Jakarta -
Aktor Ringgo Agus Rahman menjadi salah satu pemeran utama dalam movie Aku Sebelum Aku. Film yang tayang di platform Netflix mulai 16 Juli 2026 ini mengangkat drama family dengan menyoroti hubungan yang kompleks antara ayah dan anak.
Dalam movie tersebut, Ringgo memerankan Jaya, seorang ayah yang mempunyai ambisi besar agar putranya terus berprestasi di bagian akademik. Melalui karakter Jaya, Ringgo menggambarkan pergulatan jiwa seorang ayah yang mau memandang anaknya sukses, tetapi menempuh langkah yang naif untuk mewujudkan angan tersebut.
Ringgo mengaku karakter Jaya terasa sangat dekat dengan kehidupannya sebagai seorang ayah. Hingga kini, dia tetap sering diliputi kebingungan dalam mendidik kedua anaknya, terutama saat menentukan batas dalam memberikan support dan motivasi yang tepat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sama seperti saya di kehidupan original tuh juga punya kebingungan yang sama, lantaran waktu pertama kali baca skenario terlalu relate ke banyak orang tua terutama saya," ungkap Ringgo kepada media, belum lama ini.
Ringgo kemudian mencontohkan pengalamannya saat mendampingi sang anak yang tengah menekuni hobinya. Dalam momen-momen tersebut, dia kerap mempertanyakan langkah terbaik untuk memberikan motivasi tanpa membebani anak dengan ekspektasi pribadinya.
"Saya juga punya persoalan yang sama. Misalnya, anak saya lagi tanding basket. Di satu sisi saya mau memberikan motivasi, tapi motivasi yang seperti apa ya? Apakah kudu marah ketika dia bermain jelek? Apakah memang kudu bagus alias bagaimana? Kalau saya mau dia juara di basket, apakah itu ambisi saya yang dulu enggak bisa basket tapi suka olahraga ini. Apakah saya mau memandang anak saya pintar, kudu apa, apakah dimarahi agar bisa kasih dorongan? Saya enggak tahu sampai batasannya seperti apa," katanya.
Sudut pandang Ringgo tentang hubungan orang tua dan anak
Melalui film Aku Sebelum Aku, Ringgo berupaya memosisikan diri dari perspektif pandang seorang ayah maupun anak. Dengan begitu, dia bisa memahami kemauan masing-masing pihak sekaligus memandang akar bentrok yang kerap muncul dalam hubungan orang tua dan anak.
"Sebagai anak, kita merasa orang tua kita itu ketuaan dan tidak mengalami apa yang kita rasakan. Begitu pun juga sebaliknya. Jadi ketika komunikasi, belum apa-apa, kita sudah tahu kelak output-nya dari orang tua pasti nasihat. Kadang-kadang nasihatnya itu yang enggak pengin kita dengar lagi. Kayak, kenapa sih kita tidak dibiarkan dulu mencari jati diri sendiri," katanya.
Menurutnya, baik orang tua maupun anak sama-sama mempunyai keterbatasan dalam memahami satu sama lain. Orang tua meyakini bahwa bekerja keras demi menjamin masa depan anak merupakan corak kasih sayang terbaik. Sementara itu, anak mau membanggakan orang tuanya, tetapi prosesnya tidak selalu melangkah mulus.
"Jadi, anak dan orang tua tuh punya kenaifan masing-masing. Orang tua mikir bekerja mati-matian untuk agunan bisa menghidupi anaknya itu adalah sesuatu yang terbaik. Ya, itu tidak salah. Tapi di sisi lain, anak juga belajar pengin ngebanggain orang tua, tapi perjalanannya sulit, malah kadang-kadang gagal. Padahal kan sebenarnya jika komunikasinya pengin sama-sama ngerti lebih banyak, ya mudah-mudahan tidak seperti itu."
Lewat movie Aku Sebelum Aku, Ringgo belajar untuk mendengar anak
Ringgo mengatakan movie Aku Sebelum Aku meninggalkan kesan mendalam terhadap langkah pandangnya sebagai seorang ayah. Melalui movie ini, dia semakin menyadari bahwa menjadi orang tua bukan hanya tentang membimbing alias memberikan arahan, tetapi juga berupaya memahami apa yang dirasakan oleh anak.
Menurut Ringgo, salah satu langkah untuk mewujudkannya adalah dengan mau mendengarkan anak. Baginya, mendengarkan dan mencoba memandang bumi dari perspektif pandang anak merupakan bagian krusial dalam membangun hubungan yang sehat antara orang tua dan anak, Bunda.
"Sama seperti karakter Jaya di film Aku Sebelum Aku, di mana dia punya kebingungan yang sama, malah condong naif. Sadar sekali tujuannya baik, tapi bahasa yang dikeluarkan dan bahasa anaknya berbeda, sehingga perselisihannya sama seperti kehidupan nyata," ungkap Ringgo.
"Kalau lihat movie ini kayak berkaca sekaligus ada tamparan, hati-hati ya, sebenarnya Anda itu pengin anak memberikan yang terbaik, alias anak hanya sebagai pelengkap saja untuk bisa dibanggain di depan orang lain. Itu sama dengan yang saya hadapi. Jadi movie ini membikin saya banyak berkaca dan menjaga diri agar enggak kelewatan ke anak," lanjutnya.
Ringgo menganggap movie ini sukses menyampaikan pesan mendalam tentang dinamika keluarga, terutama hubungan ayah dan anak. Tak hanya itu, movie ini juga membujuk penonton untuk mengetahui sungguh pentingnya memahami latar belakang setiap personil keluarga.
"Kalau yang saya pelajarin dari movie Aku Sebelum Aku ini memang ada yang hilang, ialah memahami dan mengenali masing-masing personil keluarga," ujar suami Sabai Morscheck ini.
"Saya suka sekali dengan pandangan di movie ini, di mana setiap manusia yang berinteraksi di movie ini, apalagi keluarga, itu kudu memahami dan mengenal sekali personil keluarganya," tuturnya.
Itulah cerita Ringgo Agus Rahman tentang karakter yang diperankannya dalam movie Aku Sebelum Aku, yang rupanya relate dengan kehidupannya sebagai ayah. Semoga cerita ini dapat menginspirasi ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·