Pada suatu malam yang lengang di awal 1980-an, bumi seperti berakhir sejenak untuk mendengarkan bunyi seorang perempuan. Bukan bunyi yang meledak-ledak. Bukan pula bunyi yang mencoba memamerkan teknik tinggi. Ia terdengar justru seperti seseorang yang sedang bicara pelan di depan jendela yang basah oleh hujan. “Life is a moment in space…” Kalimat pembuka itu meluncur lirih dari lagu Woman in Love, dan sejak itu jutaan orang merasa sedang mendengar isi hati mereka sendiri.
Lagu yang dinyanyikan Barbra Streisand ini bukan sekadar lagu cinta. Ia seperti catatan jiwa tentang seseorang yang menyerahkan seluruh dirinya pada cinta—dengan keberanian, kepasrahan, sekaligus ketakutan. Sampai hari ini, lebih dari empat dasawarsa setelah dirilis, lagu itu tetap terdengar seperti surat panjang yang tidak pernah selesai dibaca manusia.
Perempuan yang Tidak Sedang Bernyanyi
Pada era itu, musik pop sedang menyukai dentuman disko, synth elektronik, dan kemewahan panggung. Tetapi Barbra Streisand datang dengan sesuatu yang berbeda: keheningan yang berbicara. Dalam Woman in Love, dia tidak terdengar seperti diva yang mau menaklukkan dunia. Ia terdengar seperti seorang wanita yang sedang duduk sendirian setelah semua orang tidur.
Mungkin itu sebabnya lagu ini terasa begitu dekat. Banyak lagu cinta terdengar seperti pertunjukan. Tapi lagu ini terdengar seperti pengakuan.
Ketika Barbra menyanyikan:
“I am a woman in love, and I’d do anything…”
yang terdengar bukan sekadar lirik romantis. Ada nada seseorang yang sadar bahwa cinta bisa membikin manusia kehilangan logika. Kalimat itu bukan janji manis. Ia seperti pengakuan yang sedikit berbahaya.
Dan memang begitulah cinta bekerja pada banyak orang dewasa. Semakin matang usia seseorang, semakin dia tahu bahwa cinta tidak selalu masuk akal. Ia sering datang membawa kompromi, luka, apalagi pengorbanan yang diam-diam mengikis nilai diri. Tetapi manusia tetap mengejarnya.
Barbra menyanyikan paradoks itu tanpa berteriak.
Tangan Dingin Bee Gees
Ada kebenaran menarik di kembali lagu ini. Woman in Love ditulis oleh Barry Gibb dan Robin Gibb dari grup Bee Gees. Pada masa itu, Bee Gees identik dengan musik disko seperti Stayin’ Alive alias Night Fever. Tetapi dalam lagu ini, mereka menunjukkan sisi lain: keahlian menulis balada yang melankolis dan nyaris puitis.
Barry Gibb konon menulis lagu ini dengan struktur yang sederhana, namun emosinya dibuat menumpuk perlahan. Tidak ada ledakan besar di awal. Lagu bergerak seperti ombak mini yang lama-lama menyeret pendengarnya masuk lebih dalam.
Dan Barbra Streisand adalah pilihan sempurna.
Suara Barbra punya kualitas yang susah dijelaskan. Ia tidak terdengar muda, apalagi ketika tetap muda. Ada kedewasaan dalam warna vokalnya, seolah dia sudah mengalami terlalu banyak kehilangan. Karena itu ketika dia menyanyikan tentang cinta, orang percaya. Ia tidak terdengar sedang membayangkan cinta. Ia terdengar seperti pernah hidup di dalamnya.
Di tangan penyanyi lain, Woman in Love mungkin hanya bakal menjadi lagu pop romantis biasa. Tetapi Barbra membuatnya menjadi semacam orasi batin.

Kesepian di Tengah Cinta
Yang menarik, lagu ini sebenarnya tidak terdengar sepenuhnya bahagia. Banyak orang mengingatnya sebagai lagu romantis, padahal di kembali melodinya ada kesenyapan yang samar.
Perhatikan bagian ini:
“With you eternally mine, in love there is no measure of time…”
Kalimat itu terdengar indah. Tetapi justru lantaran terlalu indah, dia terasa rapuh. Seolah penyanyinya sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa cinta bisa memperkuat selamanya, padahal dia tahu hidup manusia penuh perubahan.
Di situlah kekuatan lagu ini. Ia tidak bicara tentang cinta remaja yang penuh gairah. Ia bicara tentang cinta orang dewasa—cinta yang tahu bahwa kehilangan bisa datang kapan saja.
Mungkin lantaran itu lagu ini sangat kuat didengar pada malam hari. Ada lagu-lagu yang cocok diputar di pesta. Ada lagu yang cocok menemani perjalanan jauh. Woman in Love terasa seperti lagu untuk jam dua pagi, ketika seseorang tiba-tiba terkenang seseorang yang sudah lama tidak ditemui.
Banyak orang diam-diam punya pengalaman seperti itu. Lagu lama diputar. Lampu bilik redup. Lalu kenangan bergerak perlahan seperti movie tua.
Dan bunyi Barbra Streisand masuk ke ruang itu tanpa mengetuk pintu.
Era Ketika Balada Masih Punya Jiwa
Tahun 1980 mungkin adalah salah satu masa terakhir ketika industri musik memberi ruang besar bagi balada yang sabar. Lagu-lagu diberi waktu untuk bernapas. Intro tidak kudu langsung “menangkap perhatian” dalam lima detik seperti era media sosial sekarang.
Woman in Love berdurasi lebih dari tiga menit, tetapi dia tidak tergesa-gesa. Piano melangkah pelan. Orkestra masuk perlahan. Vokal Barbra dibiarkan tumbuh sedikit demi sedikit.
Hari ini, pola seperti itu makin jarang ditemukan. Musik modern sering terasa seperti berkompetisi melawan tombol “skip”. Lagu kudu cepat, pendek, dan langsung meledak. Sementara Woman in Love justru membujuk pendengarnya tinggal sejenak di dalam emosi.
Ia seperti movie drama lama yang tidak takut pada segmen sunyi.
Mungkin generasi sekarang bakal menganggapnya terlalu lambat. Tetapi justru di situlah letak keindahannya. Lagu ini percaya bahwa manusia tetap punya waktu untuk merasakan sesuatu secara utuh.
Lagu yang Menjadi Bagian Hidup Banyak Orang
Ada lagu terkenal yang hanya sukses secara komersial. Ada juga lagu yang diam-diam masuk ke kehidupan pribadi banyak orang. Woman in Love termasuk kategori kedua.
Di banyak rumah pada era 1980-an dan 1990-an, lagu ini diputar dari radio, kaset, alias pemutar piringan hitam saat malam mulai turun. Ia menjadi soundtrack bagi orang-orang yang sedang jatuh cinta, sedang menunggu pasangan pulang, alias apalagi sedang mencoba memperkuat dalam hubungan yang mulai retak.
Di Indonesia, lagu ini juga punya tempat khusus. Ia menjadi bagian dari generasi yang tumbuh berbareng radio analog dan lagu-lagu Barat yang diputar pelan di ruang keluarga. Banyak orang mungkin tidak hafal seluruh liriknya, tetapi begitu intro-nya terdengar, ingatan lama langsung muncul.
Kadang musik memang bekerja seperti mesin waktu.
Ada bapak-bapak yang tiba-tiba terkenang masa kuliahnya. Ada ibu rumah tangga yang terkenang surat cinta pertama. Ada seseorang yang mendadak terkenang orang yang kandas dia nikahi puluhan tahun lalu.
Dan semua itu bisa dipicu oleh satu lagu.
Barbra dan Ketahanan Emosi
Tidak semua penyanyi bisa membikin lagu memperkuat puluhan tahun. Banyak penyanyi punya bunyi bagus, tetapi hanya sedikit yang punya “emosi yang bisa diwariskan”. Barbra Streisand termasuk langka.
Ia tidak pernah menyanyi seperti orang yang mau dipuji. Ia menyanyi seperti seseorang yang mau dipahami.
Barangkali itu sebabnya Woman in Love tetap hidup hingga sekarang. Lagu ini tidak berjuntai pada tren. Ia berjuntai pada sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih abadi: kebutuhan manusia untuk dicintai.
Dan selama manusia tetap jatuh cinta, lagu ini bakal terus menemukan pendengarnya.
Mungkin bukan di stadion besar. Mungkin bukan di tangga lagu. Tetapi di tempat-tempat mini yang sunyi: di dalam mobil saat hujan turun, di bilik seseorang yang belum bisa tidur, alias di headphone seorang wanita yang diam-diam sedang mencoba melupakan seseorang.
Di sana, bunyi Barbra Streisand tetap terdengar pelan:
“I am a woman in love…”
Kalimat sederhana itu melintasi era seperti bisikan yang tidak pernah betul-betul pergi.