Terbukti Di 10 Anak, Pakar Ungkap 10 Cara Agar Anak Mau Terbuka Ke Orang Tua

Jun 17, 2026 09:10 PM - 1 hari yang lalu 2240

Jakarta -

Memasuki masa remaja, banyak orang tua yang merasa hubungan dengan anak berubah. Bunda menyadari anak yang sebelumnya banyak bercerita sekarang lebih sering menyimpan perasaannya sendiri.

Masa remaja memang menjadi tahap ketika anak mulai mencari jati dirinya, Bunda. Maka dari itu, langkah anak berkomunikasi dengan orang tua pun bisa berbeda dibandingkan saat mereka tetap kecil.

Meski tampak menjaga jarak, bukan berfaedah anak tidak lagi memerlukan orang tuanya, ya. Banyak remaja tetap mau didengar, hanya saja mereka memerlukan 'ruang' agar merasa nyaman untuk berbagi cerita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Menurut seorang terapis family dan pembimbing pengasuhan anak asal Amerika Serikat, Suzanne Rea, remaja sebenarnya tetap mau berbincang dengan orang tua mereka.

"Remaja mau berbincang dengan orang tua mereka, tetapi hanya ketika mereka merasa aman," kata Suzanne Rea, dikutip dari The Times of India.

Rea menjelaskan bahwa remaja tidak selalu berupaya menjauh dari orang tua. Sebaliknya, mereka sedang mencari ruang di mana mereka kondusif secara emosional untuk mengungkapkan perasaannya.

Berdasarkan pengalamannya, Rea juga mengungkap bahwa ada sejumlah langkah yang dapat membantu anak lebih terbuka kepada orang tua. Berikut simak selengkapnya.

Dikutip dari laman The Times of India, master menyebut ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar anak lebih mau terbuka kepada orang tua. Simak selengkapnya berikut ini:

1. Tidak bereaksi berlebihan saat anak bercerita

Menurut Rea, reaksi orang tua yang terlalu emosional kerap membikin anak ragu untuk terbuka. Bagi remaja, mereka bisa merasa terbebani jika kudu menghadapi reaksi yang berlebihan dari orang tua.

Saat situasi ini terjadi, anak jadi lebih memilih tak bersuara dan menyimpan ceritanya sendiri, Bunda. Padahal, mereka sebenarnya hanya butuh didengarkan saja. Karena itu, orang tua sebaiknya berupaya tetap tenang saat anak mulai bercerita.

2. Memberi ruang dengan bertanya sebelum memberi nasihat

Banyak orang tua yang merasa mau langsung membantu saat anak sedang punya masalah, bukan begitu, Bunda? Rea menyarankan sebaiknya orang tua tidak langsung memberikan nasihat tanpa izin terlebih dahulu.

Bunda cukup tanyakan apakah anak memang mau didengarkan alias butuh masukan. Pertanyaan seperti "apakah Anda mau pendapatku?" dapat membikin anak merasa lebih dihargai.

Jika mereka menjawab tidak, orang tua sebaiknya menahan diri meski terasa susah dilakukan.

3. Tidak mengalihkan cerita anak menjadi tentang orang tua

Dalam menjalani peran sebagai orang tua, kita mungkin sering ikut bercerita tentang pengalaman pribadi saat anak mulai terbuka. Namun, menurut Rea, langkah ini tidak selalu membantu anak merasa didengar.

Terkadang, justru konsentrasi percakapan bergeser dari cerita anak menjadi pengalaman orang tua.

"Sering kali perihal itu berubah menjadi tentang pengalaman Anda dan bukan pengalaman mereka," ujar Rea.

Maka dari itu, anak lebih butuh didengarkan terlebih dulu tanpa langsung dibandingkan dengan pengalaman lain. Cukup datang dan mendengarkan dengan tenang sudah jadi corak support terbaik bagi anak.

4. Menjaga privasi cerita anak

Privasi menjadi perihal krusial terhadap rasa percaya anak kepada orang tua. Bunda perlu tahu bahwa anak remaja sangat sensitif terhadap hal-hal yang berkarakter pribadi.

Saat anak mulai terbuka, mereka berambisi ceritanya cukup diketahui dalam lingkup family saja. Jika cerita itu tersebar ke orang lain, anak bisa merasa tidak nyaman dan mulai menutup diri.

5. Selalu datang untuk anak dalam situasi apa pun

Menurut terapis Rea, orang tua tetap kudu menunjukkan bahwa mereka ada untuk anak dalam kondisi apa pun. Hal ini tentu krusial agar anak merasa tidak sendirian saat menghadapi masalah.

Memang, setiap kesalahan tetap bisa mempunyai akibat yang perlu dipahami anak. Namun, di saat yang sama, kejujuran tetap kudu dihargai agar anak tidak takut untuk terbuka.

6. Berusaha memahami perspektif pandang anak

Memahami anak tidak selalu berfaedah orang tua kudu setuju dengan semua yang mereka lakukan. Hal yang paling krusial adalah mencoba memandang dari sisi pandang anak agar percakapan tetap melangkah dengan baik.

Pada masa remaja, anak sedang belajar membentuk pendapat, identitas, dan langkah berpikirnya sendiri. Saat anak tetap diterima meski tidak selalu disetujui, mereka bakal lebih nyaman untuk terbuka, Bunda.

7. Mengajukan pertanyaan dengan sikap penuh mau tahu

Selanjutnya, orang tua perlu berhati-hati agar langkah bertanya tidak berubah menjadi seperti menginterogasi anak. Ada perbedaan lembut antara menunjukkan perhatian dan membikin anak merasa tertekan.

Saat rasa mau tahu itu diungkapkan dengan langkah yang tepat, anak bakal lebih mudah terbuka dan mau bercerita. Namun jika pertanyaan terasa seperti curiga, anak justru bisa menarik diri.

"Rasa mau tahu mengundang kejujuran. Interogasi mengundang sikap defensif," kata Rea.

8. Menyikapi kesalahan anak dengan lebih bijak

Dalam proses tumbuh kembang remaja, kesalahan adalah perihal yang cukup wajar terjadi. Kita dapat menemui momen ketika anak melakukan sesuatu yang perlu diarahkan dengan lebih bijak.

Namun, langkah orang tua merespons kesalahan ini sangat berpengaruh pada keberanian anak untuk terbuka. Jika terlalu sigap membatasi, anak bisa merasa takut untuk jujur di kemudian hari.

"Jika setiap kesalahan berujung pada kontrol yang lebih besar, mereka bakal menyembunyikan kesalahan itu di lain waktu," ujar Rea.

9. Berani mengakui kesalahan di hadapan anak

Remaja sebenarnya sangat memperhatikan gimana orang tua bersikap saat melakukan kesalahan. Anak juga berambisi orang tua bisa menunjukkan sikap yang sama, ialah berani mengakui jika ada kesalahan.

Saat orang tua meminta maaf, anak justru belajar banyak perihal dari sikap tersebut. Memperbaiki kesalahan tak jarang lebih memperkuat hubungan dibandingkan sekadar terlihat selalu 'benar'.

10. Membangun percakapan di luar situasi masalah

Berbicara dengan anak sebaiknya tidak hanya muncul saat ada masalah saja. Bunda bisa mulai membiasakan obrolan di keseharian agar hubungan tetap terasa dekat.

Saat hubungan sudah terbangun, anak bakal lebih mudah terbuka ketika menghadapi kesulitan. Mereka jadi merasa bahwa orang tua adalah tempat yang kondusif untuk kembali.

Selain itu, Bunda juga bisa sesekali menikmati waktu berbareng anak tanpa membahas perihal yang berat. Pada dasarnya, remaja tidak selalu menginginkan perihal yang rumit dari orang tua.

Hal yang mereka butuhkan adalah hubungan yang hangat agar bisa saling jujur menyampaikan perasaan.

Itulah penjelasan mengenai beberapa langkah agar anak mau terbuka kepada orang tua menurut pakar. Semoga info ini bisa membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Selengkapnya