Santri Keluar Dari Pesantren Akan Dapat Barokah, Apa Maknanya?

Jan 14, 2026 07:11 AM - 5 bulan yang lalu 170270

Kincai Media ,JAKARTA -- Anggapan bahwa santri akan otomatis mendapat barokah setelah keluar dari pesantren terkadang dipahami sebatas keberhasilan materi dan kemapanan hidup. Namun, ditegaskan bahwa barokah pesantren sejatinya tidak lah seperti itu. 

Lantas apa makna barokah yang bakal didapatkan santri setelah keluar pesantren? 

Salah satu pengajar dan pegiat literasi dari Pondok Pesantren Sidogiri, Ustaz Alil Wafa menjelaskan bahwa barokah pondok pesantren tidak semestinya diukur dengan capaian materi semata. Penegasan itu disampaikan saat menjawab pertanyaan peserta dalam Seminar Rojabiyah yang diselenggarakan oleh PK IPNU Taman Sari, Pamekasan. 

Dalam seminar tersebut, salah seorang peserta mempertanyakan makna barokah pondok di tengah realitas banyak lulusan pesantren yang tetap kebingungan menentukan arah hidup setelah lulus, termasuk dalam urusan pekerjaan dan piagam formal. Pertanyaan itu merefleksikan kegelisahan santri tentang hubungan antara pengabdian di pesantren dan hasil nyata setelah kembali ke masyarakat.

Menanggapi perihal tersebut, Ustaz Alil Wafa menekankan bahwa barokah adalah konsep yang nyata, namun sering disalahpahami. “Jangan sekali-kali mengukur barokah dengan materi. Barokah itu nyata, betul, fakta, tidak bisa dipungkiri, tapi kita perlu memahami barokah itu apa,” ujarnya dikutip dari video yang diunggah akun resmi Pondok Pesantren Taman Sari Palengaan, Pamekasan, Rabu (14/1/2026). 

Ia menuturkan, secara sederhana barokah berfaedah ziyadatul khair, ialah bertambahnya kebaikan dalam diri seseorang, apa pun kondisi yang dialami. Karena itu, menurutnya, kekayaan alias kesuksesan materi tidak otomatis menjadi tanda barokah, begitu pula sebaliknya kemiskinan alias kesulitan hidup bukan pertanda ketiadaan barokah.

“Jangan dikatakan, wah Mondok di Taman Sari boyong jadi orang kaya, wah barokahnya mondok. Kan iba yang nggak kaya-kaya kan? Keneng belet (kualat) berarti. Wah alhamdulillah usahanya lancar, barokahnya Mondok. Yang usahanya kemudian rugi terus bangkrut, wah keneng balet (kualatnya) mondok berarti. Enggak, nggak seperti itu,” jelasnya. 

Ia menegaskan, upaya yang ambruk alias kondisi hidup yang susah pun bisa menjadi barokah andaikan justru membikin seseorang semakin dekat kepada Allah dan bertambah dalam kebaikan.

Ustaz Alil Wafa memberi contoh, sakit yang dialami seorang alumni pesantren bisa menjadi barokah jika membuatnya lebih istiqamah dalam ibadah, giat berjamaah, dan konsisten dalam ketaatan. Sebaliknya, kekayaan dan kedudukan yang membikin seseorang lalai dari shalat dan kegiatan keagamaan patut dipertanyakan keberkahannya.

"Kaya, jika membikin kita semakin tidak sempat berjamaah, apalagi sholatnya bolong-bolong, hati-hati itu bukan kekayaan yang barokah," ucapnya.

Ia juga menyinggung realitas lulusan pesantren yang kesulitan mendapatkan pekerjaan sesuai standar formal. Menurutnya, kondisi tersebut bisa menjadi barokah jika mendorong seseorang untuk lebih giat berikhtiar, memperbanyak doa, dan membuka jalan kebaikan baru, meski hanya dengan upaya sederhana.

“Jadi barokah itu barometernya adalah semakin baik apa tidak kita? Semakin baik. Jadi jika membikin kita semakin baik berfaedah kemudian situasi kita barokah ketika itu, punya pekerjaan ataupun tidak. Jadi jangan sekali-kali mengukur barokah pakai materi, tapi ukurlah barokah dengan kebaikan,” kata Ustaz Alil Wafa. 

Ia pun mengingatkan bahwa pesantren mendidik santri untuk menyeimbangkan orientasi bumi dan akhirat. 

“Fid bumi hasanah wa fil akhiroti hasanah itu tempatnya kita di pesantren. Jadi bukan bumi saja yang kita kejar, tapi juga akhirat,” ujarnya.

Selengkapnya