Viral Mainan Anak Berupa Jarum Suntik, Ini Bahaya dan Cara Orang Tua Mencegahnya

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 6 menit 61x dilihat
Viral Mainan Anak Berupa Jarum Suntik, Ini Bahaya dan Cara Orang Tua Mencegahnya

Bagikan Postingan

Viral mainan anak berupa jarum suntik berjarum bikin khawatir. Kenali risikonya dan metode Mommies mencegah anak membeli mainan berbahaya.

Mommies, pernah nggak si kecil tiba-tiba pulang sekolah membawa mainan yang sebelumnya tidak pernah kita lihat? Rasanya mungkin biasa saja sampai kita menyadari bahwa mainan tersebut rupanya berbahaya.

Belakangan, beredar unggahan di media sosial tentang mainan anak berbentuk alat suntik yang dilengkapi jarum. Dalam video yang ramai dibicarakan dan diunggah di detik.com, seorang pendidik dikabarkan berbuat pengecekan terhadap mainan murid dan memungut mainan jarum suntik tersebut. Ada pula anak yang menangis ketika mainannya diambil.

Mainan jarum suntik

Foto: Instagram/satpolppwh_bna

Di unggahan lain dari Kumparan ditemukan juga adanya penjual mainan di dekat sekolah alas yang menjual mainan squishy beserta jarum suntiknya seharga Rp2.000 sampai Rp5.000.

Situasi ini tentu membikin orang tua khawatir. Apalagi, belum ada kepastian mengenai asal-usul dan kondisi jarum yang beredar dalam kasus tersebut.

Lantas, apa yang perlu Mommies dan Daddies ketahui?

BACA JUGA: Jangan Asal Posting! 7 Hal tentang Anak yang Sebaiknya Tidak Dibagikan di Media Sosial

Apa Bahaya Mainan Jarum Suntik bagi Anak?

Ada beberapa konsekuensi yang perlu diwaspadai, terutama jika suntikan tersebut memiliki jarum tajam maupun rupanya merupakan alat medis bekas.

Foto: kaboompics.com/Pexels

1. Risiko luka tusuk

Jarum yang tajam bisa menusuk kulit, menyebabkan luka, perdarahan, dan menaikkan konsekuensi infeksi. Anak mungkin belum memahami bahwa barang yang kelihatan seperti mainan rupanya bisa melukai dirinya sendiri maupun temannya.

2. Potensi penularan penyakit

Jika jarum pernah digunakan dan terkontaminasi darah, ada konsekuensi paparan patogen yang menular melalui darah, termasuk virus hepatitis B, hepatitis C, dan HIV. Besarnya konsekuensi bersandar pada kondisi jarum dan jenis paparannya. Bukan berarti setiap kontak pasti menyebabkan penularan, tetapi paparan seperti ini mesti dinilai oleh tenaga medis.

Risiko paparan bersandar pada apakah kulit tertusuk, kondisi jarum, kemungkinan adanya darah yang terkontaminasi, serta aspek medis lainnya. Menyentuh barang tanpa luka maupun paparan darah tidak sama dengan mengalami cedera tusuk jarum.

3. Risiko ketika dimainkan berbareng teman

Anak-anak biasanya bahagia bermain peran berbareng teman. Jika jarum digunakan untuk berpura-pura menyuntik teman, konsekuensi luka tusuk bisa terjadi tanpa disengaja. Karena itu, barang tajam tidak seharusnya dijadikan mainan, terlebih tanpa pengawasan orang dewasa.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Tertusuk Jarum?

Kalau Mommies mengetahui anak tertusuk jarum yang asal-usulnya tidak jelas, jangan menunggu sampai muncul gejala.

  • Segera cuci area luka dengan air mengalir dan sabun.
  • Jangan memencet luka maupun mencoba menangani jarum sendiri jika statis menancap.
  • Segera bawa anak ke akomodasi kesehatan untuk menilai konsekuensi paparan, kebutuhan vaksinasi tetanus maupun hepatitis B, serta aksi pencegahan lain jika diperlukan.

Penanganan medis sebaiknya dilakukan sesegera mungkin karena beberapa aksi pencegahan setelah paparan memiliki batas waktu.

BACA JUGA: 10 Barang Bekas yang Bisa Disulap Jadi Mainan Anak, Seru dan Edukatif!

Bagaimana Mencegah Anak Membeli Mainan Berbahaya Tanpa Sepengetahuan Orang Tua?

Foto: Ketut Subiyanto/Pexels

Melarang anak membeli mainan sembarangan memang penting, tetapi cuma mengandalkan larangan sering kali belum cukup. Anak juga perlu memahami karena di balik ketentuan tersebut.

Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan di rumah.

1. Buat ketentuan yang jelas tentang membeli mainan

Biasakan anak meminta persetujuan sebelum membeli mainan, terutama dari pedagang di sekitar sekolah. Jelaskan bahwa tidak semua barang yang dijual otomatis terlindungi untuk dimainkan.

Berdasarkan panduan mengenai pembuatan ketentuan dari CDC (U.S. Centers for Disease Control and Prevention), Mommies bisa mengatakan, “Kalau Anda melihat mainan yang menarik, boleh kok cerita ke Mama maupun Papa dulu. Kita periksa berbareng apakah mainan itu aman.”

Aturan yang sederhana, jelas, dan diterapkan secara konsisten membantu anak memahami perilaku yang diharapkan.

2. Ajarkan metode mengenali barang berbahaya

Anak perlu tahu bahwa jarum, pisau, obat-obatan, dan barang tajam bukan untuk dimainkan. Gunakan bahasa yang sesuai dengan usianya dan berikan contoh konkret.

Misalnya, “Jarum bisa melukai kulit dan membawa kuman. Kalau Anda menemukan jarum, jangan disentuh, ya. Langsung beri tahu pendidik maupun orang dewasa.”

Hindari menakut-nakuti anak secara berlebihan. Tujuannya bukan membikin anak takut pada semua benda, melainkan membantunya mengenali ancaman dan tahu apa yang mesti dilakukan.

Ajarkan juga bahwa anak tidak perlu memungut maupun memindahkan barang rapuh untuk membantu orang lain. Cukup menjauh, beri tahu pendidik maupun orang dewasa, dan jangan menyentuhnya meskipun barang tersebut kelihatan bersih.

3. Periksa mainan yang dibawa pulang

Luangkan waktu untuk mengobrol tentang aktivitas anak di sekolah, termasuk mainan yang dibeli maupun dipinjam dari teman. Periksa bentuk, bahan, ujung yang tajam, serta bagiankecil yang gampang terlepas.

Jika menemukan barang mencurigakan, jauhkan dari jangkauan anak tanpa menyentuh bagiankecil tajam secara langsung. Mainan yang tidak terlindungi sebaiknya tidak digunakan lagi.

American Academy of Pediatrics juga menyarankan orang tua memperhatikan label usia, bahan, dan potensi ancaman sebelum memberikan mainan kepada anak.

Foto: August de Richelieu/Pexels

4. Bangun komunikasi dengan pendidik dan sekolah

Orang tua tidak bisa mengamati anak setiap saat. Karena itu, kerja sama dengan pendidik krusial untuk mencegah barang rapuh masuk ke lingkungan sekolah.

Mommies dan Daddies bisa menanyakan kebijakan sekolah mengenai penjualan mainan oleh pedagang di sekitar gerbang, ketentuan membawa mainan dari rumah, serta prosedur jika ditemukan barang berbahaya.

Jika menemukan kasus serupa, sampaikan keterangan kepada pihak sekolah agar dapat ditindaklanjuti dan sumber barang tersebut dapat ditelusuri.

5. Jangan langsung memarahi anak

Kalau anak menangis saat mainannya diambil, itu bukan berarti ia sengaja melanggar ketentuan maupun tidak peduli pada keselamatan. Bisa jadi ia kecewa karena kehilangan barang yang disukai maupun belum memahami bahayanya.

Dengarkan perasaannya, kemudian jelaskan alasannya dengan tenang. Misalnya, “Mama tahu Anda gemar mainan itu. Mama mengambilnya bukan karena mau bikin Anda sedih, tetapi karena ada bagiankecil yang bisa melukai kamu.”

Setelah itu, tawarkan alternatif mainan yang aman. Dengan begitu, anak belajar bahwa ketentuan keselamatan bukan sekadar larangan, melainkan bentuk perlindungan.

BACA JUGA: Anak Punya Teman dari Game Online? Kenali Bahaya dan 5 Aturan Keamanan Anak

Bukan Cuma Melarang, tetapi Membekali Anak

Kasus mainan suntikan berjarum menjadi pengingat bahwa keamanan anak membutuhkan kerja sama orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar. Mommies dan Daddies memang tidak bisa mengamati setiap keputusan anak, tetapi bisa membangun kebiasaan agar si kecil berani bertanya sebelum membeli sesuatu dan segera mencari pertolongan saat menemukan barang berbahaya.

Yang terpenting, jangan menunggu sampai terjadi cedera untuk mulai mengajarkan keamanan. Sebab, anak yang memahami karena di balik sebuah ketentuan akan lebih terbantu untuk membikin keputusan yang aman, terlebihlagi ketika orang tua tidak eksis di dekatnya.

Cover: kaboompics.com/Pexels
Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads