Perlukah Orang Tua Minta Maaf Setelah Memarahi Anak? Ini Kata Psikolog

Jul 28, 2026 06:45 PM - 10 jam yang lalu 141

Setelah 'kelepasan' memarahi anak, jangan lupa untuk meminta maaf ya, Bunda. Ternyata, perihal ini krusial untuk perkembangan emosional anak.

Sayangnya sebagian orang tua enggan meminta maaf lantaran cemas ini bakal menurunkan wibawa alias membikin anak merasa tindakannya dapat dibenarkan. 

Nyatanya, meminta maaf setelah memarahi anak bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai dalam keluarga.


Mengapa orang tua perlu meminta maaf kepada anak?

Dikutip dari Times of India, ketika orang tua berteriak alias memarahi anak dengan langkah yang berlebihan lantaran terbawa emosi, meminta maaf merupakan langkah yang dianjurkan.

Tujuannya bukan untuk membenarkan perilaku anak, tapi untuk mengakui bahwa langkah menyampaikan kemarahan tadi kurang tepat. Misalnya, anak memang melakukan kesalahan, tetapi membentaknya hingga membuatnya ketakutan bukanlah langkah terbaik untuk mengajarkan disiplin. 

Dalam situasi seperti ini, Bunda tetap dapat mempertahankan patokan sembari mengakui bahwa respons emosionalnya perlu diperbaiki.

Manfaat positif meminta maaf setelah memarahi anak

Tak sekadar menyelesaikan masalah yang ada, meminta maaf setelah memarahi anak juga memberi faedah positif seperti:

1. Memulihkan hubungan dengan anak

Saat dimarahi dengan bunyi keras, anak tentu bakal merasa sedih, takut, bingung, alias apalagi merasa tidak disayangi. 

Apalagi bagi anak yang tetap kecil, pengalaman seperti itu bisa membekas lebih lama daripada yang diperkirakan orang tua.

Permintaan maaf yang tulus membantu memperbaiki hubungan setelah konflik. Anak pun memahami bahwa meskipun terjadi pertengkaran, kasih sayang Bunda tidak berubah.

2. Mengajarkan anak untuk bertanggung jawab

Seperti diketahui, anak belajar terutama melalui contoh nyata yang mereka lihat setiap hari ialah orang tua.

Ketika orang tua berani mengakui kesalahan dan meminta maaf, anak bakal memahami bahwa setiap orang bisa melakukan salah. Hal yang terpenting adalah bersedia bertanggung jawab dan berupaya memperbaikinya.

Contoh nyata ini jauh lebih mudah dipahami dan diikuti, dibandingkan sekadar mendengar nasihat untuk meminta maaf kepada orang lain saat melakukan salah.

Saat orang tua mengakui kesalahan, anak belajar bahwa masalah dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik, bukan dengan saling menyalahkan.

Dengan begitu, rasa kondusif secara emosional antara anak dan orang tua bakal perlahan terjalin kembali. 

Tak sedikit orang tua yang enggan meminta maaf setelah memarahi anak, lantaran takut tak lagi dihormati nantinya.

Padahal, para mahir justru menilai sebaliknya. Orang tua yang bisa mengakui kesalahan biasanya lebih dipercaya dan dihargai oleh anak. Sikap tersebut menunjukkan kejujuran, kedewasaan, dan rasa hormat terhadap emosi anak.

Nantinya anak tetap memahami bahwa orang tua mempunyai patokan yang kudu dipatuhi. Permintaan maaf hanya menunjukkan bahwa langkah menyampaikan patokan tadi kurang tepat. Dengan kata lain, meminta maaf tidak berfaedah menghapus akibat atas kesalahan anak.

Apa yang perlu dilakukan segera setelah memarahi anak?

Dikutip dari Motherly, perihal utama yang perlu dilakukan adalah menenangkan diri. Ini tentu tidak mudah, tapi sangat krusial untuk menurunkan emosi yang sedang meledak. 

Bunda bisa membasuh wajah dengan air, sekadar keluar teras untuk menarik napas dalam, alias pindah ke ruangan lain dulu. Setelah itu, bantu anak untuk juga menenangkan diri. Sebab sama seperti orang dewasa yang susah berpikir bening saat sedang marah alias sedih, anak juga demikian. 

Langkah berikutnya ialah proses memperbaiki hubungan, tujuannya melepaskan emosi negatif yang muncul setelah bentrok melalui ucapan maaf dan refleksi diri. Jika tidak demikian, baik anak maupun orang tua bakal menyimpan emosi negatif tersebut di dalam hati.

Seiring waktu, emosi yang dipendam bakal terus menumpuk hingga akhirnya meledak dan membikin bentrok dalam jangka panjang.

Tips krusial meminta maaf kepada anak

Tak perlu ragu untuk meminta maaf kepada anak, terutama setelah kelepasan memarahinya. Hal ini tak bakal membikin orang tua terlihat lemah kok, Bunda.

"Orang tua seringnya berpikir bahwa jika mengakui kesalahan, mereka bakal kehilangan kendali dan anak bakal menjadi semena-mena. Tapi tidak," kata psikolog perkembangan anak sekaligus penulis kitab How Toddlers Thrive, Tovah P. Klein, PhD, dikutip dari Parents.

Menurut para psikolog, berikut komponen-komponen krusial saat orang tua hendak meminta maaf kepada anak:

1. Akui bahwa emosi anak terluka

Jika orang tua menunjukkan bahwa mereka betul-betul menyadari telah melukai perasaannya, anak bakal memahami bahwa ini tetap bisa diperbaiki.

Sebagai contoh, permintaan maaf dapat disampaikan seperti ini:

"Maaf ya, tadi Bunda bereaksi berlebihan dan membentakmu. Bunda tahu itu membuatmu sedih. Lain kali Bunda bakal menjelaskan terlebih dulu agar Anda tidak bingung."

Klein menekankan bahwa yang perlu dimintai maaf adalah reaksi berlebihan orang tua, bukan angan agar anak bertanggung jawab.

2. Bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan

Seorang sosiolog dan penulis kitab The Forgiveness Tour: How to Find the Perfect Apology, Susan Shapiro, menyampaikan bahwa nyaris semua respondennya mengungkapkan kemauan yang sama, ialah mau didengar, dipahami, dan dicintai.

Menurut Shapiro, mengakui kesalahan, tindakan yang menyakitkan, alias sikap yang kurang peka merupakan langkah pertama dalam meminta maaf dengan baik.

Saat mengakui kesalahan, sampaikan secara spesifik. Hindari permintaan maaf yang terlalu umum, dan jelaskan dengan jelas apa yang memang sudah dilakukan secara keliru.

3. Jelaskan kenapa perihal itu terjadi

Menjelaskan argumen di kembali perilaku yang tidak tepat dapat membikin anak memandang sisi manusiawi orang tua, sekaligus membuka ruang bagi rasa saling memahami.

4. Tunjukkan bahwa perihal itu tidak bakal terulang

Permintaan maaf yang tulus menunjukkan empati dan memperkuat hubungan, sekaligus menjadi bekal krusial bagi anak dalam masa depannya kelak.

5. Sampaikan dengan jelas dan singkat

Mengucapkan maaf secara singkat tetapi tulus, membantu anak memahami bahwa setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan.

Saat Bunda memberi contoh meminta maaf dengan jelas dan tulus, anak juga belajar bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri sehingga bisa berperilaku lebih baik di masa depan. Hal yang paling penting, jangan lupa untuk selalu betul-betul mengucapkan kata 'maaf'.

Menurut Shapiro, memberi bingkisan alias kompensasi bakal kurang berfaedah jika tidak disertai pengakuan tulus atas kesalahan yang telah dilakukan.

Karena itu, saat meminta maaf kepada anak, jangan lupa mengucapkan dua kata yang sederhana tetapi sangat bermakna: "Maaf, ya".

Itulah penjelasan tentang perlukah orang tua minta maaf setelah memarahi anak. Ingat, berani meminta maaf bakal membantu menciptakan komunikasi yang lebih terbuka, menumbuhkan kepintaran emosional, serta mengajarkan anak pentingnya bertanggung jawab atas kesalahan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Selengkapnya