Tahukah Bunda jika spons dapur bisa menjadi sarang penyakit jika tidak pernah diganti? Yuk simak faktanya di sini.
Spons dapur adalah salah satu peralatan rumah tangga yang nyaris setiap hari digunakan untuk mencuci piring, gelas, hingga peralatan memasak. Meski tampak bersih setelah dibilas, barang mini ini rupanya dapat menjadi tempat berkembang biaknya beragam jenis kuman yang berpotensi memicu penyakit jika tidak dirawat dengan benar.
Kondisi spons yang lembap, sering bergesekan dengan sisa makanan, dan jarang diganti bisa menjadi lingkungan ideal bagi mikroorganisme untuk berkembang. Oleh lantaran itu, krusial bagi Bunda untuk memahami gimana kuman hidup, kapan menjadi berbahaya, serta langkah sederhana yang bisa dilakukan agar spons dapur tetap higienis.
Mengutip Healthline, berikut info seputar spons dapur yang terlihat bersih rupanya bisa menjadi sarang penyakit.
Fakta mengenai spons dapur
Bakteri merupakan mikroorganisme bersel satu yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Organisme ini hidup nyaris di mana saja, mulai dari tubuh manusia, air, tanah, makanan, hingga beragam permukaan barang di rumah, termasuk spons dapur.
Meski sering dikaitkan dengan penyakit, sebagian besar kuman sebenarnya tidak berbahaya. Bahkan National Human Genome Research Institute (NHGRI) menjelaskan bahwa tubuh manusia memerlukan beberapa jenis bakteri, terutama yang hidup di saluran pencernaan untuk membantu proses pencernaan dan menjaga kesehatan.
Mengapa spons dapur mudah menjadi sarang bakteri?
Spons dapur mempunyai pori-pori yang bisa menyerap air dan menyimpan sisa-sisa makanan. Kombinasi kelembapan, suhu ruangan, serta nutrisi dari sisa makanan membikin kuman dapat berkembang biak dengan cepat.
Bakteri sendiri mempunyai keahlian memperkuat hidup yang luar biasa. Sebagian jenis mempunyai lapisan pelindung yang membuatnya lebih tahan terhadap kondisi lingkungan, sementara jenis lainnya mempunyai struktur seperti rambut lembut yang membantu menempel pada permukaan, termasuk serat spons.
Para mahir pun membagi kuman ke dalam beberapa golongan berasas bentuknya, seperti batang (bacilli), bulat (cocci), spiral (spirilla), berbentuk koma (vibrios), hingga menyerupai sekrup (spirochaetes). Selain bentuknya, kuman juga dibedakan berasas kebutuhan oksigen.
Ada kuman yang memerlukan oksigen untuk memperkuat hidup, beberapa justru meninggal jika terkena oksigen. Sebagian bakter juga bisa hidup dalam kedua kondisi tersebut. Keragaman inilah yang membikin kuman dapat ditemukan nyaris di semua lingkungan, termasuk spons cuci piring.
Penyakit yang dipicu kuman berbahaya
Jika kuman patogen beranjak dari spons dapur pindah ke tangan, makanan, alias peralatan makan, akibat jangkitan pun dapat meningkat. Jenis kuman rawan diketahui dapat menyebabkan beragam penyakit.
Beberapa jangkitan akibat bakteri, antara lain jangkitan telinga, sinusitis, radang tenggorokan akibat kuman Streptococcus (strep throat), batuk rejan, meningitis bakteri, jangkitan saluran kemih (ISK), bacterial vaginosis, jangkitan Salmonella, tetanus, hingga jangkitan kulit seperti selulitis, folikulitis, dan impetigo. Bahkan beberapa kuman juga menjadi penyebab jangkitan menular seksual seperti klamidia, gonore, dan sifilis.
Bakteri baik tetap dibutuhkan tubuh
Di kembali reputasinya sebagai penyebab penyakit, kuman sebenarnya mempunyai peran krusial bagi kesehatan manusia. Peneliti memperkirakan jumlah kuman di dalam tubuh apalagi jauh lebih banyak dibandingkan sel manusia.
Mayoritas kuman baik berada di usus dan membantu mencerna makanan, menjaga keseimbangan sistem pencernaan, serta mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan. Tak heran, sebagian orang mengonsumsi probiotik yang mengandung kuman baik seperti Lactobacillus dan Bifidobacteria, terutama setelah menjalani terapi antibiotik.
Dokter dapat meresepkan antibiotik untuk mengatasi jangkitan bakteri. Namun obat ini tidak boleh digunakan sembarangan lantaran pemakaian yang tidak tepat dapat memicu resistensi antibiotik, ialah kondisi ketika kuman menjadi kebal terhadap pengobatan.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan lebih dari 28 persen resep antibiotik sebenarnya tidak diperlukan. Oleh lantaran itu, antibiotik hanya boleh dikonsumsi sesuai rekomendasi dokter.
Para mahir juga mengingatkan agar pasien selalu menghabiskan antibiotik sesuai resep dokter, tidak menggunakan obat milik orang lain, dan tak menghentikan pengobatan meski indikasi sudah membaik.
Cara menjaga spons dapur tetap higienis
Karena spons dapur dapat menjadi tempat berkumpulnya bakteri, kebersihannya tidak boleh diabaikan. Bunda kudu membilas spons hingga bersih setelah digunakan, memerasnya sampai tidak terlalu basah, serta membiarkannya mengering sebelum dipakai kembali. Ini dapat membantu mengurangi pertumbuhan bakteri.
Selain itu, spons sebaiknya diganti secara berkala, terutama jika mulai berbau, berubah warna, alias mudah hancur. Dengan kebiasaan sederhana tersebut, akibat perpindahan kuman ke peralatan makan maupun makanan family bisa terhindarkan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·