Mengenal Nama Allah “al-khaafidh” Dan “ar-raafi'”

Jul 24, 2026 11:00 AM - 1 hari yang lalu 1973

Di antara nama-nama Allah yang menanamkan rasa tunduk, tawadhu’, takut, dan berambisi kepada-Nya adalah Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’. Keduanya sering dibahas secara berpasangan, lantaran kesempurnaan maknanya lebih tampak ketika dipahami bersama. Allah merendahkan siapa yang Dia kehendaki dengan keadilan-Nya, dan meninggikan siapa yang Dia kehendaki dengan hikmah serta rahmat-Nya.

Seorang hamba yang memahami dua nama ini bakal mengetahui bahwa ukuran kemuliaan dan kehinaan yang asasi bukanlah di tangan manusia. Bukan kekayaan yang meninggikan, bukan kedudukan yang memuliakan, dan bukan pula banyaknya pengikut yang menjadikan seseorang tinggi di sisi Allah. Yang betul-betul meninggikan dan merendahkan hanyalah Allah Ta’ala. Dalam tulisan ini, kita bakal mengulas dalil-dalil dua nama ini, kandungan maknanya, serta akibat ketaatan kepadanya bagi seorang mukmin. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua.

Dalil nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”

Para ustadz yang memasukkan Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’ ke dalam Asmaaul Husna beralasan dengan riwayat yang memuat penyebutan nama-nama Allah. Para ustadz banyak menukil di kitab-kitab mereka,

الخَافِضُ الرَّافِعُ

“Yang Merendahkan dan Yang Meninggikan.” [1]

Sebagian ustadz yang memasukkan keduanya juga membahas secara berpasangan dalam kitab-kitab mereka. Syekh Shalih Alu asy-Syaikh menjelaskan,

الخافض ليس من الأسماء الحسنى في نفسه، لكن الرافع الخافض من الأسماء الحسنى وهكذ

“Al-Khaafidh bukan termasuk Asmaul Husna jika berdiri sendiri. Akan tetapi, Ar-Raafi’ Al-Khaafidh termasuk Asmaul Husna. Demikian pula yang semisalnya.” [2]

Adapun makna dua nama ini sangat jelas ditunjukkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Di antaranya firman Allah Ta’ala,

خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ

“(Kiamat itu) merendahkan dan meninggikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 3)

Ketika menjelaskan ayat ini, az-Zajjaj mengatakan sebagaimana dinukil oleh Ibn Manzhur,

المعنى أنها تخفض أهل المعاصي وترفع أهل الطاعة

“Maknanya adalah bahwa Dia merendahkan mahir maksiat dan meninggikan mahir ketaatan.” [3]

Ibn Manzhur juga menukil penjelasan lain tentang ayat tersebut,

تخفض قوما فتحطهم عن مراتب آخرين ترفعهم إليها، والذين خفضوا يسلفون إلى النار، والمرفوعون يرفعون إلى غرف الجنان

“Ia merendahkan suatu kaum, lampau menjatuhkan mereka dari derajat yang diberikan kepada kaum lain yang diangkat ke sana. Orang-orang yang direndahkan digiring ke neraka, sedangkan orang-orang yang diangkat ditinggikan menuju kamar-kamar surga.” [4]

Di antara ayat yang menunjukkan makna ar-raf’ adalah firman Allah Ta’ala,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah bakal meninggikan orang-orang yang beragama di antara kalian dan orang-orang yang diberi pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadilah: 11)

Dan firman-Nya,

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“Tetapi Allah telah mengangkatnya kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’: 158)

Juga firman-Nya,

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

“Kepada-Nya naik perkataan yang baik, dan kebaikan saleh diangkat-Nya.” (QS. Faathir: 10)

Syekh Abdurrazzaq al-Badr, ketika menyebut ayat-ayat semacam ini, menegaskan bahwa Allah adalah Dzat yang menyempitkan, melapangkan, merendahkan, dan meninggikan secara takdir. Beliau menyebutkan,

وإن كان الله تعالى هو القابض الباسط الخافض الرافع قدرا

“Dan sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Dzat yang Menyempitkan, Melapangkan, Merendahkan, dan Meninggikan secara takdir.” [5]

Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Hafiizh” dan “Al-Haafizh”

Kandungan makna nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”

Untuk mengetahui kandungan makna dua nama ini dengan baik, kita perlu memandang makna katanya secara bahasa, lampau memahami maknanya ketika dua nama tersebut disandarkan kepada Allah Ta’ala. Sebab, nama-nama Allah tidak hanya bagus dari sisi lafaz, tetapi juga sangat agung dari sisi makna.

Makna bahasa dari “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'”

Kata Al-Khaafidh berasal dari kata خفض. Ibn Manzhur menjelaskan,

الخَفْضُ: ضِدُّ الرَّفْعِ. خَفَضَهُ يَخْفِضُهُ خَفْضًا فَانْخَفَضَ وَاخْتَفَضَ

“Al-khafdh adalah musuh dari ar-raf’. Dikatakan: khafadhahu yakhfidhuhu khafdhan, lampau sesuatu itu menjadi rendah.” [6]

Dari penjelasan ini, jelas bahwa Al-Khaafidh secara bahasa berfaedah “yang merendahkan” alias “yang menurunkan”. Adapun Ar-Raafi’ adalah lawannya, ialah “yang meninggikan” alias “yang mengangkat”. Sehingga dari sisi bahasa saja, sudah tampak bahwa dua nama ini memang saling berangkaian dan saling menjelaskan.

Penyebutan “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” secara berpasangan

Sebagian nama Allah lebih sempurna jika disebutkan berbareng dengan pasangannya. Di antara contohnya adalah Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’. Oleh lantaran itu, para ustadz menjelaskan bahwa kesempurnaan makna dua nama ini terletak pada penyebutan keduanya secara bersamaan.

Ibnul Qayyim berkata,

الأسماء المزدوجة تجري الأسماء منها مجرى الاسم الواحد الذي يمتنع فصل بعض حروفه عن بعض، فهي وإن تعددت جارية مجرى الاسم الواحد ولذلك لم تجئ مفردة ولم تطلق عليه إلا مقترنة

“Nama-nama yang berpasangan itu melangkah seperti satu nama yang tidak boleh dipisahkan sebagian hurufnya dari sebagian yang lain. Walaupun jumlahnya lebih dari satu, dia diperlakukan seperti satu nama. Oleh lantaran itu, dia tidak datang dalam corak tunggal dan tidak disandarkan kepada Allah selain dalam keadaan berpasangan.” [7]

Dari sini bisa dipahami bahwa pembahasan Al-Khaafidh dan Ar-Raafi’ memang lebih tepat jika digabungkan. Sebab, jika hanya disebut “yang merendahkan” saja, maknanya belum utuh. Demikian pula jika hanya disebut “yang meninggikan” saja. Kesempurnaan maknanya tampak ketika keduanya disebut bersama: Allah merendahkan siapa yang Dia kehendaki dan meninggikan siapa yang Dia kehendaki.

Makna “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” dalam konteks Allah

Jika dua nama ini disandarkan kepada Allah Ta’ala, maka maknanya jauh lebih agung dan lebih sempurna. Imam al-Baihaqi menjelaskan,

الخافض الرافع: فالخافض هو الذي يخفض من يشاء بانتقامه، والرافع هو الذي يرفع من يشاء بإنعامه

“Al-Khaafidh Ar-Raafi’: Al-Khaafidh adalah Dzat yang merendahkan siapa yang Dia kehendaki dengan hukuman-Nya, dan Ar-Raafi’ adalah Dzat yang meninggikan siapa yang Dia kehendaki dengan karunia-Nya.” [8]

Makna ini juga selaras dengan penjelasan Ibn Manzhur ketika membahas nama Allah Al-Khaafidh,

في أسماء الله تعالى الخافض: هو الذي يخفض الجبارين والفراعنة أي: يضعهم ويهينهم ويخفض كل شيء يريد خفضه

“Di antara nama Allah Ta’ala adalah Al-Khaafidh, ialah Dzat yang merendahkan para jabbar dan fir’aun-fir’aun, ialah Dia menempatkan mereka dalam kehinaan dan merendahkan segala sesuatu yang Dia kehendaki untuk direndahkan.” [9]

Jadi, Allah merendahkan orang-orang yang sombong, melampaui batas, dan memusuhi kebenaran. Sebaliknya, Allah meninggikan para wali-Nya, mahir iman, mahir ilmu, dan mahir ketaatan. Inilah makna yang sangat jelas dalam dua nama ini.

Ibnul Qayyim menjelaskan makna tersebut dengan sangat indah. Sebagaimana dinukil oleh Musyrif al-Ghamidi,

أن المؤمن عندما يدرك اتصافه تعالى بالخفض والرفع يوقن أن الله تعالى يرفع أولياءه بالطاعة فيعلي مراتبهم وينصرهم على أعدائه ويجعل العاقبة لهم كما أنه يخفض الجبارين ويذل الفراعنة المتكبرين

“Sesungguhnya ketika seorang mukmin memahami bahwa Allah Ta’ala mempunyai sifat merendahkan dan meninggikan, dia bakal percaya bahwa Allah meninggikan para wali-Nya dengan ketaatan, mengangkat derajat mereka, menolong mereka atas musuh-musuh-Nya, dan menjadikan akibat yang baik bagi mereka. Sebagaimana Allah juga merendahkan para jabbar dan menghinakan para fir’aun yang sombong.” [10]

Maka, ketinggian dan kerendahan itu bukan hasil interpretasi bebas logika manusia yang liar, bukan pula sekadar permainan dunia. Semuanya kembali kepada hikmah Allah, pertolongan-Nya, dan keadilan-Nya.

Konsekuensi dari keagamaan terhadap nama Allah “Al-Khaafidh” dan “Ar-Raafi'” bagi seorang hamba

Iman kepada dua nama ini bakal berpengaruh besar pada langkah seorang hamba memandang dirinya, memandang manusia, dan memandang jalan hidup yang sedang dia tempuh.

Pertama, meyakini bahwa Allah meninggikan wali-wali-Nya dan merendahkan musuh-musuh-Nya

Konsekuensi pertama adalah seorang hamba meyakini bahwa Allah meninggikan orang-orang yang alim kepada-Nya dan merendahkan orang-orang yang memusuhi-Nya. Oleh lantaran itu, seorang mukmin tidak silau dengan ketinggian orang-orang yang sombong. Ia tahu bahwa ketinggian bumi yang terlepas dari hidayah Allah tidak selalu berfaedah kemuliaan yang hakiki.

Begitu juga, dia tidak meremehkan orang-orang yang hidup sederhana, tidak dikenal, alias tidak punya kedudukan di mata manusia. Sebab, sangat mungkin mereka justru mulia di sisi Allah.

Kedua, memahami bahwa ketinggian yang asasi bukan ukuran dunia

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa kemuliaan asasi bukan terletak pada penampilan duniawi, tumpukan harta, alias kedudukan sosial. Beliau berkata,

وليس المرفوع قدراً، والمعلى شأناً وأمراً، والمستحق مجداً وفخراً من رفع الطين على الطين وتكبر على المساكين وتجبر على أشكاله بكثرة ماله، واستقامة أحواله، وإنما المشرف شأناً والمعلى رتبة ومكاناً من رفعه الله بتوفيقه، وأيده لتصديقه، وهداه إلى طريقته، صفى قلبه وخلى له وجهه

“Bukanlah orang yang tinggi kedudukannya, mulia urusannya, dan berkuasa mendapatkan kemuliaan serta kebanggaan itu orang yang menumpuk tanah di atas tanah, lampau menyombongkan diri atas orang-orang miskin dan bertindak sewenang-wenang terhadap sesamanya lantaran banyaknya kekayaan dan baiknya keadaan dunianya. Akan tetapi, orang yang betul-betul mulia dan tinggi derajatnya adalah orang yang Allah angkat dengan taufik-Nya, Allah kuatkan dengan pembenaran-Nya, Allah tunjukkan ke jalan-Nya, Allah sucikan hatinya, dan Allah lapangkan urusannya.” [11]

Beliau kemudian menguatkan makna ini dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

رُبَّ أَشْعَثَ مَدْفُوعٍ بِالأَبْوَابِ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ

“Betapa banyak orang yang kusut rambutnya, tertolak dari pintu-pintu, jika dia berjanji atas nama Allah, niscaya Allah bakal mengabulkannya.” (HR. Muslim) [12]

Hadis ini mengajarkan bahwa penilaian manusia dan penilaian Allah tidak selalu sama. Orang yang dipandang rendah oleh manusia belum tentu rendah di sisi Allah.

Ketiga, menempuh jalan ketaatan agar diangkat oleh Allah

Kalau Allah meninggikan wali-wali-Nya dengan ketaatan, maka seorang mukmin kudu tahu jalan apa yang kudu ditempuh jika dia mau diangkat oleh Allah. Jalannya bukan kesombongan, bukan kezaliman, bukan pula mencari pujian manusia. Jalannya adalah alim kepada Allah, mengikuti Rasul-Nya, membenahi hati, dan melangkah di atas syariat.

Penjelasan Ibnul Qayyim yang telah disebutkan tadi sangat jelas: Allah meninggikan wali-wali-Nya dengan ketaatan. Maka siapa yang mau diangkat oleh Allah, hendaknya dia memperbaiki iman, ibadah, amal, dan akhlaknya.

Keempat, takut dari sebab-sebab kehinaan dan kerendahan

Sebaliknya, seorang hamba juga kudu takut dari sebab-sebab yang membuatnya direndahkan oleh Allah. Sombong, maksiat, melampaui batas, dan beralih dari jalan kebenaran adalah sebab-sebab kerendahan. Oleh lantaran itu, ketaatan kepada nama Al-Khaafidh membikin seorang mukmin lebih waspada terhadap dosa dan lebih takut terhadap akibat jelek kesombongan.

Al-Qurthubi menjelaskan,

الرفع والخفض أمارتان للجزاء، فمن فتحت لروحه أبواب السماء فرفع واستبشر ومن نكس إلى أسفل أبعد وآيس، وبحسب ذلك الأعمال بشارات ونذارات

“Ketinggian dan kerendahan adalah dua tanda balasan. Siapa yang dibukakan pintu-pintu langit bagi ruhnya, maka dia diangkat dan diberi berita gembira. Dan siapa yang dijungkirkan ke bawah, maka dia dijauhkan dan dibuat putus asa. Dan sesuai dengan itu, amal-amal menjadi berita ceria dan peringatan.” [13]

Penjelasan ini menegaskan bahwa ibadah seorang hamba punya hubungan langsung dengan kemuliaan alias kehinaannya. Ada kebaikan yang menjadi karena diangkatnya seorang hamba, dan ada kebaikan yang menjadi karena jatuhnya dia ke dalam kerendahan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diangkat dengan iman, ilmu, ketaatan, dan ketakwaan, serta dilindungi dari sebab-sebab kehinaan dan kerendahan. Aamiin.

Baca juga: Memahami Nama dan Sifat Allah dengan Benar

***

Penulis: Muhammad Insan Fathin

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

[1] ‘Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asma’il Husna, hal. 55

[2] Shalih bin Abdul Aziz Alu asy-Syaikh, Syarh al-Aqidah ath-Thahaawiyah; Ithaf as-Saa’il bimaa fi ath-Thahaawiyah min Masaa’il, hal. 234.

[3] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112; beliau menukil keterangan az-Zajjaj.

[4] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.

[5] Abdurrazzaq al-Badr, Fiqhul Asmaa’il Husna, hal. 297.

[6] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.

[7] Ibnul Qayyim, Badaa’i al-Fawaa’id, 1: 184.

[8] Al-Baihaqi, Al-I’tiqaad ilaa Sabiil ar-Rasyaad, 1: 55.

[9] Ibn Manzhur, Lisan al-Arab, 5: 112.

[10] Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani al-Ghamidi, Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 426.

[11] Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani al-Ghamidi, Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, hal. 426.

[12] HR. Muslim no. 2622, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

[13] Al-Qurthubi, Al-Asna fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna, 1: 398.

Daftar Pustaka

Al-Badr, Abdur Razzaq. Fiqhul Asmaa’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah, 2015.

Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin al-Husain. Al-I’tiqaad ilaa Sabiil ar-Rasyaad.

Al-Ghamidi, Musyrif bin Ali bin Abdullah al-Hamrani. Manhaj al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna. https://archive.org/

Ibn Manzhur. Lisan al-Arab. Maktabah Syamilah

Ibnul Qayyim. Badaa’i al-Fawaa’id. IslamWeb.org

Ibnul Qayyim. Madaarij as-Saalikiin. Maktabah Syamilah

Al-Qurthubi. Al-Asna fi Syarh Asmaa’ Allah al-Husna.

Alu asy-Syaikh, Shalih bin Abdul Aziz. Syarh al-Aqidah ath-Thahaawiyah: Ithaf as-Saa’il bimaa fi ath-Thahaawiyah min Masaa’il.

Selengkapnya