Psikolog Harvard Ungkap Penyebab Banyak Anak Sekarang Mudah Cemas Dan Tertekan

Apr 22, 2026 09:30 AM - 1 hari yang lalu 1616

Jakarta -

Belakangan ini, banyak orang tua mulai menyadari adanya perubahan pada anak-anak. Mereka terlihat lebih mudah cemas, sensitif, apalagi sigap merasa tertekan dalam kesehariannya.

Situasi ini membikin sebagian orang tua mau tahu, apakah kehidupan anak era sekarang memang terasa lebih berat? Tidak sedikit pula yang merasa bahwa tantangan yang dihadapi anak saat ini berbeda dari sebelumnya.

Seorang psikolog anak yang pernah mengajar di Harvard Medical School, Ross W. Greene, PhD, mengungkapkan pandangannya mengenai perihal ini. Berdasarkan pengalamannya menangani lebih dari 1.000 anak, Ross memandang bahwa perilaku anak sebenarnya merupakan corak komunikasi.

Menurutnya, anak-anak menunjukkan apa yang mereka rasakan lewat sikap dan tindakan dalam keseharian. Hal ini mirip seperti bayi yang menangis saat lapar, lelah, alias merasa tidak nyaman.

Dengan kata lain, apa yang terlihat sebagai masalah perilaku bisa menjadi tanda bahwa anak sedang mengalami kesulitan, Bunda. Bicara soal ini, Ross mengungkapkan argumen anak sekarang lebih mudah merasa resah dan tertekan.

Psikolog Harvard ungkap penyebab anak mudah resah dan tertekan

Menilik dari laman CNBC Make It, seperti yang dituliskan dalam kitab terbarunya The Kids Who Aren't Okay, beragam perubahan sosial sekarang membikin masa kanak-kanak terasa jauh lebih menantang, Bunda.

Meski tidak semuanya disebutkan, ada beberapa penyebab yang cukup menonjol untuk diperhatikan:

1. Kekhawatiran soal keamanan di sekolah

Menurut psikolog Ross, banyak kejadian kekerasan di lingkungan sekolah yang membikin rasa kondusif anak menjadi terganggu dalam beberapa waktu terakhir. Situasi ini juga turut menimbulkan rasa resah yang terus terasa bagi siswa, guru, dan orang tua.

2. Tekanan akademik yang tinggi

Anak-anak sering dihadapkan pada tuntutan belajar dengan standar yang sama, tanpa mempertimbangkan keahlian masing-masing, Bunda. Hal ini bisa membikin sebagian anak merasa terbebani, lantaran tidak semua berkembang dengan langkah yang sama.

3. Penggunaan gadget dan media sosial

Seperti kita ketahui, penggunaan gadget dan media sosial yang semakin luas membikin anak lebih sigap terpapar beragam informasi. Jika tidak dibatasi, perihal ini bisa mengganggu konsentrasi belajar dan berakibat pada kondisi emosional mereka.

4. Terbatasnya jasa kesehatan mental

Di beberapa wilayah, akses untuk mendapat jasa kesehatan mental tetap sangat terbatas. Ross menyampaikan bahwa perihal ini membikin anak yang memerlukan support kudu menunggu cukup lama untuk mendapatkan penanganan.

"Di banyak daerah di Amerika Serikat, anak-anak tidak dapat mengakses jasa tersebut. Daftar tunggu yang panjang adalah perihal biasa, dan anak-anak yang mengalami krisis mungkin tetap terjebak di ruang darurat gawat selama berhari-hari, berminggu-minggu, alias apalagi berbulan-bulan," ungkapnya.

5. Pengaruh suasana sosial dan politik

Berikutnya, situasi sosial dan politik yang belakangan ini sedang memanas juga bisa ikut dirasakan oleh anak-anak. Tanpa kita ketahui, perihal ini bisa menambah rasa resah dan ketidaknyamanan dalam keseharian mereka, Bunda.

Orang tua kudu memikirkan kembali kesehatan mental anak

Seorang psikiater asal Amerika Serikat, Thomas Szasz, pernah menyampaikan pandangannya bahwa masalah mental lebih tepat dipahami sebagai kesulitan dalam menjalani hidup.

Ia juga menyampaikan bahwa penilaian kondisi anak memang bisa menggambarkan kesulitan yang dialami, tetapi sering kali tidak menjelaskan penyebabnya, Bunda.

Dalam perihal ini, ada beragam aspek yang memengaruhi kondisi anak saat ini, yang sering kali berada di luar kendali langsung dari orang tua maupun guru, seperti:

  • Konflik dengan kawan sebaya, perundungan, alias rasa terasing dari lingkungan sosial.
  • Kesulitan belajar alias masalah akademis yang belum terselesaikan.
  • Perbedaan pendapat dalam family mengenai penggunaan gadget, waktu tidur, kebersihan, pola makan, alias perihal lain dalam kebiasaan sehari-hari.

Lantas, seperti apakah langkah pemecahan masalah yang bisa dilakukan oleh orang tua?

Cara efektif membantu anak menghadapi masalah dalam keseharian

Menghadapi anak-anak era sekarang memerlukan langkah yang berbeda dari yang biasa diterapkan oleh banyak orang tua dahulu. Berikut ini beberapa perihal yang perlu dipertimbangkan:

1. Libatkan anak dalam mencari solusi

Memberikan solusi tanpa melibatkan anak memang terlihat lebih cepat, Bunda. Namun, langkah ini biasanya kurang efektif lantaran anak merasa tidak dilibatkan dalam prosesnya.

Menurut Ross, anak-anak sering merasa orang tua tidak mau mendengarkan mereka. Ia juga menilai bahwa solusi yang 'sepihak' seperti ini bisa berakibat buruk.

"Yang perlu diperhatikan, anak-anak sering mengatakan bahwa orang dewasa tidak mendengarkan mereka, sementara orang dewasa mengatakan bahwa anak-anak tidak mau berbincang dengan mereka. Semua solusi sepihak itu berakibat buruk," kata Ross.

2. Lebih siap sebelum masalah terjadi

Masalah pada anak sebenarnya sering bisa diprediksi sejak awal, Bunda. Karena itu, bakal lebih baik jika orang tua bersikap lebih siap sebelum masalah terjadi kembali.

3. Fokus pada akar masalah

Daripada hanya memandang perilaku anak saja, bakal lebih baik jika Bunda konsentrasi pada penyebab di baliknya. Karena biasanya, ada argumen tertentu yang membikin anak bersikap seperti itu.

Anak biasanya bakal lebih mudah terbuka saat diajak membicarakan masalah yang mereka rasakan. Dibandingkan hanya membahas perilakunya saja.

4. Tidak hanya mengandalkan balasan alias hadiah

Memberi balasan alias bingkisan memang sering dilakukan oleh banyak orang tua. Namun, langkah ini bukanlah solusi jangka panjang. Pendekatan ini lebih ke arah motivasi sesaat, bukan penyelesaian masalah.

Nah, yang dibutuhkan anak sebenarnya adalah didengarkan, bukan hanya diberi patokan alias konsekuensi. Dengan begitu, mereka pun bakal lebih merasa terbantu dalam menghadapi masalahnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Selengkapnya