Sering Lupa di Usia 30-an? 7 Hobi untuk Melatih Daya Ingat

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 7 menit 504x dilihat
Sering Lupa di Usia 30-an? 7 Hobi untuk Melatih Daya Ingat

Bagikan Postingan

Sering lupa di usia 30-an? Coba 7 kegemaran melatih daya ingat yang bisa memberi stimulasi pada otak, dari membaca hingga olahraga.

Pernah masuk ke sebuah ruangan lampau lupa sebenarnya mau ngapain? Atau sibuk mencari HP, padahal barang itu rupanya ada di tangan sendiri? Kalau belakangan Mommies sering mengalami hal-hal seperti ini, mungkin sudah waktunya mencoba kegemaran melatih daya ingat yang menyenangkan dan mudah dilakukan sehari-hari.

Tenang, Mommies nggak sendirian.

Sesekali lupa tidak selalu berfaedah keahlian otak mulai menurun. Menurut National Institute on Aging (NIA), lupa sesekali merupakan perihal yang bisa terjadi, sementara masalah memori yang lebih serius biasanya mulai mengganggu kegiatan sehari-hari. Tidur yang kurang, stres, emosi negatif, depresi alias kecemasan, pengaruh obat tertentu, hingga beberapa kondisi kesehatan juga bisa memengaruhi daya ingat.

Kabar baiknya, menjaga otak tetap aktif bisa dilakukan lewat banyak perihal sederhana. NIA menyebut kegiatan yang menstimulasi pikiran, seperti membaca, menulis, mempelajari keahlian baru, bermain gim, tetap aktif secara sosial, dan berolahraga, sebagai bagian dari kebiasaan yang dapat mendukung kesehatan kognitif.

BACA JUGA: 9 Hobi yang Bisa Bikin Semakin Pintar, Termasuk Main Game!

7 Hobi Melatih Daya Ingat yang Bisa Dicoba di Usia 30-an

Jadi, jika Mommies sedang mencari argumen untuk punya kegemaran baru, mungkin ini saatnya. Bukan hanya buat mengisi waktu luang, beberapa kegiatan berikut juga bisa menjadi langkah menyenangkan untuk memberi tantangan pada otak.

1. Membaca buku

Foto: Magnific

Membaca bukan hanya soal menyelesaikan berapa banyak kitab dalam sebulan. Saat mengikuti cerita, mengingat karakter, memahami konteks, dan menghubungkan info baru dengan perihal yang sudah diketahui, otak diajak untuk terus bekerja.

Nggak kudu langsung menargetkan satu kitab setiap minggu, kok. Membaca beberapa laman sebelum tidur alias saat punya waktu senggang pun bisa menjadi kegiatan mental yang menyenangkan.

Sejumlah penelitian juga menemukan bahwa kegiatan rekreasional yang melibatkan kegiatan kognitif berangkaian dengan kegunaan kognitif yang lebih baik dan akibat demensia yang lebih rendah. Namun, penelitian tersebut berkarakter observasional sehingga bukan berfaedah satu kegemaran tertentu bisa menjamin seseorang terhindar dari demensia.

2. Belajar bahasa baru

Mau belajar bahasa Korea lantaran terlalu sering nonton drakor? Atau bahasa Italia agar suatu hari bisa liburan tanpa selalu mengandalkan Google Translate?

Gas, Mommies!

Saat mempelajari bahasa baru, kita berhadapan dengan kosakata, tata bahasa, bunyi, dan langkah menyusun kalimat yang berbeda. Artinya, ada banyak info baru yang perlu dipelajari dan diingat.

Tapi jangan sampai terjebak dengan dugaan bahwa bisa dua bahasa otomatis membikin seseorang lebih pintar. Penelitian mengenai bilingualisme menunjukkan bahwa pengalaman menggunakan dua bahasa memang dapat memengaruhi sistem perhatian dan proses kognitif melalui adaptasi, tetapi manfaatnya tidak berfaedah otomatis bertindak pada semua keahlian kognitif.

Jadi, fokusnya bukan kudu langsung jadi polyglot. Mempelajari sesuatu yang baru dan membikin otak keluar dari rutinitas bisa menjadi tantangan mental yang menarik.

Bonusnya, siapa tahu suatu hari bisa ngobrol langsung dengan penduduk lokal saat traveling.

3. Bermain puzzle, Sudoku, alias permainan strategi

Kalau biasanya waktu senggang lenyap untuk doomscrolling, sesekali bisa diganti dengan Sudoku, teka-teki silang, puzzle, catur, alias permainan strategi lainnya.

Aktivitas seperti ini membikin kita perlu mencari pola, mengingat informasi, memikirkan beberapa kemungkinan, lampau menentukan langkah berikutnya. Prosesnya bisa menjadi corak stimulasi mental yang menyenangkan.

Sebuah meta-analisis pada 2025 yang mencakup 23 uji klinis random dengan 1.293 peserta menemukan bahwa beragam kegiatan rekreasional berbasis permainan diteliti mengenai kegunaan kognitif dan memori pada orang dewasa yang lebih tua. Meski begitu, hasil tersebut tidak berfaedah semua jenis permainan pasti memberikan pengaruh yang sama pada semua orang.

Jadi, jika Mommies lebih suka Sudoku daripada membaca novel, nggak masalah. Yang penting, pilih kegiatan yang bikin penasaran dan memang mau dilakukan.

BACA JUGA: Rekomendasi Vitamin Anak untuk Otak dan Meningkatkan Daya Ingat

4. Bermain alias belajar perangkat musik

Foto: Magnific

Pernah kepikiran belajar piano, gitar, alias perangkat musik lain tetapi merasa, “Ah, sudah telat”?

Belum tentu, Mommies.

Belajar perangkat musik membikin kita berhadapan dengan pola, ritme, koordinasi, dan info baru yang perlu dipraktikkan berulang kali. Aktivitasnya juga membikin otak dan tubuh bekerja secara bersamaan.

Namun, penelitian tentang perangkat musik dan kegunaan kognitif juga perlu dibaca dengan hati-hati. Sebuah systematic review dan meta-analysis pada orang dewasa berumur 60 tahun ke atas menemukan faedah pada beberapa kegunaan eksekutif, seperti keahlian beranjak tugas dan kecepatan pemrosesan, tetapi tidak menemukan pengaruh yang konsisten pada working memory maupun verbal memory. 

Artinya, jangan menjadikan piano sebagai “obat anti-lupa”. Anggap saja sebagai salah satu langkah seru untuk belajar sesuatu yang baru sembari terus menantang keahlian kognitif.

Belajar piano di usia 30-an? Belum telat, Mommies.

5. Menulis alias journaling

Menulis jurnal mungkin terlihat sederhana, tetapi kegiatan ini membikin kita berakhir sejenak untuk mengingat kejadian, memilih kata, menyusun pikiran, dan menghubungkan pengalaman yang baru saja terjadi.

Nggak perlu notebook mahal alias tulisan yang estetik. Lima menit menulis tentang apa yang terjadi hari itu juga sudah cukup untuk menjadikannya rutinitas kecil.

NIA sendiri memasukkan kegiatan seperti menulis sebagai salah satu contoh kegiatan yang dapat memberikan stimulasi mental.

Mommies bisa mulai dengan tiga pertanyaan sederhana: Apa yang terjadi hari ini? Apa yang saya rasakan? Apa yang mau saya ingat dari hari ini?

6. Olahraga

Selama ini olahraga mungkin lebih sering dikaitkan dengan berat badan, otot, alias stamina. Padahal, tubuh yang aktif juga punya kaitan dengan kesehatan kognitif.

Sebuah umbrella review dan meta-meta-analysis yang terbit pada 2025 menganalisis 133 systematic review yang mencakup 2.724 uji klinis random dan lebih dari 258 ribu peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa olahraga memberikan faedah pada kognisi secara umum, memori, dan kegunaan eksekutif.

Penelitian lain yang melibatkan lebih dari 341 ribu orang juga menemukan hubungan antara kegiatan bentuk dan beberapa parameter kognitif, termasuk memori episodik dan kelancaran verbal.

Jadi, selain menjadi kegiatan fisik, olahraga juga bisa menjadi salah satu kegemaran melatih daya ingat yang mudah dimasukkan ke rutinitas.

Hobi yang paling bagus tetaplah kegemaran yang betul-betul mau kita lakukan secara rutin.

7. Coba kegemaran baru yang bikin kita “pemula” lagi

Semakin dewasa, rutinitas kita sering kali terasa berulang. Bangun, kerja, mengurus rumah, mengurus anak, menyelesaikan pekerjaan, lampau tidur. Besok diulang lagi.

Makanya, sesekali coba lakukan sesuatu yang betul-betul baru.

Nggak kudu sesuatu yang spektakuler. Mommies bisa mencoba merajut, melukis, berkebun, memasak resep baru, fotografi, menari, membikin keramik, belajar desain, alias apalagi belajar membikin kopi.

NIA menyebut belajar keahlian baru sebagai salah satu kegiatan yang berpotensi mendukung kesehatan kognitif. Dalam salah satu penelitian yang dibahas NIA, orang dewasa yang lebih tua yang mempelajari keahlian baru seperti fotografi digital alias quilting menunjukkan peningkatan pada memori dibandingkan kegiatan yang lebih pasif.

Nggak perlu langsung jago.

Justru proses menjadi pemula lagi—mencoba, salah, mengingat, mengulang, lampau perlahan bisa—yang membikin kegiatan tersebut terasa berbeda dari rutinitas sehari-hari.

BACA JUGA: 15 Makanan untuk Kesehatan Otak, Bikin Cerdas dan Daya Ingat Tajam

Sering Lupa di Usia 30-an, Haruskah Khawatir?

Foto: Magnific

Lupa meletakkan kunci, lupa nama seseorang yang baru dikenal, alias masuk ruangan lampau lupa mau mengambil apa tidak otomatis berfaedah ada masalah serius dengan daya ingat.

Namun, Mommies sebaiknya mulai memperhatikan jika masalah memori semakin sering terjadi dan sampai mengganggu kegiatan sehari-hari. Misalnya, tersesat di tempat yang sebenarnya familiar, kesulitan mengikuti resep alias petunjuk sederhana, berulang kali menanyakan perihal yang sama, alias bingung mengenai waktu dan tempat.

Dalam kondisi seperti ini, jangan hanya mengandalkan kegemaran alias permainan otak. Konsultasikan dengan master untuk mencari tahu kemungkinan penyebabnya, lantaran daya ingat juga dapat dipengaruhi oleh tidur, stres, kondisi kesehatan tertentu, maupun obat-obatan.

Hobi Bukan Sekadar Mengisi Waktu Luang

Nggak ada satu kegemaran ajaib yang bisa membikin kita langsung jadi lebih mudah mengingat segala sesuatu. Tetapi, memberi otak kesempatan untuk belajar, bergerak, mencoba perihal baru, dan tetap terlibat secara aktif merupakan bagian dari kebiasaan yang baik untuk kesehatan secara keseluruhan.

Jadi, jika selama ini merasa kegemaran hanya buang-buang waktu, mungkin sudah waktunya mengubah langkah pandang. Hobi melatih daya ingat nggak kudu rumit alias mahal—yang krusial membikin kita aktif bergerak, belajar, dan menikmati prosesnya.

Di usia 30-an, kita tetap boleh punya waktu untuk membaca buku, belajar bahasa, bermain musik, olahraga, alias mencoba hal-hal yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Karena ternyata, sedikit ruang untuk diri sendiri juga bisa menjadi langkah untuk menjaga tubuh dan pikiran tetap aktif.

BACA JUGA: 7 Kelas Hobi untuk Usia 40 Tahun yang Seru dan Produktif, Saatnya Punya Waktu untuk Diri Sendiri

Cover: Magnific

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
Close Right Ads
Close Left Ads