Jakarta -
Memberikan sampulsurat alias bingkisan kepada pengantin sudah menjadi tradisi yang lazim ditemui dalam kegiatan pernikahan. Selain sebagai corak ucapan selamat, pemberian tersebut juga dianggap sebagai support bagi pasangan yang baru memulai kehidupan rumah tangga.
Meski tidak ada patokan baku mengenai jumlah alias jenis bingkisan yang diberikan, kebiasaan ini umumnya dilakukan secara sukarela oleh para tamu undangan. Hal inilah yang membikin bingkisan pernikahan lebih sering dipandang sebagai corak perhatian daripada kewajiban.
Namun, kisah berbeda justru datang dari sepasang pengantin yang menjadi sorotan publik. Setelah setahun menikah, mereka tetap menagih sejumlah tamu undangannya yang belum memberikan sampulsurat kondangan, Bunda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentu saja perihal tersebut langsung memicu perdebatan warganet yang membahas soal etika dan tradisi dalam pesta pernikahan.
Viral pengantin tetap tagih tamu sampulsurat usai setahun menikah
Kisah ini dibagikan oleh salah satu tamu undangan yang merasa tidak nyaman dengan sikap pengantin yang dinilai terlalu perhitungan, Bunda.
Melansir dari laman Brides, cerita tersebut muncul di forum obrolan Wedding Shaming. Seorang pengguna mengaku terkejut setelah menerima e-mail dari seseorang yang mengaku sebagai asisten pengantin wanita dalam pernikahan kerabatnya.
Alih-alih ucapan terima kasih alias berita terbaru dari pasangan pengantin, e-mail tersebut justru berisi pengingat bahwa dia belum memberikan bingkisan pernikahan. Pesan tersebut sontak membuatnya heran, mengingat kegiatan pernikahan itu telah berjalan cukup lama.
Ia merasa tidak lezat hati sekaligus malu lantaran lupa memberikan bingkisan kepada kerabatnya itu. Namun, di sisi lain juga terkejut dengan sikap pengantin yang menagih bingkisan pernikahan meski telah satu tahun berlalu.
“Awalnya, saya merasa tidak masalah untuk memberi mereka hadiah. Namun, rasanya sangat asing memandang pengantin kaya raya tersebut menagih saya mengenai bingkisan itu, terutama lantaran saya hidup jauh dari mereka,” tulisnya.
Tamu undangan tersebut mengaku tak lenyap pikir dengan tindakan kerabatnya yang tetap menagih bingkisan pernikahan.
Sebab, dia mengatakan untuk datang di kegiatan tersebut saja sudah memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit, baik dari segi waktu maupun biaya.
Ia mengungkapkan telah mengeluarkan lebih dari US$2.000 alias setara dengan Rp32,3 juta untuk biaya penerbangan dan penginapan demi bisa datang di hari senang sang kerabat, Bunda.
Meski kudu merogoh kocek dalam-dalam, saat itu dia tidak mempermasalahkannya. Justru, dia menikmati seluruh rangkaian kegiatan yang berjalan meriah, mulai dari momen haru hingga kebersamaan yang tercipta berbareng family dan para tamu lainnya.
Menurutnya, pengalaman tersebut membikin semua pengeluaran yang dikeluarkan terasa sepadan.
Namun, perasaannya berubah setelah menerima e-mail yang mengingatkannya soal bingkisan pernikahan yang belum diberikan. Alih-alih hanya mengenang momen bahagia, dia justru diliputi rasa tidak lezat hati.
Karena merasa bersalah, dia akhirnya memutuskan untuk mengirimkan bingkisan sebagai corak permintaan maaf. Sayangnya, niat baik tersebut tidak berhujung seperti yang diharapkan.
“Karena sudah merasa malu, saya langsung mengirimkan mereka hadiah. Sayangnya, hingga sekarang, saya belum menerima ucapan terima kasih dari mereka,” tuturnya.
Di akhir cerita, dia mengaku hubungan pertemanannya dengan pengantin tersebut perlahan menjauh. Bahkan, dia baru mengetahui bahwa pasangan itu sedang menjalani proses perceraian.
Sikap pengantin mendapat kritikan dari warganet
Unggahan tersebut pun rupanya menarik banyak perhatian para pengguna forum. Mayoritas dari mereka melayangkan kritik atas perilaku tidak sopan yang dilakukan pengantin.
“Mengapa Anda yang malu? Seharusnya pengantin wanita itu yang perlu malu. Dia mempermalukan dirinya sendiri dengan pesan yang kasar tersebut. Kamu sudah mengeluarkan banyak duit untuk menghadiri pernikahannya dan dia tetap menagih hadiah, padahal dirinya sosok yang jauh lebih kaya,” tulis salah seorang netizen, dikutip dari People.
“Pengantin semestinya tidak boleh memaksa tamu untuk memberi bingkisan lantaran itu opsional,” sambungnya.
Namun, tak sedikit juga warganet yang menanggapi cerita tersebut dengan santai. Beberapa juga melontarkan guyonan, Bunda.
“Wah, jika saya yang mendapatkan pesan tersebut, saya pasti segera memasukkannya ke bagian spam,” tulis salah satu pengguna.
“Kalau saya yang dapat pesan itu, saya bakal membalas 'Terus bagaimana? Apakah saya bakal dipenjara hanya lantaran lupa memberimu hadiah?',” lanjut pengguna yang lain.
Demikian kisah seorang tamu undangan yang mengeluh lantaran tetap ditagih sampulsurat pernikahan. Bagaimana menurut Bunda?
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·