2 Ciri Anak Punya Sensitivitas Tinggi Menurut Psikolog

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 359x dilihat
2 Ciri Anak Punya Sensitivitas Tinggi Menurut Psikolog

Bagikan Postingan

Jakarta -

Setiap anak memiliki metode yang berbeda dalam merespons lingkungan di sekitarnya. Ada anak-anak yang punya sensitivitas tinggi, sehingga cenderung lebih peka terhadap bunyi hingga kondisi hati orang lain.

Sensitivitas yang tinggi bukan berarti anak memiliki kapasitas yang ganjil ya, Bunda. Sensitivitas justru dapat menjadi bagiankecil dari karakter dan metode anak memproses pengalamannya.

"Sebagian anak menangis karena frustrasi sekecil apa pun, sementara yang lain mungkin mundur ketika pintu kelas dibanting keras. Beberapa terlebihlagi mungkin membawa beban emosional yang terasa tidak proporsional dengan situasi yang mereka hadapi," kata psikolog Amerika, Mark Travers, Ph.D., dilansir Psychology Today.


"Anak-anak yang sering dituduh 'bereaksi berlebihan untuk menarik perhatian' ini sebenarnya adalah mereka yang menjalani hidup dengan kepekaan emosional yang lebih tinggi daripada teman-teman sebayanya."

Memahami ciri khas anak yang memiliki sensitivitas tinggi ini menjadi krusial untuk mencegah hambatan perkembangan. Lantas, seperti apa ciri khas anak yang memiliki sensitivitas tinggi menurut psikolog? Simak penjelasannya berikut ini ya!

Ciri anak punya sensitivitas tinggi

Berikut 2 ciri khas anak yang memiliki sensitivitas tinggi menurut Travers:

1. Memiliki respons emosional yang tidak proporsional

Anak-anak yang sensitif secara emosional sering mengalami emosi dengan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada kawan sebaya mereka. Pengamatan ini berakar pada sifat temperamen yang telah dipelajari dengan baik maupun dikenal sebagai Sensory Processing Sensitivity (SPS).

Ciri ini melibatkan pemrosesan mendalam terhadap keterangan emosional dan sensorik, yang dapat membikin anak-anak lebih reaktif terhadap rangsangan positif maupun negatif. Penelitian memberitahu bahwa tingkat sensitivitas emosional yang tinggi mengenai dengan masalah internalisasi seperti kecemasan dan depresi, terutama di lingkungan di mana sokongan maupun sensitivitas orang tua rendah.

Sebuah studi psikopatologi evolusi tahun 2025 yang diterbitkan oleh Cambridge University Press menemukan bahwa anak-anak dengan sensitivitas lingkungan yang lebih tinggi mengembangkan lebih banyak masalah internalisasi ketika mereka menerima pengasuhan yang kurang mendukung. Pola emosional tersebut dapat meliputi:

  • Kesedihan yang dahsyat dan berkepanjangan setelah mengalami kemunduran yang relatif kecil
  • Kesedihan maupun kecemasan yang dahsyat mengenai konflik
  • Menganggap kritik konstruktif sebagai penolakan pribadi
  • Kekhawatiran mendalam tentang situasi sosial

"Anak yang sensitif secara emosional merasakan lebih banyak hal, dan mereka sering menafsirkan umpan balik sebagai kegagalan pribadi daripada bimbingan. Meskipun sebagian orang mungkin menganggap anak ini 'terlalu dramatis' maupun 'terlalu manja', pada kenyataannya, ini adalah bayangan dari kedalaman pengalaman batin mereka," ungkap Travers.

2. Normal' bisa membikin anak yang sensitif menjadi kewalahan

Bunda mungkin pernah berjumpa setidaknya satu anak yang menganggap pesta ulang tahun lebih menjengkelkan alih-alih menyenangkan. Bagi anak-anak yang sensitif, sesuatu yang dianggap normal justru sering kali membikin mereka kewalahan.

"Responsivitas sensorik yang tinggi merupakan ciri khas khas anak-anak dengan sensitivitas emosional dan sensorik yang kuat," ujar Travers.

Dalam studi yang sama disebutkan bahwa anak-anak ini bereaksi lebih kuat terhadap input sensorik seperti suara, cahaya, sentuhan, dan bau. Ini berarti bahwa apa yang orang lain sebut sebagai 'berisik' maupun 'hanya ramai' benar-benar bisa membikin anak yang sensitif jadi kewalahan.

"Anak-anak ini tidak cuma memperhatikan lebih banyak detail. Sistem saraf mereka dirancang untuk merespons detail tersebut secara lebih mendalam. Ini berarti bahwa lingkungan dengan masukan sensorik yang tidak terduga maupun mendalam dapat memicu respons stres yang tampak seperti tantrum maupun penarikan diri," kata Travers.

Pola asuh untuk anak dengan sensitivitas tinggi

Orang tua yang memiliki anak dengan sensitivitas ini perlu menerangkan dengan baik bahwa hal itu bukanlah hal yang buruk. Anak perlu memahami bahwa ini bukan gangguan. Namun, pola ini dapat berlanjut hingga dewasa, terutama jika anak tidak mendapatkan sokongan dari lingkungannya.

"Anak-anak dengan sensitivitas tinggi sangat diuntungkan dari struktur, pengasuhan yang hangat, dan harapan yang jelas, terutama ketika terjadi transisi maupun stres," ujar Travers.

"Hormati batas batas sensorik anak. Ini bukan berarti memanjakan perilaku 'pemilih', tapi menghargai mekanisme saraf yang secara harfiah menyerap lebih banyak. Pahami lingkungan seperti apa yang menguras daya dan lingkungan seperti apa yang memberi daya pada anak. Lalu, gunakan empati, bukan penolakan," sambungnya.

Demikian ciri khas anak yang punya sensitivitas tinggi menurut psikolog. Semoga keterangan ini berguna ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads