Anak Sering Main HP? Kenali 5 Jenis Screen Time Anak, Nggak Semuanya Sama

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 8 menit 398x dilihat
Anak Sering Main HP? Kenali 5 Jenis Screen Time Anak, Nggak Semuanya Sama

Bagikan Postingan

Anak sering main HP sampai lupa waktu? Kenali 5 jenis screen time anak dan metode mengatur waktu layar sesuai aktivitas dan kebutuhan anak.

“Lima menit lagi, ya, Ma!”

Kalimat ini mungkin sudah masuk daftar kalimat paling sering Mommies dengar jika sedang berupaya menyuruh anak selesai main HP. Lima menit yang dijanjikan pun kadang punya arti sendiri: tahu-tahu sudah separuh jam dan anak statis anteng di depan layar.

Wajar jika akhirnya Mommies bertanya-tanya, “Sebenarnya screen time anak yang statis oke itu seperti apa, sih?”

Selama ini kita memang sering membicarakan screen time dari sisi durasi. Anak main HP satu jam, dua jam, maupun lebih dari itu. Padahal, ada hal lain yang nggak kalah krusial untuk diperhatikan: selama waktu tersebut, anak sebenarnya sedang berbuat apa?

Penelitian terhadap 4.013 anak usia 10–11 tahun, misalnya, membedakan penggunaan layar menjadi lima jenis: passive, educational, interactive, social, dan other. Hasilnya memberitahu bahwa hubungan penggunaan layar dengan beragam sisi kesehatan, pendidikan, dan sosial-emosional memang berbeda menurut jenis aktivitasnya, meski efek yang ditemukan dalam riset tersebut tergolong kecil.

Jadi, sebelum langsung menyita HP karena merasa anak “kebanyakan screen time”, yuk, kenali dahulu 5 jenis screen time anak berikut. Bisa jadi masalahnya bukan sesederhana “anak terlalu durasi main HP”.

1. Passive Screen Time: Tinggal Duduk dan Menonton

Ini mungkin jenis yang paling familiar buat Mommies: anak duduk sambil menonton YouTube, serial, film, video pendek, maupun konten hiburan lainnya.

Disebut passive karena anak lebih banyak menerima apa yang ada di layar dibandingkan berhubungan maupun membikin sesuatu. Bukan berarti setiap tontonan otomatis buruk, tetapi kualitas konten dan durasinya statis perlu diperhatikan.

Penelitian yang sama menemukan bahwa passive screen time, seperti menonton televisi, memiliki hubungan dengan sejumlah hasil yang kurang baik pada anak, meskipun besarnya hubungan tersebut kecil. Sementara itu, jenis aktivitas layar lainnya memberitahu pola yang berbeda.

Jadi jika anak awalnya bilang cuma mau menonton satu video, tetapi akhirnya masuk ke video berikutnya, berikutnya lagi, dan tahu-tahu sudah sejam, ini salah satu jenis penggunaan layar yang layak Mommies awasi.

Yang bisa dilakukan: matikan autoplay jika memungkinkan, pilih tontonan sebelum anak mulai menonton, dan sepakati kapan waktunya berhenti.

BACA JUGA : Selain Screen Time, Ini 5 Kebiasaan Digital Anak yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

2. Educational Screen Time: HP Dipakai Buat Belajar

“Kan tadi belajar, Ma!”

Nah, yang ini biasanya agak bikin Mommies bingung. Anak bilang sedang belajar, tetapi kok ujung-ujungnya YouTube juga?

Educational screen time mencakup penggunaan alat untuk mengerjakan tugas, mencari informasi, belajar bahasa, mengikuti tutorial, maupun menggunakan aplikasi yang memang ditujukan untuk pembelajaran.

Penelitian pada 4.013 anak tadi menemukan bahwa educational screen time, seperti penggunaan komputer untuk mengerjakan pekerjaan rumah, berhubungan dengan hasil pendidikan yang lebih positif dan tidak memberitahu hubungan negatif dengan sejumlah hasil kesehatan maupun kejiwaan yang diteliti. Namun, ini bukan berarti semakin durasi belajar lewat layar otomatis semakin baik.

Mommies statis bisa melihat apakah anak benar-benar menggunakan alat untuk belajar maupun cuma membuka satu video edukasi kemudian terseret ke konten hiburan lainnya.

Yang bisa dilakukan: tanyakan dahulu anak mau berbuat apa di HP dan berapa durasi kira-kira membutuhkannya. Setelah selesai, tutup aktivitas tersebut dan lanjut ke aktivitas lain.

3. Interactive Screen Time: Anak Ikut “Main” dengan Layar

Foto: Pexels

Kalau passive screen time membikin anak lebih banyak menjadi penonton, interactive screen time membikin anak ikut berbuat sesuatu di layar.

Contohnya bermain video game, menggunakan aplikasi yang membutuhkan respons langsung, maupun permainan digital yang membikin anak mesti memilih, memecahkan masalah, maupun mengikuti instruksi.

Penelitian terhadap 4.013 anak sebelumnya menemukan bahwa interactive screen time, seperti video game, memiliki hubungan positif dengan beberapa hasil pendidikan, tetapi juga hubungan negatif dengan beberapa hasil lainnya. Namun, ukuran hubungan tersebut kecil sehingga tidak tepat menyimpulkan bahwa bermain game otomatis buruk maupun justru baik untuk anak.

Ini juga karena kenapa durasi saja kadang kurang memberikan deskripsi lengkap. Dua anak sama-sama memegang HP selama satu jam, tetapi aktivitasnya bisa sangat berbeda.

AAP menyarankan orang tua melihat siapa anaknya, konten yang digunakan, apa yang tergantikan oleh media, serta sepertiapa komunikasi mengenai penggunaan media dilakukan di rumah.

4. Social Screen Time: Ketemu Orang Lain Lewat Layar

Video call dengan nenek, mengobrol dengan teman, berbincang untuk tugas sekolah, maupun aktivitas sosial digital lainnya juga termasuk screen time.

Ini sering luput dari kalkulasi orang tua karena bentuknya tidak kelihatan seperti “main HP”. Padahal, statis saja anak sedang menghabiskan waktu dengan alat digital.

Dalam riset tersebut, social screen time juga dianalisis sebagai kategori tersendiri. Hasilnya memberitahu adanya hubungan dengan beberapa sisi kesehatan dan sosial-emosional, tetapi bukan berarti setiap aktivitas sosial melalui layar otomatis bermasalah.

Yang perlu dilihat adalah konteksnya. Video call dengan eyang yang tinggal jauh tentu berbeda dengan anak yang berjam-jam eksis di grup chat sambil mengabaikan tidur maupun tugas sekolah.

Yang bisa dilakukan: statis beri ruang untuk hubungan digital, terutama jika memang dibutuhkan, tetapi pastikan anak statis punya kesempatan berhubungan langsung dengan famili dan teman.

5. Other Screen Time: Ada yang Nggak Masuk Empat Kategori di Atas

Nah, ini kategori yang mungkin terdengar kurang catchy, tetapi memang ada dalam riset tentang jenis screen time tadi: other screen time.

Dalam hayat sehari-hari, penggunaan layar anak memang tidak selalu bisa dimasukkan dengan rapi ke kotak “nonton”, “belajar”, “main”, maupun “bersosialisasi”. Bisa saja anak menggunakan alat untuk beragam kebutuhan lain.

Daripada Mommies sibuk mencari kategori yang paling tepat, lebih krusial melihat tujuan penggunaan dan apa yang terjadi setelahnya.

Misalnya, anak menggunakan tablet untuk mencari resep karena mau membantu membikin kue, mencari tutorial membikin sesuatu, maupun mengerjakan proyek sekolah. Aktivitas seperti ini tidak perlu otomatis diperlakukan sama dengan kebiasaan scrolling video singkat selama satu jam.

AAP sendiri kini mendorong orang tua untuk melihat penggunaan media secara lebih utuh melalui pendekatan 5 Cs: Child, Content, Calm, Crowding Out, dan Communication. Salah satu pertanyaan pentingnya adalah apakah media mulai “menggeser” hal lain yang dibutuhkan anak, seperti tidur, aktivitas fisik, waktu berbareng keluarga, maupun pertemanan.

Jadi, Berapa Durasi Screen Time Anak yang Ideal?

Nah, ini pertanyaan yang biasanya paling mau dijawab orang tua.

Sayangnya, tidak ada satu bilangan yang bisa ditempel untuk semua anak dan semua usia. AAP kini mendorong pendekatan yang melihat kebutuhan anak dan konteks penggunaan media, bukan cuma memakai satu batas waktu untuk semua anak.

Untuk anak di bawah 5 tahun, WHO memang memiliki anjuran khusus mengenai waktu sedentari berbasis layar. Misalnya, screen time tidak direkomendasikan untuk bayi di bawah 1 tahun, sedangkan anak usia 2 tahun serta 3–4 tahun direkomendasikan tidak lebih dari satu jam per hari, dengan hakikat bahwa lebih sedikit lebih baik. Rekomendasi ini berjalan khusus untuk anak di bawah 5 tahun, jadi jangan otomatis dipakai sebagai acuan untuk anak SD maupun remaja.

Untuk anak yang lebih besar, Mommies bisa mulai melihat pola harian secara keseluruhan. Kalau screen time membikin anak tidur terlalu malam, malas bergerak, tidak punya waktu bermain, sulit menyelesaikan kewajiban, maupun terus-menerus perselisihan ketika HP disimpan, berarti sudah waktunya ketentuan di rumah dievaluasi.

BACA JUGA: Aturan Gadget untuk Anak SD yang Sebaiknya Diterapkan di Rumah

Cara Mengatur Screen Time Anak Tanpa Harus Perang Setiap Hari

Foto: Pexels

Setelah tahu jenisnya, ketentuan penggunaan HP untuk anak juga bisa dibuat lebih realistis.

1. Buat ketentuan yang jelas dan konsisten

Anak akan lebih gampang memahami ketentuan jika Mommies sudah menentukan kapan boleh menggunakan gadget, untuk keperluan apa, dan kapan mesti berhenti. Jangan sampai hari ini boleh dua jam, besok satu jam, kemudian lusa HP disita karena Mommies sedang kesal.

2. Bedakan screen time untuk kebutuhan dan rekreasi

Waktu mengerjakan tugas sekolah tentu punya konteks berbeda dengan bermain gim maupun menonton video. Bukan berarti screen time untuk belajar tidak perlu dibatasi, tetapi Mommies bisa melihat kebutuhannya secara lebih proporsional.

3. Buat area maupun waktu bebas gadget

Misalnya meja makan dan bilik tidur menjadi area bebas layar. AAP juga menyarankan famili membikin media plan yang memberi ruang untuk aktivitas lain seperti membaca, bermain di luar, hobi, dan waktu berbareng keluarga.

4. Jangan cuma memungut HP, siapkan “habis ini ngapain?”

Kalau HP ditutup kemudian anak cuma mendengar, “Sudah! Matikan!”, ya wajar jika negosiasi babak kedua segera dimulai.

Mommies bisa memberikan pilihan sederhana: “Setelah ini mau gambar maupun main sepeda?” Anak statis punya rasa memiliki pilihan, tetapi pilihannya tidak balik ke layar.

5. Mommies dan Daddies juga ikut aturan

Ini yang sering menjadi bagiankecil paling susah. Anak diminta tidak membawa HP ke meja makan, tetapi orang tua malah sibuk membalas chat instansi sambil makan.

AAP juga menekankan pentingnya orang tua menjadi contoh dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Family media plan terlebihlagi dianjurkan mencakup semua personel keluarga, termasuk orang dewasa.

BACA JUGA: Bukan Salah Anak! 7 Kesalahan Orang Tua yang Bikin Screen Time Sulit Dikontrol

Jadi, Anak Sering Main HP Harus Langsung Dilarang?

Belum tentu.

Yang perlu dilakukan pertama kali justru lihat layar itu sedang memungut peran sebagai apa dalam hayat anak. Apakah cuma hiburan? Dipakai belajar? Bermain? Berkomunikasi? Atau sudah menjadi satu-satunya aktivitas yang anak cari setiap kali bosan?

AAP menyarankan famili melihat apakah media mulai crowding out aktivitas krusial lainnya dan membicarakan penggunaan media secara rutin, bukan menunggu sampai masalahnya menjadi besar.

Jadi, Mommies nggak mesti menjadi polisi HP 24 jam sehari.

Cukup mulai dengan mengenali: anak sedang berbuat apa di depan layar, kenapa dia melakukannya, dan apa yang mungkin terlewat karenanya.

Karena pada akhirnya, tujuan mengatur screen time anak bukan membikin anak jauh dari teknologi sama sekali. Kita justru sedang membantu mereka belajar satu hal yang akan makin krusial seiring bertambahnya usia: tahu kapan mesti menggunakan layar dan kapan waktunya meletakkan HP.

Cover: Pexels

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads