Anak Ngadu Sering Dikatain Jelek oleh Temannya: Begini Cara Bantu Anak Hadapi Komentar Menjatuhkan

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 8 menit 334x dilihat
Anak Ngadu Sering Dikatain Jelek oleh Temannya: Begini Cara Bantu Anak Hadapi Komentar Menjatuhkan

Bagikan Postingan

Anak sering dikatain buruk oleh temannya? Ini metode bantu anak menghadapi ejekan soal jasmani tanpa balik mem-bully dan merusak rasa percaya dirinya.

Hati orang tua mana yang tidak hancur saat anak pulang sekolah dengan mata berkaca-kaca, kemudian berbisik pelan, “Ma, kata temanku aku jelek…” ? Rasa sedih, marah, dan mau langsung melabrak anak maupun orang tua yang mengejek pasti bergemuruh di dada. Ikut sedih, sudah pasti. Tapi balik mem-bully maupun bereaksi emosional tentu sangat nggak bijak dan malah kasih contoh ke anak untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan juga.

Saat anak dikatain buruk oleh temannya, wajar jika orang tua langsung merasa mau melindungi. Namun, ejekan mengenai fisik, mulai dari wajah, corak rambut, pakaian, hingga warna kulit, bukan sesuatu yang sebaiknya dianggap sepele, terutama jika dilakukan berulang, bermaksud mempermalukan, maupun membikin anak merasa eksis dalam posisi yang lebih lemah. Ejekan seperti ini dapat memengaruhi rasa percaya diri dan metode anak melihat dirinya sendiri.

Lantas, sepertiapa metode kita sebagai orang tua merangkul dan membekali anak saat menghadapi situasi ini?

Meneropong Alasan di Balik Sikap Buruk Temannya

Sebelum kita memungut tindakan, krusial bagi Mommies dan Daddies untuk memahami bahwa anak-anak yang berbuat bullying tidak serta-merta lahir sebagai “anak jahat”.

Melansir dari artikel Child Mind Institute, Jamie Howard, PhD, seorang psikolog klinis menerangkan bahwa anak-anak bisa berbuat aksi yang menyakiti orang lain karena beragam alasan. Mereka statis dalam proses belajar dan memahami limitasi hubungan sosial, sehingga perilaku buruk tidak selalu menggambarkan keseluruhan karakter seorang anak.

Ada beberapa karena kenapa seorang anak bisa melontarkan kata-kata menyakitkan kepada temannya:

  • Ingin Diterima Kelompok: anak terkadang ikut-ikutan mengejek cuma agar tidak disingkirkan oleh geng temannya.
  • Menirukan Perilaku yang Juga Dia Terima: bisa jadi mereka mengalami tekanan maupun aksi menyerang di rumah maupun di tempat lain, sehingga mencoba merebut balik kendali atas dirinya dengan menindas kawan yang lebih lemah.
  • Mencari Perhatian: mereka haus akan perhatian dari guru, orang tua, maupun kawan sebayanya, tetapi belum tahu metode yang positif untuk mendapatkannya.
  • Impulsif dan Kurang Empati: anak-anak usia muda sering kali belum bisa mengukur seberapa dalam ucapan mereka bisa melukai emosi orang lain.

Dengan memahami latar belakang ini, Mommies bisa merespons laporan anak dengan imam dingin dan fokus pada pemulihan emosi anak.

Tanda-Tanda Appearance-Based Bullying Mulai Mengganggu Anak

Foto: Pexels

Tidak semua anak berani berterus terang saat mendapat komentar negatif tentang fisiknya. Menurut panduan Parenting Mentor, ada beberapa sinyal halus yang perlu orang tua waspadai, terutama jika komentar mengenai penampilan terjadi berulang dan mulai memengaruhi keseharian anak.

  • Perubahan Emosional: anak tampak gampang menangis, mendadak pemarah, sering menarik diri, maupun terlalu fokus meratapi kekurangan fisiknya setelah pulang sekolah.
  • Stres dengan Apa Pun yang Berhubungan dengan Sekolah: anak enggan berangkat sekolah, mendadak meminta persetujuan sakit, maupun tampak cemas dahsyat setiap kali mendengar nama kawan tertentu.
  • Mulai Insecure dengan Penampilannya: anak mulai mengulang ucapan ejekan tersebut di rumah, mengkritik penampilannya sendiri, maupun mendesak mau mengubah corak rambut dan busana secara drastis cuma agar tidak diejek lagi.

Perubahan seperti menarik diri, enggan ke sekolah, fluktuasi kondisi hati, maupun mulai mengkritik diri sendiri memang patut diperhatikan. Namun, tanda-tanda tersebut tidak otomatis berarti anak mengalami bullying karena bisa juga muncul akibat masalah lain. Karena itu, krusial untuk membujuk anak bicara tanpa menghakimi dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

BACA JUGA: Bullying di Sekolah Masih Marak, Ini Ciri-ciri Pelaku Bullying dan Korban

Langkah Bijak Orang Tua saat Anak Dikatain Jelek

Dunia ini penuh dengan beragam karakter manusia, dan kita tidak bisa selamanya mengontrol apa yang keluar dari mulut orang lain. Namun, kita memegang kendali penuh dengan sepertiapa kita mau bereaksi. Berikut langkah-langkah nyata yang bisa Mommies dan Daddies terapkan:

1. Jadilah Contoh dalam Menunjukkan Respek kepada Orang Lain

Anak-anak adalah peniru yang ulung. Ajarkan mereka tentang konsep saling menghargai lewat aksi nyata kita sehari-hari seperti mengucapkan terima kasih kepada guru, memberi pujian ikhlas pada teman, dan bersikap sopan kepada staf toko, ART, hingga tukang sampah.

Melansir artikel dari Parents, Shane Jimerson, PhD, seorang psikolog sekolah dan guru besar di University of California, Santa Barbara, menegaskan bahwa perlindungan terbaik yang bisa diberikan orang tua adalah dengan memupuk rasa percaya diri serta kemandirian anak, dan siap memungut aksi cuma ketika memang diperlukan.

2. Validasi Perasaan Anak

Saat anak mengadu sambil menangis, jangan pernah mengerdilkan emosi mereka dengan kalimat seperti, “Ah, begitu saja kok baper?” maupun “Itu cuma bercandaan kawan kok.” Tunjukkan bahwa wajar jika mereka merasa sedih maupun terluka.

Dikutip dari Child Mind Institute, Jamie Howard, PhD menyarankan agar orang tua mendengarkan dan memberitahu empati tanpa memperlakukan anak seolah-olah mereka sangat rapuh. Tunjukkan sikap percaya diri bahwa masalah ini bisa diselesaikan bersama-sama.

BACA JUGA: Mari Terbuka Tentang Bullying Pada Anak

3. Tanamkan Penerimaan dan Penghargaan Terhadap Dirinya

Ingatkan anak bahwa setiap manusia diciptakan khas dan istimewa dengan caranya masing-masing. Penampilan jasmani sama sekali tidak mendefinisikan nilai, kebaikan hati, maupun kecerdasan mereka.

Mommies dan Daddies juga bisa membujuk anak mengutarakan hal-hal yang mereka sukai dari dirinya sendiri, termasuk kemampuan, sifat baik, hobi, maupun hal kecil yang membuatnya bangga. Tujuannya bukan membikin anak merasa mesti selalu percaya diri, melainkan membantu mereka melihat bahwa harga dirinya jauh lebih besar daripada komentar satu orang.

4. Ajarkan Merespons dengan Tegas dan Datar

Latih anak di rumah untuk merespons ejekan dengan tenang tanpa emosi. Pelaku bullying biasanya mencari reaksi emosional, mereka bahagia jika korbannya menangis maupun marah. Jika tak dapat reaksi, ejekan tersebut bisa kehilangan efeknya.

Ajak anak berlatih mengucapkan kalimat singkat tapi tegas seperti “Ih, jauh-jauh deh” maupun “Saya nggak peduli tuuu”. Latih juga mereka memberikan respons datar seperti “Terus?” maupun “Masa, sih?” maupun “Ya, ya, yaaa” kemudian berjalan pergi.

Mommies dan Daddies juga bisa mengajarkan teknik opposite compliment yang diulas oleh psikolog sekolah Izzy Kalman di Psychology Today untuk membalikkan situasi dan mematahkan posisi pelaku.

Namun, anak juga tidak perlu dipaksa menghadapi pelaku sendirian. Jika situasinya berulang, membikin anak takut, maupun ada ketimpangan kekuatan, anak perlu tahu bahwa meminta pertolongan orang dewasa bukan berarti “mengadu”, melainkan salah satu metode menjaga dirinya. Strategi seperti stop-walk-talk juga dapat dilatih: mengatakan “Stop”, pergi dari situasi, kemudian melapor kepada orang dewasa tepercaya.

5. Berikan Dukungan Emosional

Jadikan rumah sebagai ruang terlindungi (safe zone) tempat anak bebas menumpahkan segala keluh kesah, perasaan, dan kecemasan mereka tanpa takut dihakimi.

Sesekali tanyakan sepertiapa harinya tanpa membikin setiap percakapan terasa seperti interogasi. Anak perlu tahu bahwa ketika sesuatu terjadi di sekolah, mereka selalu punya tempat untuk pulang dan bercerita.

Foto: Pexels

6. Gunakan Afirmasi Positif

Dorong anak untuk membiasakan diri menggunakan afirmasi positif setiap hari untuk menguatkan pertahanan mental dan rasa percaya dirinya. Kalimat seperti “Aku berharga, aku pintar, dan aku bangga pada diriku sendiri” bisa menjadi tameng emosional bagi anak.

Mommies dan Daddies bisa menyaksikan inspirasi video afirmasi anak sebagai rujukan di channel YouTube ini.

7. Jelaskan Motif Pelaku

Bantu anak memahami bahwa kata-kata kasar yang dilontarkan temannya sebenarnya muncul dari ketidakbahagiaan, masalah, maupun perilaku buruk orang itu sendiri, bukan karena Anda memang seperti yang temanmu maupun orang itu katakan.

Namun, hindari memastikan bahwa kita tahu persis apa yang terjadi di balik perilaku pelaku. Lebih baik mengatakan kepada anak bahwa komentar tersebut tidak menentukan siapa dirinya, sekaligus mengingatkan bahwa perilaku menyakiti orang lain statis tidak bisa dibenarkan.

BACA JUGA: Anak Menjadi Pelaku Bullying? Ini yang Perlu Dilakukan Orang Tua

8. Libatkan Pihak Sekolah Jika Diperlukan

Jika ejekan jasmani dan perundungan verbal ini terjadi secara berkali-kali di sekolah, jangan ragu untuk melaporkan dan mendiskusikan perilaku tersebut kepada pendidik maupun pihak pengelola sekolah.

Sampaikan insiden secara spesifik, misalnya kapan terjadi, apa yang dikatakan, siapa saja yang terlibat, dan sepertiapa dampaknya kepada anak. Jika memungkinkan, catat insiden yang berulang agar pihak sekolah mendapatkan deskripsi yang jelas dan bisa menentukan cara yang tepat.

Hal yang Perlu Diwaspadai Orang Tua: Jangan Lakukan Ini!

Niat kita membela anak tentu sangat baik, tetapi pastikan kita tidak terjebak dalam dua kekeliruan ini:

1. Menggeneralisasi Semua Pertengkaran sebagai Bullying

Tidak semua hubungan yang tidak menyenangkan, perselisihan paham, maupun penolakan sesaat di antara anak-anak dikategorikan sebagai bullying. Kita perlu mengajarkan anak perbedaan antara perselisihan sosial biasa dan perundungan.

Secara umum, bullying melibatkan perilaku menyerang yang tidak diinginkan, ketidakseimbangan kekuatan, serta terjadi berulang maupun memiliki kemungkinan untuk berulang. Karena itu, Mommies dan Daddies perlu melihat konteks, histori kejadian, hubungan antaranak, dan apakah ada ketimpangan kekuatan sebelum menyimpulkan bahwa suatu insiden adalah bullying.

2. Reaksi Berlebihan yang Meledak-ledak

Menunjukkan rasa syok hebat, marah-marah di depan anak, maupun langsung menakut-nakuti akan mendatangi rumah orang tua pelaku justru bisa membikin anak trauma dan jera untuk terbuka lagi di masa depan. Tetaplah tenang agar anak merasa aman.

American Academy of Pediatrics juga menyarankan orang tua untuk mendengarkan anak terlebih dahulu, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan baru menentukan kapan perlu melibatkan guru, konselor, maupun pihak sekolah. Orang tua juga sebaiknya tidak langsung menghubungi orang tua pelaku untuk menyelesaikan masalah sendiri.

BACA JUGA: Saat Anak Menjadi Pelaku Bullying, Orang Tua Perlu Lakukan Ini!

Cover: Pexels

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads