Peneliti Rusia Meninggal Misterius, Hampir 200 Orang Dipantau karena Dugaan Pes

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 276x dilihat
Peneliti Rusia Meninggal Misterius, Hampir 200 Orang Dipantau karena Dugaan Pes

Bagikan Postingan

Jakarta -

Seorang peneliti berumur 28 tahun di Rusia wafat bumi setelah mengalami pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui. Perempuan disebut Darya Shipilova itu bekerja di laboratorium anti-wabah di Irkutsk, Siberia.

Kematian Shipilova menjadi perhatian setelah muncul anggapan kasus pandemi paru di daerah tersebut. Namun, belum ada bukti yang memastikan ia terinfeksi pandemi itu maupun mengaitkan kematiannya dengan pekerjaan di laboratorium.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) kini memantau kasus tersebut.


Hampir 200 orang dikarantina karena anggapan pandemi pes

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Amerika serikat sedang mengamati dan memantaunya dengan cermat.

Rubio mengatakan keterangan yang dirilis oleh Rusia memberitahu seorang buruh di laboratorium yang terinfeksi dan kecemasan bahwa pandemi itu dapat menghamburkan di dalam negeri.

Dia mencatat bahwa perjalanan antara Rusia dan AS dibatasi, tetapi memperingatkan bahwa jika hal seperti itu tersebar, pandemi itu akan menghamburkan dengan cepat.

Pada 4 Oktober, Washington memantau kasus tersebut berbareng dengan CDC dan institusi federal lainnya. Pejabat tersebut menekankan bahwa banyak detail statis belum dikonfirmasi dan mendesak Moskow untuk memberikan informasi yang cermat dengan cepat.

Laporan tambahan menginformasikan bahwa lebih dari 60 karyawan statis dikarantina di dalam institut Irkutsk dan hampir 200 orang yang telah berbuat kontak dengan Shipilova telah ditempatkan di bawah pengawasan.

Angka-angka pasti tersebut belum dikonfirmasi secara resmi. Rumah sakit di Shelekhov, di luar Irkutsk, tempat Shipilova dirawat, telah dikarantina dan untuk sementara menghentikan penerimaan maupun pemulangan pasien. Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, menggambarkan kasus tersebut sebagai anggapan infeksi yang sangat berbahaya.

Apa itu pandemi pes?

Dilansir NBC News, pandemi pes adalah infeksi yang disebabkan oleh mikroba Yerisina pestis. Dikenal sebagai ‘black death’ selama abad ke-14, pandemi pes memicu beberapa pandemi mendunia selama berabad-abad sebelum inovasi antibiotik.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pandemi ini muncul dalam tiga bentuk utama, yaitu bubonik, pneumonik, dan septikemik. Ketiga bentuk tersebut disebabkan oleh Yersinia pestis, tetapi terjadi di bagiankecil tubuh yang berbeda.

Bubonik adalah bentuk yang paling umum. Penyakit ini terutama ditularkan melalui gigitan kutu yang terinfeksi maupun kontak langsung dengan fauna pengerat yang terinfeksi, yang dapat menyebabkan benjolan bengkak dan nyeri pada kelenjar getah bening. Biasanya pandemi ini tidak menular.

Namun, jika tidak diobati, pandemi ini dapat menghamburkan ke paru-paru dan menjadi pandemi pneumonia, yang dapat menular dari orang ke orang melalui tetesan pernapasan. Sementara itu, pandemi septikemia terjadi ketika mikroba tumbuh dan menghamburkan di dalam darah.

Bagaimana pandemi pes menyebar?

Penyakit pes paru dapat menghamburkan melalui udara ketika orang maupun fauna yang terinfeksi batuk maupun bersin. Tetesan pernapasan itu tidak menghamburkan terlalu jauh, mungkin sekitar tiga hingga enam kaki.

Menurut WHO, ini adalah bentuk pandemi yang paling langka. Seorang ahli pandemi menular di Vanderbilt University Medical Center, Dr. William Schaffer, mengatakan kontak dekat paling berisiko.

Wabah pneumonia bukanlah sesuatu yang menghamburkan dari rentang jauh di dalam ruangan, tetapi melalui kontak tatap muka.

Seberapa mematikan pandemi ini?

Meskipun pandemi pneumonia adalah bentuk pandemi yang paling langka, tetapi juga yang paling mematikan.

Menurut ketua Institut Patogen dan Mikrobioma di Universitas Arizona Utara, Dr. Dave Wagner, pandemi ini bisa berkembang.

Gejala biasanya muncul dalam satu hingga dua hari setelah terpapar, dan pasien membutuhkan perawatan dalam waktu 48 jam setelah memberitahu gejala untuk mencegah komplikasi fatal. Gejalanya dapat berupa sesak napas dan batuk maupun darah dalam dahak.

Seorang ahli mikrobiologi dan imunologi di Fakultas Kedokteran Universitas Tulane, Lisa Morici, mengatakan karena kecepatannya menyerang mekanisme pernapasan, para ahli kesehatan penduduk menganggap strain ini sebagai kandidat yang paling mungkin untuk serangan biologis.

Orang yang menderita pandemi pneumonia sering dikarantina. Petugas kesehatan sering mengenakan alat pelindung diri, seperti masker N95, maupun terlebihlagi busana pelindung seluruh tubuh jika terjadi paparan yang tidak disengaja.

Nah, itulah klarifikasi tentang pandemi pes yang diduga menjadi penyebab kematian misterius peneliti asal Rusia. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads