5 Obat Tamak Menurut Ulama SufiKincai Media – Tamak merupakan salah satu penyakit hati yang membahayakan, dan serakah bakal memberi akibat jelek bagi diri sendiri maupun orang lain. Jika serakah sudah mendarah daging, maka yang ada dalam angan-angannya adalah kekayaan barang dan kemewahan. Nah berikut 5 obat serakah menurut ustadz sufi.
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam karya Mukhtashar Minhajul Qashidin Juz, 1, laman 234 mengulas tentang 5 obat dari ketamakan. Beliau menegaskan:
وٱعلم أن الفقر محمود، ولكن ينبغي للفقير أن يكون قانعاً، منقطع الطمع عن الخلق، غير ملتفت إلى ما في أيديهم، ولا حريص على اكتساب المال كيف كان، ولا يمكنه ذلك إلا بأن يقنع بقدر الضرورة من المطعم والملبس
Artinya: “Ketahuilah bahwasanya kefakiran itu merupakan perihal yang terpuji, bakal tetapi hendaklah bagi orang yang fakir mempunyai rasa Qana’ah (merasa cukup) dan memutus berambisi dari makhluk, tidak peduli terhadap kekayaan yang ada pada mereka, dan tidak rakus dalam mencari kekayaan seperti apapun keadaannya, dan perihal itu tidak mungkin bisa dicapai selain dengan langkah Qona’ah dengan ukuran kadar darurat (seadanya) baik makanan maupun pakaian”.
Selanjutnya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi memberi langkah alias tips untuk mengobati ketamakan terhadap kekayaan benda. Hal tersebut berasas kesabaran, keilmuan, dan pengamalan. Menurut penuturannya dasar tersebut dirinci menjadi 5 perkara. Adapun rinciannya sebagai berikut:
Pertama, tidak berlebihan, alias tidak royal dalam membelanjakan harta. Barangsiapa yang mau mempunyai sifat Qana’ah (merasa cukup) maka dia kudu bisa mengontrol dan menjaga pengeluaran hartanya. Tidak royal dalam membeli pakaian, makanan, alias kebutuhan lainnya.
Kedua, jika dalam satu waktu dia mendapatkan kemudahan alias penghasilan, maka dia kudu bisa menggunakannya dengan baik di masa yang bakal datang. Ia kudu mempunyai kepercayaan bahwa hidayah rezeki telah ditetapkan oleh Allah kepadanya, sehingga dia tidak panjang khayalan dengan kemewahan harta.
Ketiga, mengetahui kemuliaan dari sifat Qona’ah (merasa cukup) dan mengetahui rendahnya sifat kerakusan alias ketamakan. Sifat Qona’ah (merasa cukup) tidak bakal dimiliki oleh seseorang, selain dia menghindari perkara yang syubhat dan menjauhi sifat kerakusan alias ketamakan.
Keempat, berpikir tentang orang-orang yang direndahkan oleh Allah karena ketamakan, dan meniru perilaku orang-orang shalih yang hidup sederhana. Sehingga lahir sifat kesabaran dan sifat Qona’ah (merasa cukup) walaupun dia hidup dalam kemiskinan.
Kelima, memahami bahwa mengumpulkan banyak kekayaan bisa membahayakan, dan memahami pahala dari kesabaran orang-orang fakir. Kesempurnaan dari perihal tersebut, yaitu, tidak memandang ke atas tentang perkara bumi alias kemewahan, dan dia lebih memprioritaskan kemaslahatan agamanya.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·