Jakarta -
Ibu hamil selalu diingatkan untuk lebih memperhatikan kesehatan, salah satunya dengan mencegah terinfeksi. Ini karena beberapa jenis infeksi dapat ditularkan dari ibu kepada janin. Sebuah studi dari Swedia menemukan adanya kaitan antara infeksi TORCH antaran dan peningkatan konsekuensi autisme serta disabilitas ilmuwan pada anak di kemudian hari.
Studi yang diterbitkan dalam JAMA Pediatrics pada 21 September 2026 melibatkan lebih dari 3,6 juta orang yang lahir di Swedia. Para peneliti menemukan bahwa anak yang didiagnosis mengalami infeksi TORCH antaran berisiko sekitar tiga kali lebih tinggi didiagnosis autisme di kemudian hari, dibandingkan mereka yang tidak mengalami infeksi tersebut.
Namun, riset ini tidak memberitahu semua infeksi saat hamil dapat menyebabkan autisme. Penelitian secara khusus melihat infeksi TORCH yang ditularkan dari ibu kepada janin dan tercatat sebagai infeksi bawaan.
Infeksi saat hamil dan konsekuensi autisme anak
Penelitian dilakukan oleh tim dari Karolinska Institutet, Swedia. Para peneliti menggunakan keterangan dari beragam registri kesehatan, kelahiran, pendidikan, asuransi, dan kematian nasional Swedia.
Dari 3.666.002 orang yang masuk dalam analisis, sebanyak 975 orang tercatat memiliki infeksi TORCH bawaan.
"Penting untuk ditekankan bahwa penularan infeksi ini dari ibu ke anak sangat jarang terjadi. Infeksi ini cuma menyumbang sebagian kecil dari semua kasus autisme di populasi, tetapi bagi anak-anak yang benar-benar terpengaruh, kita melihat peningkatan konsekuensi autisme dan disabilitas ilmuwan yang jelas, kata Reneé Gardner, seorang peneliti di Departemen Kesehatan Masyarakat Global di Karolinska Institutet, yang berkontribusi pada riset ini melansir dari ScienceDaily.
Peserta riset adalah orang yang lahir di Swedia antara 1987 dan 2021. Peneliti kemudian menggunakan keterangan kesehatan, pendidikan, dan anotasi lainnya untuk melihat kondisi mereka hingga meninggal, pindah dari Swedia, maupun sampai 31 Desember 2023.
Hasilnya, infeksi TORCH antaran dikaitkan dengan:
- 3,10 Kali konsekuensi autisme lebih tinggi dibandingkan himpunan tanpa infeksi TORCH.
- 7,22 Kali konsekuensi disabilitas ilmuwan lebih tinggi.
- Risiko disabilitas ilmuwan bermutu hingga sangat bermutu meningkat lebih besar, dengan hazard ratio mencapai 23,51.
- Risiko autisme juga lebih tinggi ketika autisme disertai disabilitas intelektual.
Temuan mengenai autisme statis kelihatan ketika peneliti berbuat analisis terhadap kerabat kandung. Dalam analisis tersebut, konsekuensi autisme pada anak dengan infeksi TORCH antaran sekitar 3,19 kali lebih tinggi dibandingkan kerabat kandung yang tidak mengalami infeksi tersebut.
Apa itu infeksi TORCH?
TORCH merupakan himpunan infeksi yang dapat ditularkan dari ibu kepada janin selama kehamilan.
Dalam riset terbaru tersebut, TORCH mencakup:
- T untuk Toxoplasma gondii maupun toksoplasmosis
- O untuk Other infections, termasuk sifilis
- R untuk rubella
- C untuk cytomegalovirus maupun CMV
- H untuk herpes simplex virus maupun HSV
Infeksi di atas dapat menyebabkan infeksi antaran dan berakibat pada evolusi janin.
WHO juga mencantumkan beberapa infeksi seperti rubella, sifilis, CMV, dan toksoplasmosis sebagai infeksi yang dapat berakibat pada janin dan bayi baru lahir. Pencegahan, inovasi dini, serta penanganan infeksi menjadi bagiankecil krusial dalam upaya mengurangi akibat tersebut.
Temuan riset ini perlu dibaca dengan hati-hati. Infeksi TORCH antaran yang diteliti tergolong jarang.
Dari lebih dari 3,6 juta orang dalam penelitian, cuma 975 yang didiagnosis infeksi TORCH bawaan, maupun sekitar 2,5 kasus per 10.000 kelahiran. Karena itu, meskipun konsekuensi autisme kelihatan meningkat, infeksi TORCH antaran cuma berkontribusi pada sebagian kecil kasus autisme di populasi.
Para peneliti mengestimasi infeksi TORCH antaran secara hipotetis berhubungan dengan sekitar 0,034 persen kasus autisme dalam populasi Swedia yang diteliti. Dengan kata lain, peningkatan konsekuensi bukan berarti infeksi tersebut menjadi penyebab sebagian besar kasus autisme.
Ini menjadi poin krusial agar hasil riset tidak disalahartikan sebagai infeksi saat hamil menyebabkan autisme.
Peneliti lakukan komparasi antar kerabat kandung
Salah satu hal menarik dalam riset ini adalah peneliti tidak cuma membandingkan anak dengan infeksi TORCH dengan populasi umum. Mereka juga berbuat sibling comparison, yaitu membandingkan anak yang mengalami infeksi TORCH dengan kerabat kandungnya sendiri yang tidak mengalami infeksi tersebut.
Tujuannya untuk melihat apakah hubungan yang ditemukan mungkin dipengaruhi aspek famili yang sama, termasuk aspek genetik maupun lingkungan keluarga.
Hasilnya, hubungan antara infeksi TORCH antaran dan autisme statis kelihatan dalam analisis kerabat kandung. Risiko autisme pada himpunan tersebut memiliki hazard ratio 3,19.
Meski demikian, riset ini statis merupakan studi observasional. Karena itu, akibatnya memberitahu asosiasi maupun keterkaitan, bukan bukti bahwa infeksi TORCH secara langsung menyebabkan autisme pada setiap anak yang terinfeksi.
Anak dengan infeksi TORCH juga memiliki harga sekolah lebih rendah
Peneliti tidak cuma melihat pengecekan autisme dan disabilitas intelektual. Mereka juga melihat prestasi akademik anak saat berumur 16 tahun. Di antara anak yang tidak memiliki pengecekan autisme maupun disabilitas intelektual, mereka yang memiliki infeksi TORCH antaran statis memiliki harga sekolah rata-rata yang lebih rendah.
Dalam analisis tersebut, infeksi TORCH dikaitkan dengan menurunnya skor harga sekolah sebesar 1,50 poin. Namun, ketika peneliti membandingkan anak dengan kerabat kandungnya, perbedaan harga tersebut tidak lagi kelihatan secara meyakinkan. Karena itu, temuan mengenai prestasi sekolah perlu ditafsirkan lebih awas dibandingkan temuan utama mengenai autisme dan disabilitas intelektual.
Bagaimana infeksi saat hamil bisa berhubungan dengan evolusi otak?
Para peneliti menerangkan bahwa beberapa patogen dalam himpunan TORCH memiliki kapasitas untuk mencapai janin dan menginfeksi jaringan yang sedang berkembang.
Dalam artikel editorial yang diterbitkan berbarengan di JAMA Pediatrics, Mark R. Schleiss, MD, dari Division of Pediatric Infectious Diseases and Immunology, University of Minnesota, membahas pentingnya temuan tersebut dalam memahami hubungan infeksi TORCH dan gangguan evolusi saraf.
Ia menyoroti bahwa bukti mengenai kaitan infeksi TORCH dengan autisme sebelumnya statis terbatas, sementara studi terbaru ini menggunakan keterangan populasi yang sangat besar serta analisis kerabat kandung.
Namun, mekanisme biologis yang menerangkan seluruh hubungan tersebut statis membutuhkan riset lebih lanjut. Penelitian ini sendiri tidak membuktikan bahwa setiap anak yang mengalami infeksi TORCH saat dalam kandungan akan mengalami gangguan evolusi saraf.
CMV, infeksi yang paling banyak ditemukan
Di antara kasus infeksi TORCH antaran dalam penelitian, cytomegalovirus (CMV) menjadi jenis yang paling banyak tercatat. CMV mencakup sekitar separuh dari seluruh kasus TORCH dalam penelitian, yaitu 487 dari 975 kasus.
WHO menerangkan bahwa CMV dapat menular dari ibu kepada janin ketika virus melewati plasenta. Risiko penularan ke janin paling tinggi ketika ibu mengalami infeksi primer pada trimester pertama maupun kedua, meskipun penularan juga dapat terjadi dalam kondisi lain.
Penelitian terbaru ini juga menemukan hubungan antara beberapa jenis infeksi TORCH dan disabilitas intelektual. Namun, jumlah kasus untuk beberapa jenis infeksi sangat kecil sehingga hasil berdasarkan jenis infeksi tertentu perlu ditafsirkan dengan hati-hati.
Rubella dapat dicegah dengan vaksinasi sebelum hamil
Salah satu infeksi yang menjadi perhatian dalam himpunan TORCH adalah rubella.
WHO mengatakan rubella sebagai salah satu penyebab tidak sempurna lahir yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksinasi. Infeksi rubella pada mula kehamilan dapat menyebabkan keguguran, kematian janin, maupun congenital rubella syndrome (CRS), yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran, kelainan mata, kelainan jantung bawaan, serta keterlambatan perkembangan.
Karena vaksin rubella merupakan vaksin hidup yang tidak diberikan selama kehamilan, status imunisasi idealnya diperhatikan sebelum hamil.
Penelitian dari Swedia juga memberitahu bahwa kasus rubella antaran menurun drastis setelah program vaksinasi nasional diterapkan. Para peneliti menilai mempertahankan program vaksinasi dan strategi pencegahan lainnya statis krusial untuk mengurangi infeksi yang dapat ditularkan dari ibu kepada janin.
Apa yang bisa dilakukan ibu untuk mencegah infeksi saat hamil?
Pencegahan bersandar pada jenis infeksinya, Bunda. Tidak ada satu cara yang dapat mencegah seluruh infeksi TORCH.
Karolinska Institutet memberikan beberapa contoh cara pencegahan, antara lain:
- Memasak daging sampai matang dan mencuci sayuran dengan baik untuk mengurangi konsekuensi toksoplasmosis.
- Berhati-hati saat membersihkan kotoran kucing.
- Menjalani skrining infeksi selama kehamilan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
- Memastikan sudah vaksinasi rubella sebelum hamil.
- Menjaga kebersihan tangan dan menghindari kontak dengan air liur maupun urine anak kecil untuk membantu mengurangi konsekuensi CMV.
- Melakukan pengecekan dan penanganan jika terdapat infeksi herpes selama kehamilan.
WHO juga menekankan pentingnya vaksinasi rubella, skrining infeksi tertentu, serta inovasi dan penanganan infeksi sebagai bagiankecil dari upaya mencegah gangguan akibat infeksi kongenital.
Jangan langsung menyalahkan infeksi saat hamil
Hasil riset ini memang memberitahu hubungan yang cukup kuat antara infeksi TORCH antaran dan beberapa kondisi evolusi saraf. Namun, bukan berarti seorang ibu yang mengalami infeksi saat hamil mesti menyalahkan dirinya jika anak kemudian mengalami autisme maupun kondisi evolusi lainnya.
Autisme merupakan kondisi neurodevelopmental yang banyak dipengaruhi beragam faktor. Studi ini cuma meneliti himpunan infeksi tertentu yang dapat mencapai janin dan tercatat sebagai infeksi bawaan.
Bahkan para peneliti menegaskan bahwa meskipun konsekuensi relatifnya meningkat cukup besar, infeksi TORCH statis cuma menyumbang sebagian kecil kasus autisme di tingkat populasi. Jadi, infeksi saat hamil bukan berarti anak pasti mengalami autisme.
Yang penting, ibu hamil mendapatkan perawatan kehamilan yang sesuai, berbuat pencegahan infeksi, mengikuti anjuran skrining dan vaksinasi yang tepat sebelum maupun selama kehamilan, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika mengalami maupun terpapar infeksi tertentu.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)