Koneksi antara ibu dan bayi memang sangat lekat ya, Bunda. Bahkan, studi mengungkap partikel mini dalam ASI bisa membawa sinyal stres ibu ke otak bayi.
Saat merawat bayi, mungkin Bunda kerap merasakan ketika hati sedang gundah, cemas, stres, kondisi Si Kecil rasanya ikut rewel enggak karuan. Padahal, harusnya bayi baik-baik saja lantaran tetap minum ASI dan belum banyak pergerakan.
Tetapi kenyataannya, seperti ada hubungan yang tersalurkan dari kondisi ibu kepada Si Kecil sehingga apa yang ibu rasakan seperti juga dirasakan bayinya. Termasuk, ketika ibu sedang merasa stres, cemas, dan lainnya.
Seperti diketahui rupanya ketika orang tua mengalami jangkitan saat menyusui, tubuh mereka sebenarnya dapat mengirimkan sinyal stres biologis ke bayi baru lahir melalui partikel mini yang tersembunyi dalam ASI. Sebuah studi baru-baru ini mengungkapkan bahwa memodifikasi lingkungan orang tua agar lebih menarik dan suportif dapat memblokir sinyal stres ini, melindungi perkembangan otak bayi dan perilakunya di masa depan, dalam penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Molecular Psychiatry.
Ya, ASI memang menyediakan lebih dari sekadar kalori dan nutrisi dasar. Sedianya, ASI mengandung beragam macam hormon, sel imun, dan gelembung mikroskopis yang disebut vesikel ekstraseluler. Paket-paket mini ini terbungkus membran dan berfaedah seperti pengantar surat biologis. Mereka melakukan perjalanan dengan kondusif melalui lingkungan usus bayi yang keras, memasuki aliran darah, dan melepaskan materi genetik di jaringan yang jauh.
Di dalam vesikel-vesikel ini terdapat molekul pengatur yang dikenal sebagai mikroRNA. Untuk memahami mikroRNA, kita dapat memandang gimana sel berfaedah secara normal dengan afinitas sederhana. Dalam perihal ini, DNA pasien bertindak sebagai kitab pedoman utama, berisi cetak biru untuk menjaga tubuh tetap hidup. Ketika sel perlu berfungsi, dia menciptakan RNA messenger untuk membawa petunjuk tersebut ke pabrik seluler yang membangun protein.
MikroRNA adalah potongan mini kode genetik yang bertindak seperti saklar peredup, menempel pada RNA messenger dan menghentikannya dari membangun protein. Karena mereka menghentikan fase konstruksi, proses ini dikenal sebagai izin pasca-transkripsi. Dengan mengirimkan mikroRNA ini kepada bayi, vesikel susu dapat mengaktifkan alias menonaktifkan kegunaan seluler tertentu dalam tubuh yang sedang berkembang.
Para intelektual memahami bahwa penyakit ibu selama kehamilan dapat mengubah perkembangan otak janin. Meski demikian, tetap kurang diketahui tentang gimana jangkitan selama periode menyusui pascanatal dapat mengubah pesan genetik yang diteruskan melalui susu. Julia Martz dari Massachusetts College of Pharmacy and Health Sciences, Baila Hammer dari Touro University, dan tim koleganya mulai menyelidiki dinamika ini.
Sejauh ini, para peneliti mau memandang apakah tantangan imun pada induk yang menyusui dapat mengubah komposisi ASI cukup untuk mengubah lintasan otak bayi.
Mereka juga mau mengetahui apakah lingkungan hidup yang lebih baik dapat melindungi ibu dan bayi dari perubahan biologis ini. Untuk menguji perihal ini, para peneliti membagi tikus menyusui menjadi dua kondisi hidup yang berbeda. Setengah dari hewan tersebut hidup di kandang laboratorium standar, sementara separuh lainnya hidup di lingkungan yang diperkaya dengan ruang ekstra, struktur panjat, dan mainan.
Pada hari kesepuluh menyusui anak-anaknya, separuh dari induk di setiap golongan menerima suntikan komponen kuman yang dikenal sebagai lipopolisakarida. Komponen ini berasal dari kuman Escherichia coli. Ini tidak menyebabkan jangkitan sungguhan, tetapi menipu tubuh untuk merasakan adanya penyerang, memicu peradangan sementara dan perilaku sakit ringan seperti lesu. Para peneliti sering menggunakan unsur ini lantaran menciptakan respons imun yang dapat diprediksi dan seragam tanpa variabel kacau dari patogen hidup yang bereplikasi.
Induk yang tersisa menerima suntikan plasebo saline yang tidak berbahaya. Dua jam kemudian, para peneliti mengumpulkan susu dari semua golongan eksperimen. Mereka menggunakan sentrifugasi berkecepatan tinggi untuk mengisolasi vesikel ekstraseluler dari susu dan mengurutkan muatan genetik yang tersembunyi di dalamnya seperti dikutip dari laman Psypost.
Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa jangkitan simulasi sangat mengubah komposisi susu. Tidak hanya kandungan lemak susu yang menurun, tetapi kadar hormon stres yang disebut kortikosteron juga meningkat. Di luar nutrisi dasar, tantangan imun juga mengubah profil mikroRNA yang dikemas dalam vesikel susu.
Efek ini sebagian besar terlihat pada induk yang ditempatkan di kandang standar. Bagi induk-induk ini, tantangan imun menghasilkan puluhan mikroRNA yang berubah dibandingkan dengan golongan kontrol yang sehat. Lingkungan yang diperkaya memberikan pengaruh perlindungan yang kuat terhadap hasil ini. Induk yang sakit yang hidup di lingkungan yang kompleks mengalami perubahan yang jauh lebih sedikit pada muatan genetik susu mereka, dan kandungan lemak susu mereka tetap normal.
Para peneliti kemudian mengawasi otak anak-anak anjing yang menyusu, khususnya berfokus pada hipokampus. Hipokampus adalah struktur otak yang terletak jauh di dalam lobus temporal, dan sangat mengatur pembelajaran, memori, dan pemrosesan emosi. Seperti halnya vesikel susu, anak-anak anjing yang menyusu dari induk yang sakit dan dipelihara di kandang standar menunjukkan perubahan profil mikroRNA di hipokampus mereka.
Dalam banyak kasus, mikroRNA spesifik yang berubah di otak bayi cocok dengan yang ditemukan dalam ASI induk. Tumpang tindih ini menunjukkan bahwa vesikel susu mungkin mencapai otak untuk menyimpan petunjuk mereka, alias setidaknya memicu reaksi berantai.yang mengubah kimia otak bayi. Sama seperti sampel ASI, anak tikus yang menyusu dari induk yang ditempatkan di lingkungan yang diperkaya sebagian besar terhindar dari perubahan genetik yang meluas ini.
Pergeseran genetik ini mempunyai akibat perilaku yang memperkuat lama bagi hewan yang sedang berkembang. Ketika anak tikus tumbuh dewasa, mereka menjalani pengetesan perilaku. Salah satu pengetesan melibatkan penempatan tikus di arena terbuka yang terang untuk mengukur kecemasan. Hewan yang merasa resah condong menempel di dinding, sementara hewan yang lebih rileks bakal bebas menjelajahi bagian tengah yang terbuka.
Pengujian kedua mengevaluasi seberapa besar hewan lebih suka berinteraksi dengan tikus baru yang tidak dikenal dibandingkan dengan barang mati. Jenis pengetesan preferensi sosial ini membantu peneliti mengukur keahlian bersosialisasi dan tonggak perkembangan pada hewan pengerat.
Dalam pengetesan tersebut, anak tikus dewasa dari induk yang sakit dan ditempatkan di kandang standar menunjukkan tingkat perilaku mirip kekhawatiran yang lebih tinggi di arena terbuka, dan mereka juga menunjukkan preferensi yang berkurang untuk bersosialisasi dengan tikus lain.
Ternyata, ruang hidup yang diperkaya sepenuhnya mencegah perubahan perilaku dewasa ini. Meskipun induk di kandang yang diperkaya mengalami tantangan imun yang sama persis, anak tikus dewasa mereka berperilaku sama seperti golongan kontrol yang sehat. Para peneliti juga mencatat bahwa hormon stres ibu tidak dapat menjelaskan pengamanan perilaku ini. Kadar kortikosteron susu tetap tinggi apalagi pada induk yang berada di kandang yang diperkaya, yang berfaedah muatan vesikel yang terlindungi lebih mungkin menjadi sumber penyangga perilaku.
Para peneliti mencatat bahwa ini adalah studi kecil, menggunakan tujuh alias delapan golongan anak tikus per kondisi pengujian, dengan total sekitar tiga puluh golongan anak tikus. Ukuran sampel ini membawa beberapa keterbatasan yang melekat.
Sementara itu, komposisi susu berubah terus-menerus sepanjang waktu menyusui alami dan beradaptasi dengan kebutuhan harian bayi yang sedang tumbuh. Karena percobaan ini hanya mengambil sampel susu selama jendela dua hari yang sempit di tengah fase laktasi, tetap belum diketahui gimana tahap awal alias akhir menyusui dapat merespons stres imun.
Selain itu, keterbatasan lain melibatkan jalur bentuk pasti dari muatan genetik. Meskipun para peneliti menemukan mikroRNA yang cocok dalam ASI dan otak bayi, mereka tidak secara visual melacak perjalanan bentuk vesikel tersebut. Sangat mungkin vesikel ASI bertindak secara tidak langsung di dalam tubuh. Misalnya, vesikel tersebut dapat mengubah kuman usus bayi, yang pada gilirannya mengirimkan sinyal yang memengaruhi hipokampus.
Studi di masa mendatang perlu menggunakan penanda fluoresen untuk melacak secara tepat ke mana vesikel ibu ini bergerak di dalam tubuh bayi. Komponen lain dari ASI, seperti lemak struktural dan protein imun, mungkin juga bekerja berbareng mikroRNA untuk membentuk perkembangan otak bayi. Mengisolasi variabel mikroskopis ini memerlukan sumber daya dan waktu yang sangat besar.
Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan yang tetap terbuka ini, temuan tersebut menunjukkan hubungan bentuk yang sangat kuat antara lingkungan pengasuh dan kualitas biologis perawatan mereka ke depannya.
Dengan mendukung orang tua yang menyusui dengan kondisi lingkungan yang lebih baik dan mengurangi stres harian mungkin lebih dari sekadar meningkatkan suasana hati mereka, perihal itu dapat secara langsung membentuk petunjuk genetik yang diturunkan ke generasi berikutnya, serta membangun otak bayi yang lebih tangguh.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·