Orang Siak dalam Pandangan Buya Hamka

Aug 13, 2026 05:45 AM - 21 jam yang lalu 134

Kincai Media, BATUSANGKAR -- Istilah 'Orang Siak' kerap terdengar di Sumatra Barat dan Riau. Istilah ini biasanya disematkan untuk orang-orang shaleh yang tekun beribadah. 

Istilah ini pun masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun, kata di KBBI tidak menyertakan kata 'orang'. Yang disebut hanya Siak saja. Yang artinya yaitu:

1. Orang (santri) penjaga alias perawat masjid;

2. Orang yang biasanya tinggal di masjid dan mendapat rezeki dari infak orang.

Mengenai istilah Orang Siak ini, Prof Hamka (Buya Hamka) juga pernah menjelaskan pengertiannya. Dia menuliskannya dalam sebuah makalah yang dipresentasikan di Seminar Sejarah Riau, yang diprakarsai oleh Universitas Riau di Pekanbaru pada 20-25 Mei 1975.

Dalam catatannya di kitab Dari Perbendaharaan Lama, Buya Hamka menguraikan beberapa pendapat tentang makna kata Siak, yang menjadi nama dari sungai yang mengalir di Riau. Dan, kemudian menjadi nama dari sebuah kerajaan yang berdiri di tepi sungai itu.

Menurut Buya Hamka, ada satu pendapat tentang makna Orang Siak, ialah orang yang dianggap mahir dalam kepercayaan Islam. Ada pula yang mengatakan bahwa Orang Siak adalah lebai-lebai alias marbot-marbot masjdi.

Buya Hamka mengatakan, di Minangkabau sampai saat ini dalam bahasa sehari-hari, yang disebut Orang Siak adalah orang mahir kepercayaan Islam. Sama artinya dengan pengertian orang Jawa tentang santri.

"Orang semacam saya ini (Buya Hamka) jika di Minang, termasuk golongan Orang Siak, jika seseorang hidupnya tekun beragama, dikatakan orang: 'Si fulan itu Siak benar!" kata Buya Hamka.

Tetapi, di Semenanjung Tanah Melayu (Malaysia Barat), umumnya yang disebut Siak memang pengurus-pengurus harian masjid. Kadang-kadang diartikan "Orang-Orang Siak" adalah orang yang ditugaskan mengurus, memandikan, dan menyembahyangkan jenazah.

"Bagaimanapun diartikan baik tinggi langkah di Minangkabau alias agak ke bawah langkah di Malaysia, namun kata Siak terang sekali dalam dugaan orang Melayu sangat bertali erat dengan agama," kata Buya Hamka.

Tetapi, lanjut Hamka, dari kata-kata Orang Siak ini, dirinya pernah mendengar dari Almarhum DR Syekh Abdullah Ahmad, ustadz besar yang terkenal di Minangkabau (meninggal 1934) bahwa pepatah Minangkabau yang terkenal : "Adat menurut, syara mendaki",  mendakinya itu adalah dari daerah Siak ini. Beliau (Dr Abdullah Ahmad) menolak tafsiran yang umum di masa itu, yang mengatakan syara mendaki dari Ulakan Pariaman, yang dibawa oleh Syekh Burhanuddin Ulakan ke Minangkabau yang kembali dari Aceh belajar kepada Syekh Abdurrauf Singkil. Beliau (Syekh Burhanuddin) meninggal pada 1111 hijriyah.

Menurut Buya Hamka, DR Syekh Abdullah Ahmad tidak menerima pendapat mendaki dari Ulakan itu. Karena dengan demikian, baru 250 tahun saja Islam di Minangkabau alias dua separuh abad kata beliau Syara mendaki dari Siak, buktinya kata beliau:

"Ialah orang-orang yang mahir dala perihal kepercayaan Islam sejak dulu sampai sekarang, disebut Orang Siak."

Siak adalah Minangkabau Timur ini, sejak Rokan, Kampar, dan sekitar Sungai Siak. Jika terlihat ahli-ahli kepercayaan Islam itu, mereka dihormati dan disebut Orang Siak sampai sekarang. Karena itu maka menurut Dr Abdullah Ahmad: "Nenek moyang tuan-tuan dari Kampar."

"Daerah Rokan dan sekitar Sungai Siak sekarang inilah guru-guru nenek moyang kami, yang mengisalmkan kami orang mudik, orang pedalaman Minangkabau," kata Buya Hamka.

Selengkapnya