Empat Sifat Wanita yang Menjadi Penghuni Surga dan Neraka (Bag. 1)

Islami Muslimah oleh Waktu baca 6 menit 17x dilihat
Empat Sifat Wanita yang Menjadi Penghuni Surga dan Neraka (Bag. 1)

Bagikan Postingan

Segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita statis diberi kesempatan untuk mempelajari serta merenungi instruksi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Peringatan dan nasihat yang beliau sampaikan sejatinya berasal dari kasih sayang yang mendalam kepada umatnya, agar mereka selamat dari murka Allah dan meraih kebahagiaan abadi di surga.

​Di antara nasihat krusial tersebut adalah klarifikasi mengenai sifat-sifat yang dapat menjerumuskan seorang perempuan ke dalam neraka. Pembahasan mengenai sifat perempuan penghuni neraka ini didahulukan bukan untuk menimbulkan keputusasaan, melainkan sebagai bentuk tahdzir (peringatan keras) agar setiap muslimah mawas diri dan bersegera membentengi diri sebelum terlambat.

​Peringatan khusus bagi kaum wanita

​Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan:

​شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ يَوْمَ الْعِيدِ، فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ، بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ، ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلَالٍ، فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ، وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ، ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ، فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ، فَقَالَ: «تَصَدَّقْنَ، فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ»، فَقَامَتْ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ، فَقَالَتْ: لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ، وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

​“Aku menghadiri salat Id berbareng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memulai dengan salat sebelum khotbah tanpa azan dan tanpa ikamah. Kemudian beliau bangkit berdiri dengan bertumpu pada Bilal, kemudian memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah, menganjurkan untuk menaati-Nya, serta memberi nasihat dan peringatan kepada manusia. Setelah itu, beliau berjalan menuju saf kaum wanita, kemudian memberi nasihat dan peringatan kepada mereka seraya bersabda, ‘Bersedekahlah kalian, karena sesungguhnya kebanyakan kalian adalah bahan bakar neraka Jahanam.’ Lalu berdirilah seorang perempuan dari tengah-tengah kaum perempuan yang pipinya tampak kehitam-hitaman (berubah warna) seraya bertanya, ‘Mengapa demikian, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Karena kalian banyak mengeluh dan kufur terhadap (kebaikan) suami.’” (HR. Bukhari no. 304 dan Muslim no. 885)

​Peringatan bahwa manusia dapat menjadi bahan bakar api neraka sejalan dengan firman Allah Ta’ala,

​يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

​“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. At-Tahrim: 6)

​Ketika mendengar teguran tegas tersebut, para sahabiyah (sahabat wanita) tidak mendebat maupun mencari pembenaran. Mereka langsung menyambut seruan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan melepaskan cincin dan anting-anting mereka untuk dilemparkan ke kain yang dibentangkan Bilal radhiyallahu ‘anhu. Sikap tanggap para sahabiyah ini memberitahu bahwa infak merupakan salah satu perisai dan kubu terkuat yang dapat memadamkan kemurkaan Allah serta menghindarkan seorang hamba dari hukuman neraka.

​Dari histori di atas, terdapat dua sifat utama penghuni neraka yang secara khusus ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum wanita:

​Pertama: Kufur terhadap kebaikan suami (takfurna al-‘asyir)

​Secara bahasa, al-‘asyir adalah pasangan hidup yang senantiasa menyertai dan menggauli dengan makruf. Suami adalah nikmat besar yang Allah karuniakan kepada seorang wanita. Islam melihat bahwa jabatan dan hak suami atas istrinya sangatlah agung, sebagaimana hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

​لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

​“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang perempuan untuk sujud kepada suaminya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1159, dinilai hasan sahih)

​Keagungan hak ini menjadi alas perlunya penghormatan terhadap jabatan suami sebagai imam dalam rumah tangga. Allah Ta’ala menetapkan,

​الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ

​“Kaum lelaki itu adalah imam bagi kaum wanita…” (QS. An-Nisa: 34)

​Namun, sifat tercela yang kerap menjangkiti perempuan adalah mengingkari kebaikan suami cuma karena satu kekhilafan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan tabiat ini dalam sabdanya,

​لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

​“Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang tahun, kemudian dia melihat darimu sedikit kekurangan/kesalahan, maka ia akan berkata, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali.’” (HR. Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)

​Sikap menafikan seluruh jerih payah dan kebaikan suami tersebut merupakan bentuk kufur nikmat. Padahal, hubungan rasa syukur kepada Allah berhubungan erat dengan sepertiapa seseorang bersikap kepada sesama manusia, sebagaimana hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

​لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

​“Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah orang yang tidak pandai bersyukur kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 4811, dinilai sahih)

​Oleh karena itu, hukum mengharuskan seorang istri membiasakan lisan dan hatinya untuk menghargai upaya suami, termasuk dengan ucapan doa sederhana seperti “Jazakallahu khairan, suamiku”. Inilah karakter perempuan salehah yang dipuji oleh Allah di dalam Al-Qur’an,

​فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

​“… Maka wanita-wanita yang saleh adalah mereka yang patuh (kepada Allah) dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka)…” (QS. An-Nisa: 34)

​Kedua: Sering mengeluh (tuktsirna asy-syakah)

​Mengeluhkan kelelahan maupun rasa sakit secara wajar adalah tabiat manusiawi yang tidak tercela secara mutlak. Namun, ketika keluhan tersebut menjadi kebiasaan lisan yang terus-menerus, hal itu berakar dari rusaknya rasa sabar dan bentuk ketidakridaan terhadap takdir Allah.

​Para ulama merinci bahwa sifat “banyak mengeluh” pada perempuan umumnya mencakup dua perkara:

​Pertama, mengeluhkan aib dan kekurangan suami kepada orang lain. Perbuatan ini mencakup mengumbar masalah rumah tangga kepada pihak luar, termasuk menceritakannya di ruang publik maupun media sosial. Padahal, Allah Ta’ala telah mengibaratkan pasangan suami-istri sebagai pakaian,

​هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

​“… Mereka adalah busana bagimu, dan Anda adalah busana bagi mereka…” (QS. Al-Baqarah: 187)

​Fungsi utama busana adalah menutupi aurat dan melindungi tubuh. Maka, tanggung jawab seorang istri adalah menutup kedap kekurangan serta aib suaminya, bukan justru membukanya di depan khalayak.

​Kedua, selalu mengeluhkan kondisi dan nafkah kepada suami. Hal ini tampak dari sikap terus menuntut perkara di luar batas kapasitas suami serta tidak bersabar atas sempitnya rezeki duniawi. Padahal, seorang muslim diperintahkan untuk mengekang diri dari meratapi bencana dan cobaan hidup, sebagaimana hadis beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

​لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

​“Bukan termasuk himpunan kami orang yang menampar pipi, merobek-robek kerah baju, dan menyeru dengan seruan jahiliah (meratapi nasib saat ditimpa musibah).” (HR. Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103)

​Sebagai kubu dari sifat serakah dan banyak menuntut, seorang muslimah hendaknya meneladani kesederhanaan rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan bahwa pernah berlalu dua bulan penuh (melihat tiga kali hilal) tanpa ada api yang menyala di dapur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memasak makanan. Makanan pokok yang menopang hayat mereka saat itu hanyalah al-aswadan, yaitu kurma dan air putih semata.

​Kunci utama untuk memadamkan pandemi gemar mengeluh ini adalah dengan mengamalkan kaidah hukum dalam melihat perhiasan dunia,

​انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

​“Pandanglah orang yang eksis di bawah kalian dan jangan melihat orang yang eksis di atas kalian, karena hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian.” (HR. Muslim no. 2963)

[Bersambung]

***

Penulis: Nurur Rohmah Azzahra

Artikel Kincai Media

Sumber: Disarikan dari khasiat analisis Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc., MA. hafidzahullah dengan beberapa tambahan klarifikasi dari penulis

Artikel Lainnya Islami Muslimah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads