Jakarta -
Tidak semua perihal yang terjadi di masa mini terlihat berakibat saat itu juga. Namun, pengalaman tersebut bisa tersimpan dan berpengaruh pada perkembangan anak ke depannya, Bunda.
Di masa bayi hingga balita, otak anak sedang berkembang dengan begitu cepat. Pada tahap ini, anak mulai belajar mengenali emosi dan kehidupan di sekitarnya.
Pengalaman dan hubungan yang terjadi di masa awal kehidupan memang berkedudukan dalam proses tersebut. Apa yang dialami anak bisa membentuk langkah mereka belajar, mengatur emosi, dan berinteraksi dengan orang lain.
Dikutip dari Yahoo Health, penelitian selama puluhan tahun di bagian ilmu jiwa perkembangan dan pengetahuan saraf menunjukkan bahwa stres di usia awal tidak bisa kita anggap sepele. Terutama pada tahun-tahun pertama kehidupan, kondisi ini bisa memengaruhi perkembangan otak, perilaku, hingga kesejahteraan anak.
Hal ini turut menjadi perhatian para mahir yang mendalami perkembangan anak. Salah satunya adalah seorang guru besar di University of Minnesota's Institute of Child Development dan kepala di Gunnar Lab for Developmental Psychobiology Research, Megan Gunnar.
Melalui beragam penelitian yang dilakukannya, terungkap bahwa pengalaman sejak mini mempunyai pengaruh terhadap langkah kerja otak. Bahkan, perihal ini dapat memengaruhi gimana anak memproses emosi seiring bertambahnya usia.
Bagaimana stres sejak mini memengaruhi langkah anak memproses emosi?
Pada masa awal kehidupan, otak anak sedang dalam proses berkembang dan menyesuaikan diri. Di fase ini, otak bekerja membentuk beragam keahlian penting, termasuk dalam mengatur emosi.
Selama tahap tersebut, ada fase yang dikenal sebagai 'masa sensitif'. Pada periode ini, beragam pengalaman yang dialami anak bisa membentuk pola yang bakal menetap dalam perkembangan otaknya.
Artinya, apa yang terjadi di masa mini bisa berakibat hingga jangka panjang. Hal ini juga termasuk dalam langkah anak memproses emosi dan menghadapi beragam situasi di kemudian hari.
Bicara soal ini, Megan menyampaikan bahwa keahlian seperti mengendalikan diri dapat terus dilatih dan dikembangkan seiring bertambahnya usia, Bunda.
"Anda dapat melatih pengaturan diri sepanjang hidup Anda. Namun, bakal lebih susah di usia lanjut daripada di usia muda, tetapi keahlian ini tidak bakal pernah sepenuhnya hilang," ujarnya seperti dikutip dari Yahoo Health.
Tips mengenali tanda stres pada anak
Sebagai orang tua, mengenali stres pada anak sebenarnya tidak selalu kudu dengan langkah yang rumit. Tanda yang paling sering terlihat justru muncul dari perubahan perilaku anak.
Ketika anak mulai menunjukkan sikap yang berbeda, perihal itu bisa menjadi tanda bahwa mereka sedang butuh perhatian dari Bunda dan Ayah. Misalnya, anak yang sebelumnya terlihat baik-baik saja tiba-tiba jadi lebih rewel alias berkelakuan tidak seperti biasanya.
Perlu kita pahami berbareng bahwa perilaku tersebut bukan berfaedah anak nakal, ya. Bisa jadi ada perihal lain yang sedang mereka rasakan, seperti lapar, lelah, alias ada masalah yang mengganggu pikirannya.
Jika perubahan ini berjalan cukup lama, orang tua kudu lebih peka terhadap kondisi anak. Sikap yang lebih manja alias mudah rewel dapat menjadi tanda bahwa anak sedang merasa stres dan memerlukan dukungan.
Cara terbaik orang tua merespons anak yang sedang stres
Dalam keseharian, orang tua biasanya lebih banyak memberikan larangan kepada anak, bukan begitu, Bunda? Misalnya, mengatakan "Jangan lakukan itu!" tanpa menjelaskan apa yang semestinya dilakukan.
Guru prasekolah biasanya sudah terbiasa melakukan perihal ini, Bunda. Mereka tidak hanya melarang saja, tapi juga memberi contoh perilaku yang lebih tepat. Mereka tidak mengatakan, "Berhenti membikin bunyi keras!", tapi mereka mengatakan, "Gunakan bunyi pelan, ya" agar anak tahu perilaku yang diharapkan.
Menurut Megan Gunnar, ketika anak sedang merasa kesal, menanyakan langsung apa yang sedang terjadi itu tidak selalu mudah. Mereka biasanya belum bisa menjelaskan perasaannya dengan jelas.
"Ketika seorang anak merasa stres dan kesal, menanyakan apa yang salah bisa jadi agak susah lantaran terkadang mereka sendiri tidak betul-betul tahu apa yang salah," tuturnya.
Nah, saat emosi anak sedang naik, pendekatan yang lembut sangat dibutuhkan, Bunda. Salah satunya dengan membujuk anak untuk duduk berbareng dan mengatur napas perlahan.
Setelah anak lebih tenang, Bunda dan Ayah bisa mulai mendengarkan apa yang sedang mereka rasakan. Tidak hanya itu, orang tua juga sebaiknya menyesuaikan jawaban dengan langkah berpikir anak.
"Hal lain yang menurut saya sangat krusial untuk diingat oleh orang tua adalah saat anak bertanya, kita sering memahaminya dengan langkah berpikir orang dewasa. Misalnya pertanyaan seperti 'Apa yang dilakukan orang jahat itu?', lebih baik orang tua menjawab dengan membujuk anak berpikir, seperti, 'Menurut kamu, apa yang sebenarnya terjadi?'" jelas Megan.
"Jadi, orang tua memberikan jawaban sesuai dengan pemahaman mereka, bukan perihal besar yang mungkin jauh di luar apa yang mereka pikirkan," sambungnya.
Itulah penjelasan tentang stres sejak mini yang rupanya bisa mengubah langkah otak anak memproses emosi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·