Wang Hong menjadi sorotan setelah meraih Fields Medal, penghargaan bergengsi yang kerap disebut sebagai penghargaan tertinggi dalam bagian matematika. Tidak hanya lantaran pencapaiannya di bumi akademik, matematikawan asal China ini juga menarik perhatian lantaran style berpakaiannya yang dianggap berbeda dari gambaran intelektual pada umumnya.
Perjalanan Wang Hong menuju penghargaan tersebut juga tidak selalu melangkah mulus. Ia pernah meninggalkan matematika dan mencoba belajar arsitektur di Paris lantaran sempat merasa tidak cukup bisa untuk melakukan penelitian.
Lantas, seperti apa sosok dan perjalanan Wang Hong hingga sukses meraih penghargaan bergengsi ini? Yuk, simak selengkapnya berikut ini, Bunda.
Wang Hong jadi wanita ketiga yang raih fields medal
Mengutip dari laman Vn Express, Wang Hong menjadi wanita ketiga dalam sejarah yang sukses meraih Fields Medal sejak penghargaan tersebut pertama kali diberikan pada 1936. Sebelumnya, penghargaan ini diraih Maryam Mirzakhani pada 2014 dan Maryna Viazovska pada 2022.
Wang lahir pada 1991 di Pingle County, dekat Guilin, Guangxi, China. Kedua orang tuanya merupakan pembimbing di sekolah menengah setempat. Sejak kecil, Wang menunjukkan keahlian akademik yang baik. Ia doyan membaca, bermain tenis meja dan bulu tangkis, serta apalagi mempelajari latihan dari kitab pelajaran sebelum tahun aliran dimulai.
Ia sempat melewati dua tingkat kelas dan masuk ke School of Earth and Space Sciences ketika berumur 16 tahun. Setelah seorang guru besar geofisika menjelaskan sungguh pentingnya matematika dalam bagian tersebut, Wang akhirnya beranjak ke School of Mathematical Sciences.
Setelah lulus pada 2011, Wang melanjutkan pendidikan ke Prancis melalui program pascasarjana di École Polytechnique. Namun, saat itu dia merasa tidak percaya dapat menghasilkan penelitian orisinal.
Ia pun sempat meninggalkan matematika selama satu semester untuk belajar arsitektur dan menjalani magang di sebuah firma arsitektur di Paris. Pengalaman tersebut justru membikin Wang menyadari bahwa dia tidak perlu terus mempertanyakan apakah dirinya cukup dahsyat untuk melakukan penelitian. Ia kemudian kembali ke matematika dan melanjutkan perjalanan akademiknya.
Wang menyelesaikan pendidikan master di Université Paris-Sud pada 2014, kemudian menempuh program doktoral di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dengan Larry Guth sebagai pembimbing.
Ia meraih gelar ahli pada 2019, sebelum menjalani penelitian pascadoktoral di Institute for Advanced Study.
Kariernya bersambung sebagai pengajar di UCLA pada 2021, kemudian berasosiasi dengan New York University (NYU) pada 2023. Wang juga menjadi guru besar tetap di Institut des Hautes Études Scientifiques (IHES) di Prancis sejak September 2025.
Penghargaan Fields Medal diberikan kepada matematikawan berumur di bawah 40 tahun setiap empat tahun. Wang mendapat penghargaan tersebut atas kontribusinya dalam kajian harmonik dan teori ukuran geometris, termasuk keberhasilannya berbareng Joshua Zahl dalam menyelesaikan persoalan Kakeya tiga dimensi.
Persoalan tersebut telah menjadi tantangan dalam matematika selama puluhan tahun. Bukti yang mereka kerjakan menunjukkan bahwa golongan Kakeya di ruang tiga dimensi dapat mempunyai volume nol, tetapi tetap mempunyai dimensi tepat tiga.
Hasil penelitian Wang juga dinilai berpotensi memberikan akibat pada beragam bidang, seperti kajian harmonik, teori bilangan, pengetahuan komputer, kriptografi, pengolahan data, komunikasi nirkabel, hingga teknologi pencitraan.
Selain prestasinya dalam matematika, Wang Hong juga menjadi perhatian lantaran style berpakaiannya. Melansir dari laman Women's Wear Daily (WWD), Wang yang berumur 35 tahun mendadak terkenal di media sosial China setelah memenangkan Fields Medal.
Penampilannya ketika menghadiri kegiatan penghargaan langsung menarik perhatian pengguna Xiaohongshu, platform media sosial dan perdagangan terkenal di China. Saat itu, Wang mengenakan setelan celana hitam, kacamata Lindberg, kaus putih, serta kalung Clash de Cartier.
Gaya Wang yang terlihat sederhana tetapi tetap elegan kemudian dianggap sebagai corak academic chic. Penampilannya apalagi berbeda dari gambaran intelektual jenius yang selama ini sering muncul dalam budaya populer, ialah sosok yang sangat konsentrasi pada pengetahuan pengetahuan dan dianggap tidak terlalu memperhatikan fashion.
Dalam sebuah dokumenter singkat dari Simons Foundation, style berpakaian Wang juga terlihat menggunakan sejumlah merek, seperti jaket Canada Goose, tas The Row, sweater Johnston of Elgin, sepatu On Running, dan Oura Ring.
Penampilannya kemudian membikin sejumlah pengguna media sosial mencoba meniru style berpakaian Wang. Istilah seperti academic chic, genius girl fashion, high-intelligence dressing, new old money style, dan long-termism turut bermunculan untuk menggambarkan tren yang terinspirasi darinya.
Bahkan, kalung dan cincin Clash de Cartier yang dikenakan Wang sempat dilaporkan lenyap terjual di sejumlah toko lokal.
Itulah kisah dibalik sosok Wang Hong, matematikawan yang sukses meraih Fields Medal sekaligus mencuri perhatian lewat style berpakaiannya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincaimedia Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)