Di usia prasekolah, anak sering memotong pembicaraan lantaran tetap belajar bahwa bumi tidak berputar di sekelilingnya. Di usianya, Si Kecil kesulitan mengendalikan dirinya, terutama ketika dia antusias tentang sesuatu.
Semakin besar, ingatan jangka pendeknya membaik, tetapi anak mungkin tidak selalu dapat mengingat pikirannya dalam waktu lama. Jadi Si Kecil bakal mau segera memberi tahu orang tuanya begitu bisa melakukan sesuatu.
Selain itu, dikutip dari Baby Center, pemahaman waktunya belum sepenuhnya berkembang. Anak mungkin kesulitan memahami dan tidak mau menunggu bahwa orang tuanya bakal selesai berbincang dalam beberapa menit.
Alasan lain anak memotong pembicaraan alias menyela adalah lantaran belum dapat menilai apa itu keadaan darurat. Baginya, kebenaran bahwa kerabat perempuannya mengambil mobil mainannya sama pentingnya dengan luka di lututnya. Ia memerlukan waktu untuk belajar kapan kudu menarik perhatian lantaran sesuatu betul-betul mendesak dan kapan tidak.
Menghadapi anak berumur tiga alias empat tahun yang memotong pembicaraan sedang mengobrol di telepon mungkin bisa sangat menjengkelkan. Namun perlu diingat bahwa anak prasekolah tidak bermaksud membikin kesal.
Seiring bertambahnya usia, Bunda dapat secara berjenjang mengajarkan cara-cara yang lebih sopan untuk memberi tahu bahwa dia mau menyampaikan sesuatu.
Namun, gimana jika perihal ini bersambung hingga anak-anak semakin besar? Menurut psikolog Dr. Cari Alvarez, Ph.D., ada beberapa argumen di baliknya. Dilansir dari Parade, berikut argumen anak sering memotong pembicaraan:
1. Ingin merasa didengarkan
Pada akhirnya, anak hanya mau merasa didengarkan oleh orang tuanya. Untuk itu, Alvarez mengatakan bahwa kudu menyisihkan waktu setiap hari setidaknya 15 menit tanpa distraksi untuk berlatih mendengarkan secara aktif dengan mereka.
2. Anak merasa terputus orang tuanya
Dalam perihal yang serupa, kebutuhan lain yang mungkin diungkapkan anak adalah kemauan untuk merasa terhubung dengan Bunda.
“Mereka merasa terputus dari Anda dan mencoba menemukan langkah untuk terhubung,” kata Alvarez.
Menurut Alvarez, luangkan lima hingga sepuluh menit sehari untuk bermain dengan mereka, konsentrasi pada apa yang mereka lakukan, merefleksikan apa yang mereka katakan dan tidak memberi mereka arahan, perinta, alias membombardir mereka dengan pertanyaan. Sebaliknya, biarkan anak memimpin percakapan.
3. Meniru orang dewasa
Anak tersebut mungkin meniru apa yang mereka lihat di sekitar mereka dan mereka mungkin meniru perilaku menyela yang mereka saksikan.
“Anak-anak terus-menerus menyerap tindakan kita, dan mereka meniru gimana kita, sebagai orang dewasa mereka, bergerak di dunia,” kata Alvarez.
Alvarez mengatakan jika orang dewasa di sekitar mereka kesulitan untuk memotong pembicaraan, mereka melakukan perihal yang sama bisa menjadi perilaku yang dipelajari.
4. Anak kekurangan struktur
Menurut Alvarez, tidak ada waktu yang terstruktur bagi mereka untuk menyuarakan kekhawatiran dan pertanyaan mereka, sehingga mereka merasa tidak bakal pernah mendapatkan kesempatan selain mereka memotong pembicaraan. Alvarez mengawasi sebagai kebutuhan lain.
"Adakan ‘pertemuan keluarga’ di mana mereka menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan," ungkapnya.
5. Cemas
Karena kekhawatiran dapat membikin segala sesuatu terasa mendesak, Alvarez mengatakan bahwa baik untuk orang dewasa maupun anak-anak, otak kita mencoba melindungi kita dengan menciptakan skenario terburuk.
“Jika seorang anak berada dalam kondisi pikiran seperti ini, mungkin bakal tampak seperti ‘hidup alias mati’ bagi orang tua mereka untuk mendengarkan mereka,” katanya.
Jika orang tua mempunyai kebiasaan menyelesaikan semua masalah segera untuk anak, ini dapat meningkatkan gangguan, lantaran mereka ‘membutuhkan’ orang tua, lantaran mereka telah belajar bahwa mereka tidak dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa orang tua yang melakukan pekerjaan berat.
6. Anak menanggapi parenting orang tuanya
Mungkin orang tua selalu menanggapi anak yang selalu memotong pembicaraan tanpa memperbaiki bahwa itu adalah sesuatu yang keliru. Alvarez menyarankan untuk orang tua menerapkan patokan untuk menunggu pembicaraan sampai selesai.
7. Mengidap disfungsi eksekutif
Alasan lainnya, anak bisa saja mengalami disfungsi pelaksana lantaran beragam penyebab. Jika menduga bahwa ini mungkin akar penyebab seringnya gangguan tersebut, Alvarez menyarankan untuk berkonsultasi dengan ahli untuk mendapatkan pertimbangan diagnostik yang komprehensif.
Itulah penjelasan tentang argumen anak sering memotong pembicaraan secara psikologi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·