Jakarta -
Tertawa lepas dan merasa senang tidak saja membikin tubuh jadi plong dan mood baik tetapi juga membantu kelancaran ASI lho, Bunda. Lantas, benarkah emosi senang ibu menyusui bisa membantu produksi kolostrum? Ini kata studi.
Ya, rupanya senang itu bukan sekadar melegakan diri tetapi juga bisa memengaruhi keluarnya kolostrum pasca melahirkan. Seperti diketahui bahwa kapabilitas produksi ASI memang sangat krusial untuk mendukung kebutuhan selama menyusui.
Sebuah studi terbaru dilakukan dan menerapkan intervensi ilmu jiwa positif pada wanita primipara di akhir kehamilan. Tujuannya ialah mengeskplorasi gimana izin emosional memengaruhi perubahan hormon mengenai laktasi pasca persalinan dan hasil pemberian ASI di rumah sakit.
Penelitian suasana hati ibu menyusui dan produksi kolostrum
Partisipan yang terlibat di dalamnya direkrut dari rumah sakit ginekologi dan obstetri di Tiongkok. Dalam praktiknya, intervensi penulisan positif diberikan melalui kuesioner elektronik WeChat. Dalam perihal ini, golongan kontrol mencatat tiga perihal pertama dan golongan intervensi tiga perihal baik selama dua kali seminggu.
Hasil utama pun dikumpulkan dan dilakukan persamaan perkiraan umum untuk digunakan dalam menganalisis informasi pengukuran berulang. Selama periode Januari- Agustus 2022, sebanyak 204 dengan 95 di antaranya intervensi dan 10 kontrol akhirnya dianalisis setelah mengecualikan peserta yang keluar dari penelitian.
Analisis generalized estimating equations (GEE) menunjukkan golongan intervensi mempunyai skor ketahanan yang secara signifikan lebih tinggi daripada golongan kontrol (15,55 vs. 15,01, Wald χ2 = 4,53, P = 0,033). Kemudian, tidak ditemukan perbedaan signifikan antar golongan dalam skor kecemasan, depresi, agenda afek positif dan negatif (PANAS), alias skor menyusui.
Pasca persalinan, kadar prolaktin (PRL) berbeda secara signifikan antar golongan (P = 0,031), tetapi kadar insulin-like growth factor-1 (IGF-1) tidak berbeda (P > 0,05). Serta, pengaruh perilaku menyusui juga tidak menunjukkan perbedaan antar kelompok.
Studi ini menunjukkan intervensi psikologis positif berasas pendekatan 'tiga perihal baik' dapat secara efektif meningkatkan ketahanan psikologis wanita primipara dan mendorong sekresi prolaktin, tetapi tidak mempunyai pengaruh signifikan pada perilaku menyusui seperti dikutip dari laman Nature.
Seperti halnya rekomendasi dari WHO bahwa menyusui memang direkomendasikan sejak bayi lahir. ASI dengan nutrisi seimbang, suhu yang sesuai, faedah ekonomi, dan lainnya, dianggap sebagai makanan paling alami dan ideal untuk bayi.
ASI sendiri diketahui mengandung beragam mikrobiota dan beragam komponen aktif biologis yang berkontribusi pada perkembangan sistem kekebalan bayi. Dengan demikian, dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula, anak yang disusui mempunyai kejadian penyakit yang lebih rendah dan tingkat kematian yang lebih rendah.
Seperti yang disarankan WHO bahwa bayi memang perlu diberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya dan dilanjutkan menyusui hingga usia dua tahun alias lebih.
Guna mendorong menyusui eksklusif dalam enam bulan pertama pasca melahirkan, banyak studi mengeksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi serta langkah-langkah intervensi. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa sikap positif terhadap menyusui adalah prediktor terkuat dan berasosiasi dengan peningkatan inisiasi dan pemeliharaan menyusui sebesar 20- 30 persen pada semua titik waktu.
Karenanya, program mendukung menyusui dilakukan guna meningkatkan sikap dan kognisi mengenai menyusui di kalangan ibu hamil. Ternyata, ini merupakan langkah efektif untuk menunda penghentian menyusui, sehingga lama dan eksklusivitasnya meningkat.
Selain aspek kognitif, status psikologis dan emosi juga memainkan peran krusial dalam menyusui. Bukti saat ini menunjukkan bahwa kekhawatiran dan depresi mengenai dengan perilaku membikin menyusui eksklusif yang lebih rendah. Selain itu, adanya tekanan psikologis menyebabkan nafsu makan rendah, penurunan berat badan, dan status nutrisi yang buruk, yang semuanya membikin menyusui menjadi sulit.
Menariknya, gangguan stres emosional dan traumatis ditemukan mempunyai akibat terbesar pada hasil menyusui. Sementara, relevansi klinis, menangani stres prenatal dan pasca persalinan sebagai bagian dari penyelenggaraan intervensi praktik menyusui dapat meningkatkan tingkat menyusui.
Meskipun studi intervensi telah berfokus pada tekanan psikologis, tetap sedikit studi yang melakukan intervensi ilmu jiwa positif untuk mendorong menyusui. Intervensi ilmu jiwa positif sendiri diperlukan lantaran dapat meningkatkan kesejahteraan mental wanita selama periode perinatal. Oleh lantaran itu, intervensi ilmu jiwa positif mungkin layak dieksplorasi sebagai langkah untuk mendorong perilaku menyusui.
'Tiga Hal Baik', sebagai petunjuk intervensi ilmu jiwa positif kepada peserta untuk menuliskan tiga perihal baik setiap malam, diusulkan oleh Seligman pada tahun 2005. Ini membantu mengembangkan keahlian dalam mengatur emosi, yang dapat meningkatkan pengalaman emosi positif dan meredakan indikasi depresi.
Intervensi psikologis ini telah diuji dalam beragam studi dan dapat direplikasi serta mudah diterapkan oleh individu. Oleh lantaran itu, studi ini bakal menggunakan dan mengevaluasi pengaruh 'Tiga Hal Baik' sebagai intervensi untuk meningkatkan emosi positif dan mengurangi emosi negatif di antara ibu hamil.
Penting diketahui, sebenarnya perilaku menyusui dipengaruhi oleh kapabilitas laktasi, yang tercermin dalam kadar hormon. Prolaktin (PRL) adalah hormon protein yang disekresikan oleh kelenjar pituitari anterior yang dapat merangsang dan mempertahankan laktasi. Insulin-like growth factor I (IGF-I) adalah jenis polipeptida yang dapat memediasi galactagogue hormon pertumbuhan.
Pada studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa emosi dan sekresi kedua hormon ini sangat mengenai erat. Emosi positif dapat mendorong sekresi prolaktin, sementara depresi dapat menyebabkan ketidakseimbangan sekresi prolaktin dan kejadian stres serta kekhawatiran juga dapat menyebabkan tingkat sekresi IGF-I yang rendah.
Studi ini sendiri bermaksud menggunakan intervensi 'Tiga Hal Baik' untuk mempromosikan emosi positif di antara wanita mengandung selama kehamilan tengah dan akhir kehamilan, sehingga meningkatkan sekresi hormon mengenai laktasi serta inisiasi dan kelanjutan perilaku menyusui.
Dalam studi tersebut memang mempunyai beberapa keunggulan. Pertama, berbeda dengan intervensi saat ini yang berfokus pada peningkatan pengetahuan, studi ini berupaya mendorong sekresi hormon mengenai laktasi dengan meningkatkan emosi positif, lampau perilaku menyusui.
Kedua, sebagian besar intervensi sebelumnya yang mempromosikan menyusui dilakukan pada periode pascapersalinan. Mengingat pentingnya pengalaman menyusui dini, maka terdapat pemindahan periode intervensi ke tahap akhir kehamilan.
Ketiga, intervensi campuran pendidikan dan pendukung yang lebih awal susah untuk dievaluasi dan direplikasi secara presisi. Studi ini kemudian bakal menggunakan ukuran psikologis umum, 'Tiga Hal Baik' dilakukan untuk meningkatkan emosi positif, yang memungkinkan perseorangan melakukan dan lebih mudah dipromosikan serta dipopulerkan di kalangan wanita mengandung seperti dikutip dari laman NCBI.
Di luar sisi positifnya yang dihasilkan dari studi, rupanya studi ini juga mempunyai beberapa kekurangan. Pertama, lantaran keterbatasan teknologi pengetesan dan kerumitan dalam membedakan antara sumber endogen dan eksogen, peneliti tidak bakal menguji oksitosin dalam serum ini, meskipun perihal ini telah banyak dilaporkan mengenai dengan laktasi. Namun, pelepasan oksitosin mengenai dengan kadar prolaktin, yang bakal dimasukkan dalam tes kami.
Kedua, peneliti membatasi pengukuran hasil perilaku mengenai menyusui hanya pada masa rawat inap pasca melahirkan, tanpa mengikuti periode 6 bulan alias lebih. Namun demikian, menyusui eksklusif pada periode awal pasca persalinan (1 jam dan dalam beberapa hari setelah persalinan) telah berkorelasi positif dengan lama menyusui setelah persalinan.
Sebagai kesimpulan, studi ini bakal menguji pengaruh intervensi 'Tiga Hal Baik' baik terhadap emosi wanita selama kehamilan, maupun terhadap sekresi kolostrum dan perilaku menyusui. Studi ini juga bakal membantu siapapun lebih mengidentifikasi sistem fisiologis dari hubungan antara emosi dan perilaku menyusui.
Selain itu, intervensi condong meningkatkan emosi positif pasca persalinan dan mengurangi kekhawatiran serta emosi negatif. Terpenting, studi ini memberikan bukti klinis untuk meningkatkan sekresi kolostrum melalui intervensi ilmu jiwa positif prenatal.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI.
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·