Mengapa Allah Memilih Bayi Membela Kebenaran? Hikmah Dari Nabi Isa Hingga Juraij

Jul 25, 2026 10:50 PM - 5 jam yang lalu 282
Mengapa Allah Memilih Bayi Membela Kebenaran? Hikmah dari Nabi Isa hingga JuraijMengapa Allah Memilih Bayi Membela Kebenaran? Hikmah dari Nabi Isa hingga Juraij

Kincai Media – Mengapa Allah memilih Bayi memihak kebenaran? Mulai dari Nabi Isa, hingga kisah mahir ibadah Juraij Al-Rahib. Tentu, dalam mengarungi samudra kehidupan, manusia sering kali dihadapkan pada situasi di mana kebenaran diputarbalikkan, tuduhan merajalela, dan logika manusia buntu untuk menemukan jalan keluar.

Pada titik-titik krusial sejarah itulah, Allah SWT kerap menunjukkan kekuasaan-Nya yang mutlak, melampaui norma alam (sunnatullah) yang biasa berlaku. Salah satu tanda kebesaran yang paling menggetarkan hati adalah kejadian bayi yang bisa berbincang dengan fasih demi menegakkan kebenaran dan meruntuhkan keangkuhan manusia.

Sebuah riwayat luhur dari Imam Ibrahim, yang berasal dari Imam Muhajir bin Mujahid, sebagaimana termaktub dalam kitab “Tanbihul Ghafilin” laman 232, menegaskan perihal tersebut:

وروى ابراهيم عن مهاجر بن مجاهد قال: ما تكلم صبي في حال صغره وهو طفل إلا أربعة عيسى بن مريم عليهما السلام وصاحب الأخدود وصاحب جريج الراهب وصاحب يوسف عليه الصلاة والسلام

Artinya: “Tidaklah seorang anak pun yang berbincang di waktu mini selain empat anak: Isa bin Maryam ‘alaihimas salam, bayi pada kisah Ashabul Ukhdud, bayi pada kisah Juraij Al-Rahib, dan bayi pada kisah Nabi Yusuf alaihis shalatu was salam.”

Melalui kacamata keagamaan dan refleksi moral, keempat peristiwa ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur alias catatan sejarah yang kaku. Setiap kata yang keluar dari lisan suci para bayi tersebut membawa pesan teologis yang mendalam, prinsip keadilan yang kokoh, serta pelajaran moral yang melintasi zaman.

Nabi Isa AS: Proklamasi Tauhid dan Pembelaan Kesucian Ibu

Peristiwa pertama dan yang paling agung adalah berbicaranya Nabi Isa AS ketika tetap berada dalam buaian. Kehadiran Isa ke bumi tanpa melalui perantara seorang ayah merupakan mukjizat besar yang justru memicu angin besar tuduhan dari kaum Yahudi saat itu.

Mereka menuduh Maryam (wanita suci yang mengabdikan hidupnya di mihrab) telah melakukan perbuatan nista. Di tengah kepungan tuduhan yang biadab dan ketidakmampuan Maryam untuk memihak diri lantaran perintah berpuasa bicara, Allah memerintahkan Maryam untuk menunjuk kepada bayinya.

Tindakan Maryam sempat menuai bullyan dari kaumnya, namun cemoohan itu seketika sirna menjadi kekalutan dan ketakjuban saat sang bayi angkat bicara. Peristiwa luar biasa ini diabadikan dengan begitu bagus dan rinci dalam Al-Qur’an Surah Maryam ayat 30-33 yang berbunyi:

قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ وَجَعَلَنِيْ مُبٰرَكًا اَيْنَ مَا كُنْتُۖ وَاَوْصٰنِيْ بِالصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ۖ وּَبَرًّا بِوَالِدَتِيْ وَلَمْ يَجْعَلْنِيْ جَبَّارًا شَقِيًّا وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا

Artinya: “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya saya hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan saya seorang nabi, dan Dia menjadikan saya seorang yang diberkahi di mana saja saya berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) amal selama saya hidup; dan berkhidmat kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan saya seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari saya dibangkitkan hidup kembali”.” (QS. Maryam [19]: 30-33).

Kalimat pertama yang diucapkan oleh Nabi Isa, “Sesungguhnya saya hamba Allah”, adalah sebuah pukulan telak bagi dua golongan sekaligus: kaum yang menuduh ibunya berzina, dan kaum di masa depan yang mengkultuskannya sebagai Tuhan alias anak Tuhan.

Perkataan bayi Isa bukan sekadar pembelaan terhadap kehormatan ibunya, melainkan sebuah proklamasi tauhid yang paling murni. Allah menggunakan lisan seorang bayi yang belum ternoda oleh dosa bumi untuk membersihkan nama baik seorang wanita suci, sekaligus menetapkan fondasi iktikad yang lurus bagi umat manusia.

Bayi Ashabul Ukhdud: Keteguhan Iman di Ambang Parit Api

Kisah kedua membawa kita pada tumbukan antara keagamaan yang kokoh dan kekuasaan tirani yang kejam. Dalam kisah Ashabul Ukhdud (Para Pembuat Parit), seorang raja diktator yang mengaku sebagai Tuhan murka besar lantaran rakyatnya mulai beragama kepada Allah berkah dakwah seorang pemuda saleh.

Tanpa menunggu waktu lama, Raja tersebut kemudian memerintahkan penggalian parit-parit besar yang dipenuhi dengan api yang menyala-nyala. Setiap orang yang menolak untuk murtad bakal dilemparkan hidup-hidup ke dalam kobaran api tersebut.

Di antara barisan orang-orang beriman, terdapat seorang ibu yang sedang menggendong bayinya. Ketika tiba gilirannya untuk melompat ke dalam parit, sang ibu sempat dirayapi rasa ragu, cemas, dan iba yang mendalam terhadap bayinya yang tetap merah.

Mengorbankan nyawa sendiri demi ketaatan adalah satu hal, tetapi memandang buah hati yang tak berdosa ikut gosong terbakar adalah ujian yang teramat berat bagi hatikecil seorang ibu.

Melihat kekhawatiran ibunya, dengan izin Allah, bayi tersebut berbincang dengan lugas: “Wahai ibuku, bersabarlah, lantaran sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.” Ucapan singkat namun sarat kekuatan spiritual ini seketika meruntuhkan keraguan sang ibu. Mereka berdua melompat ke dalam parit dengan hati yang tenang, menjemput syahadah demi mempertahankan tauhid.

Peristiwa keteguhan ketaatan kaum Ashabul Ukhdud ini diabadikan Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Buruj ayat 4-8 yang berbunyi:

قُتِلَ اَصْحٰبُ الْاُخْدُوْدِۙ اَلنَّارِ ذَاتِ الْوَقُوْدِۙ اِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُوْدٌۙ وּَهُمْ عَلٰى مَا يَفْعَلُوْنَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ شُهُوْدٌۗ وَمَا نَقَمُوْا مِنْهُمْ اِلَّاۤ اَنْ يُّؤْمِنُوْا بِاللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ

Artinya: “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membikin parit (yang berapi), yang dipenuhi api yang mempunyai bahan bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang beragama itu melainkan lantaran orang-orang beragama itu beragama kepada Allah Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.” (QS. Al-Buruj [85]: 4-8).

Dari perspektif pandang moral, bunyi sang bayi dalam kisah ini bertindak sebagai jangkar ideologis. Allah membuktikan bahwa ketika orang dewasa diguncang oleh ketakutan bentuk dan keduniawian, lisan seorang bayi yang disuci-murnikan oleh ketaatan dapat menjadi sumber kekuatan yang membakar semangat jihad.

Setidaknya, bayi ini mengajarkan kepada kita bahwa usia bukanlah ukuran kematangan iman, dan kebenaran absolut kudu dipertahankan meskipun kudu mengorbankan hembusan napas terakhir di dunia.

Bayi Juraij Al-Rahib: Kesaksian Pengikis Fitnah Terhadap Ahli Ibadah

Kisah ketiga adalah tentang Juraij, seorang mahir ibadah dari kalangan Bani Israil yang memilih hidup menyendiri di dalam sebuah pondok ibadah (shuma’ah) untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Suatu hari, ibunya datang memanggilnya ketika dia sedang melaksanakan salat sunah. Juraij bimbang antara membatalkan salatnya alias memenuhi panggilan ibunya, dan dia memilih untuk melanjutkan salat. Hal ini berulang hingga tiga kali, sampai akhirnya sang ibu yang merasa diabaikan merasa kecewa dan berdoa: “Ya Allah, janganlah Engkau wafatkan dia sebelum dia memandang wajah para pelacur.”

Doa ibu yang terluka itu pun dikabulkan. Kaum Bani Israil yang dengki dengan kesalehan Juraij menyewa seorang wanita lonte yang sangat elok untuk menggoda Juraij, namun Juraij menolaknya dengan tegas. Merasa gagal, wanita tersebut kemudian bercabul dengan seorang penggembala kambing hingga hamil. Ketika melahirkan, wanita itu memfitnah Juraij dengan mengatakan bahwa bayi tersebut adalah anak hasil hubungannya dengan Juraij.

Masyarakat yang marah segera mendatangi pondok ibadah Juraij, meruntuhkannya, dan memukuli sang rahib. Juraij yang tenang kemudian meminta waktu untuk berwudu dan melaksanakan salat. Setelah selesai, dia mendatangi bayi yang baru lahir tersebut, lampau menusuk perut sang bayi seraya bertanya, “Wahai bayi, siapakah ayahmu?”

Dengan kekuasaan Allah, bayi itu menjawab dengan jelas, “Ayahku adalah sang penggembala kambing.” Seketika itu juga, tuduhan yang mencoreng nama baik Juraij runtuh. Kaumnya yang semula menghakiminya berubah menjadi sangat menyesal dan menawarkan diri untuk membangun kembali pondok ibadahnya dengan emas, meski Juraij menolaknya dan meminta dibangunkan kembali dengan tanah liat seperti semula.

Kisah Juraij ini menggarisbawahi pentingnya hormat kepada orang tua dan gimana Allah tidak bakal membiarkan hamba-Nya yang tulus terjerembab dalam kehancuran akibat tuduhan manusia. Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 38 mengenai perlindungan-Nya terhadap orang-orang beriman:

 اِنَّ اللّٰهَ يُدٰفِعُ عَنِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُوْرٍ

Artinya: “Sesungguhnya Allah memihak orang yang beriman. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang berkhianat dan kufur nikmat.” (QS. Al-Hajj [22]: 38).

Benang merah yang dapat kita petik dari bagian kehidupan Juraij adalah bahwa kesaksian murni sering kali datang dari tempat yang paling tidak terduga. Ketika sebuah persekongkolan sosial telah terkonsolidasi dengan rapi untuk menjatuhkan reputasi seseorang yang saleh, argumen manusiawi sering kali tidak lagi didengar.

Pada momen itulah, intervensi ilahi melalui lisan seorang bayi bertindak sebagai pengadil agung yang memotong semua mata rantai dusta, mengembalikan martabat yang terenggut, dan membalikkan keadaan dalam sekejap mata.

Bayi pada Kisah Nabi Yusuf AS: Argumen Logis yang Membuka Tabir Kebenaran

Kisah keempat membawa kita pada drama kehidupan Nabi Yusuf AS di istana Al-Aziz (penguasa Mesir). Ketampanan Nabi Yusuf yang luar biasa membikin Zulaikha, istri Al-Aziz, terpikat dan mencoba menggodanya di dalam bilik yang terkunci rapat.

Yusuf yang memegang teguh ketakwaan menolak rayuan tersebut dan berlari menuju pintu untuk menyelamatkan diri, namun Zulaikha mengejarnya dan menarik baju pakaian Yusuf dari belakang hingga robek.

Tepat di depan pintu, Al-Aziz telah berdiri. Demi menyelamatkan mukanya, Zulaikha langsung membalikkan kebenaran dengan menuduh Yusuf mencoba melakukan tak senonoh kepadanya dan menuntut agar Yusuf dipenjara alias disiksa dengan pedih.

Yusuf berada dalam posisi yang sangat terjepit; seorang pelayan asing yang dituduh oleh seorang wanita bangsawan yang berkuasa. Secara logika, pembelaan diri Yusuf tidak bakal berbobot apa pun di mata sang penguasa.

Namun, Allah Maha Adil. Muncul seulas kesaksian dari seorang personil family Zulaikha yang tetap bayi (dalam beberapa riwayat tafsir, seperti “Tafsir Ibnu Katsir”, disebutkan bahwa saksi tersebut adalah anak mini alias bayi yang berada di tempat tersebut).

Bayi itu memberikan kesaksian yang sangat logis dan matematis: jika baju Yusuf robek di bagian depan, maka Zulaikha yang benar; namun jika baju Yusuf robek di bagian belakang, maka Yusuflah yang betul dan Zulaikha yang telah berdusta.

Peristiwa krusial ini diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Yusuf ayat 26-27:

قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِيْ عَنْ نَّفْسِيْ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنْ اَهْلِهَاۚ اِنْ كَانَ قَمِيْصُهٗ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكٰذِبِيْنَ وَاِنْ كَانَ قَمِيْصُهٗ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ

Artinya: “Dia (Yusuf) berkata, “Dia yang menggodaku dan merayu diriku.” Dan seorang saksi dari family wanita itu memberikan kesaksian, “Jika baju gamisnya robek di bagian depan, maka wanita itu benar, dan dia (Yusuf) termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya robek di bagian belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan dia (Yusuf) termasuk orang-orang yang benar”.” (QS. Yusuf [12]: 26-27).

Ketika Al-Aziz memandang baju Yusuf robek di bagian belakang, tahulah dia bakal kelicikan istrinya. Pembelaan melalui lisan bayi ini (yang menyampaikan argumen metodologis) merupakan bukti bahwa kebenaran sejati tidak dapat disembunyikan oleh gorden kekuasaan sekaya apa pun.

Allah meminjam bunyi murni seorang bayi untuk meredam murka seorang suami yang dikhianati, menyingkap kepalsuan elite kekuasaan, sekaligus menyelamatkan seorang calon nabi dari kehancuran nama baik sejak dini.

Menatap Kebenaran Lewat Mata Kesucian

Merenungkan riwayat tentang empat bayi yang dapat berbincang ini membawa kita pada sebuah konklusi filosofis yang mendalam: bumi ini sering kali terlalu bising dengan bohong orang-orang dewasa. Ego, keserakahan, gengsi, kekuasaan, dan kedengkian sering kali membikin manusia dewasa tega merekayasa realitas, menindas yang lemah, dan memutarbalikkan kebenaran demi kepentingan pribadi alias kelompok.

Dengan kata lain, ketika tatanan sosial telah dirusak oleh ketidakejujuran yang terstruktur, Allah SWT menunjukkan bahwa Dia dapat menghadirkan kebenaran melalui makhluk-Nya yang paling lemah, paling tidak berdaya, dan belum mempunyai kepentingan duniawi sama sekali, ialah seorang bayi. Kisah bunyi bayi yang keempat di atas adalah simbol dari al-haq (kebenaran mutlak) yang menembus kebatilan.

Sebagai umat beriman, kisah-kisah ini semestinya mempertebal kepercayaan kita bahwa kita tidak boleh berputus asa di tengah kepungan tuduhan zamannya. Tugas kita hanyalah menjaga integritas ketakwaan seperti Maryam, memegang teguh prinsip tauhid seperti ibu di parit api, menjaga ketulusan ibadah seperti Juraij, dan memelihara kesucian diri seperti Nabi Yusuf.

Selama kita berada di jalan Allah, Dia bakal selalu punya langkah tersendiri (bahkan dengan langkah yang paling ajaib dan di luar logika manusia) untuk memihak dan memenangkan hamba-hamba-Nya yang setia.

Kebenaran mungkin bisa dibungkam untuk sementara waktu, namun dia tidak bakal pernah bisa dimatikan. Wallahu a’lam bisshawab.

*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya