10 Kalimat Ayah Yang Bisa Membekas Seumur Hidup Pada Anak

Jul 11, 2026 08:15 PM - 4 jam yang lalu 153

Jakarta -

Mengasuh anak adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan suka cita dan tantangan. Dalam proses tumbuh kembangnya, setiap perkataan orang tua, terutama ayah, dapat meninggalkan kesan yang mendalam di hati anak.

Kalimat yang diucapkan dengan penuh perhatian bisa menjadi sumber kepercayaan diri anak. Sebaliknya, ucapan yang kurang tepat dapat membekas seumur hidup pada anak hingga dia tumbuh dewasa.

Saat bicara dengan anaknya, seorang ayah sebaiknya bisa memilah kalimat yang layak diucapkan. Jangan sampai kalimat yang dilontarkan menciptakan jarak di antara keduanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Lantas, apa saja kalimat ayah yang bisa membekas seumur hidup pada anak?

Kalimat ayah yang bisa membekas seumur hidup pada anak

Melansir dari beberapa sumber, berikut 10 kalimat ayah yang bisa membekas seumur hidup di hari anaknya:

1. "Berhenti berkelakuan seperti perempuan! Jadilah laki-laki!"

Ketika seorang ayah mengucapkan komentar seperti ini kepada anaknya, perihal itu bisa sangat menyakitkan. Kalimat ini dapat membatasi anak untuk mengekspresikan emosinya, Bunda.

"Mengucapkan hal-hal ini dapat membentuk stereotip kelamin yang kaku sekaligus memberikan tekanan yang tidak semestinya agar putra mereka mengambil peran yang tidak bisa dia tangani," kata psikolog klinis family di Amerika Serikat, Dr. Adolph Brown, dilansir laman Parade.

"Ungkapan-ungkapan itu juga dapat mendorong devaluasi feminitas dan membatasi beragam ekspresi emosi," sambungnya.

2. "Laki-laki tidak boleh menangis"

Para mahir mengatakan bahwa seorang ayah tidak boleh mengatakan kalimat ini pada putranya. Kalimat ini membikin anak-anak tidak dapat mengekspresikan emosi mereka dengan menangis.

"Pernyataan-pernyataan ini berpotensi menyebabkan penekanan emosi yang mengarah pada sistem penanggulangan yang buruk. Hal itu dapat menghalang pengaturan emosi lantaran dianggap sebagai tanda kelemahan," ujar Brown.

3. "Jangan terlalu sensitif"

Bagi seorang anak, kalimat ini tidak terdengar seperti bimbingan, tapi lebih ke arah pengabaian. Dilansir laman Times of India, jika kalimat ini diucapkan berulang kali, anak bisa menelan kekecewaan dan tidak mempercayai emosi mereka sendiri.

Mereka mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang suka meminta maaf lantaran merasakan emosi yang mendalam. Pada akhirnya, perihal tersebut berkontribusi pada kurangnya kepintaran emosional, Bunda.

4. "Kamu kudu kuat"

Kekuatan itu penting, tetapi tidak ketika perihal tersebut menjadi perintah agar anak diam. Anak-anak yang mendengar ungkapan ini mungkin belajar bahwa kerentanan adalah kelemahan dan bahwa rasa sakit kudu ditanggung sendiri.

Anak-anak yang sering mendengar kalimat ini dari ayahnya bisa tumbuh menjadi orang yang enggan meminta bantuan. Mereka kudu menjadi kuat meski pada kenyataannya kewalahan.

5. "Kamu bikin malu" alias "Kamu memalukan"

Seorang ayah tanpa sadar sering menggunakan komentar kasar dan menyakitkan seperti ini sebagai respons terhadap kesalahan anak-anaknya. Para mahir memperingatkan bahwa perihal itu tidak hanya merusak hubungan, tetapi juga bisa berakibat pada kesejahteraan dan kepercayaan diri anak.

"Ungkapan-ungkapan itu dapat menimbulkan rasa malu yang signifikan dan memengaruhi kesehatan mental anak," ujar psikolog dan penulis Dr. Patricia Dixon.

"Jika putra alias putri mendengar ayahnya menyebut mereka memalukan alias bodoh, perihal itu dapat membikin mereka meragukan identitas dan nilai diri mereka, terutama jika mereka mengidolakan ayahnya," lanjutnya.

6. "Mengapa Anda tidak bisa lebih seperti kerabat laki-laki alias wanita kamu?"

Perbandingan termasuk salah satu langkah tercepat untuk melukai identitas seorang anak. Alih-alih merasa diperhatikan, mereka merasa diukur. Alih-alih merasa didukung, mereka justru merasa bisa digantikan.

Komentar semacam ini dapat memicu persaingan antara anak dan saudaranya. Tak hanya itu, anak-anak juga bisa merasa tidak kondusif dan mempunyai kepercayaan terpendam bahwa kasih sayang kudu diperoleh dengan menjadi orang lain.

7. "Kamu baik-baik saja"

Terkadang seorang ayah mengatakan kalimat ini untuk menenangkan anaknya. Namun, ketika seorang anak betul-betul kesal, kalimat itu justru bisa terasa seperti penolakan.

Pesan yang mungkin mereka terima adalah bahwa rasa sakit tidak pernah menyenangkan alias selalu dilebih-lebihkan. Pasalnya, seorang anak bakal lebih mudah tenang ketika emosi mereka disebutkan terlebih dahulu, bukan diabaikan begitu saja.

8. "Berhentilah menangis"

Menangis bukanlah suatu kekurangan, tapi sebuah sinyal. Ketika anak-anak disuruh berakhir menangis sebelum mereka dipahami, mereka mungkin belajar untuk menekan emosi alih-alih memprosesnya.

Kebiasaan itu dapat mengikuti anak-anak hingga dewasa, di mana kesedihan muncul sebagai dalam corak yang negatif. Anak bisa dianggap tidak punya empati lantaran memilih untuk menekan emosinya daripada menunjukkan ekspresi yang jujur.

9 . "Aku tidak pernah mempunyai itu saat kecil, dan saya baik-baik saja"

Ungkapan ini sering kali berasal dari ketahanan yang diperoleh dengan susah payah oleh seorang ayah. Ia mau menunjukkan bahwa anak juga bisa mempunyai ketahanan seperti dirinya.

Namun bagi seorang anak, ungkapan tersebut bisa terdengar seperti penolakan untuk mengakui realitas mereka. Generasi yang berbeda tidak menghadapi tekanan yang sama, dan anak-anak perlu tahu bahwa perjuangan mereka sah meskipun terlihat mini dari perspektif pandang orang tua. Seorang ayah juga perlu ingat jika pengesahan dapat membangun kepercayaan.

10. "Kamu tidak bakal pernah mencapai apa pun jika terus seperti ini"

Ini adalah jenis kalimat yang dapat dipikul seorang anak sampai dewasa. Ketika seorang ayah mengucapkannya lantaran frustrasi, kalimat itu bisa membikin anak mengalami kemunduran. Anak-anak memang memerlukan koreksi, tetapi mereka juga memerlukan kepercayaan bahwa kesalahan bukanlah sebuah pertanda buruk.

"Mengucapkan hal-hal tersebut menyiratkan kekecewaan dan mengabaikan upaya yang telah dilakukan oleh anak," kata Dixon.

"Alih-alih mengakui kerja keras, seorang ayah hanya konsentrasi pada kekurangan, yang dapat membikin anak-anaknya merasa bahwa upaya terbaik mereka tidak bakal pernah cukup untuk mendapatkan persetujuan. Hal ini dapat menciptakan kesan yang memperkuat lama bahwa nilai diri mereka bakal berjuntai pada pemenuhan angan yang tidak realistis," tuturnya.

Itulah kalimat ayah yang rupanya bisa membekas seumur hidup bagi anak. Semoga info ini berfaedah ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/fir)

Selengkapnya