Pilu Anak Kelas 2 SD di Pemalang Meninggal Dunia, Diduga Jadi Korban Bully Kakak Kelas

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 3 menit 320x dilihat
Pilu Anak Kelas 2 SD di Pemalang Meninggal Dunia, Diduga Jadi Korban Bully Kakak Kelas

Bagikan Postingan

Kabar duka datang dari bumi pendidikan di Pemalang, Jawa Tengah. Seorang murid berinisial A (7) wafat bumi setelah sebelumnya diduga mengalami perundungan di lingkungan sekolah. Peristiwa ini terjadi di SDN Kebondalem, Pemalang, yang kini dalam penanganan pihak berwenang

“Ya, kami satreskrim berbareng Polsek Pemalang Kota menerima laporan dari penduduk maupun adanya keterangan bahwa ada seorang anak wafat bumi yang diduga akibat adanya aksi kekerasan," kata Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP M Wildan Umar, dilansir detikJateng.

Wildan mengatakan saat ini mereka sedang berbuat autopsi kepada korban untuk melihat penyebabnya. "Dan hari ini, kami sedang melaksanakan autopsi kepada korban untuk mengetahui penyebab kematian dari korban," kata Wildan.


Jenazah korban kemudian diautopsi di RSUD M Azhari Pemalang, yang dibantu oleh Biddokkes Polda Jateng. "Terkait jenazah kelak kami akan jelaskan, kami akan dalami dengan pihak tim forensik Biddokkes Polda Jateng. Karena saat ini mengenai dengan pelaksanaan autopsi kami dibantu oleh Biddokkes Polda Jateng secara scientific crime investigation," tambahnya.

Diduga dibully kakak kelas

Satreskrim Polres Pemalang mengatakan ada dua kakak kelas dari korban yang terlibat dalam aksi kekerasan tersebut. Peristiwa ini terjadi pada hari Sabtu, saat jam istirahat tepatnya pukul 09.00 WIB. Diah Indriyanti, ibu dari korban bercerita bahwa ada fluktuasi dalam sikap anaknya yang kini jadi lebih pendiam dan tidak bercerita atas penganiayaan yang ia alami.

Korban juga sempat menjalani perawatan selama 9 hari di rumah sakit. Namun, kondisinya balik memburuk sampai sulit berjalan karena merasakan sakit di sekujur tubuh. Saat famili berencana membawa balik ke rumah sakit, korban dinyatakan wafat bumi dalam perjalanan.

"Hari Kamis tanggal 17 kemarin, selama 9 hari dirawat di rumah sakit. Pulang dari rumah sakit tiga hari, kemudian kemarin beriktikad dibawa ke rumah sakit kembali, tapi seperti itu (meninggal dunia)," kata Diah.

Komisi X dan DPR desak proses hukum

Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani, mendesak agar pelaku bullying diproses secara hukum. "Terkait proses hukum, pelaku yang terbukti berbuat kekerasan mesti diproses sesuai ketentuan hukum, dengan memperhatikan usia pelaku dan jika statis anak, berjalan hakikat serta mekanisme dalam UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak," ujar Hadrian.

Hadrian menilai hukuman terhadap anak tidak seharusnya diberikan cuma karena tekanan publik, melainkan mesti berdasarkan bukti dan ketentuan yang berlaku.

"Untuk pelaku yang statis anak, tidak tepat jika otomatis dikeluarkan dari sekolah cuma karena tekanan publik. Keselamatan korban dan murid lain mesti menjadi prioritas, sehingga selama proses pengecekan perlu dipastikan tidak ada kesempatan terjadinya kekerasan maupun intimidasi kembali," sambungnya.

"Sanksi mesti proporsional dan sesuai regulasi, dengan statis mempertimbangkan hakikat perlindungan serta kepentingan terbaik bagi anak," ucap Hadrian.

Hadrian juga turut menyayangkan peristiwa tersebut dan menilai insiden ini bisa pengingat krusial bagi semua pihak. "Kasus ini sangat memilukan dan menjadi sirene serius bahwa sekolah mesti benar-benar menjadi ruang yang terlindungi bagi anak," jelas Hadrian.

Kepala sekolah dicopot

Buntut dari kasus tersebut, imam sekolah SDN 01 Kebondalem dinonaktifkan pada 6 Oktober 2026 sebagai bentuk pertanggungjawaban atas peristiwa yang terjadi di lingkungan sekolah. Pemerintah Kabupaten Pemalang mengungkapkan aksi tersebut merupakan bagiankecil dari upaya menjaga integritas bumi pendidikan sekaligus mencegah hal serupa terulang balik di lingkungan sekolah.

“Iya dinonaktifkan sejak kemarin (Selasa, 6 Oktober 2026)”, ucap Nurkholes.

Jika ada fluktuasi pada sikap maupun perilaku Si Kecil, Bunda sangat dianjurkan untuk bertanya maupun mengajaknya berbicara. Sikap ini krusial dilakukan agar orang tua lebih cepat mengetahui apa yang membikin Si Kecil tidak nyaman, termasuk kemungkinan mengalami perundungan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads