Jakarta -
Baru-baru ini, ramai kasus pasien BPJS Kesehatan yang mengeluhkan kudu menunggu delapan jam untuk mendapat ruang rawat inap. Kasus tersebut menjadi sorotan setelah sejumlah master dan tenaga kesehatan melontarkan komentar bersuara merendahkan terhadapnya di media sosial.
Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, mengatakan kasus tersebut perlu dilihat dari beragam sisi. Di satu sisi, pasien memang mengalami penderitaan lantaran kudu menunggu pelayanan dalam waktu lama. Namun di sisi lain, pada saat yang sama tenaga kesehatan juga dapat menghadapi tekanan besar dalam menjalankan tugasnya.
"Rumah sakit menghadapi keterbatasan tempat tidur, tingginya jumlah pasien, beban administrasi, serta sistem pembiayaan yang sering kali menimbulkan frustrasi bagi para petugas di lapangan," ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (5/8/2026).
"Artinya, kedua belah pihak sama-sama dapat menjadi korban dari sistem pelayanan kesehatan yang belum ideal," lanjutnya.
Lahargo mengatakan tekanan pekerjaan yang terus-menerus juga dapat memengaruhi kondisi mental tenaga kesehatan. Mereka dapat mengalami burnout, compassion fatigue, hingga moral injury.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menurunkan kapabilitas seseorang untuk berempati andaikan tidak dikenali dan ditangani dengan baik. Oleh lantaran itu, menjaga kesehatan mental tenaga kesehatan juga menjadi bagian krusial dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.
Meski demikian, Lahargo menegaskan bahwa tekanan yang dialami tenaga kesehatan tidak dapat menjadi pembenaran untuk melontarkan komentar yang merendahkan martabat pasien, termasuk mendorong seseorang untuk melakukan bunuh diri.
Ia mengingatkan bahwa ucapan yang disampaikan kepada orang lain dapat memberikan pengaruh besar, terutama ketika ditujukan kepada seseorang yang sedang menghadapi situasi sulit.
"Namun, seberat apa pun tekanan yang dihadapi, tidak ada situasi yang dapat membenarkan komentar yang merendahkan martabat seseorang alias mendorong orang lain untuk bunuh diri. Kata-kata bukan sekadar rangkaian huruf. Kata-kata dapat menjadi obat, tetapi juga dapat menjadi luka yang memperdalam penderitaan seseorang," ucapnya.
TERUSKAN MEMBACA KLIK DI SINI.
(som/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·