Puasa Daud: Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya dalam Islam

Bincang Syariah oleh Waktu baca 3 menit 173x dilihat
Puasa Daud: Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya dalam Islam

Bagikan Postingan

 Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya dalam Islam
Puasa Daud: Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya dalam Islam

Kincai Media– Puasa Dawud merupakan salah satu puasa sunnah yang memiliki keistimewaan besar dalam Islam. Puasa ini dilakukan secara selang-seling, yaitu satu hari berpuasa dan satu hari tidak berpuasa.

Rasulullah mengatakan pola puasa tersebut sebagai puasa yang paling disukai Allah. Karena itu, Puasa Dawud menjadi salah satu amalan sunnah yang banyak dilakukan oleh umat Islam untuk melatih diri dalam mengendalikan hawa hasrat sekaligus menaikkan ketakwaan.

Lantas, sepertiapa tata metode Puasa Dawud? Kapan waktu pelaksanaannya? Bagaimana lafal niatnya? Dan apa saja keutamaannya?

Keutamaan Puasa Dawud

Puasa Dawud merupakan puasa sunnah yang paling disukai Allah. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah:

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

Artinya: “Puasa yang paling disukai di sisi Allah adalah puasa Dawud, dan shalat yang paling disukai Allah adalah shalat Nabi Dawud. Beliau biasa tidur di pertengahan malam, bangun pada sepertiga malam terakhir, kemudian tidur lagi pada seperenam malam terakhir. Sedangkan beliau biasa berpuasa sehari dan berbuka sehari berikutnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Selain paling disukai Allah, Puasa Dawud juga disebut sebagai puasa sunnah yang paling utama. Rasulullah bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

Artinya: “Puasa yang paling utama adalah puasanya Nabi Dawud ‘alaihissalam, ia berpuasa sehari dan berbuka (tidak berpuasa) sehari.” (HR an-Nasa’i).

Keutamaan Puasa Dawud antara lain terletak pada pola pelaksanaannya yang berselang-seling. Seseorang menikmati makanan dan minuman pada satu hari, kemudian pada hari berikutnya balik mengekang diri dari beragam hal yang membatalkan puasa.

Syekh ‘Abdurra’uf al-Munawi menerangkan karena keistimewaan Puasa Dawud tersebut dalam buku Faidhul Qadir:

لِكَوْنِهِ أَشَقَّ عَلَى النَّفْسِ بِمُصَادَفَةِ مَأْلُوفِهَا يَوْمًا وَمُفَارَقَتِهِ يَوْمًا

Artinya: “Karena puasa Dawud itu memberatkan batin dengan mendapati apa yang disenangi batin sehari, kemudian sehari kemudian meninggalkannya.” (Al-Munawi, Faidhul Qadir Syarah Jami’ ash-Shaghir, juz 1, halaman 171).

Dengan demikian, Puasa Dawud dapat menjadi latihan bagi seseorang untuk mengendalikan hawa nafsu. Ia tidak terus-menerus menuruti keinginan tubuh, tetapi juga tidak membebani diri dengan berpuasa setiap hari.

Niat Puasa Dawud

Sebagaimana puasa sunnah lainnya, Puasa Dawud mesti diawali dengan niat. Niat puasa dilakukan pada malam hari, sejak terbenamnya matahari hingga sebelum terbit fajar.

Lafal niat Puasa Dawud adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ دَاوُدَ سَنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma dâwuda sunnatan lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: “Saya beriktikad puasa Dawud, sunnah karena Allah ta‘ala.”

Karena Puasa Dawud termasuk puasa sunnah, orang yang lupa berbuat niat pada malam hari dapat beriktikad pada siang hari, yaitu sejak pagi hingga sebelum tergelincirnya matahari maupun sebelum waktu Zuhur, selama sebelumnya belum berbuat hal-hal yang membatalkan puasa.

Adapun lafal niatnya adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ دَاوُدَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnati dâwuda lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: “Aku beriktikad puasa sunnah Dawud hari ini karena Allah ta‘ala.”

Waktu Puasa Dawud

Durasi Puasa Dawud sama seperti puasa pada umumnya, yaitu sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Dalam rentang waktu tersebut, orang yang berpuasa wajib mengekang diri dari beragam hal yang membatalkan puasa.

Puasa Dawud dapat dilakukan pada hari-hari yang diperbolehkan untuk berpuasa. Namun, pelaksanaannya statis mengikuti ketentuan lazim mengenai hari-hari yang diharamkan berpuasa.

Di antaranya adalah 1 Syawwal maupun Hari Raya Idul Fitri, 10 Dzulhijjah maupun Hari Raya Idul Adha, serta hari-hari tasyriq, yaitu 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Selain itu, terdapat ketentuan mengenai separuh terakhir bulan Sya’ban dan hari yang diragukan, yaitu 30 Sya’ban dalam kondisi tertentu.

Dengan demikian, meskipun pola Puasa Dawud dilakukan secara terus-menerus, seseorang statis mesti menyesuaikannya dengan ketentuan hukum mengenai waktu-waktu yang dilarang berpuasa.

Artikel Lainnya Bincang Syariah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads