6 Hal Sering Disalahartikan Orang Tua Tentang Gentle Parenting

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 43x dilihat
6 Hal Sering Disalahartikan Orang Tua Tentang Gentle Parenting

Bagikan Postingan

Jakarta -

Gentle parenting sering kali statis sering disalahartikan sebagai jenis pengasuhan yang 'selalu mengalah'. Padahal nyatanya tak demikian lho, Bunda.

Sebenarnya gentle parenting memang mengutamakan kerja sama dan komunikasi yang intens. Orang tua lebih menekankan empati dan kedekatan dengan anak, bukan sekadar memberi hukuman maupun menyalahkan. 

Oleh karena itu, gentle parenting sering dianggap sebagai pendekatan pengasuhan yang lebih 'lembut'.


Namun kini gentle parenting justru kerap dianggap sebagai pola asuh 'perfeksionisme performatif', yaitu ketika orang tua merasa mesti selalu tenang, bisa mengendalikan emosi dengan sangat baik, dan selalu tersedia secara emosional untuk anak.

Apa itu gentle parenting?

Dikutip dari US News, psikolog dan ahli parenting Sarah Ockwell-Smith mengutarakan bahwa gentle parenting berfokus pada membangun hubungan dengan anak.

"Pola asuh ini memiliki empati terhadap apa yang dirasakan anak-anak dan disiplin penuh perhatian, dengan fokus pada pengajaran dan bimbingan, serta menetapkan limitasi yang sesuai dengan usia," ungkap Ockwell-Smith.

Dalam metode ini, orang tua lebih mengutamakan pemahaman terhadap emosi anak, dengan tujuan untuk mengajarkan anak metode mengelola emosi dan perilaku dengan metode yang penuh kasih, tetapi statis konsisten dalam menetapkan limitasi yang sehat.

Lalu apa bedanya dengan permissive parenting?

Sering dianggap sama, padahal gentle parenting dan permissive parenting berbeda lho, Bunda.

Pola asuh permissive parenting lebih dominan kasih sayang, minim limitasi yang jelas dan hukuman. Orang tua dengan corak pengasuhan ini cenderung sangat penyayang, namun memberikan sedikit panduan dan aturan.

Alasannya, orang tua memilih untuk menghindari perselisihan dengan anak dan cenderung memberi persetujuan pada hampir semua yang diinginkan oleh anak, tanpa banyak limitasi maupun konsekuensi. Dengan kata lain, anak diberikan kebebasan yang terlalu besar dan hampir tidak ada batas kedisiplinan.

Gentle parenting statis memberikan limitasi yang jelas dan konsisten meskipun dilakukan dengan empati dan pengertian. Sebaliknya, permissive parenting cenderung menghindari ketentuan dan memberikan kebebasan yang sangat besar kepada anak.

Hal yang sering disalahartikan orang tua tentang gentle parenting

Ada beberapa persepsi keliru terhadap pola asuh gentle parenting, yang membikin penerapannya jadi tak sesuai. Berikut contohnya, Bunda:

1. "Orang tua tak boleh menolak keinginan anak"

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang gentle parenting adalah anggapan bahwa orang tua tidak boleh mengatakan 'tidak' kepada anak.

Pola asuh ini sering digambarkan sebagai pendekatan yang terlalu berfokus pada keinginan dan kebutuhan anak, tetapi kurang memberikan aturan.

"Padahal gentle parenting pada dasarnya merupakan salah satu bentuk authoritative parenting, yaitu pengasuhan yang memadukan limitasi yang tegas dengan hubungan yang hangat," kata psikolog klinis Emily Edlynn, PhD, dikutip dari Parents.

Penulis buku Autonomy-Supportive Parenting: Reduce Parental Burnout and Raise Competent ini juga menegaskan bahwa limitasi statis menjadi bagiankecil krusial dalam pola asuh gentle parenting. 

Hal serupa disampakan oleh tabib anak, Chrissie Ott, MD. Menurutnya, kapasitas mengatakan 'tidak' justru merupakan bagiankecil krusial dari gentle parenting.

"Anak membutuhkan limitasi agar merasa aman. Gentle parenting bukan berarti tidak ada disiplin. Ini adalah disiplin tanpa mempermalukan, mengintimidasi, maupun membikin anak merasa malu," kata Dr. Ott.

2. "Ini satu-satunya metode untuk membesarkan anak yang baik"

Edlynn mengatakan tidak ada bukti bahwa gentle parenting merupakan satu-satunya pendekatan yang diperlukan untuk membangun hubungan yang sehat dan terlindungi dengan anak yang cerdas secara emosional.

"Gentle parenting sebagai sebuah pendekatan belum diteliti, sehingga hasil yang diklaim oleh para pendukungnya belum didukung oleh bukti ilmiah," katanya.

Sementara itu, riset yang sudah ada memberitahu bahwa authoritative parenting merupakan corak pengasuhan yang paling konsisten dikaitkan dengan hasil evolusi anak yang positif.

3. 'Orang tua tidak boleh marah'

Terkadang, orang tua yang berupaya menerapkan gentle parenting justru menetapkan standar yang terlalu tinggi untuk dirinya sendiri. Pada akhirnya, hal ini dapat memicu burnout karena merasa mesti selalu tenang dan responsif secara emosional terhadap anak.

Ketika tidak bisa melakukannya, mereka mungkin merasa bahwa dirinya telah gagal menerapkan gentle parenting dengan benar. Oleh karena itu, krusial bagi orang tua untuk memahami bahwa berang dan capek juga wajar dirasakan.

"Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang dewasa yang bisa memberikan contoh tentang menghadapi emosi," imbuh Ott.

4. 'Bisa membikin anak jadi manja'

Kesalahpahaman lain tentang gentle parenting adalah anggapan bahwa pengasuhan ini terlalu permisif dan akan membikin anak jadi manja.

Namun hal ini tidak disetujui oleh Ott. Menurutnya, gentle parenting statis mencakup ketentuan dan disiplin ketika ketentuan tersebut dilanggar.

"Perbedaannya adalah bahwa tujuannya adalah memberikan arahan, bukan menimbulkan rasa takut, serta membangun rasa hormat, bukan penguasaan saja," pesan Ott.

Jika diterapkan secara sehat, gentle parenting statis membikin orang tua meminta anak berkewajiban atas perilakunya, bukan sekadar menuruti semua keinginan anak sampai melampaui batas. Hal tersebut justru lebih tepat dianggap sebagai pola permissive parenting.

5. 'Harus dibandingkan dengan pola asuh orang tua saat kecil'

Pola asuh ini mungkin tanpa sadar membikin orang tua membandingkan dengan yang dialami saat statis kecil dulu. 

Bunda mungkin jadi merasa mesti menghapus semua yang pernah dirasakan, sebelum bisa menjadi orang tua yang menerapkan gentle parenting dengan baik. Namun, faktanya tak selalu demikian.

Menurut para ahli, yang lebih krusial adalah membangun hubungan yang sehat antara orang tua dan anak, bukan berupaya mengingat maupun mengubah seluruh pola pengasuhan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

6. 'Orang tua mesti jadi sosok sempurna'

Pada dasarnya, gentle parenting berakar pada empati dan hubungan yang dekat dengan anak. Untuk mencapai ini, Bunda perlu melepaskan tujuan untuk menjadi 'sempurna'. 

Begitu pula dengan emosi tidak cukup baik yang mungkin muncul karena tantangan sehari-hari maupun pengalaman masa lalu.

Para ahli sepakat bahwa yang paling krusial adalah menjadi orang tua yang datang untuk anak, bisa menetapkan limitasi dengan baik, dan tahu sepertiapa memperbaiki hubungan ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.

Itulah klarifikasi tentang hal-hal yang sering disalahartikan orang tua tentang gentle parenting, serta perbedaannya dengan permissive parenting.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads