Tafsir Surah An-Nazi’at (Bag. 5): Keadaan Akhir Manusia di Hari Kiamat

Akidah dan Sunnah Jun 20, 2026 11:00 AM 47744

Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelumnya telah menjelaskan pembuatan langit dan bumi, serta beragam keajaiban buatan dan pengaturan. Penyebutan beragam perihal tersebut untuk menunjukkan dalil adanya hari hariakhir yang dapat direnungkan oleh akal. Allah bisa menciptakan langit dan bumi dari ketiadaan, maka Allah juga bisa menghancurkan dan menghidupkannya kembali.

Kemudian di ayat-ayat setelahnya, Allah menjelaskan secara nyata tentang apa saja yang terjadi di hari kiamat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰى

“Maka, andaikan malapetaka terbesar (hari kiamat) telah datang.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 34)

Kiamat adalah suatu musibah dan kehancuran yang sangat besar. Ketika hari hariakhir datang, kengeriannya meliputi segala sesuatu di alam ini, jauh melampaui musibah apapun yang pernah terjadi.

قال ابن عباس: هي القيامة سميت بذلك لأنها تطم على كل أمرٍ هائل مفظع

“Ibnu Abbas menjelaskan bahwa hari hariakhir disebut sebagai at-thaammah lantaran kedahsyatan huru-hara hariakhir tersebut bakal menutupi dan mengalahkan segala corak perkara mengerikan dan musibah apapun yang pernah dialami manusia selama di dunia.” (Shafwatut Tafasir, 3: 491)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَوْمَ يَتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ مَا سَعٰى

“Pada hari (itu) manusia terkenang apa yang telah dikerjakannya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 35)

Manusia pada hari itu terkenang dengan semua kebaikan alias keburukan yang telah dia kerjakan di dunia, dirinya memandang amal-amal tersebut sudah tersusun rapi dalam catatan kebaikan malaikat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَبُرِّزَتِ الْجَحِيْمُ لِمَنْ يَّرٰى

“Dan (neraka) Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang yang melihat(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 36)

Ulama berbeda pendapat tentang siapa yang bakal memandang neraka di hari itu. Al-Qurthubi Al-Maliki rahimahullah memberikan penjelasan tentang ayat ini,

وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ أَيْ ظَهَرَتْ. لِمَنْ يَرى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: يُكْشَفُ عَنْهَا فَيَرَاهَا تَتَلَظَّى كُلُّ ذِي بَصَرٍ. وَقِيلَ: الْمُرَادُ الْكَافِرُ لِأَنَّهُ الَّذِي يَرَى النَّارَ بِمَا فِيهَا مِنْ أَصْنَافِ الْعَذَابِ. وَقِيلَ: يَرَاهَا الْمُؤْمِنُ لِيَعْرِفَ قَدْرَ النِّعْمَةِ وَيُصْلَى الْكَافِرُ بِالنَّارِ

“Neraka muncul dan diperlihatkan bagi orang-orang yang dikehendaki melihatnya. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa neraka bakal ditampakkan sehingga terlihat jelas lagi menyala-nyala bagi setiap pihak yang mempunyai penglihatan. Sebagian pendapat mengatakan bahwa yang memandang neraka dan beragam siksa di dalamnya hanyalah orang-orang kafir. Namun, sebagian ustadz beranggapan bahwa kaum mukminin juga memandang neraka agar semakin besar rasa syukur mereka lantaran telah diselamatkan dari neraka dan memandang kesudahan orang kafir di neraka.” (Tafsir Al-Qurthubi Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 19: 207)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاَمَّا مَنْ طَغٰى

“Adapun orang yang melampaui batas.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 37)

Melampaui pemisah yang ditetapkan oleh Allah, ketika makhluk mempunyai batas sebagai hamba dari Allah Ta’ala, bakal tetapi mereka terjang dan robek pemisah tersebut dan menyerahkan penyembahan mereka kepada selain Allah.

Mereka juga melampaui batas dalam kehidupan berbareng makhluk lain. Allah telah menggariskan batas dengan makhluk lain dengan tidak saling menzalimi. Akan tetapi, mereka juga merusak pemisah ini dengan saling membunuh tanpa argumen yang dibenarkan, menyantap kekayaan orang lain dengan saling menipu, menghancurkan kehormatan rumah tangga orang lain, dan perbuatan kejam lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا

“Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 38)

Mereka menjadikan bumi sebagai tujuan utama dan puncak cita-citanya. Pikiran, tenaga, dan waktu mereka lenyap hanya untuk menumpuk harta, mengejar jabatan, dan memuaskan hawa nafsu kebinatangan. Ketika terjadi tumbukan antara perintah Allah (urusan akhirat) dan kepentingan pribadi (urusan dunia), mereka tanpa ragu memilih untung duniawi yang bisa sigap didapatkan. Mereka meninggalkan kewajiban, meninggalkan salat, korupsi, menyantap kekayaan haram, dan melanggar hukum demi untung duniawi yang remeh temeh.

Lebih mengerikannya lagi, orang kafir merasa bakal hidup kekal di dunia, mereka hidup seolah-olah tidak bakal pernah meninggal dan tidak percaya (atau percaya namun abai) bahwa setiap perbuatan di bumi bakal dimintai pertanggungjawaban di alambaka kelak.

Pada ayat 37 dan 38, Allah sebutkan secara dunia tentang kriteria penunggu neraka. Sehingga wajib bagi kita untuk muhasabah dan mengecek kehidupan keseharian kita, apakah perilaku kita dekat dan mirip dengan perilaku orang-orang kafir calon penunggu neraka tersebut ataukah tidak?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰى

“Sesungguhnya (neraka) Jahimlah tempat tinggal(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 39)

Neraka Jahim menjadi tempat tinggal kekal mereka, tidak ada tempat lain untuk mereka tinggal alias sekedar beristirahat dari kejamnya siksa neraka, 24 jam mereka disiksa tanpa pernah libur.

Tidak mungkin pula mereka bisa “menyuap” malaikat penjaga neraka sebagaimana yang bisa dilakukan di dunia. Karena pada hari itu, kekayaan sudah tidak berguna, serta para malaikat senantiasa menjalankan perintah Allah tanpa bisa diganggu gugat.

Penghuni neraka juga tidak bisa memelas kesakitan mencari empati dari malaikat yang keras dan siksaannya mengerikan. Seberapapun mereka memelas kesakitan, api bakal tetap membakar mereka setiap saat, selama-lamanya. Hal yang sangat mengerikan, apalagi untuk sekedar dibayangkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى

“Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 40)

Setelah Allah menyebut sifat-sifat penunggu neraka yang membikin kita bercermin, apakah sifat ini ada pada diri kita (tujuannya adalah agar kita jauhi), maka Allah melanjutkan dengan menyebut kebalikanya. Yaitu kriteria para penunggu surga yang kekal abadi, sebagai corak motivasi beramal agar kita bisa seperti mereka.

Ada dua sifat yang Allah sebutkan: pertama berangkaian dengan rasa takut mereka kepada Allah, ini adalah dimensi hati dan keimanan. Rasa takut ini sangat berangkaian dengan sifat kedua, ialah mengerem diri mereka dari melakukan kemaksiatan yang didasari atas syahwat kebinatangan yang ada pada diri.

Keduanya sangat bertalian erat. Allah sebutkan rasa takut terlebih dulu lantaran itu adalah asas. Ketika jiwa takut kepada Allah, maka pasti dia bisa mengerem dirinya dari maksiat. Adapun jika rasa takut hilang, merasa tidak diawasi oleh Allah, serta merasa Allah tidak mendengar apa yang dia ucapkan, maka pastilah bakal mudah baginya melakukan beragam macam maksiat, meskipun tahu bahwa itu adalah perihal terlarang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰى

“Sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 41)

Tempat tinggal mereka adalah surga Allah, suatu tempat yang penuh kenikmatan yang kekal abadi. Jagalah dua sifat di atas, maka engkau bakal beristirahat di surga Allah.

Setelah Allah sebutkan sifat penunggu neraka dan surga, Allah kembali membahas kebobrokan iktikad orang musyrik yang mempertanyakan kapan hariakhir itu terjadi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَا

“Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari kiamat, “Kapankah terjadinya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 42)

Setiap hari, Rasulullah memperingatkan manusia tentang bakal datangnya kiamat, serta memerintahkan untuk bersiap-siap. Namun, Nabi tidak pernah menunjukkan kapan itu terjadi, lantaran Nabi tidak mengetahui.

Orang-orang musyrik yang kurang ajar semakin menjadi-jadi keburukannya, sehingga mereka meledek Nabi dengan mengatakan, “Kapan hariakhir itu terjadi? Sudah lama engkau bercerita, setiap hari engkau menakuti kami, tapi kapan terjadinya? Kalau memang betul pasti terjadi, maka segera katakan kapan terjadinya.” Pertanyaan lantaran jengah dan bersuara menghina.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فِيْمَ اَنْتَ مِنْ ذِكْرٰىهَا

“Untuk apa engkau perlu menyebut (waktu)-nya?” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 43)

Allah menjelaskan bahwa Nabi tidak mengetahui kapan itu terjadi, lantaran hariakhir adalah rahasia besar Allah bagi para makhluk, tidak ada satupun makhluk yang mengetahui. Hikmahnya agar kita bersiap-siap, tidak berleha-leha, dan tidak meremehkannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اِلٰى رَبِّكَ مُنْتَهٰىهَا

“Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahan (ketentuan waktu)-nya.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 44)

Hanya Allah yang mengetahui kapan waktu tepatnya kiamat, sedang Nabi hanya diberikan tanda-tanda dekatnya saja.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اِنَّمَآ اَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَّخْشٰىهَا

“Engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan kepada siapa yang takut padanya (hari kiamat).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 45)

Allah memihak Nabi dari pertanyaan kurang ajar yang mempertanyakan kapan kiamat, bahwasanya tugas Nabi hanyalah memberikan peringatan untuk bersiap-siap menghadapi kiamat. Peringatan ini ditujukan bagi orang yang mempunyai rasa takut saat berada di persidangan Allah, merasa takut tidak bisa bertanggung jawab dengan baik atas kehidupannya di dunia.

Secara khusus, Allah sebutkan peringatan bagi orang yang takut. Hal ini lantaran peringatan hanya berfaedah bagi mereka. Mereka bakal mempersiapkan diri. Sedangkan orang yang tidak takut bakal acuh, memandangnya dengan pandangan sinis, apalagi menghina orang yang memperingatkan bakal datangnya kiamat, dimana perihal ini banyak terjadi di era kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا عَشِيَّةً اَوْ ضُحٰىهَا

“Pada hari ketika melihatnya (hari hariakhir itu), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar) tinggal (di dunia) pada waktu petang alias pagi.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 46)

Ketika datang hari kiamat, orang kafir merasa hanya tinggal sejenak saja di dunia.

Tidak perlu jauh memandang hari kiamat, kita yang saat ini berada di umur mungkin 40 tahun, 50 tahun, alias mungkin 80 tahun ketika membaca tafsir ini, kemudian mengingat kembali masa mini kita, ketika orang tua tetap hidup, ketika tetap muda, kita bakal merasa waktu berlalu sangatlah cepat. Seakan baru kemarin kita lalui hari-hari yang telah lewat, tidak terasa kita telah berada di hari ini, mungkin sudah di ujung umur kita, semua terasa cepat, tiba-tiba saja kita wafat, lampau tiba-tiba saja kita kudu mempertanggungjawabkan kehidupan kita.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan kepada kita.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 4

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

Mayoritas cetakan dan laman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/

Selengkapnya
Tafsir Surah An-Nazi’at (Bag. 5): Keadaan Akhir Manusia di Hari Kiamat
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting