Jam biologis wanita berkedudukan krusial dalam menentukan tingkat kesuburan, Bunda. Seiring bertambahnya usia, jumlah dan kualitas sel telur wanita bakal terus menurun, sehingga memengaruhi kesempatan untuk hamil.
Selama beberapa dekade, para intelektual telah menunjuk penurunan kualitas sel telur sebagai penyebab utama menurunnya kesuburan. Namun, penelitian baru dari UC San Francisco dan Chan Zuckerberg Biohub San Francisco menunjukkan bahwa masalahnya lebih besar daripada sekadar sel telur.
Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Science pada 2025, sel dan jaringan di sekitar ovarium disebut memainkan peran krusial dalam memengaruhi sel telur matang dan seberapa sigap kesuburan menurun. Penelitian ini didukung oleh National Institutes of Health (NIH).
"Selama ini kita menganggap penuaan ovarium hanya sebagai masalah kualitas dan jumlah sel telur," kata penulis senior studi dan guru besar Obstetrics, Gynecology & Reproductive Sciences di UCSF, Diana Laird, PhD.
"Apa yang kami tunjukkan adalah bahwa lingkungan di sekitar sel telur, seperti sel pendukung, saraf, dan jaringan ikat, juga berubah seiring bertambahnya usia," sambungnya, dilansir laman The University of California.
Menurut peneliti, memahami perubahan-perubahan ini mungkin menjadi kunci untuk memperpanjang kesuburan dan meningkatkan kesehatan. Pasalnya, akibat banyak penyakit mengenai usia meningkat setelah menopause alias pengangkatan ovarium. Nah, memperlambat penuaan ovarium dapat membantu mengurangi akibat tersebut, Bunda.
"Dengan menggabungkan pencitraan mutakhir dari laboratorium Diana Laird dengan skill Biohub dalam dua jenis pengurutan sel tunggal, kami bisa memahami ovarium secara detail, yang belum pernah terjadi sebelumnya," ungkap kepala Platform Genomik di Biohub San Francisco, Norma Neff, PhD.
"Pendekatan berbasis teknologi ini memungkinkan kami untuk mengungkap jenis sel baru, memberikan dasar untuk penemuan di masa depan dalam kesehatan reproduksi."
Tahapan dalam penelitian
Dalam studi ini, Laird dan rekan-rekannya berupaya untuk membikin profil seperti apa proses penuaan normal pada ovarium tikus dan manusia. Pertama, mereka mengembangkan teknik pencitraan tiga dimensi baru yang memungkinkan untuk memvisualisasikan sel telur di ovarium tanpa kudu memotong organ tersebut menjadi lapisan tipis, seperti yang telah dilakukan sebelumnya.
Mereka lampau mengawasi penurunan drastis pada sel telur rehat yang belum matang dan menunggu sebagai persediaan maupun pada sel telur yang sedang tumbuh dan mulai matang untuk ovulasi. Sama seperti wanita di usia 30-an, tikus-tikus tersebut tidak mudah mengandung dengan fertilisasi in vitro (IVF) alias program bayi tabung.
Ketika para intelektual memperluas pencitraan 3D ke ovarium manusia, mereka menemukan perihal yang tak terduga, ialah sel telur tidak tersebar merata di seluruh ovarium. Sebaliknya, sel telur berkumpul dalam 'kantong' yang dikelilingi oleh area bebas sel telur. Seiring bertambahnya usia, kepadatan sel telur di dalam kantong-kantong ini menurun.
"Hal ini mengejutkan. Kami berasumsi sel telur bakal terdistribusi lebih merata berasas apa yang kami lihat di ovarium yang sedang berkembang," kata Laird.
"Kantong-kantong ini menunjukkan bahwa di dalam satu ovarium, lingkungan di sekitar sel telur dapat memengaruhi berapa lama sel telur tersebut memperkuat dan seberapa baik dia matang," lanjutnya.
Selanjutnya, para peneliti bekerja sama dengan golongan Neff di Biohub mempelajari gen apa yang aktif dalam sel ovarium seiring bertambahnya usia. Jaringan ovarium dari manusia susah didapatkan. Selain itu, sel telur berukuran besar dan sangat rapuh.
Jadi, alih-alih menggunakan perangkat miniatur standar yang memisahkan dan menandai sel untuk mengurutkan gen aktifnya, golongan tersebut dengan susah payah mengisolasi sel telur satu per satu secara manual untuk memisahkannya dari sel lain.
Temuan sel yang memengaruhi kesuburan
Setelah mempelajari nyaris 100.000 sel tikus dan manusia, mereka mengidentifikasi 11 jenis sel utama yang ditemukan di ovarium. Salah satunya adalah sel glia alias sejenis sel pendukung yang biasanya mengenai dengan saraf dan paling banyak dipelajari di otak. Secara mengejutkan, sel ini rupanya ditemukan di ovarium, Bunda.
Pada saat yang sama, peneliti juga mengungkapkan bahwa saraf simpatik yang terlibat dalam respons fight or flight, membentuk jaringan padat di ovarium yang menjadi semakin padat seiring bertambahnya usia. Perlu diketahui, respons fight or flight adalah sistem pertahanan diri alami yang mempersiapkan tubuh untuk menghadapi ancaman langsung alias situasi mengancam.
Ketika para peneliti menghilangkan saraf-saraf itu pada tikus, hewan-hewan tersebut mempunyai lebih banyak sel telur persediaan tetapi lebih sedikit yang matang. Hal ini menunjukkan bahwa saraf-saraf itu membantu menentukan kapan sel telur mulai tumbuh.
Sel pendukung lainnya yang disebut fibroblas juga berubah seiring bertambahnya usia. Perubahan dapat memicu peradangan dan pembentukan jaringan parut di ovarium wanita berumur 50-an.
"Semua ini mengarah pada jalur penyelidikan baru tentang gimana saraf, pembuluh darah, dan jenis sel lainnya berkomunikasi dengan sel telur. Ini memberi tahu kita bahwa penuaan ovarium bukan hanya tentang sel telur tetapi tentang seluruh ekosistemnya," ujar Laird.
Bagi para peneliti, salah satu konklusi terpenting dari penelitian baru ini adalah kesamaan antara ovarium manusia dan ovarium tikus.
Hingga saat ini, tetap yang belum jelas apakah kita dapat menggunakan tikus sebagai model untuk manusia dalam perihal ovarium. Pasalnya, kita mempunyai jendela reproduksi yang cukup berbeda," kata Laird.
"Namun, kesamaan yang kami lihat dalam penelitian ini membikin kami percaya bahwa kami dapat melanjutkan penelitian pada tikus dan menerapkan pelajaran tersebut pada manusia."
Tim Laird sejauh ini sudah meluncurkan studi yang menyelidiki apakah beberapa obat dapat mengubah waktu alias kecepatan penuaan ovarium. Pada akhirnya, mereka berambisi dapat menemukan langkah untuk memperlambat alias menunda penuaan ovarium, yang memengaruhi kesuburan dan penyakit lain, seperti penyakit kardiovaskular, yang umum terjadi pada wanita setelah menopause.
"Sumber awet muda mungkin sebenarnya adalah ovarium. Menunda penuaan ovarium dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan seiring bertambahnya usia," kata peneliti pascadoktoral di UCSF yang juga salah satu penulis utama studi, Eliza Gaylord, PhD.
Demikian studi terbaru yang mengungkap penyebab kesuburan wanita menurun begitu sigap seiring bertambahnya usia.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·