Jakarta -
Preeklamsia tetap menjadi salah satu komplikasi kehamilan yang bisa membahayakan ibu dan janin. Preeklamsia dapat ditandai dengan peningkatan tekanan darah ibu mengandung mencapai 140/90 mmHG.
Sejauh ini, pengobatan preeklamsia berfokus pada pencegahan komplikasi yang merugikan ibu dan bayi. Penatalaksanaan pengobatan juga menyesuaikan dengan indikasi yang dialami ibu hamil.
Studi terbaru temukan obat untuk preeklamsia
Sudah banyak penelitian mencoba mencari pengobatan yang kondusif untuk preeklamsia, Bunda. Baru-baru ini, studi yang dilakukan para peneliti dari Cedars-Sinai Health Sciences University telah sukses menguji pengobatan baru untuk ibu mengandung dengan preeklamsia awal yang parah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi internasional tahap awal ini diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine. Dilansir laman MedicalXpress, studi ini berfokus pada penghapusan protein rawan dari darah ibu. Metode yang diuji oleh para peneliti ini terbukti kondusif untuk memperpanjang kehamilan dan memberi bayi lebih banyak waktu untuk berkembang sebelum lahir.
"Bahkan beberapa hari tambahan di dalam rahim dapat membikin perbedaan yang berfaedah dalam hasil bagi bayi prematur," kata guru besar kedokteran dan kepala di Renovascular Research Center and the Medallion Chair di Vascular Biology, Cedars-Sinai, Ananth Karumanchi, MD.
"Kami menemukan langkah yang berpotensi memberikan waktu tambahan itu dengan aman. Pendekatan kami dapat mengubah langkah kita menangani preeklamsia dini," sambungnya.
Pendekatan pada studi ini berfokus pada protein yang disebut sFlt-1, yang diproduksi oleh plasenta dan diketahui dapat merusak pembuluh darah serta memicu indikasi preeklamsia. Para peneliti merekayasa protein imun unik yang dapat mengikat sFlt-1 dan memasukkannya ke dalam perangkat penyaring darah.
Melalui proses yang disebut aferesis ekstrakorporeal (mirip dengan dialisis ginjal), peneliti bisa menyaring darah ibu dan menghilangkan kelebihan sFlt-1 tanpa memengaruhi komponen darah krusial lainnya.
Pengobatan tersebut dievaluasi pada 16 ibu hamil. Hasilnya, tekanan darah mereka membaik, bayi di dalam kandungan terus tumbuh normal selama pengobatan, dan mereka bisa tetap mengandung rata-rata selama 10 hari tambahan, alias lebih dari dua kali lipat waktu yang terlihat pada pasien tidak diobati.
"Saat ini, satu-satunya langkah untuk menyembuhkan preeklamsia dan melindungi nyawa serta kesehatan ibu adalah dengan melahirkan bayi," kata mahir dalam bagian kedokteran ibu dan janin serta ketua Departemen Obstetri dan Ginekologi di Cedars-Sinai, Sarah Kilpatrick, MD, Ph.D.
"Hal itu menempatkan bayi prematur pada akibat tinggi. Pendekatan ini dapat memberikan elastisitas lebih kepada master dalam menangani kasus-kasus berisiko tinggi ini."
Para peneliti mengatakan bahwa pengobatan ini juga patut diberikan perhatian lantaran dapat menghilangkan aspek rawan daripada memperkenalkan obat baru, yang berpotensi mengurangi akibat pengaruh samping. Namun, peneliti mencatat bahwa meskipun studi mini ini menunjukkan hasil positif, pengobatan tetap berkarakter eksperimental dan perlu diuji dalam uji klinis yang lebih besar.
"Tujuan kami adalah untuk secara langsung menargetkan salah satu akar penyebab preeklamsia," kata salah satu penulis utama studi tersebut, Ravi Thadhani, MD, MPH.
"Dengan menurunkan sFLt-1, kami bisa menstabilkan pasien dan memperpanjang kehamilan, sebuah langkah maju yang berarti dan menggembirakan," lanjutnya.
Demikian hasil studi terbaru tentang temuan obat preeklamsia yang kondusif untuk ibu hamil. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·