Jakarta -
Saat Si Kecil lahir, tangisannya tentu membawa kebahagiaan tersendiri bagi Bunda. Tak hanya menjadi tanda bahwa paru-parunya berfaedah dengan baik, tangisan bayi juga membantu merangsang tubuh ibu untuk memproduksi ASI, lho.
Mungkin, tidak banyak Bunda yang menyadari emosi ini. Namun, di sinilah tangisan bayi membawa perubahan pada tubuh Bunda, sejak hari pertamanya.
Proses alami dari tubuh ini melibatkan kerja sama antara otak dan hormon dalam tubuh Bunda. Saat mendengar tangisannya, otak bakal mengirimkan sinyal yang memicu pergerakan dalam proses pengeluaran ASI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nantinya, hormon tersebut berkedudukan dalam proses menyusui, baik untuk membantu pengeluaran ASI maupun mendukung ibu yang menghadapi kesulitan menyusui. Tentunya, proses ini berjalan secara alami sebagai corak respons tubuh ibu terhadap kebutuhan bayinya.
Bagaimana tangisan bayi memicu pengeluaran ASI?
Penjelasan mengenai perihal tersebut dibahas melalui studi yang dilakukan oleh NYU Grossman School of Medicine. Para peneliti menemukan bahwa tangisan bayi bisa merangsang pengeluaran ASI secara alami dari tubuh ibu.
Dijelaskan dalam studi yang dipublikasi jurnal Nature ini bahwa saat bayi menangis, bunyi tersebut bakal diproses oleh sebuah bagian otak ibu yang berfaedah sebagai pusat sensorik. Dari sini, sinyal kemudian dikirim ke hipotalamus, bagian otak yang mengatur hormon.
Respons ini dapat memicu pelepasan oksitosin, sebuah hormon yang membantu ASI keluar agar Si Kecil dapat segera menyusu. Menariknya, lonjakan hormon ini dapat berjalan sekitar lima menit, yang mana cukup untuk membantu bayi dapatkan ASI yang dibutuhkannya.
“Tangisan bayi membantu mempersiapkan otak ibu, sehingga tubuhnya siap untuk menyusui. Tanpa persiapan, jarak beberapa menit antara bayi mulai mengisap dan keluarnya ASI berpotensi membikin bayi frustrasi dan orang tua menjadi stres,” kata penulis utama studi, Habon Issa, dikutip dari laman Earth.
Dampak hormon oksitosin pada tubuh Bunda yang sedang menyusui
Penelitian ini juga menemukan bahwa tubuh ibu mempunyai sistem otomatis untuk menjaga pasokan ASI. Karenanya, ASI Bunda tidak bakal keluar terus-menerus tanpa argumen alias saat Si Kecil sedang tidak menyusu, selain memang pasokan ASI sedang berlebih.
Namun, jika bayi menangis cukup lama, sekitar 30 detik alias lebih, sinyal di otak bakal semakin kuat hingga melewati pemisah tersebut. Inilah yang kemudian memicu tubuh melepaskan hormon oksitosin, Bunda.
Selain itu, perihal menarik lainnya dari temuan ini adalah para peneliti menyebut bahwa respons tersebut tidak hanya berangkaian dengan produksi ASI. Mereka mengatakan hormon oksitosin juga membantu meningkatkan beberapa hal, sebagai berikut:
- Meningkatkan perhatian Bunda kepada bayi
- Memperkuat ikatan emosional (bonding)
- Membuat Bunda tetap responsif, sekalipun saat lelah
“Hasil ini menunjukkan bahwa respons otak terhadap tangisan bayi tidak hanya berkedudukan dalam proses menyusui, tetapi juga membantu ibu tetap konsentrasi dan responsif dalam merawat anaknya, apalagi saat merasa lelah.” jelas penulis senior studi tersebut, Dr. Robert C. Froemke.
Demikian penjelasan mengenai gimana tangisan bayi dapat memicu respons hormon di tubuh ibu dalam membantu proses menyusui. Semoga info ini bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·