakal dilakukan. Pendonor sel telur bakal menjalani stimulasi ovarium dan prosedur pengambilan sel telur. Setelah pembuahan terjadi, embrio ditransfer ke orang yang bakal menjalani kehamilan (baik dengan maupun tanpa penggunaan beragam obat kesuburan).

Bagaimana persiapan sebelum menjalani program bayi tabung (IVF)?

Sebelum memulai prosedur IVF, pasien perlu menjalani pemeriksaan medis secara menyeluruh dan melakukan tes kesuburan. Pasangan nantinya juga bakal menjalani pemeriksaan dan tes serupa. Adapun beberapa tahapan persiapan yang bakal dilalui meliputi sebagai berikut:

1. Konsultasi IVF alias berjumpa dengan tenaga medis untuk membahas rincian proses IVF
2. Pemeriksaan rahim, serta tes pap dan mamografi (jika berumur di atas 40 tahun)
3. Analisis sperma
4. Skrining untuk jangkitan menular seksual (IMS) dan penyakit menular lainnya
5. Tes persediaan ovarium, serta tes darah dan urine
6. Instruksi mengenai langkah penggunaan obat-obatan kesuburan
7. Skrining pembawa sifat genetik
8. Penandatanganan blangko persetujuan tindakan
9. Evaluasi rongga rahim (histeroskopi alias Saline Infused Sonography)
10. Mulai mengonsumsi suplemen masam folat setidaknya tiga bulan sebelum prosedur transfer embrio

Apa yang dirasakan setelah menjalani program bayi tabung (IVF)?

Prosedur program bayi tabung alias IVF mungkin tidak sekadar menyantap waktu dan daya ya, Bunda. Setelah prosedur dilakukan, pasien kemungkinan bakal merasakan beberapa perihal yang membuatnya tidak nyaman, seperti beberapa kondisi berikut ini:

1. Perut kembung dan kram
2. Payudara terasa nyeri alias sensitif akibat kadar estrogen yang tinggi.i
3. Muncul flek alias spotting
4.  Sembelit

Mengenai kondisi tersebut sepenuhnya normal dan tidak perlu dikhawatirkan ya, Bunda. Banyak pasien dapat kembali beraktivitas seperti biasa segera setelah prosedur pengambilan sel telur. 

Namun, pasien tidak diperbolehkan mengemudi selama 24 jam setelah menerima anestesi. Dan, sekitar sembilan hingga 14 hari setelah transfer embrio, pasien bakal dirujuk untuk kembali ke klinik guna menjalani tes kehamilan menggunakan sampel darah.

Bagaimana langkah kerja suntikan dalam program bayi tabung (IVF)?

Selama siklus IVF berlangsung, pasien bakal menggunakan obat hormon suntik untuk merangsang seluruh golongan sel telur pada siklus tersebut agar matang secara berbarengan dan sempurna.

Tim medis juga bakal menentukan jenis obat, frekuensi, dan dosis yang diperlukan untuk perawatan. Penentuan ini didasarkan pada usia, riwayat medis, kadar hormon, serta respons terhadap siklus IVF sebelumnya. Pasien juga perlu melakukan penyuntikan obat kesuburan selama sekitar delapan hingga 14 hari.

Apa saja obat yang digunakan dalam program bayi tabung?

Beberapa jenis obat dapat digunakan selama siklus IVF. Bentuknya ada yang diminum, dan sebagian obat lainnya diberikan melalui suntikan, diserap melalui kulit, alias dimasukkan ke dalam vagina. Tim medis nantinya bakal menentukan dosis dan waktu pemberian yang tepat sesuai rencana perawatan yang dilakukan.

Selama fase stimulasi ovarium, pasien kemungkinan bakal menerima suntik hormon sebagai berikut:

1.  Follicle-Stimulating Hormone (FSH)

Hormon ini bekerja merangsang ovarium untuk memproduksi sel telur. Pasien mungkin menerima salah satu jenis alias kombinasi keduanya selama perawatan. Proses ini berjalan selama kurang lebih 8 hingga 14 hari.

2. Human Chorionic Gonadotropin (hCG)

Biasanya, suntikan hormon ini diberikan sebagai satu suntikan terakhir untuk memicu pematangan sel telur dan memulai proses ovulasi.

3. Leuprolide Acetate

Suntikan ini merupakan sejenis agonis hormon pelepas gonadotropin (GnRH) yang memicu respons tubuh dan diberikan melalui suntikan. Obat ini dapat membantu mengendalikan proses stimulasi alias digunakan sebagai suntikan pemicu.

4. Estrogen dan progesteron

Pasien kemungkinan juga diresepkan pil alias suntikan kontrasepsi sebelum memulai IVF. Hal ini dilakukan guna memberikan kendali atas siklus menstruasi dan memungkinkan semua sel telur untuk mulai berkembang secara bersamaan.

Sebagian pasien juga diberikan suplemen estrogen untuk dikonsumsi sebelum dan sesudah transfer embrio. Hormon ini membantu menebalkan lapisan tembok rahim. Progesteron juga ditambahkan untuk meningkatkan kesempatan implantasi embrio dan keberhasilan kehamilan. Kebanyakan pasien melanjutkan penggunaan obat ini sepanjang trimester pertama. Obat-obatan tersebut tersedia dalam corak oral (diminum), suntikan, transdermal (diserap kulit), alias dimasukkan vagina.

Berapa biaya program bayi tabung?

Biaya program bayi tabung secara umum di Indonesia sangatlah bervariasi. Umumnya, kisaran nilai program bayi tabung per siklus ialah mulai dari 40 juta hingga 200 juta per siklus. Tentunya, keragaman biaya tersebut ditentukan beragam aspek ya, Bunda.

Termasuk diantaranya jenis klinik, teknologi yang digunakan, kondisi kesehatan pasien, hingga paket yang dipilih. Mengutip dari laman Ciputra IVF, biaya bayi tabung yang ditawarkan di sana memang lebih tinggi ialah berkisar dari Rp78 juta hingga Rp120 juta yang sudah mencakup obat, pemeriksaan, hingga transfer embrio.

Sementara itu, perkiraan biaya program bayi tabung di Morula IVF ialah sebagai berikut ya, Bunda:

1. Konsultasi dan skrining awal 2 - 5 juta (suami dan istri)
2. Stimulasi dan obat hormon 25 - 45 juta (tergantung dosis)
3. Oocyte pick up (OPU) 15 - 25 juta (pengambilan sel telur)
4. Laboratorium (ICSI/IMSI) 10 - 20 juta (pembuahan di lab)
5. Embrio transfer (ET) 8 -12 juta (penanaman embrio)

Seberapa besar tingkat keberhasilan program bayi tabung?

Keberhasilan program bayi tabung memang bisa ditentukan beragam faktor, salah satunya usia. Dalam perihal ini, usia menjadi salah satu aspek paling menentukan dalam keberhasilan IVF. 

Peluang seseorang untuk mengandung melalui IVF jauh lebih tinggi jika Bunda berumur di bawah 35 tahun, dan lebih rendah jika Bunda berumur di atas 40 tahun. 

Sementara itu, tingkat kelahiran hidup juga bervariasi dan sangat berangkaian dengan usia. Sebagai contoh, tingkat kelahiran hidup pada ibu berumur di bawah 35 tahun yang menggunakan sel telur sendiri adalah sekitar 46 persen, sedangkan tingkat kelahiran pada ibu berumur 38 tahun yang menggunakan sel telur sendiri adalah sekitar 22 persen.

Berapa lama sampai bisa mengetahui mengandung setelah program bayi tabung?

Menunggu kehamilan setelah program bayi tabung menjadi perihal yang mendebarkan. Penantian ini berkisar antara dua minggu setelah transfer emrbrio selama IVF. Dalam istilah umum, menunggu dua minggu menjadi waktu yang direkomendasikan meskipun banyak klinik menyarankan untuk melakukan tes kehamilan sekira 9-12 hari setelah transfer.

Tes yang dilakukan juga diantaranya tes darah yang dikenal sebagai tes beta hCG, hormon yang diproduksi setelah implantasi embrio. Tes ini merupakan ukuran kehamilan awal yang lebih jeli dibandingkan tes kehamilan di rumah dan bakal dilakukan oleh klinik fertilitas yang Bunda gunakan.

Dalam tes awal, perihal ini bakal memberikan indikasi pertama kehamilan. Sebagian besar klinik mencari tingkat hCG sekitar 100 mIU/mL alias lebih, meskipun bisa bervariasi. Segala sesuatu di atas 25 mIU/mL umumnya dianggap sebagai indikasi kehamilan, tapi biasanya tim medis bakal memberi tahu mengenai rentang yang mereka harapkan.

Kemudian, tes selanjutnya bakal dijadwalkan dua hari setelah tes pertama. Tes ini bakal memeriksa apakah kadar hCG meningkat dua kali lipat, seperti semestinya pada awal kehamilan yang sehat. Jika kadar ini meningkat sesuai harapan, klinik mungkin mengonfirmasi kehamilan dan menjadwalkan USG untuk beberapa minggu mendatang.

Jika tes menunjukkan kadar hCG yang rendah alias menurun, perihal ini dapat menunjukkan embrio tidak sukses menempel, sehingga menyebabkan kehamilan kimia. Kondisi ini bisa menjadi hasil yang sulit, tetapi ahli fertilitas biasanya bakal menjadwalkan tindak lanjut untuk membahas langkah selanjutnya jika kehamilan tidak berkembang seperti dikutip dari laman Springfertility.

Setiap program bayi tabung yang dijalani pasien tentunya mempunyai kemungkinan sukses dan juga ketidakberhasilan. Berbagai aspek pun bisa melatarinya ya, Bun.

1. Berapa tingkat keberhasilan program bayi tabung berasas usia?

Mengacu pada informasi CDC dan SART di 2025, rincian tingkat keberhasilan program bayi tabung berasas golongan usia ialah sebagai berikut:

- Di bawah 35 tahun

Bagi pasien dalam golongan ini, ingkat keberhasilan IVF berada pada puncaknya. Rata-rata tingkat kelahiran hidup per transfer embrio tunggal berkisar antara 45 persen hingga 55 persen. Karena kualitas sel telur umumnya tinggi, pasien sering kali mempunyai kelebihan embrio yang dapat dibekukan untuk kehamilan berikutnya di masa depan.

- Usia 35-37 tahun

Penurunan mulai terlihat secara berjenjang pada golongan ini. Tingkat keberhasilan IVF biasanya berkisar antara 32 persen hingga 40 persen. Banyak klinik sekarang menyarankan PGT-A (Preimplantation Genetic Testing) pada tahap ini untuk memastikan hanya embrio dengan kondisi kromosom sehat yang ditransfer.

- Usia 38-40 tahun

Usia ini merupakan masa transisi sehingga tingkat keberhasilan IVF turun menjadi sekira 20 persen hingga 26 persen. Meskipun keberhasilan tetap sering terjadi, mungkin diperlukan lebih dari satu kali prosedur pengambilan sel telur untuk mendapatkan embrio yang secara genetik normal.

- Usia 41-42 tahun

Tingkat keberhasilan IVF bagi wanita berumur awal 40-an berkisar antara 9 persen hingga 15 persen per siklus. Pada tahap ini, tingkat penurunan jumlah sel dari tahap pengambilan sel telur hingga tahap blastokista tergolong tinggi akibat meningkatnya gelombang kelainan kromosom.

- Di atas 42 tahun

Tingkat keberhasilan IVF menggunakan sel telur sendiri turun hingga di bawah 5 persen. Bagi banyak orang dalam kategori ini, pembahasan sering kali beranjak ke penggunaan sel telur donor untuk meningkatkan kesempatan kelahiran bayi yang sehat secara signifikan seperti dikutip dari laman Thelifefertility.

2. Apakah program bayi tabung bisa sukses setelah percobaan sebelumnya gagal?

Dalam program bayi tabung, semua kemungkinan dan kesempatan bisa saja terjadi ya, Bunda. Apalagi, program bayi tabung memang seirng kali memerlukan lebih dari satu kali percobaan untuk mencapai kehamilan. 

Para ahli sendiri mengetahui perihal ini dan pengobatan yang kandas sebenarnya dianggap 'normal' lantaran tingkat kehamilan hanyalah statistik. Apalagi, kondisi setiap pasien dan setiap embrio berbeda untuk setiap percobaan dan setiap pengobatan.

Ketika menemui siklus pertama kandas ini tidak berfaedah terjadi kegagalan implantasi. Karenanya, ,pengobatan baru dapat dimulai tanpa perlu tes lebih lanjut alias masa istirahat. Namun demikian, langkah berikutnya kudu selalu dinilai secara perseorangan dan hati-hati seperti diktip dari laman Dexeus fertility.

Mengapa program bayi tabung bisa gagal?

Program bayi tabung bukanlah program yang selalu membuahkan keberhasilan. Ketika siklus IVF yang dijalani tidak berhasil. perihal tersebut merupakan bagian dari akibat dari sebuah program. Meskipun perihal tersebut bisa terasa mengecewakan, tetapi Bunda tidak boleh merasa sendirian dan terpuruk lantaran kondisi yang sama juga pernah dialami pejuang garis dua di luar sana.

Di kembali kegagalan program yang dijalani, siklus IVF yang kandas sering kali memberikan wawasan berbobot yang dapat membantu mengarahkan langkah selanjutnya dan meningkatkan kesempatan keberhasilan dalam pengobatan di masa depan.

Terkait kegagalan pada program bayi tabung, memang seiring bertambahnya usia perempuan, sel telur bakal menurun dalam kualitas dan kuantitasnya. Perlu diketahui bahwa wanita memang mempunyai kesempatan mengandung yang lebih mini seiring bertambahnya usia lantaran perihal ini.

Namun, penurunan jumlah sel telur dan kualitas juga memengaruhi kesempatan kehamilan klinis alias kelahiran hidup melalui pengobatan IVF. Dr Gorgy, salah satu pendiri The Fertility and Gynaecology Academy dan salah satu konsultan fertilitas paling dihormati di Inggris, mengatakan, "Menurut tingkat keberhasilan kami, wanita hingga usia 35 tahun mempunyai kesempatan tertinggi untuk keberhasilan IVF ialah 47 persen untuk kehamilan klinis dan 38 persen untuk kelahiran hidup."

Apa saja penyebab program bayi tabung gagal?

Pada program bayi tabung, terkadang memang dibutuhkan dua siklus IVF alias lebih untuk mencapai hasil yang sukses. Meskipun perihal ini bisa berakibat pada fisik, psikis, dan mental, Bunda perlu menyadari bahwa Bunda tidak sendirian dalam perjuangan ini. Ada banyak juga pasien pejuang garis dua yang merasakan perihal sama di luar sana.

Agar lebih merasa tenang, jangan menyalahkan diri sendiri atas kegagalan yang ada. Sebab, ada banyak penyebab program bayi tabung kandas yang tak banyak diketahui orang di luar sana. Berikut ini di antaranya:

1. Usia perempuan

Seiring bertambahnya usia perempuan, kualitas dan jumlah dari sel telur bakal menurun. Dengan begitu, kesempatan mengandung pun jadi lebih kecil.

2. Kualitas embrio

Selama proses laboratorium dari perawatan IVF, sel telur dan sperma jantan dicampur berbareng dengan tujuan menciptakan embrio. Pada prosesnya, embrio bisa saja terlihat sehat di laboratorium, tetapi ketika ditanamkan ke dalam rahim ada kemungkinan mereka kandas berimplantasi lantaran abnormal yang tak terlihat

3. Respons ovarium

Pada awal pengobatan IVF, wanita diwajibkan memberikan suntikan harian hormon kesuburan yang disebut hormon perangsang folikel, yang bermaksud meningkatkan produksi sel telur. Beberapa ovarium wanita dalam perihal ini tidak merespons obat dengan betul sehingga kandas menghasilkan beberapa sel telur untuk pengumpulan. Hal ini terutama bertindak pada wanita yang berumur matang lantaran jumlah sel telur yang sudah sedikit (cadangan ovarium rendah).

4. Masalah implantasi

Hal ini biasanya disebabkan adanya polip rahim, peningkatan kadar progesteron yang prematur, lapisan endometrium yang terlalu tipis, alias jangkitan pada rahim. 

5. Gaya hidup

Seperti halnya kehamilan alami, mempertahankan style hidup sehat sebelum dan selama IVF kemungkinan besar bakal membantu pembuahan. Jika Bunda merokok, sebaiknya berakhir beberapa bulan sebelum memulai IVF, lantaran merokok terbukti berakibat negatif pada kesuburan. Kemudian, mencapai berat badan yang sehat juga bakal berfaedah bagi Bunda, selain menjaga pola makan bergizi dan berolahraga secara teratur.

6. Kelainan kromosom

IVF bisa kandas lantaran embrio mempunyai kelainan kromosom. Ini berarti, embrio mempunyai bagian DNA kromosom yang hilang, berlebih, alias tidak beraturan. Tubuh kemudian menolak embrio tersebut dan ini menyebabkan kegagalan IVF. 

Apakah program bayi tabung bisa menyebabkan abnormal lahir?

Menurut sebuah studi baru dari UCLA, In vitro Fertilization (IVF) dapat meningkatkan akibat abnormal lahir secara signifikan, khususnya pada bagian mata, jantung, organ reproduksi, dan sistem saluran kemih.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi yang lahir dari IVF mungkin mempunyai kemungkinan sedikit lebih tinggi mengalami abnormal lahir tertentu dibandingkan dengan yang dikandung secara alami. Selain itu, kehamilan yang dicapai melalui IVF juga dapat meningkatkan akibat abnormal jantung bawaan pada bayi yang sedang berkembang. Namun, akibat absolut tetap rendah, dan banyak kehamilan IVF menghasilkan bayi yang sehat seperti dikutip dari laman Gwmfm.

Peningkatan akibat dapat dipengaruhi oleh usia orang tua, penyebab infertilitas, alias penggunaan teknologi reproduksi canggih seperti injeksi sperma intrasitoplasma. Agar lebih kondusif dan terhindar dari risiko, konseling pra-konsepsi dan tes genetik dapat membantu menilai akibat perseorangan dan mendukung kehamilan yang lebih sehat.

Berapa usia terbaik untuk menjalani program bayi tabung?

Tingkat keberhasilan IVF pada usia 20-an dan awal 30-an menjadi waktu optimal menjalani program bayi tabung. Khususnya pada wanita berumur 25-34 tahun umumnya mempunyai kesempatan keberhasilan tertinggi dalam prosedur IVF. 

Kualitas sel telur biasanya berada pada kondisi terbaik di rentang usia ini, sehingga perkembangan embrio dan tingkat keberhasilan implantasi condong lebih baik seperti dikutip dari laman Gaudiumivfcentre.

Banyak mahir kesuburan menyatakan bahwa awal usia 30-an merupakan rentang usia terbaik untuk menjalani IVF, lantaran pasien condong mencapai keberhasilan dengan jumlah siklus pengobatan yang lebih sedikit.

Perlukah membekukan embrio saat menjalani program bayi tabung?

Pembekuan embrio merupakan teknik yang dapat membantu menjaga kesuburan di masa depan. Beberapa orang yang memilih prosedur ini sedang menjalani terapi hormon, pengobatan kanker, alias intervensi medis lain yang memengaruhi kesuburan mereka.

Dalam situasi tertentu, master mungkin menyarankan pembekuan embrio untuk mencegah akibat kondisi yang disebut sindrom hiperstimulasi ovarium, yang dapat memburuk setelah kehamilan terjadi. Prosedur ini juga bisa disarankan untuk meningkatkan kesempatan kehamilan jika kadar hormon tertentu terlalu tinggi selama siklus IVF seperti dikutip dari laman Hopkinsmedicine.

Bagaimana langkah meningkatkan kesempatan mengandung dengan program bayi tabung?

Perjalanan menempuh program bayi tabung bukanlah sebuah proses yang singkat melainkan perjalanan panjang dan penuh tantangan. Sering kali, ada juga hal-hal di luar kendali yang mungkin menghampiri. Namun, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh guna meningkatkan kesempatan mengandung dengan program bayi tabung. Berikut ini beberapa diantaranya, Bunda:

1. Mempersiapkan diri

Penting bagi siapa pun yang mau menjalani treatment bayi tabung, ada baiknya mempersiapkan diri baik secara fisik, mental, dan emosional. Bunda dapat mempersiapkan tubuh dengan menjaga berat badan yang sehat, yang menjadi aspek krusial keberhasilan kehamilan. Selain itu, barengi juga dengan makan makanan sehat dan berolahraga secara teratur.

2. Optimalkan kesehatan sel telur dan sperma

Kesehatan sel telur dan sperma dapat berakibat besar pada keberhasilan IVF. Ada beberapa langkah yang dapat Bunda ambil untuk mengoptimalkan kesehatan diantaranya diet seimbang dan olahraga teratur, menghindari rokok, dan mengonsumsi masam folat serta vitamin prenatal lainnya dalam beberapa bulan menjelang IVF seperti dikutip dari laman Infertility.

3. Minimalisasi stres dan sesuaikan style hidup

Stres sangat berakibat negatif pada kesuburan. Dengan mengelola tingkat stres dan menyesuaikan style hidup tentunya dapat membantu meningkatkan kesempatan keberhasilan IVF. 

Beberapa perihal yang bisa dicoba ialah meluangkan waktu untuk bersantai setiap hari, melakukan olahraga secara teratur, tidur cukup, mengurangi konsumsi alkohol dan berakhir merokok. 

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads