Ternyata Nama Bisa Memengaruhi Penilaian Orang terhadap Kepribadian Seseorang

Jul 04, 2026 12:20 PM - 1 bulan yang lalu 29488

Pernahkah Bunda merasa seseorang terlihat ramah, ceria, alias lembut hanya dari mendengar namanya? Meski terdengar seperti sekadar firasat, rupanya kesan pertama terhadap sebuah nama bisa memengaruhi langkah seseorang menilai kepribadian pemiliknya.

Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa bunyi tertentu dalam nama dapat memunculkan persepsi yang berbeda.

Nama dengan pelafalan yang tegas condong diasosiasikan dengan sosok yang lebih supel dan energik, sementara bunyi yang lebih lembut sering dianggap mencerminkan pribadi yang hangat, emosional, alias mudah diajak bekerja sama.


Menariknya, dugaan tersebut bukan berfaedah betul-betul menggambarkan karakter original seseorang. Lantas, gimana menurut penelitian yang ada? Yuk, simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Nama memengaruhi langkah pandang orang terhadap kepribadian pemiliknya

Mengutip dari The British Psychologival Society, sebuah makalah terbaru yang diterbitkan di Journal of Experimental Psychology: General, mengungkap langkah orang menilai kepribadian dari nama.

Penelitian menemukan bahwa sebagian orang kerap mengaitkan bunyi dalam nama dengan sifat-sifat tertentu. Misalnya, nama yang mengandung bunyi K dan T dinilai mempunyai profil yang cukup berbeda dengan nama yang mengandung bunyi N alias L, yang lebih beresonansi.

Sementara itu, penelitian sebelumnya menemukan bahwa orang condong mengaitkan bunyi tertentu dengan corak tertentu. Misalnya, kata “Bouba” dengan corak bulat dan “Kiki” dengan corak runcing.

Peneliti mengungkap bahwa seseorang mungkin juga secara naluriah mengaitkan corak dan bunyi dengan keadaan emosional tertentu.

Hasil penelitian mengenai nama

Para peneliti dari University of Calgary yang dipimpin oleh David Sidhu mau mengetahui apakah orang mengaitkan bunyi dalam sebuah nama dengan perihal yang lebih abstrak, seperti kepribadian.

Secara khusus, mereka meneliti apakah kita condong menilai kepribadian seseorang secara berbeda berasas bunyi pada namanya.

Penelitian ini membandingkan dua jenis bunyi dalam nama. Pertama, sonorant, ialah bunyi yang terdengar lembut dan mengalun, seperti huruf M, L, dan N. Contohnya nama Lauren.

Kedua, voiceless stop, ialah bunyi pendek yang dihasilkan dengan menghentikan aliran udara sesaat saat berbicara, seperti huruf T, K, dan P. Contohnya Katie.

Dalam tiga penelitian, sebanyak 180 peserta diminta memandang beragam sifat kepribadian, seperti giat dan bertanggung jawab (conscientiousness) alias mudah berbaur (extraversion). Bersamaan dengan itu, mereka diperlihatkan nama-nama yang mengandung bunyi sonorant alias vioceless stop.

Pada salah satu penelitian, peserta memandang dua nama sekaligus dan diminta memilih nama yang paling sesuai dengan sifat tertentu.

Dalam penelitian lain, mereka hanya memandang satu nama, lampau menilai seberapa cocok sifat tersebut menggambarkan orang dengan nama itu. Penelitian ketiga menggunakan nama-nama fiktif yang mempunyai bunyi serupa, misalnya Mauren sebagai pengganti Lauren dan Tatie sebagai pengganti Katie.

Hasilnya konsisten. Nama-nama dengan bunyi sonorant, seperti Lauren, lebih sering dinilai sebagai sosok yang ramah, mudah bekerja sama (agreeableness), serta dalam dua penelitian juga dianggap lebih emosional dan bertanggung jawab.

Sebaliknya, nama dengan bunyi voiceless stop, seperti Katie, lebih sering dinilai sebagai orang ekstrovert, energik, dan mudah bersosialisasi.

Alasan seseorang punya langkah pandang berbeda pada nama orang lain

Awalnya, para peneliti menduga mungkin nama seseorang memang mencerminkan kepribadiannya. Untuk mengujinya, mereka meminta lebih dari 1.000 orang mengisi survei kepribadian secara daring. Namun, hasilnya menunjukkan tidak ada hubungan nyata antara bunyi dalam nama seseorang dengan kepribadian aslinya.

Kemungkinan lain adalah lantaran orang sudah mempunyai pengalaman dengan nama tertentu. Misalnya, seseorang pernah berkawan dengan orang berjulukan Lauren yang ramah, sehingga menganggap semua nama Lauren mempunyai sifat serupa.

Namun, dugaan ini juga kurang kuat lantaran pola yang sama tetap muncul ketika peserta menilai nama-nama fiktif yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.

Para peneliti kemudian beranggapan bahwa manusia mungkin telah belajar mengaitkan bunyi tertentu dengan kesan emosional tertentu. Bunyi yang lembut, seperti pada nama Lauren alias Owen, mungkin lebih sering terdengar dalam situasi yang tenang sehingga memunculkan kesan ramah dan dapat dipercaya. Sebaliknya, bunyi yang pendek dan tegas, seperti pada nama Jack alias Katie, dapat memberi kesan seseorang yang lebih aktif, bersemangat, dan ekstrovert.

Meski begitu, para peneliti menegaskan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, bunyi nama kemungkinan hanya memberi kesan awal dan tidak terlalu memengaruhi penilaian kita terhadap seseorang.

Saat mengenal orang lebih jauh, kita tentu bakal mempertimbangkan banyak aspek lain, seperti perilaku, langkah berbicara, dan pengalaman berinteraksi.

Namun, temuan ini bisa berfaedah dalam situasi tertentu. Misalnya, perusahaan dapat mempertimbangkan bunyi sebuah nama saat memberi nama produk agar sesuai dengan gambaran yang mau dibangun, sementara penulis dapat memilih nama tokoh yang bunyinya selaras dengan karakter yang mau ditampilkan.

Nah, itulah penjelasan tentang nama yang memengaruhi penilaian orang terhadap kepribadian pemiliknya. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/rap)

Selengkapnya